
Ara keluar dari restoran itu setelah memberi pelajaran pada mereka. Ketika membuka pintu mobilnya,Ara terlonjak kaget ketika ponselnya berdering hebat di dalam tasnya.
" Nomor siapa ini ? " pikir Ara merasa bingung. Dia menggeser ikon berwarna hijau untuk menjawab panggilan telepon itu.
" Halo, selamat siang, ini dengan siapa ?" tanya Ara
" Aku Neneknya Bian," jawabnya
Mata Ara terbelalak lebar mendengarnya.
" Hmm ,apa kabar Nek ? Maaf Nek, aku baru tahu kalau Bian memiliki seorang Kakek dan Nenek ," balas Ara merasa tidak enak
Namun Neneknya Bian tidak membalas ucapan Ara.
" Halo Nek ,"
" Aku ingin mengundang semua cucuku untuk makan siang bersama, dan sekalian kami ingin mengenalmu karena kita belum pernah berkenalan dan kami juga tidak tahu kamu menikah waktu itu. Bisakah kamu datang kesini ? Karena kamu adalah istri Bian, jadi sudah seharusnya kamu juga datang,"ujar Neneknya
" Apakah Bian juga datang, Nek? " tanya Ara
" Tentu saja, sekarang dia sudah menuju ke sini. Jadi cepatlah kemari , aku tunggu kedatanganmu. Nanti aku kirimkan alamatnya," ujar Nenek Bian
"Ba..." Belum selesai Ara bicara tapi sambungan teleponnya sudah di matikan begitu saja.
" Padahal aku belum selesai bicara tapi sambungan teleponnya sudah di matikan begitu saja,"gerutu Ara dengan raut wajah kesal.
Saat Ara telah masuk ke dalam mobil, ponselnya kembali berdering . Kali ini Bian yang memanggilnya dengan panggilan video.
"Gawat ! " seru Ara dengan panik.
"Kalau Bian tahu aku berada di restoran yang sangat jauh dari rumah pasti dia akan tahu kalau aku keluar rumah." Terpaksa Ara membiarkan ponselnya berbunyi hingga berhenti.
📱[ Sayang, aku sedang berada di kamar mandi dan sekarang aku sedang buru-buru mau ke rumah Nenekmu. Sebaiknya jangan melakukan panggilan video dulu.] Ara mengirimkan pesan pada suaminya satu menit kemudian.
📱[ Lebih baik tidak usah kesana. Tetaplah di rumah, dan jaga dirimu baik-baik,]
📱[ Aku tidak enak kalau tidak datang. Aku akan ke sana, nanti aku akan menghubungimu jika aku telah sampai di depan rumah Nenekmu ]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rumah Nenek Bian
Setelah sampai di depan rumah Nenek Bian, Ara berkali-kali menghubungi Bian namun ponsel Bian tidak aktif.
__ADS_1
" Apakah Bian sudah di dalam ? Tadi Nenek bilang kalau Bian sudah dalam perjalanan menuju kemari , jadi pasti dia sudah sampai duluan, "
"Aku tidak enak masuk ke dalam sendirian. Padahal aku ingin menyuruh Bian untuk keluar sebentar tapi ponselnya malah tidak aktif," pikir Ara terlihat gelisah
" Lebih baik aku masuk saja , " gumam Ara yang langsung membuka pintu mobilnya
Kedatangan Ara hanya di sambut oleh para pembantu , sedangkan yang lain tampak acuh dan tidak peduli padanya.
" Pasti itu Kakek dan Nenek Bian. Padahal aku baru pertama kali kesini , tapi mereka tidak menyambut kedatanganku dan terlihat cuek sekali, " gumam Ara di hatinya. Dia lalu celingak-celinguk mencari Bian.
" Dimana Bian ? Apa dia belum sampai ? Aku jadi merasa canggung. Apalagi sikap mereka begitu dingin, dan bahkan menjawab sapaan juga terlihat enggan. Harusnya tadi aku mendengarkan ucapan Bian, tapi aku kira dia akan baik denganku, " pikir Ara yang duduk sambil melihat para pembantu yang sedang bekerja.
" Apakah kau Ara ? " tanya seorang wanita tua.
" Iya ,Nek. " Jawab Ara menunduk
" Aku Nenek Rita ,Neneknya Bian. Terimakasih karena kamu sudah mau datang kemari. Sekarang ayo ikut aku ke meja makan, karena semuanya sudah berkumpul di sana," ujar Nenek Rita
" Apa Bian sudah ada di sana ? " pikir Ara lagi
Setelah sampai di meja makan Ara celingak -celinguk mencari suaminya.
" Kamu mencari siapa ?" tanya Nenek Rita
" Neneknya Bian terlihat masih muda," pikir Ara
" Aku sudah menghubungi Bian tapi dia bilang tidak bisa datang kemari,"
" A_apa ? tadi Nenek bilang kalau Bian sudah menuju kemari," ujar Ara merasa bingung
" Aku hanya berbohong padamu, " balasnya
" Nenek , dia siapa ? " tanya seorang laki-laki yang seumuran dengan Ara.
"Perkenalkan dia adalah Ara istrinya Bian ," ucap Nenek Rita
" Ara, ayo duduk di sini ! "ucap seorang laki-laki sambil tersenyum manis ke arah Ara.
" Duduklah, " balas Nenek Rita
"Iya ,Nek," jawab Ara
" Hai, perkenalkan aku Dion," sahut Dion sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
" Aku Ara," balasnya
"Ohh , jadi ini wanita penggoda itu ," ujar seorang perempuan berambut sebahu.
" Sudah..sudah , lebih kita makan. Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini," sahut Kakek Frans sambil memandang satu per satu cucunya. Namun ketika memandang Ara, belum sempat beradu tatap Kakek Frans sudah lebih dulu memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Baik,Kek," sahut mereka secara serempak lalu mengambil makanan yang mereka sukai.
Ara menikmati makanan yang ada di piringnya dengan perasaan canggung. Tanpa adanya Bian disana, dirinya seperti orang asing yang tidak di harapkan kehadirannya. Mereka bahkan asyik mengobrol sendiri tanpa memperdulikannya.Hanya Dion yang terus mengajaknya mengobrol.
" Ara, makanlah lebih banyak. Jangan sungkan,"ujar Dion sambil mengulurkan tangan untuk memasukkan beberapa potong udang ke dalam piring Ara.
Ara ingin menolak tapi Dion sudah terlebih dahulu memasukkan udang ke dalam piringnya.
" Tentu saja harus makan banyak karena ada banyak pria yang ingin menjadi kekasihnya,"sindir wanita muda bernama Lara sambil melirik dengan senyum mengejek.
" Benar, sebaiknya kamu makan lebih banyak agar bisa memikat tiga pria sekaligus," sindir salah seorang gadis lagi yang duduk di sisi Lara.
Selera makan Ara seketika hilang, kunyahan di mulutnya juga berhenti. Namun kali ini memilih diam meskipun telinganya panas.
" Apa maksud kalian ? Berhentilah berbicara mengada-ngada," bela Dion sambil memandang para sepupunya.
" Kami hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku harap kamu tidak buta dengan berita yang menyebar ke seluruh negeri ini. Aku tidak menyangka kalau ada seorang wanita yang sudah mendapatkan suami baik, tapi sayang tidak setia," ungkap Lara
" Sepertinya kalian yang buta bukan aku," gerutu Dion
Dion sudah tahu kalau berita yang saat ini tersebar tidaklah benar. Karena kemarin dia tidak sengaja mendengar percakapan Tio dan Qilla di sebuah Bar.
Perseteruan Dion dan Lara tidak dapat terelakkan. Mereka terus saja beradu mulut, saling bersahut- sahutan satu sama lain.
" Lara , cukup ! Berhentilah berbicara omong kosong. Apakah kamu tidak takut kalau dugaanmu salah ?"ujar Dion sambil menggebrak meja cukup kuat.
Ara memijat alisnya. Kepalanya jadi pusing memikirkan masalah yang sudah merembet kemana-mana.
Nenek rita meletakkan sendok ke atas piring dengan sedikit membantingnya sehingga suaranya cukup nyaring dan mengejutkan semua orang.
Suara yang tadinya riuh mendadak sunyi. Mereka tampak takut dengan tatapan Nenek Rita.
" Kita sedang makan. Bisakah kalian berhenti bicara ? " tanya Nenek Rita dengan nada dingin.
Dion dan Lara kembali ke tempat duduknya masing- masing. Namun tatapan mereka masih sama-sama tajam saat beradu.
Ara menghela nafas berat, dia semakin tidak enak hati, gara-gara kedatangannya acara mereka malah menjadi kacau.
__ADS_1