MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~

MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~
Dilema


__ADS_3

Wira menatap Mariam dengan perasaan rasa bersalah.


"Pergilah!Aku tidak apa apa!"Kata Mariam.


"Aku minta maaf,Aku berjanji akan sering datang!"Kata Wira sambil mengecup kening istrinya mudanya itu.


Setelah pamit kepada Umi Salamah,Wira pun kembali ke Kota dengan terpaksa.


"A Wiraa!!"


Teriak Mariam saat Wira hendak masuk ke dalam mobilnya.


Wira menoleh ke arah Mariam,


Mariam berlari menghampiri Wira dan tiba tiba langsung memeluk nya.


"Terimakasih atas segalanya!Aku akan menunggu mu disini!"Kata Mariam sambil memeluk erat sang Suami.


"Akan ku Pastikan kamu dan bayi kita baik baik saja,dan aku akan sering datang mengunjungi kalian!dan ingat! jangan lari lari seperti itu lagi,Mariam!"Kata Wira sambil mengelus perut Mariam yang sudah mulai terlihat membesar.


"Iya,,A,,Jangan lama lama perginya ya?!"


Wira mengangguk lalu mengecup kening Mariam,jika bisa memilih,saat ini ia tidak ingin pergi dari sisi Mariam.


"Aku pergi Ya ,,!?"Kata Wira sambil tersenyum dan membelai pipi Mariam.


Mariam mengangguk sambil menatap nanar kepergian Wira,ia tak beranjak dari tempat nya berdiri hingga mobil Wira hilang dari pandangan nya.


"Ciiee,ada yang sudah jatuh cinta nih!!"Ledek Fatimah,dia baru saja beres menutup kedainya.


"Apaan Sih?!Kamu apa kabar?katanya mau nikah sama anak Ajengan Kohar!"Mariam penasaran tentu saja hubungan adik nya itu dengan seorang pria yang di ta'aruf kan oleh Mamang nya itu.


"Jangan sebut nama dia lagi!Sebel aku!untung saja belum jadi nikah,Bi


Rodiyah itu lho Kak ,Mang Imran kan sudah ta'aruf kan Fatimah sama Kak Azam itu kan,eh dia malah ta'aruf kan lagi sama Zahra,anak mereka yang baru berumur 15 tahun itu Kak!"Kata Fatimah dengan wajah yang cemberut.


"Zahra!?Ya ampun! kan dia masih kecil banget,masih sekolah kan?!"Kata Mariam kaget.


"Iya,Kak! Mentang-mentang Kak Azam baru pulang dari Yaman,dia tampan dan sudah menjadi Dosen,Bi Rodiyah langsung aja embat tuh Cowok buat anak nya!".


"Ya sudah namanya juga bukan jodoh kan?! Allah pasti akan memberikan jodoh yang lebih baik buat Adik kakak yang paling cantik ini!"Hibur Mariam.


"Fatimah gak apa apa sih! Lagipula Fatimah gak mau nikah dulu ah, Fatimah mau kuliah kaya Kak Mariam,Fatimah kan harus gantiin Kak Mariam jadi tulang punggung keluarga!"Kata Fatimah.


Mariam tersenyum senang mendengar ucapan adiknya itu.


"Serah kan semuanya pada Allah De,Kita hanya bisa berencana,Allah lah yang mengatur segalanya."Kata Mariam memberi nasehat.


"Bagaimana kelanjutan hubungan Kakak dengan A Wira dan Si Sofi itu?! Kalian baik baik saja kan?!"Tanya Fatimah penasaran.


"Ya gitu deh!tak ada istri yang ingin dimadu, ternyata sulit menjalankan rumah tangga seperti itu Apalagi mereka minim pendidikan Agama."Jawab Mariam sambil memakan Bakso yang dibuatkan Fatimah.


"Tapi sepertinya kalian sudah saling jatuh cinta!"Kata Fatimah sambil tak berhenti mencuci piring.


"Sok tahu kamu!"Kata Mariam,dia menjitak kepala Adiknya itu.


"Kelihatannya banget tahu,dari kalian saling menatap!Apalagi A Wira,dia kelihatannya males banget saat Asisten nya menyusul nya tadi."Kata Fatimah.


"Menurut mu begitu?!"Tanya Mariam,dia menyimpan mangkuk bekas makannya disamping Fatimah yang sedang mencuci piring.


"Ya,,aku melihat di mata A Wira,kalau dia lagi bucin banget sama Kakak!Tapi aku khawatir,takut Kakak terluka, bukan kah pernikahan kalian hanya sampai anak itu lahir?!"Tanya Fatimah sambil menatap intens ke arah Kakaknya itu.


"Ya ,Kakak bilang kita kan hanya bisa berencana Fat,,!Kita tidak pernah tahu rencana apa yang sedang disiapkan Allah untuk kita!"


"Jadi, Kakak sudah benar-benar menerima Kak Wira sebagai Suami kakak?!"


"Kakak ingin menjalani saja Apa yang sudah ditakdirkan Tuhan!"Jawab Mariam.


"Aku selalu berharap yang terbaik buat Kakak,semoga Kakak bahagia selalu sampai kapan pun,,"


***


"Apa yang kau Katakan pada Sofi?!"Tanya Wira setelah mereka dekat ke kantor.


"Aku Bilang Bos sedang bertemu klien penting di luar, tapi dia gak percaya dan ngamuk di kantor!"Jawab Doni.


"Katanya dia gak bisa jalan, bagaimana dia bisa pergi ke kantor!?"


" Bisa kok, dibantu sama Assisten nya!"


" Ck!!Dia semakin membuatku jengah!


jadi selama ini dia hanya berpura kakinya sakit parah?!"

__ADS_1


Gerutu Wira sambil keluar dari mobilnya dan segera naik ke ruangannya untuk melihat Sofi.


Sesampainya disana, ruangan miliknya sudah sangat berantakan.


Pas bunga pecah berserakan di setiap sudut ruangan.


Kertas kertas dokumen milik Wira pun berhamburan acak acakan.


Sofi berteriak teriak tak karuan dan sedang ditenangkan oleh asisten nya.


Begitu Wira datang, Asisten Sofi pun mundur memberi jalan untuk Wira.


"Maaf , Pak,Bu Sofi sulit dikendalikan!"Kata Sintia Assisten pribadi Sofi.


Sofi terduduk di lantai sambil meraung-raung.


Rambut nya terlihat acak-acakan dan makeup nya pun berantakan.


"Kenapa kamu jadi begini sih,Sof?!Aku kan sudah bilang aku harus mengurus klienku yang tidak bisa ditangani oleh Doni!"Wira berusaha menenangkan istrinya itu.


"Kamu bohong!! Kamu pasti menemui perempuan itu kan?!"Teriak Sofi.


"Don!! Perlihatkan ponselmu!"Kata Wira kepada Doni yang berada di luar ruangan nya.


Doni pun menghampiri Tuan nya dan memperlihatkan Foto di dalam ponsel nya.


"Ini Lihatlah!Ini aku dan ini adalah klien ku yang dari Inggris,,kita sedang merencanakan proyek besar Sof,kamu mau aku jatuh miskin?nggak kan?!Jadi tolong lah kamu jangan begini!"Kata Wira.


"Tapi aku takut kamu jatuh cinta pada perempuan itu!"Kata Sofi sambil berdiri dan menatap suaminya.


"Duduklah disini dan dengar kan Aku!"


Kata Wira sambil duduk diatas sofa.


"Dari awal aku tidak pernah setuju dengan rencana mu untuk program inseminasi buatan itu, sekarang semuanya sudah terjadi kamu sendiri yang bersikap begini,Aku ingin bertanya padamu siapa yang menyetujui ku untuk menikah dengan Mariam?! Kamu sendiri kan?!Jadi apa masalnya Sof?!"


"Aku jadi takut Mas!Takut kamu yang meninggalkan ku karena perempuan itu sedang anak mengandung anak kamu!"Kata Sofi sambil terisak di dada Wira.


"Tapi aku tak mungkin menelantarkan anak ku kan?!kan kamu yang menginginkan anak itu!"Jawab Wira sambil membelai rambut Sofi.


"Kamu gak akan melanggar perjanjian kita kan Mas?! setelah anak itu lahir kamu akan meninggalkan nya kan Mas,dan akan membawa anak itu untuk aku,kan?!"Kata Sofi sambil menatap Wira meminta kejelasan.


Wira terdiri,dia tidur bisa menjawab pertanyaan Sofi.


Jujur ia ingin Mariam tetap di sisinya dan membesarkan anaknya bersama.


Dia akan mencari celah untuk melepaskan nya, tapi tidak sekarang, melihat kondisi Sofi,rasanya tak mungkin untuk meninggalkannya disaat kondisi nya yang seperti ini,dia akan merusak segalanya dan menghancurkan siapa saja yang dianggap nya sudah menghancurkan hidupnya,dan itu akan berbahaya bagi Mariam dan anaknya.


"Tuh kan!!Kamu gak bisa jawab! berarti benar kan ,kamu akan membuang ku demi perempuan itu!iya kan?!"


"Maafkan aku Sof,kamu harus bisa menunjukkan diri kamu, apakah kamu mampu merawat anak itu atau tidak,baru aku akan memutuskan apakah aku masih membutuhkan Mariam atau tidak!"Jawab Wira.


"Kamu ingin aku berhenti bekerja?!"


"Aku tidak ingin kau merasa terpaksa, lakukan apa yang kau anggap baik dan cobalah untuk berubah Sof!"


"Kau ingin Aku seperti dia?!"Tanya Sofi lagi.


Wira menggeleng,


Kamu adalah kamu, tapi berusahalah menjadi istri dan ibu yang baik,Sof!kamu bisakan?!"Kata Wira dengan lembut.


"Akan aku coba,tapi aku harap kamu bisa bersabar,Mas!"


"Kita sama sama coba ya?! bersikap lah dewasa,Sofi, buatlah aku mencintaimu lagi!"Kata Wira.


Sofi merangkul Wira lebih kencang.


Kini Wira semakin dilanda kebingungan,di pikiran nya kini hanya terbayang wajah Mariam,akankah bisa dia mencintai Sofi lagi?


******


Menjelang petang Kedai Bakso yang dikelola Fatimah sudah ludes tak bersisa.


Fatimah sedang mencuci mangkok dan gelas bekas pengunjung yang makan di tempat.


"Assalamu'alaikum!"


Sapa seorang pria.


"maaf, Baksonya sudah habis!Kami mau tutup!"Kata Fatimah tanpa menoleh ke arah suara.


"Boleh kita ngobrol sebentar De Fatimah!?"

__ADS_1


Fatimah segera menoleh ke arah pria tersebut dan ia sangat terkejut melihat siapa yang datang.


"Kak Azam?!"Fatimah sangat heran,untuk apa Azam datang mencari, jika Bibinya tahu,bisa berabe nanti,dia bisa mengamuk kepada nya.


Bukan menghampiri Azam, Fatimah malah masuk ke dalam mencari Kakak nya,Mariam.


Tak lama kemudian Fatimah keluar lagi bersama Mariam.


Mariam menghampiri Azam yang masih berdiri di depan kedai, sedangkan Fatimah meneruskan lagi mencuci mangkok dan piring sambil memasang pendengaran nya.


"Assalamu'alaikum,ini Azam,ya?!"Sapa Mariam sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Waalaikum salam!Iya kak, Kakak pasti kak Mariam ya?!"Balas Azam.


"Iyaa,Wahh,ada perlu Apa nih, silahkan duduk!"Kata Mariam sambil menyodorkan kursi.


"Iya, Kak, terimakasih!"Jawab Azam begitu sopan.


"Fat!!Bikinin minuman dong buat tamu kita!"Seru Mariam kepada Fatimah yang masih berkutat dengan piring piring kotor.


"Iya Kak!"Jawab Fatimah.


"Kamu kapan kembali ke tanah air?!"Tanya Mariam berbasa basi.


"Sekitar satu bulanan Kak!"Jawabnya


"Wahh, Alhamdulillah, kalau begitu kamu sudah menyelesaikan studi mu disana?!"


"Sudah Kak Alhamdulillah!"


"Wahh,hebat kamu,,!Kakak denger kamu sudah Ta'aruf sama Zahra ya Anak nya Mang Imran? Selamat Ya,semoga kalian segera menikah dan langgeng sampai Syurga nanti!"Kata Mariam.


"Emm , Sebenarnya maksud kedatangan Saya kemari adalah,,emm,Saya,, Saya ,, Sebenarnya saya menyukai Fatimah, bukan Zahra!"Kata Azam malu malu.


"Lho ,,! Seharusnya kan kamu utarakan perasaan mu itu dihadapan keluarga kamu dan keluarga Zahra saat kalian berta'aruf!"Jawab Mariam.


"Saya tahu Kak,tapi,,tapi ,,mereka terus menekan saya agar menerima Zahra tanpa bertanya dulu kepada saya!"Kata Azam sambil menunduk lesu.


"Zam,,Zahra adalah anak dari Mamang Kami,dan kami tidak mungkin menghancurkan persaudaraan kami hanya karena kamu tidak menyukai Zahra,jangan libatkan Fatimah dalam proses ta'aruf kamu,jika kamu ingin menolak Zahra,jangan jadikan Fatimah sebagai alasan,kamu mengerti kan maksud Kakak?!"


"Saya mengerti Kak,Saya hanya ingin mendengar sendiri dari Fatimah tentang perasaan nya kepada Saya!"Kata Azam sambil melirik ke arah Fatimah yang sedang berpura pura sibuk.


"Baiklah,,De!!Fatimah!!Sini sebentar!"Seru Mariam.


Fatimah pun mendatangi Mariam sambil menunduk.


"Sini Fat, duduk!"


Fatimah pun duduk disamping Kakaknya.


"Silahkan utarakan apa yang ingin kamu tanyakan, Zam,,!"Kata Mariam.


Azam terdiam sejenak, terdengar ia menarik nafas yang panjang laku membuang nya kasar,dia terlihat grogi.


"Fatimah,Umi dan Abah ku menceritakan tentang kamu saat aku masih di Yaman,dan mereka bilang kita akan ta'aruf saat aku kembali, tapi setelah kembali, ternyata bukan kamu yang dita'arufkan sama aku,Paman kamu bilang,kamu menolak ku,apa itu benar?!Aku ingin mendengarnya langsung dari kamu!"


Fatimah hanya terdiam dan terus menunduk.


"Jawab De! katakan saja yang sebenarnya!"Bisik Mariam.


Fatimah akhirnya mengangguk kan kepalanya,


"I,iya ,Mang Imran memang benar,saya menolak berta'aruf dengan kak Azam."


Jawab Fatimah berbohong,padahal yang sebenarnya adalah,tanpa pemberitahuan, Mang Imran dan Bi Rodiyah langsung membawa Zahra untuk menggantikan nya berta'aruf dengan Azam.


"Tapi kenapa,awalnya kamu pun setuju bukan?!"Azam terlihat sangat kecewa.


"Aku belum ingin menikah,aku ingin melanjutkan kuliah ku dulu!"


"Aku tidak masalah dengan itu,Aku bisa menunggu mu!"Desak Azam.


"Tidak! pokoknya tidak bisa!"Teriak Fatimah sambil menatap Kakaknya, seperti meminta pertolongan.


"Fatimah ,aku mohon!"Azam terus memaksa.


Mariam mengerti keputusan Fatimah menolak Azam,tentu saja karena tidak ingin cari ribut dengan keluarga Mamang nya.


"Dia sudah punya calon,maafkan kami Azam!"Kata Mariam mencoba membela sang adik.


"Siapa?! Apakah aku kenal dengan pria itu?! katakan pada ku kak?!Apa Dia lebih baik dariku?!"Azam terlihat sangat Frustasi.


"Dia,,dia adalah calon nya Fatimah!"

__ADS_1


Tunjuk Mariam kepada Irsyad yang tiba tiba muncul di depan kedai mereka.


Bersambung...


__ADS_2