Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Rumah Ara


__ADS_3

Tangan Aris yang mengepal akhirnya di biarkan pada sisi tubuhnya tanpa adanya pelampiasan. Dia ingin sekali meninju wajah Bian, tetapi dia tidak ingin Ara bertambah marah dengannya.


"Ara , aku tidak setuju kalau kamu menikah dengan pria ini. Tolong maafkan kesalahanku, aku janji tidak akan seperti itu lagi." Ucap Aris sambil menggenggam tangan Ara.


"Ara ? Bapak hanya setuju jika kamu menikah dengan Aris , dan kami tidak setuju kalau kamu menikah dengan pria ini ," kata Bapaknya sambil menunjuk Bian dengan suara yang keras.


"Aku tidak peduli mau kalian setuju atau tidak , tapi aku akan tetap menikah dengannya," balas Ara yang ikut marah.


"Ara, kalau kamu menikah dengan anaknya Ibu Nining, maka hidupmu pasti akan kesusahan. Apa kamu tidak kasihan dengan si kembar ? Kalau kamu menikah dengan Aris maka hidupmu dan si kembar akan terjamin ,karena dia memiliki perusahaan, " terang Ibunya menjelaskan sambil menatap Ara


"Ibu ,Bapak , tolong restui hubungan kami ! Aku janji akan membahagiakan Ara."ucap Bian memohon.


" Bagaimana caramu menafkahi putriku ? Sedangkan kamu hanya seorang anak babysister." Terang Ibunya memandang rendah Bian.


"Yang menjadi babysister adalah Ibu saya bukan saya. Dan saya juga sudah bekerja ,jadi sudah pasti saya bisa menafkahi Ara," jawab Bian sambil menatap orang tua Ara


" Tapi saya yakin kalau gajihmu tidak jauh berbeda dengan gajih Ibumu,"kata Ibu Ara yang terus merendahkan Bian


"Ternyata keluargaku begitu keterlaluan. Dia selalu saja salah dalam menilai seseorang . Dia pikir Bian itu cuma laki-laki miskin. Padahal mereka tidak tahu kalau Bian itu lebih kaya dari Kak Aris ,dan dia juga menjadi dokter. Tetapi Bian dan Ibunya tidak pernah memandang rendah siapapun ,"gumam Ara di hatinya


" Cukupp ! Jadi kalian memandang calon suamiku dari segi materi ? Kalian dari dulu tidak pernah berubah," teriak Ara yang begitu marah bagaikan nyala api yang menyala berkobar-kobar. "Lebih baik kita pergi dari sini ,"sambil menarik tangan Bian, dan mengajaknya keluar dari rumahnya.


"Ara berhenti , kamu mau kemana lagi ? Kakak bilang berhenti," teriak Aris yang langsung mengejar Ara. Akan tetapi Ara tidak menghiraukan ucapan Aris sama sekali.


" Ara , berhenti. Jangan pergi lagi," teriak orang tuanya, akan tetapi Ara tidak memperdulikan ucapan mereka sama sekali.


"Sayang, apa kamu tidak mau berpamitan dulu dengan keluargamu ? " tanya Bian.


"Tidak usah berpamitan dengan mereka . Kalau kita berpamitan, mereka pasti akan mengurungku," jawab Ara yang lari menuju ke mobil Bian.


Viona yang baru saja datang, begitu terkejut melihat Ara dan Bian keluar dari rumahnya.

__ADS_1


" Apa yang sebenarnya terjadi," pikir Viona merasa bingung.


"Viona , Ara di mana ? " tanya Aris


"Dia sudah pergi dengan calon suaminya, memangnya kenapa ? " tanya Viona dengan alis mata terangkat.


"Argh sial ! Gara-gara kemarin terjatuh di tangga , sekarang aku jadi tidak bisa mengejar Ara," umpat Aris dengan wajah berapi-api.


" Aris, dimana Ara ? " tanya Om dan Tantenya bersamaan.


" Dia sudah pergi Om," jawab Aris


" Kita harus mencari cara agar Ara mau kembali ke rumah ini, dan menikah dengan Aris . Aku tidak mau Ara menikah dengan anak Ibu Nining," Mata Ibunya terbuka lebar dengan titik pupil yang tampak marah ,dan buta oleh amarah.


" Tante memang benar, nanti biar aku yang mencari cara agar Ara mau kembali ke rumah ini lagi," sahut Aris yang masih marah dengan semuanya.


" What ? Jadi pria itu hanya anak dari seorang baby sister ?"teriak Viona dengan mata terbelalak lebar.


" Ini semua gara-gara kamu, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini . "Kata Aris dengan alis mata pada saat yang sama tersimpul dan melengkung.


" Kenapa kamu selalu marah denganku ? Padahal aku sudah minta maaf denganmu," jawab Viona merasa begitu kesal.


Aris memandang Viona dengan tatapan berapi-api. Semakin lama Viona di rumahnya, semakin amarahnya ingin meledak.


Brak...


Tidak ingin mendengar ucapan dari Viona , Aris akhirnya menutup pintu rumahnya rapat-rapat.


"Ah, sial ! Gara-gara perempuan itu, Aris jadi membenciku. Aku harus mencari cara agar Aris mau dekat denganku lagi,"gerutu Viona sambil memasang wajah cemberut. Dia langsung masuk ke mobilnya.


"Aku kira pria itu adalah orang kaya, tapi ternyata dia itu hanya pria miskin. Kalau seperti ini lebih baik aku bersama Aris saja," gerutu Viona lagi ,dan dia lalu meninggalkan rumah Aris.

__ADS_1


Di jalan , Ara dari tadi hanya diam saja. Dia merasa tidak enak dengan Bian karena sikap orang tuanya tadi.


" Sayang, kenapa kamu diam terus ? Apa kamu masih memikirkan ucapan orang tuamu tadi ? " tanya Bian sambil melihat ke arah Ara.


" Sayang , tolong maafkan orang tuaku ya ? Dia begitu keterlaluan denganmu . Aku merasa malu karena sikap orang tuaku barusan. Dan mereka juga begitu merendahkanmu, " ungkap Ara menunduk ,karena merasa tidak enak dengan Bian.


Bian tersenyum menatap Ara.


" Aku tidak marah sama sekali kok, apalagi mereka itu adalah orang tuamu. Dan aku sudah terbiasa di rendahkan seperti itu . Wajar mereka seperti itu denganku, karena mereka ingin putri mereka bahagia. Tidak usah kamu pikirkan ucapan mereka, karena suatu saat nanti mereka pasti merestui hubungan kita. Apapun hinaan yang mereka berikan kepadaku,asalkan kamu selalu bersamaku , maka aku akan tetap sabar menghadapinya." Terang Bian sambil menggenggam tangan Ara.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu ? " tanya Ara sambil menatap Bian.


" Bertanya apa ? " tanya Bian dengan alis mata terangkat.


" Kenapa kamu begitu mencintaiku ? Padahal aku hanya seorang janda dan memiliki 2 orang anak. Dan di luar sana pasti banyak perempun yang ingin menjadi istrimu," kata Ara


" Memangnya apa masalahnya kalau kamu seorang janda ? Apa menikahi seorang janda itu dosa ? Tidak kan ? Kalau masalah anakmu ,kita bisa membesarkannya bersama-sama. Apalagi Ibuku begitu menyukai si kembar. Dan perasaanku ini juga sudah ada dari dulu, saat pertama kali aku melihat wajahmu. Dan setelah itu kamu hanya datang dalam mimpiku saja . Saat aku merindukanmu , aku hanya bisa menangis dan membayangkan wajah cantikmu itu. Setiap hari aku selalu memikirkanmu, dan aku bekerja keras membangun sebuah perusahaan dari nol hingga menjadi seperti sekarang ini hanya untuk dirimu. Aku dulu begitu yakin kalau Tuhan pasti mempertemukan kita. Karena itu aku giat bekerja , karena aku tidak ingin kamu hidup susah saat bersamaku . Aku sungguh begitu mencintaimu," ucap Bian sambil menatap Ara.


" Aku juga begitu mencintaimu ," balas Ara.


" Apa kamu mau mampir ke suatu tempat dulu ? " tanya Bian


" Sepertinya aku ingin mampir ke butikku sebentar, " jawab Ara.


Bian tampak terkejut mendengarnya .


" Kamu memiliki butik ? " tanya Bian dengan alis mata terangkat. Walaupun Ibunya tahu Ara memiliki butik tapi Bian baru tahu hari ini karena dia sangat jarang mengobrol dengan Ibunya .


" Iya, tapi keluargaku tidak tahu sama sekali karena dulu aku tidak sempat memberitahu mereka." Terang Ara menunduk.


" Kamu itu memang wanita yang hebat , aku semakin kagum denganmu. "Kata Bian tersenyum.

__ADS_1


Bian lalu mengantar Ara ke butiknya.


__ADS_2