MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~

MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~
Main belakang


__ADS_3

"Hentikan Kak!Dia Teh Mariam, Istri dari Kak Bima!Teh Sarah lah istri mu!"


Kata Fatimah sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Wira dari tangan Mariam.


"Bima?!"


Ucap Wira sambil terbengong seperti mengingat sesuatu.


"Akhh!"


Wira kembali mengaduh sambil memegang kepalanya, di kepala nya terbayang saat tangan Bima terlepas dari pegangan,dan ternyata kejadian itulah yang membuat nya trauma, Dia merasa bersalah tidak dapat menyelamatkan Bima.


Kepalanya terasa sangat sakit tatkala muncul ingatan meskipun sekelebat saja.


Bayangan di saat Bima jatuh ke jurang dan terlepas dari pegangan nya begitu nyata, terngiang ngiang di kepala nya saat Bima mengatakan kata Mariam dan Satria.


Hanya itu yang Ia ingat.


Wira masih mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya,semua orang panik dengan apa yang terjadi, Sarah segera memanggil Dokter dan semua nya di minta keluar.


Setelah berada di luar, Mariam menatap cincin yang diberikan Wira dan membolak-balik nya.


"Cincin apa itu Kak?!"Tanya Juna penasaran.


"Ini cincin kawin Aku dan Mas Bima, sepertinya Dia menitipkan nya kepada Wira sebelum jatuh ke jurang!"Jawab Mariam lirih, Ia kembali teringat kepada Suaminya yang telah tiada, kenangan bersama nya kembali terngiang ngiang di kepala nya, membuat Ia kembali merasakan kesedihan yang mendalam.


Sedangkan Sarah merasa lega karena ternyata cincin itu tidak ada hubungan nya dengan Wira, Suaminya.


Dia sempat berpikir jika cincin itu mungkin cincin kenangan Wira dan Mariam dulu,dan Wira masih menyimpan nya, syukur lah semua prasangka nya ternyata salah.


"Terimakasih,ya Sar! Kamu sudah memanggil ku ke sini!Aku mengerti perasaan mu,kamu pasti merasa kecewa karena Wira tidak ingat kepada mu dan malah mengingatku,Aku rasa Dia merasa terbebani karena Ia tidak dapat menyelamatkan Mas Bima!dan Aku yakin sebentar lagi Wira akan segera mengingat semua nya!"Kata Mariam.


"Iya Mar,gak apa apa Aku ngerti kok! Terimakasih ya atas doanya!"Jawab Sarah sambil memegang tangan Mariam.


Mariam dan keluarganya nya pun akhirnya pulang, sedang kan Sarah kembali masuk menemui Suaminya.


Seperti nya Wira sudah kembali tenang,Dia tengah berbaring sambil memejamkan matanya.


"Mas,Kamu sudah baikan?"Tanya Sarah sambil membenahi selimut yang menutupi tubuh Wira.


"Lumayan,tapi kepalaku sering sakit jika mengingat sesuatu!"Jawab Wira sambil kembali terduduk.


"Sabar! pelan pelan saja,kata Dokter nanti juga Kamu akan pulih lagi Mas!Apa kamu benar benar tidak ingat Aku!?"Kata Sarah sambil mengelus tangan Suami nya.


"Maafkan Aku,Aku juga sedang berusaha mengumpulkan ingatan ingatan ku yang hilang,Aku bahkan tidak ingat kapan kita menikah!"Jawab Wira penuh penyesalan.


"Lalu bagaimana dengan Mariam, kenapa kamu bisa langsung mengingat nya!"Pancing Sarah, dia hanya ingin tahu bagaimana Mariam bisa berada dalam dasar ingatan Wira.


Walau sebenarnya itu wajar saja, karena memang dulu mereka pernah bersama, namun tetap saja Sarah merasa terganggu.


"Karena hanya nama Mariam yang Bima sebutkan di saat saat terakhir nya,Aku merasa bersalah padanya, andai saja Aku tak melepaskan pegangan tangan nya, pasti sampai sekarang Dia masih hidup,hiks hiks!"


Baru kali ini, Sarah melihat Wira menangis begitu dalam.

__ADS_1


Terlihat penyesalan yang begitu besar tersirat di wajahnya, Sarah begitu merasa bersalah karena sudah berpikiran yang tidak tidak kepada Suaminya itu.


"Bukan salah Kamu Mas! Semua nya sudah takdir, kita tidak boleh menyesali nya!"Hibur Sarah sambil memeluk Wira dan mengusap ngusap rambut nya.


"Kata kata terakhir nya begitu terngiang ngiang di kepala ku,Dia meminta ku untuk menjaga Satria dan Mariam, lalu dia jatuh dan tak sengaja cincin nya sudah berada di genggaman ku, hanya bagian itu yang selalu muncul di pikiranku!"


Ucap nya lagi begitu lirih.


"Aku mengerti perasaan mu Mas!tapi kamu tenang saja, Mariam tidak menyalahkan mu atas apa yang terjadi kepada Suaminya, dia berharap kamu cepat sembuh,Mas! bahkan Juna dan Roy tak sabar ingat kamu segera bergabungp kembali di perusahaan mereka!"Sarah terus memberikanp0 motivasi kepada Suami agar tetap semangat untuk segera sembuh.


"Maafkan Aku, Tolong bantu Aku mengingat semuanya!"


Kata Wira sambil menatap Sarah, matanya berkaca-kaca,dia terlihat sangat Frustasi,ingin mengingat semua nya.


Dan sungguh Ia pun penuh keheranan, kenapa wajah Mariam begitu terngiang ngiang di kepala nya.


Sungguh ini tak boleh, bukan kah dia sudah memiliki Istri yang bernama Sarah ini?


yang sekarang berada di hadapan nya, yang selama ini mengurusi nya saat Ia terbaring sakit,dia selalu setia meskipun dirinya tak ingat tentang Dia sedikit pun.


Sarah memeluk nya penuh kehangatan.


Sungguh aneh,Wira sedikit pun tak merasakan getaran getaran saat berada di dekat Sarah, Dia harus mengulang dari awal, belajar kembali mencintai nya.


Baginya Sarah seperti orang asing kembali,dan Ia harus berusaha keras mengembalikan lagi potongan potongan kenangan saat bersama nya.


****


Waktu berlalu begitu cepat.


Kini Ia kembali ke perusahaan milik mendiang Bima dan di tempat kan di perusahaan inti bersama Juna dan Roy.


Kini Juna lah sang pemimpin perusahaan, sedangkan Satria lah yang memegang saham tertinggi,dan di jalan kan oleh Wira sebagai wakilnya.


Setelah ditinggal Bima, Mariam berusaha berbenah sendiri bersama Putera semata wayang nya, Satria.


Mariam ingin hidup mandiri dan tidak terlalu bergantung dari penghasilan bagi hasil yang di berikan perusahaan kepada dirinya, nominal yang cukup besar memang,tapi rasanya tak enak hanya berdiam diri saja dirumah, sedang kan gaji tetap mengalir, serasa memakan gaji buta.


Apalagi semua orang begitu memberi perhatian lebih kepada Satria, termasuk Wira.


Ia yang paling merasa bertanggung jawab setelah kepergian Bima.


Ia sering kali menggantikan peran Ayah untuk Satria.


Bahkan diam diam di belakang Sarah dan Mariam Ia sering menemui Satria ketika di sekolah nya, menemaninya nya jika Satria butuh sosok Ayah ketika di luar rumah,dan itu Ia lakukan tanpa sepengetahuan Sarah atau pun Mariam.


Hari ini Mariam memutuskan untuk menemui Juna di perusahaan,Ia berniat meminta pekerja disana, pikir nya


sudah cukup besar untuk ditinggal bekerja.


"Apa uang yang kita beri kurang banyak,Kak? Kakak boleh minta tambah berapa pun yang Kakak mau!"Kata Juna begitu mengutarakan keinginannya.


"Bukan Jun! Itu sudah lebih dari cukup!Aku hanya tak mau berpangku tangan,dan Aku ingin memiliki kegiatan,Jun!Itu saja!"Mariam terus bersikeras untuk ikut bekerja.

__ADS_1


"Aku cukup mumpuni bekerja di perusahaan ini dan Aku cukup berpengalaman, dulu Aku pun pernah bekerja di perusahaan ini juga kan!"


"Tapi nanti bagaimana dengan Satria, dia siapa yang urus,Kak?!"


Sanggah Juna.


"Setiap hari dia ada kegiatan,Aku bisa jemput dia setelah pulang kerja! Ayolah Jun,Aku bosan terus dirumah!"


Juna mengacak rambutnya kasar, setelah Kakak nya Bima meninggal,Dia sudah menganggap Mariam sebagai kakak nya sendiri, rasa nya tak tega jika dia menginginkan sesuatu terus dia tidak mengabulkan nya.


"Baiklah kalau itu mau Kakak, tapi hanya ada dua lowongan yang kosong, menjadi sekertaris Wira atau sekertaris ku! terserah Kakak mau pilih yang mana!"


Kata Juna akhirnya.


"Memang nya kemana Fatimah, sekertaris kamu kan biasanya sama Dia!"


"Sutttt,hanya Kak Mariam yang baru tahu, tadinya Kami berniat memberi kejutan untuk kalian, bahkan Mamah pun belum Aku kasih tahu!"


"Apaan sih?! bikin penasaran aja kamu!"Mariam tak sabar dengan apa yang akan disampaikan Juna.


"Fatimah hamil Kak!baru tadi pagi Dia kasih tahu Aku!"Kata Juna dengan begitu sumringah, jelas terlihat raut bahagia di wajahnya.


"Ah, yang bener kamu! Alhamdulillah, akhirnya kalian memiliki momongan juga!Kakak ikut senang mendengar nya!Ya udah,kalau kamu gak keberatan,Kakak aja yang gantiin Fatimah, Kalau sama Wira rasanya agak risih aja!"Jawab Mariam, sengaja Dia memilih bekerja dengan Juna dibandingkan dengan Wira, Dia tak akan nyaman begitu juga Sarah dan Wira nya sendiri.


"Emang gak apa apa Kakak kerja sama Aku, nanti malah Aku yang risih lagi, nyuruh nyuruh Kakak,kan gak sopan!"Kata Juna.


"Idih, Kamu, biasa juga Kamu emang demen nyuruh nyuruh Kakak kan, biasa nya juga suka jahil!"Jawab Mariam ketus, emang iya adik ipar nya yang satu ini tidak seperti adik ipar yang lain nya,dia lebih dekat dengan nya seperti adik sendiri, karena kepribadian Juna yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa pun.


"Ya udah deal!besok Kakak datang ke kantor harus lebih pagi dari Aku!"


"Tuh kan ,tuh kan!berani ya kamu sama Kakak sendiri!"Canda Mariam,di iringi tawa dari Juna.


"Salah sendiri,mau jadi sekertaris Aku segala!"


Drtttt


"Sutttt! Satria Vc!"Kata Mariam sambil membuka ponsel nya.


"Hai Sayang! Assalamu'alaikum!kamu udah selesai les nya,Mau Umi jemput sekarang?!"


Tanya Mariam begitu terlihat muka Satria dilayar ponsel nya.


"Bentar lagi ya Umi! Tria lagi main dulu di taman dekat sekolahan!"Jawab Tria,dia terlihat sedang bermain di perosotan dan terlihat sangat gembira.


Sekelebat terlihat seseorang berada bersama nya, seseorang yang Dia kenal.


"Kamu sama siapa disana Tria!?Umi kan sudah bilang jangan mau diajak sama orang asing!"Mariam terlihat khawatir.


"Oh,Itu Papah Wira,Umi, Umi kan kenal sama Dia!Dia yang ajakin Tria main kesini,Umi!"Jawab Tria sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah Wira, namun Wira segera menghindar.


Deghh!


"Apa apa an Wira ini!?"Mariam terlihat marah,dia berdiri dan segera beranjak.

__ADS_1


"Juna antar Kakak menjemput Satria!ini penting!"


__ADS_2