MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~

MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~
Pertemuan yang tak terduga


__ADS_3

Pagi ini Bima sudah bersiap di depan rumah kontrakan Mariam,dia berniat menjemput Mariam untuk pergi bersama ke kantor, karena mereka sedang terburu buru karena harus segera pergi ke luar kota.


"Maaf maaf cari siapa ya?"Tanya seorang perempuan paruh baya mendekati Bima yang terlihat celingukan di depan rumah kontrakan Mariam.


"Saya mau ketemu sama pemilik rumah ini Bu,kok terlihat sepi ya?!"Bima heran gorden rumah kontrakan yang sudah dialihkan atas nama Mariam oleh ayahnya itu masih tertutup dan lampu nya juga masih menyala.


"Walah,Mas gak tahu ya?!Umi Salamah sama ketiga anaknya kan pulang kampung tadi subuh subuh banget, katanya sih itu Neng Mariam mau ada yang khitbah,ya,atau apa gitu,saya ora ngerti,Mas! mereka juga pergi nya dadakan,saya kurang tahu alasan jelasnya, semalam tiba-tiba mereka pamit sama saya dan tadi subuh Neng Fatimah menitipkan kunci rumah ini kepada Saya!"Kata tetangga Mariam dengan logat Jawa nya yang kental.


"Apa?! pulang kampung?! kok tiba tiba sih!Ya udah Bu , terimakasih info nya ya!"Jawab Bima sambil masuk ke dalam mobil nya Tapi tidak langsung melaju.


"Kamu benar benar tidak bisa ditebak Mariam, semalam kamu bilang masih akan terus menjadi sekertaris ku, sekarang tiba tiba kamu meninggalkan ku saja seperti ini!"Gumam Bima penuh kekecewaan, kemudian dia berusaha menelpon Mariam,namun ternyata sudah ada pesan WA yang masuk di ponselnya.


"Bim , aku mohon maaf mengubah rencana ku lagi,Aku memutuskan untuk mengundurkan diri menjadi sekertaris mu,Aku berniat fokus dulu dengan proses ta'aruf ku dan Rasyid harus melanjutkan sekolah nya dikampung.sekali aku mohon maaf, berhentilah mengejar ku Bim,kalau kita jodoh gak akan kemana, Allah pasti akan mempersatukan kita!"


(Mariam)


"Aku tidak akan berhenti menunggu mu dan aku pantang menyerah akan berusaha mendapatkan mu!"(Bima)


***


Beberapa bulan berlalu.


Keimanan baru Bima benar benar di uji dengan dijauhkan nya Mariam dari kehidupan nya.


Lama Tak mendapat kabar dari wanita pujaan hatinya,namun relung hatinya tak sedikit pun berubah tentang nama yang terukir,masih tetap Mariam.


Meskipun kemungkinan besar Mariam sudah menjadi milik orang lain, seperti kabar terakhir yang Bima dapat kan, Mariam berta'aruf dengan ustadz Khalid dan sejak itu Bima dengar Mariam kembali menjadi pengajar di kampung halaman nya.


Bukan tak ingin mencari tahu, tapi kebahagiaan Mariam baginya adalah segala nya, jika dia sudah bahagia dengan kehidupan nya kini , berarti dia tak berhak mengganggu pilihan hidup yang Mariam tempuh.


Berkali kali Bima mendapatkan tawaran untuk berta'aruf dari ustadz tempat ia belajar agama Islam.


Tapi Bima tak pernah sekalipun tertarik,ia selalu beralasan belum ingin menikah padahal nyatanya hatinya selalu menunggu seseorang yang selalu ia harapkan.


***


Semilir angin menyapu wajah Bima, terasa begitu menyejukkan.


Pantai Pangandaran kini ia berada.


Bima membawa seluruh karyawan nya untuk berwisata di akhir tahun sebagai bonus yang perusahaan berikan atas kerja keras mereka.


"Bruk!!!"


"Hua Hua Hua!"


Seorang gadis kecil menabrak tubuhnya hingga terjatuh lalu ia menangis di hadapan nya.


Bima berjongkok di atas pasir meraih tubuh anak yang berumur sekitar 3 tahun itu yang terus menangis karena terkejut.


"Kamu gak apa apa,sayang?mana yang sakitnya,cup cup!sini om gendong!Mama mu dimana?!Ayo om anter!"Kata Bima dengan lembut dan penuh kasih sayang,bukan nya berhenti menangis,anak itu malah semakin keras menangis dan ketakutan melihat Bima.


"Ya , ampun!ini orang tua nya kemana lagi,anak kecil kok dibiarkan main sendiri!"Gerutu Bima,ia kebingungan menghadapi anak kecil yang terus menangis ini.


"Sayang!Amira!Kamu gak apa apa?!Umi cariin kamu,sayang!"


Seorang perempuan bercadar menghampiri Bima dan mengambil anak tersebut dari arah belakang yang sedang di gendong Bima.


"Anda mau culik anak ini,Ya?!"Tuduh wanita itu yang sudah panik dari tadi Karena kehilangan anaknya.

__ADS_1


"Enak saja anda ngomong! Anda sendiri yang lalai dan sudah membiarkan anak ini main sendiri,untung saya yang menemukan nya tadi,kalau dia disapu ombak gimana?!"Bima balik menyerang wanita itu tanpa saling menoleh.


"Ya seharusnya anda langsung menyampaikan nya di bagian informasi dong kalau menemukan seorang anak,ini malah di gendong dan mau dibawa!"


"Siapa yang mau bawa!Aku coba tanyakan dimana orangtuanya,anak itu malah nangis terus,Ya Allah,Kok jadi aku yang salah sih!"Bima jadi kesal karena dituduh mau menculik.


"Anda ini gimana sih,udah tahu dia masih anak kecil,ya pasti dia nangislah !apalagi kalau ketemu sama orang jahat!"


"Apa?!Orang jahat?! maksud Anda saya Orang jahat?!Saya lho yang sudah menemukan anak Anda!"


Perempuan itu kemudian berdiri dan menggendong anak kecil tadi,ia mengangkat wajahnya dan begitu terkejut saat melihat sosok dihadapan nya.


"Bima!?"


"Mariam?!"


Bima tak kalah terkejutnya,ia sempat curiga saat mendengar suara perempuan yang langsung memarahi nya tadi.


Suara yang selalu ia rindukan,


Dan benar saja,ia yakin perempuan bercadar dihadapan nya adalah Mariam,mata nya yang bulat dan ada tahi lalat di kelopak matanya,itu benar benar dia.


Ada rasa bahagia yang membludak saat ini, pertemuan yang tidak pernah disangka sangka ini,menjadi pengobat rindu yang selama ini ia pendam sendiri.


Tapi hati nya sedikit teriris saat tahu kini Mariam sudah memiliki Anak.


"Sedang apa kamu disini?!"Tanya Mariam setelah agak beberapa lama mereka saling terpaku.


"Ya liburan lah,ini kan pantai!"Jawab Bima ketus.


"Kamu sendiri,atau sama siapa?!"Tanya Mariam lagi,ia menanyakan hal itu karena melihat Bima hanya berjalan seorang diri.


Canda Bima.


"Dia putri mu?!"Tanya Bima sambil mengelus lembut anak berambut ikal yang sangat menggemaskan itu.


"Umi,Amila mau ekim!"Kata Anak bernama Amira itu sambil menunjuk ke arah tukang penjual Eskrim.


"Oh,Amira mau eskrim?!ya sudah ayo kita beli eskrim kesukaan Amira!


Bim, makasih ya udah jagain Amira, maaf tadi aku panik banget nyariin dia,jadi aku marah marah deh sama kamu!"Kata Mariam dengan penuh rasa malu.


"Gak apa apa,lain kali jagain anak kamu betul betul Mar!


Ya Sayang ya,kalau kamu kenapa kenapa gimana coba?!"Kata Bima sambil mencubit pipi Amira dengan gemas.


"Dadah,Oom!"Kata Amira sambil melambaikan tangan nya ke arah Bima.


"Dadah,Sayang, sampai ketemu lagi ya!"Jawab Bima sambil membalas nya dengan lambaian tangan nya juga.


"Aku kesana dulu ya Bim, Assalamualaikum!"Mariam pun pamit.


"Waalaikum salam!"Jawab Bima sambil terus melihat sosok Mariam yang semakin menjauh dari pandangan,dia melihat Mariam menghentikan langkahnya di tempat tukang jualan eskrim.


"Woii, lihat apaan sih!serius amat!"Seru ROI sambil menepuk pundak Bos nya sekaligus sahabat nya itu.


Bima hanya menggumam dan pandangan nya terus mengekor langkah Mariam.


Roy penasaran Bima sedang memperhatikan apa sampai fokus begitu.

__ADS_1


"Itu Mariam Bim?!"Roy ikut terkejut melihat sosok Mariam berada ditempat yang sama.


Bima hanya mengangguk.


"Wah,kalian benar benar berjodoh, Akhirnya Tuhan mempertemukan kalian!"Kata Roy sambil mengusap pundak Bima.


"Jodoh dari Hongkong, tadi dia bersama Anaknya!Lo gak liat dia menggendong seorang anak kecil!"Kata Bima sambil menjitak kepala Bima.


"Yah,yah!Aduh sayang banget!kasihan banget sih Lo Bim,Udah deh, Lo lupain si Mariam,udah beberapa kali gue bilang, sebaiknya Lo move on,Ini sudah lama Bim, sampai kapan Lo akan bertahan?!"Kata Roy mencoba menasehati Bima.


Bima terdiam, setelah Mariam tidak terlihat lagi,dia pun berlalu begitu saja meninggalkan Roy sendiri yang kemudian mengejar Bima, akhirnya mereka saling kejar kejaran di tepi pantai.


Adzan magrib berkumandang,


Mariam keluar dari penginapan menuju musholla terdekat,ia sangat penasaran dengan suara Adzan yang terasa ia kenal.


Suara yang selalu ia rindukan.


Dan benar saja tebakan nya,dia melihat Bima sedang mengumandangkan Adzan,begitu syahdu dan merdu, sangat menyentuh hati, membuat semua orang yang mendengar adzan tersebut ingin berbondong bondong untuk melaksanakan shalat di mesjid.


Mariam masuk ke barisan shaaf perempuan yang tertutup hijab.


Suara Iqamah terdengar dan sang Imam pun terdengar sudah siap untuk memimpin shalat, karena penasaran,Mariam mengintip keluar,dan ternyata Bima juga yang menjadi imam shalat nya.


Mariam sangat senang melihat perubahan dan keteguhan keimanan seorang Bima.


Bima benar benar yakin memeluk Islam meski ujian menghantam nya setelah itu,ia harus rela kehilangan Mariam,dan itu tidak membuat nya goyah dengan ke Islam an nya.


Setelah berdzikir seusai shalat,Mariam keluar dari barisan shaaf perempuan dan ia berniat segera keluar dari musholla tersebut, sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan, melihat Bima tengah membaca kan Ta'lim wata alim, seperti nya di tengah tengah para jemaah yang kebanyakan adalah karyawan nya sendiri,sungguh Mariam merasa bangga melihat Bima.


Mariam hanya melewati nya padahal ia sangat ingin berada ditengah tengah mereka,tapi itu tidak pantas dilakukan seorang perempuan, karena jemaah yang ikut hanya lak laki saja.


"Umi!Tadi Baim ikutan sholat Lho,dan Baim gak nakal kok!"Kata Seorang anak kecil yang menghampiri Mariam.


"Oh,ya?!bagus dong kalau begitu!Umi bangga sama kamu!"Kata Mariam sambil menciumi pipi anak laki laki tersebut.


"Nak Bima?! Masyaallah!Kok bisa ya kita ketemu disini!"Sapa Umi Salamah yang berpapasan dengan Bima saat mereka memakai sendal.


"Umi?! Masyaallah!Iya,Umi,Bima senang bertemu Umi disini!Umi apa kabar?!"Jawab Bima sambil menangkupkan kedua tangan nya di atas dada tanda ia mengucapkan salam.


"Alhamdulillah baik, nak!Kamu gimana,Mana Istri kamu?!"Tanya Umi Salamah,ia yakin pria tampan seperti Bima pasti akan mudah mencari seorang istri.


"Ah, tidak Umi!Bima masih sendiri,Bima berlibur bersama karyawan di perusahaan,Umi!"Jawab Bima malu malu.


"Ah, begitu kah, Bagaimana kabar Orang tua mu?!"


"Alhamdulillah, mereka juga baik, Papah memutuskan juga menjadi Mualaf ,doanya saja Umi, semoga kami Istiqomah!"


"Alhamdulillah,Amiin,Yra!"Umi Salamah ikut senang.


"Oma,Umi Maliam mana?!"Kata Amira yang memegang tangan Umi Salamah.


"Apakah gadis ini Puteri nya Mariam umi?!Mariam sudah memiliki anak berapa?!"Tanya Bima sambil memandang ke arah Amira.


"Bukan nak!Amira dan Ibrahim adalah anak nya Asma,dia baru saja melahirkan jadi Amira dan Ibrahim Mariam yang bantu mengasuhnya!"


****


bersambung,,

__ADS_1


__ADS_2