
" Bian , tega sekali kamu padaku hanya karena seorang wanita seperti Ara," kata Tio dengan nafas tersengal-sengal .
" Bian , tolong jangan sakiti Kakakku," ucap Qilla sambil meneteskan air mata.
Bian mengangkat tangannya memberikan perintah pada seorang pria yang berdiri tidak jauh dari sisi Tio.
Pria itu menganggukan kepalanya lalu mendekati Tio dan Qilla. Dia melepaskan ikatan kain hitam yang menutupi mata mereka.
" Kamu memang licik ! " umpat Tio dengan mata berapi-api setelah pandangannya tidak tertutup oleh kain hitam. Meski pencahayaan di sana sangat minim tapi dia bisa melihat bayang-bayang Bian yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya.
" Aku memang licik, tapi setidaknya aku bukan pria yang suka memfitnah seorang wanita," sahut Bian masih dalam posisi duduknya yang santai.
" Kamu...." Tio semakin geram. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan ikatan di tangannya tapi sayang sekali itu semua sangat sulit.
" Kakak,kakimu berdarah." Qilla menatap kaki Tio
" Apakah kamu ingin kakimu seperti Kakakmu itu ? Atau kamu ingin kedua kakimu aku tembak ? Mungkin saja kamu sudah bosan berjalan menggunakan sebuah kaki." Bian memainkan pistol yang berada di tangannya. Sesekali melambungkannya di udara lalu menangkapnya kembali seperti sedang melakukan sebuah pertunjukan.
" Dasar gila ,kamu memang laki-laki tidak waras," ucap Qilla dengan wajah yang tampak ketakutan.
" Aku memang sudah tidak waras ,dan itu karena cintaku pada istriku. Bagaimanapun cara kalian memisahkan aku dan istriku, tapi aku tidak akan mudah percaya dengan ucapan siapapun," ungkap Bian dengan wajah berapi-api.
" Jika kamu berani, mari kita beradu." Tio menantang Bian meski kakinya di landa rasa sakit yang luar biasa.
" Tapi kakimu sedang terluka ,Kak." Qilla menatap Tio dengan wajah khawatir.
" Tidak apa-apa, aku bisa melawannya walau kakiku seperti ini," balas Tio
" Apakah kamu yakin masih sanggup untuk melawanku ? Sepertinya berdiri saja kamu sudah tidak mampu," ejek Bian sambil menaikkan bibirnya ke atas. Menurutnya apa yang dia lakukan saat ini tidak sebanding dengan rasa malu yang di rasakan oleh Ara.
" Bian! " teriak Tio
Ponsel Bian tiba-tiba saja berdering hebat, menggema di ruangan yang remang-remang itu. Bian mengernyitkan dahinya.
" Untuk apa Ibu menghubungiku malam-malam begini ? " pikir Bian
__ADS_1
" Kalian,diamlah sebentar jika masih ingin tetap hidup," ancam Bian kepada Tio dan Qilla
📞" Ada apa ,Bu ? " tanya Bian setelah menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.
📞" Dimana kamu sekarang ? Ini sudah tengah malam, kenapa kamu belum pulang juga ?"tanya Ibu Nining bertubi-tubi
📞" Aku masih ada urusan," sahut Bian dengan suara tenang.
📞" Kalau memang masih ada urusan kenapa tidak menghubungi Ara ? Kenapa kamu membiarkan istrimu menunggu dan mencemaskanmu ?" gerutu Ibu Nining
Bian menghembuskan nafasnya pelan.
📞" Aku akan pulang setelah urusanku selesai. Untuk masalah Ara ,aku memang sengaja tidak menghubunginya karena kalau aku menghubunginya maka dia pasti akan bertanya macam-macam," terang Bian dengan jujur. Dia hanya tidak ingin Ara tahu apa yang sekarang dia lakukan.
📞" Bian,tolong segera kamu selesaikan masalah Ara. Ibu kasihan melihat menantu Ibu bersedih terus," ucap Ibu Nining
📞" Ibu tenang saja,aku akan segera mengurusnya," balas Bian
" Bian ,lepaskan aku ! " teriak Tio
📞" Bian ,siapa itu ?"tanya Ibu Nining dengan penuh rasa curiga.
📞" Bukan apa-apa. Aku matikan dulu, setelah ini aku akan segera pulang." Bian buru-buru memutuskan sambungan telepon secara sepihak karena dia tidak ingin Ibu Nining sampai tahu apa yang terjadi malam ini. Karena Ibunya pasti akan memprotes apa yang dia lakukan. Dia tidak ingin kalau sampai rencananya yang sudah tersusun rapi harus gagal.
" Bobi, cepat eksekusi dia lalu buang mayatnya ke laut. Dengan begitu tidak akan ada yang tahu apa yang kita lakukan," perintah Bian
Mata Tio dan Qilla terbelalak lebar melihat Bobi sudah mengarahkan pistol tepat di kepala Tio.Tubuh mereka gemetar hingga celananya basah akibat menahan rasa takut.
" Jangan bunuh aku! " ujar Tio dengan nada memohon. Nafasnya terengah-engah serta dadanya bergerak naik turun .
" Iya Bi.Tolong, jangan bunuh aku! " ucap Qilla yang begitu ketakutan.
" Kenapa ? Sepertinya tidak ada alasan untuk membiarkan kalian tetap hidup,"
" Aku dan Qilla sama sekali tidak bersalah, tapi kenapa kamu memperlakukan kita sepeeti ini ? " Tio masih saja berkilah padahal saat ini nyawanya sudah terancam,dan kemungkinan sudah berada di ujung tanduk.
__ADS_1
Bian melemparkan botol obat perangsang ke depan Tio.
" Bukankah itu milik kalian ? " ujar Bian dengan nada dingin.Bian sudah lelah sejak tadi bermain -main dengan Tio dan Qilla.
" Bukan, ini adalah milik istrimu," sanggah Tio
" Bobi, cepat perlihatkan pada mereka vidionya. Aku ingin melihat apakah mereka masih mau berkilah," perintah Bian
Bobi mengangguk lalu mendekati Tio dan Qilla. Bobi lalu menampilkan sebuah vidio dimana Tio dan Qilla sedang memasukkan sesuatu ke dalam kotak makanan yang akan di berikan pada Bian.
Tio dan Qilla hanya bisa menelan saliva melihat adegan yang tertera di dalam vidio tersebut. Kali ini mereka tidak bisa berkutik karena bukti sudah mengarah pada mereka.
" Apakah kalian masih bisa mengelak ? Jika masih ,maka kalian memang pantas untuk mati . Aku bisa saja membersihkan nama baik istriku dengan bukti ini ,tapi aku ingin kalian yang melakukannya sendiri. Tunjukan bukti ini ,dan akui kesalahan kalian. Tapi jika kalian tidak mau melakukannya maka terpaksa aku akan membunuh kalian," ancam Bian sambil menggertakan giginya kuat-kuat.
" Baiklah, kita akan mengakui semuanya pada semua orang kalau sebenarnya Ara sama sekali tidak menggodaku," terang Tio dengan cepat sebelum nyawanya tercabut dari tubuhnya.
" Iya benar, aku akan mengakui semuanya," sahut Qilla
Bian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia tidak ingin berlama-lama di sana karena ingin bergegas pulang ke rumah.
" Baiklah , kali ini aku maafkan. Sekali lagi kalian berbuat hal seperti itu, maka aku tidak akan segan untuk membunuh kalian," ancam Bian
" Bobi , kamu urus mereka. Pastikan hari ini juga dia mengadakan konferensi pers dan mengakui semua kesalahannya," tutur Bian
" Baik ,Tuan," sahut Bobi
Tubuh Tio dan Qilla semakin lemas memikirkan usahanya yang mungkin akan hancur setelah ini.
" Bian,apakah tidak bisa kita berdamai saja ? Usahaku bisa hancur setelah ini," ujar Tio dengan nada memohon.
" Usaha kalian hancur akibat ulah kalian sendiri. Lain kali sebaiknya jangan mencari masalah denganku," ucap Bian
" Bian , tunggu !" teriak Tio
" Bian tetap melangkah pergi lalu melemparkan pistol di tangannya pada Bobi. Dia bisa menghela nafas lega karena urusannya akhirnya selesai.
__ADS_1