
Di balkon itu ada sebuah kursi panjang dan sebuah meja. Bian mengajak Ara untuk duduk di sana.
" Lebih baik kita duduk,tidak nyaman minum sambil berdiri,"ajak Bian
Ara mengikuti ucapan suaminya. Mereka duduk berdampingan dengan jarak beberapa sentimeter saja karena kursi yang mereka duduki memang tidak terlalu panjang. Hanya cukup untuk berdua saja.
"Minumlah, ini teh chamomile. Rasanya sangat menyegarkan dan dapat menghangatkan tubuh." Bian mengambil secangkir teh lalu memberikannya pada Ara.
" Kenapa jadi terbalik seperti ini ? Seharusnya aku yang menyeduh teh untukmu ,bukan malah sebaliknya," kata Ara dengan perasaan tidak enak hati.
" Memangnya kenapa ? Apa ada yang salah ? Seorang suami yang baik juga harus melayani istrinya," ucap Bian
" Tidak juga, aku hanya seperti sedang menyalahi aturan," balas Ara sambil terkekeh
"Tidak benar," sanggah Bian. Apapun akan dia lakukan untuk sang istri.
Ara menyeruput teh chamomile buatan Bian secara perlahan. Rasa manisnya sangat pas di lidahnya, mampu melegakan tenggorokannya yang tadi sempat kering. Aromanya yang wangi mampu menenangkan jiwanya.
Bian menggeser tubuhnya sedikit hingga hingga mereka saling menempel.
"Apa yang kamu lakukan ? " tanya Ara
Bian merengkuh pundak Ara dari samping agar lebih intim lagi.
" Aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Bukankah sangat membahagiakan minum teh sambil melihat bulan purnama ? Apalagi saat ini aku bisa menikmati bersama istriku." Bian semakin mengeratkan pelukannya, meski masih sedikit ragu.
Ara menoleh beberapa detik ke arah Bian, lalu meletakkan cangkir di atas meja. Jantungnya sudah seperti hendak melompat dari dadanya. Tubuhnya juga semakin meremang saat merasakan usapan lembut tangan Bian di lengan bagian atasnya.
" Apa kamu tidak nyaman duduk seperti ini ? " tanya Bian
Ara menggigit bibir bawahnya, dia merasa bingung menjawab pertanyaan Bian.
" Mau duduk lebih nyaman lagi ? " tawar Bian
__ADS_1
Tanpa sadar Ara menganggukkan kepalanya pelan. Meski belum mengerti arti dari pertanyaan Bian. Bibirnya memekik pelan ketika merasakan tubuhnya melayang di udara beberapa detik.
Dengan sigap , Bian mengangkat tubuh Ara. Memindahkannya dari kursi kayu hingga kepangkuannya.
" Apa yang kamu lakukan ? " tanya Ara sekali lagi dengan nafas semakin memburu. Ara tidak mengerti kenapa Bian tiba-tiba saja memindahkannya dalam pangkuannya.
" Duduk seperti ini jauh lebih nyaman," kata Bian sambil memeluk tubuh Ara dengan erat. Aroma parfum vanila yang di kenakannya membuat pikirannya semakin melayang. Aromanya sangat manis apalagi bercampur dengan aroma tubuh Ara yang khas.
Mata Bian terpejam, ingin menghayati aroma manis yang mengguar ke dalam hidungnya.
"Tapi...." Ara hendak protes tapi Bian sudah terlebih dahulu menarik tubuhnya hingga posisinya kini sudah menghadap ke samping. Bola matanya bergerak gelisah saat beradu tatap dengan Bian.
" Aku mencintaimu, dan aku sungguh menginginkanmu," bisik Bian sambil menggigit ujung telinga Ara hingga tubuh wanita yang berada di pangkuannya menegang.
Bibir Ara hendak terbuka, suaranya belum keluar tapi Bian sudah terlebih dahulu menyerang bibirnya secara agresif. Lidahnya memaksa menerobos masuk ke dalam mulutnya. Ara tidak sanggup lagi menahan lidah Bian yang bergerilya sesuka hati di dalam mulutnya.
Bian menekan kepala Ara agar tidak beranjak dari serangan bibirnya yang agresif. Rasanya dia tidak sanggup lagi merasakan gelora hasrat yang semakin diubun-ubun.
Dada Ara naik turun, nafasnya mulai tersengal-sengal. Oksigen begitu sulit masuk ke dalam paru-parunya karena Bian menciumnya tanpa memberikan jeda.
Mata Bian lantas terbuka ketika merasakan nafas Ara yang sudah tersengal-sengal. Dia lantas menarik tubuhnya.
" Bagaimana rasanya? " bisik Bian
Ara justru tidak menjawab pertanyaan Bian. Merasa belum puas, Ara kini menegakkan kepalanya hingga bibir mereka menyatu lagi. Dia bergantian ******* bibir Bian, saling bertukar saliva. Tubuhnya semakin memanas dan tidak terkendali. Pikirannya sudah semakin kacau dan tidak menentu.
Bian membopong tubuh Ara untuk masuk ke dalam rumah karena udara di luar sudah semakin dingin.
Pelan-pelan dia menurunkan tubuh istrinya di ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka.
Ingin mendapatkan sensasi yang lebih, Bian menurunkan bibirnya menelusuri leher hingga ke pundak Ara. Mencecapnya tanpa memberikan jeda hingga Ara semakin mabuk kepayang.
Wanita itu melenguh diiringi dengan ******* seksi yang keluar dari bibirnya. Tubuhnya semakin menegang dengan gelayar aneh yang sudah menjalar di sekujur tubuhnya. Ada sensasi menggelikkan hingga tubuhnya seperti sedang melayang di udara. Kupu-kupu yang mengumpul di perutnya hingga terasa seperti hendak beterbangan.
__ADS_1
Bian mendaratkan bibirnya pada bagian dada Ara. Menyesapnya pelan untuk meninggalkan jejak-jejak kepemilikan. Kulitnya yang putih bersih membuatnya semakin terlihat jelas tanda merah itu.
Melihat tubuh Ara yang mulai bereaksi lebih membuat bibir Bian tersenyum. Senang melihat wanitanya menggeliat manja. Terlebih lagi ketika mendengar ******* seksinya yang di tahan. Terlihat sangat menggemaskan hingga rasanya dia tidak sabar untuk menyatukan tubuh mereka.
" Apakah malam ini akan akan menjadi malam pertama untuk kita ? " tanya Bian dengan suara bariton di telinga Ara.
Ara perlahan membuka matanya. Nafasnya terengah-engah menahan hasrat yang sudah tidak bisa di bendung lagi. Sentuhan Bian atas tubuhnya membuatnya merasa gila.
"Aku takut kalau kamu nantinya meninggalkanku," ucap Ara karena masih trauma dengan pernikahannya yang dulu.
" Tenang saja, kita akan selalu bersama hingga maut memisahkan kita." Jawab Bian
Malam ini akan menjadi malam yang indah untuk keduanya. Meski sebelumnya Bian tidak pernah berpikir kalau malam pertama mereka akan terjadi di rumah barunya.
Tidak menunggu lama, Bian memiringkan tubuh Ara lalu menarik resleting baju Ara bagian belakangnya.
Bibir Ara mendesah kembali ketika Bian menurunkan pakaiannya semakin ke bawah. Dua buah persik ranum yang masih terbungkus dengan rapi menyembul dengan indah. Bian menatapnya sambil menelan salivanya.
Ara tersadar akan tatapan Bian, Ara lantas menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
" Tidak usah malu, karena kita adalah pasangan suami istri yang sah," kata Bian
Untuk memudahkannya ,Bian melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Melemparkannya ke sembarang arah hingga pakaiannya berserakan di lantai. Kini hanya tersisa celana pendek saja yang menempel di sebagian kecil tubuhnya.
Ara menelan saliva hingga tenggorokannya terasa kering saat memandang tubuh suaminya yang terlihat perkasa.Tubuhnya merinding disco membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ara tersadar dari lamunannya saat merasakan ada sesuatu yang tertarik dari tubuhnya.
Bian menurunkan secara paksa pakaian yang di kenakan Ara hingga terkoyak. Bian sudah tidak sabar ingin melihat setiap inci bagian tubuh istrinya yang tidak berpenghalang.
Terima kasih untuk para pembaca yang lainnya, Yuk sekalian mampir ke novel author di bawah 👇
__ADS_1