Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Kakek Tio


__ADS_3

Pagi harinya


Ara terbangun dan melihat suaminya sudah  di sampingnya.


" Kapan dia pulang ? " pikir Ara.


Penasaran dengan berita tentang dirinya yang sejak kemarin sudah tersebar kemana-mana, Ara melihat salah satu situs berita untuk memeriksanya. Dia ingin tahu apa yang harus dia lakukan untuk kedepannya.


Berulang kali Ara mengusap layar ponsel untuk melihat berita seperti kemarin. Namun berita tentangnya sudah tidak ada lagi. Bahkan ada sebuah vidio klarifikasi dari Tio di sertai dengan rekaman CCTV .


Di dalam vidio tersebut , Tio mengklarifikasi kalau dirinya lah yang sengaja memasukkan obat perangsang untuk menjebaknya. Ara tercengang lalu mengerjapkan kelopak matanya.


Ara mengamati dengan seksama vidio tersebut. Dia baru tersadar kalau Tio mengalami luka pada kakinya dan cara berjalannya juga tampak kesulitan.


" Apa yang terjadi ? " pikir Ara


Pandangan Ara langsung beralih pada Bian yang masih tertidur pulas.


" Apakah ini ada hubungannya dengan Bian yang tidak pulang semalam ? " gumam Ara merasa bingung.


Ara juga membaca komentar-komentar orang tentang Tio. Saat ini ada banyak orang yang menghujat dan memaki-maki Tio dengan ucapan pembohong.


Ara mengikat rambutnya secara asal. Dia ingin pergi ke kamar mandi.


" Mau kemana ?" ujar Bian dengan suara baritonnya yang serak. Telapak tangannya yang besar mencengkram tangan Ara sebelum wanita itu beranjak dari sisinya.


" Aku mau pergi ke kamar mandi , setelah itu ingin melihat si kembar," terang Ara.


" Temani aku sebentar," Bian langsung menarik tubuh Ara dengan kuat hingga wanita itu terhempas di atas tubuhnya.


Ara menangkup pipi Bian dengan perasaan gemas tetap dalam posisi telungkup di atas dada Bian. Dengan posisi seperti ini dia merasa seperti seorang bayi yang baru lahir.


" Sayang, terimakasih untuk semua yang kamu lakukan untukku," ucap Ara.


" Terima kasih untuk apa ?" tanya Bian merasa bingung.

__ADS_1


" Tidak usah menyembunyikan apapun dariku. Aku tahu semalam kamu berusaha untuk menyelesaikan masalahku. Lain kali tidak akan terulang kembali kejadian seperti ini. Aku pasti akan berusaha menjaga diri dan lebih waspada," ujar Ara.


"Lain kali aku harus peka dalam melakukan apapun. Pasalnya banyak orang di dunia ini yang memakai topeng untuk menyembunyikan kebencian mereka," pikir Ara


" Sudah sepantasnya aku sebagai seorang suami untuk melindungimu. Mana mungkin aku akan diam saja saat istriku mendapatkan masalah. Apalagi sampai mempermalukannya. Bahkan jika ada masalah yang jauh lebih besar dari ini, aku juga pasti akan berusaha untuk melindungimu,"ungkap Bian


" Kenapa kamu begitu mempercayai kalau aku tidak bersalah ?" tanya Ara. Manik coklat matanya menatap begitu dalam mata elang Bian.


" Karena aku sudah tahu kalau kamu  bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Apalagi tertarik dengan pria yang baru kamu kenal. Aku juga sudah tahu bagaimana sifatmu," ungkap Bian sambil tersenyum


" Apa yang kamu lakukan pada Tio sehingga dia bersedia mengakui kesalahannya ? " tanya Ara dengan kedua tangan yang di gunakan untuk menopang dagunya.


" Hanya sedikit memberi pelajaran lalu mengancamnya," sahut  Bian dengan jujur.


" Apa yang kamu lakukan pada kakinya? " Jawaban Bian tidak membuatnya puas sehingga Ara ingin bertanya lebih jauh lagi.


" Kaki ? " Bian mengernyitkan dahinya. Berpikir sejenak karena Ara pasti akan marah jika mengetahui dirinya melakukan kekerasan.


" Kenapa kamu bertanya padaku ? Tidak semua hal yang berkaitan dengannya ada hubungannya denganku, " sahut Bian dengan santai agar tidak terlihat gugup.


Bian menghela nafas panjang. Bibirnya tidak bisa menyanggah tudingan Ara.


" Bian, lain kali janganlah bertindak seperti itu. Jangan sampai kamu mendapatkan masalah karena menyelesaikan masalahku," kata Ara dengan perasaan sendu.


" Ssttt, apa yang kamu katakan ? Berhentilah berpikir macam-macam. Aku tidak melakukan apapun. Apa yang didapatkan oleh Tio adalah suatu hal yang wajar. Pria itu memang harus di beri pelajaran agar tidak bertindak semena- mena di lain waktu, " balas Bian sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Ara sebelum  berbicara yang tidak- tidak. Meski tebakan Ara benar tapi dia tidak akan mengakuinya.


Ara beranjak dari tubuh Bian lalu dudum di sebelahnya.


"Aku percaya padamu," ucap Ara pada akhirnya untuk menghindari perdebatan. Dia tidak ingin berdebat dengan suaminya.


Bian merasa sedikit bersalah karena tidak mampu mengungkapkan yang sebenarnya.


" Aku ingin mandi dulu ," Ara langsung menuju ke kamar mandi. Bian langsung mengikuti istrinya menuju ke kamar mandi.


Selesai mandi mereka langsung pergi ke meja makan.

__ADS_1


" Bian , keluar kamu ! "


Suara teriakan yang cukup keras tiba-tiba saja menggema dari arah pintu utama. Mereka langsung saling berpandangan satu sama lain.


" Suara siapa itu ? " ujar Ibu Nining merasa bingung.


Mereka lalu keluar untuk melihat siapa yang datang.


Mata mereka terbelalak lebar karena yang datang adalah Tio dan Kakeknya.


" Kenapa dia datang kemari bersama Kakeknya ? " ucap Ibu Nining sambil menatap Bian dan Ara.


" Sepertinya mereka mengadu yang tidak-tidak pada Kakeknya mengenai yang kemarin," kata Bian sambil berdecak.


" Memangnya apa yang kemarin terjadi ? " tanya Ara merasa bingung.


" Bukan apa-apa. Lebih baik kamu pergi ke kamar dan temani si kembar. Jangan cemas karena masalah ini sudah berakhir," ujar Bian. Dia tidak ingin Ara nantinya mungkin mendengar ada kata-kata yang tidak enak didengar.


" Ingatlah, jangan bicara yang kasar pada Kakeknya Tio," kata Ara sebelum beranjak dari sisi Bian.


" Baiklah," jawab Bian sambil tersenyum


Di ruang tamu, Ibu Nining bergegas menemui Tio dan Kakeknya sambil membawa minuman.


" Maaf Pak,ada apa teriak-teriak mencari Bian ? Kami masih bisa mendengar meski anda berbicara dengan suara yang begitu pelan," ujar Ibu Nining dengan lembut dan  pura-pura tidak menyadari kemarahan laki-laki tua itu.


" Dimana anak anda ? Berani sekali dia menyakiti cucu saya ? Apa dia sudah gila ?" ujar Kakeknya Tio dengan suara meninggi. Di belakangnya ada Tio yang bersembunyi dengan tongkat sebagai penompang sebelah kakinya.


" Maaf Pak, duduklah dulu. Kita bicarakan baik-baik." Ibu Nining mencoba menenangkan Kakeknya Tio.


" Panggil dulu anakmu itu," perintah Kakeknya Tio.


Dalam beberapa detik, Bian muncul dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.


" Biarkan saja dia meluapkan amarahnya demi membela cucu-cucunya yang tidak miliki etika itu ," kata Bian lalu berdiri bebetapa langkah di depan Kakeknya Tio yang menatapnya tajam di balik kaca mata minusnya .

__ADS_1


" Kau ..." Laki-laki tua itu menuding tongkatnya pada Bian dengan sangat geram.


__ADS_2