Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Kabar gembira


__ADS_3

" Tio , apakah kamu tidak memiliki tempat berlindung selain Kakekmu ? Sudah aku duga kalau kamu memang pria pengecut yang kekanak-kanakan. Apakah masih kurang apa yang aku lakukan padamu semalam ? " Bian menatap Tio dengan tatapan mengejek.


Tepat sekali dugaannya semalam kalau Tio dan Qilla tidak mungkin diam saja.


" Apakah benar kalau kamu menembak kaki cucuku ? "


" Ya Kek, aku memang menembak kaki Tio tadi malam,"ungkap Bian.


" Dasar anak kurang ajar ! Berani sekali melakukan itu pada cucuku," umpat Kakeknya Tio.


" Dengarkan aku dulu. Jangan memakiku sebelum aku menjelaskan semuanya,"terang Bian


"Memangnya apa yang ingin kamu jelaskan padaku ? Tindakanmu ini sungguh keterlaluan. Aku tidak menyangka kalau pengusaha sukses sepertimu ternyata adalah seorang brandal," ungkap Kakeknya Tio sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


" Aku menembaknya karena dia memang sudah keterlaluan. Aku hanya sedikit ingin memberikan pelajaran padanya. Sakitnya juga tidak seberapa dengan sakit yang di rasakan oleh istri saya. Apakah kalian tahu bagaimana rasanya ketika semua orang mengumpat istri saya atas kesalahan yang tidak pernah di lakukannya ? Kalian semua hanya memikirkan diri kalian sendiri . Lagi pula cucu anda memang bersalah. Apakah anda akan membela orang yang bersalah ? " terang Bian panjang lebar dengan sebelah bibirnya yang terangkat ke atas.


" Sakitnya tidak seberapa kamu bilang ? Nyawaku bahkan rasanya seperti hendak tercabut dari tubuhku," gerutu Tio sambil menampakkan dirinya.


" Baru hendak tercabut, setidaknya kamu belum mati," kata Bian.


" Apakah kamu sudah memperlihatkan rekaman cctv itu pada Kakekmu ? " ujar Bian


" Sebaiknya anda lihat dulu rekaman cctv ini , biar anda bisa tahu bagaimana kelakuan cucu-cucu anda," ucap Bian sambil menyerahkan ponsel miliknya.


Kakeknya Tio menerima ponsel Bian sambil memandang cucunya dengan tatapan menyelidik.


Kakeknya tercengang melihat rekaman cctv itu. Pria tua itu lantas mendekati Tio.


" Tio , kamu sudah membuat Kakek malu," ujar Kakeknya dengan raut wajah yang terlihat marah.


" Aku...aku..." Tio ingin membela diri tapi fakta membuatnya sulit untuk bicara.


" Ternyata kamu sudah menipuku." Pria tua itu memukul Tio dengan tongkat yang terbuat dari kayu pada Tio karena kesal dan merasa sudah tertipu.


Ibu Nining memilih diam karena tidak ingin ikut campur. Dia merasa senang karena sekarang semua sudah tahu kalau menantunya tidak pernah menggoda Tio.


"Kakek sakit," keluh Tio sambil mengelak. Namun kakinya yang terluka membuatnya sulit untuk bergerak.

__ADS_1


" Akan aku hajar kamu sampai babak belur," ujar Kakeknya dengan geram.


Di lantai dua ,Ara tertawa puas melihat Tio mendapatkan amukan dari Kakeknya. Ibarat sudah jatuh lalu kini tertimpa tangga. Dia yakin Tio akan berpikir ulang untuk mengulangi perbuatan jahatnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam ...


Ibu Nining dan Bian sedang memasak di dapur sedangkan Ara lagi menemani si kembar belajar. Saat ini si kembar sudah berusah 7 tahun.


" Mama , aku ingin punya adik seperti teman-temanku yang lain," jawab Radinka


" Iya ,Ma. Aku ingin sekali memiliki seorang adik," jawab Raditya


Ara hanya diam dengan mata terbelalak lebar mendengar permintaan kedua putranya. Ibu Nining yang mendengar hal itu langsung menghampiri cucu dan menantunya.


" Kalau begitu kalian harus doakan Mama agar cepat memiliki adik bayi," ucap Ibu Nining sambil mengelus rambut Radinka dan Raditya.


" Maaf ya ,Bu. Aku belum bisa memberikan seorang cucu, " sahut Ara dengan wajah murung.


" Kamu ini ngomong apa sih Nak ? Raditya dan Radinka kan juga cucu Mama. Tidak usah sedih begitu," balas Ibu Nining menghibur menantunya.


" Anak-anak, ayo kita makan malam dulu! " panggil Bian


Mereka lalu menuju ke meja makan.


" Makanannya sangat enak ," ucap Ara. Entah kenapa selera makan Ara meningkat , dan bahkan dia sampai nambah tiga kali tanpa jeda.


" Kalian kok menatap aku terus ? " Dengan semangat Ara memasukkan makanan ke dalam mulutnya lagi .


" Ini memang luar biasa, perutku sedikit kenyang namun mau nambah lagi," pikir Ara.


" Tidak biasanya kamu makan sebanyak ini. Kamu baik-baik saja kan Nak ?" Ibu Nining menempelkan telapak tangannya di kening Ara.


" Iya Sayang, apa kamu sakit ? " tanya Bian dengam wajah sedikit khawatir.


" Kalian ini memang aneh, masa orang sakit bisa makan dengan lahap. Ini makanan kalian sangat enak , makanya aku ingin nambah terus," sahut Ara tersenyum.

__ADS_1


Akan tetapi Bian dan Ibu mertuanya masih juga menatap Ara dengan tatapan seperti tidak biasa.


" Kenapa mereka menatapku seperti itu ? Apa ada yang aneh denganku ? " pikir Ara sambil melihat tubuhnya sendiri.


" Kalian tidak makan ? Kok malah menatapku terus ?" tanya Ara merasa bingung


" Kami sudah selesai makan," ucap Bian


" Oooh." Ara tetap melanjutkan makan dan mau nambah lagi.


"Ara, apa kamu sudah datang bulan ?" tanya Ibu Nining dengan alis mata terangkat.


Tiba-tiba Ara berhenti mengunyah. "Maksud Ibu...,aku..."Ara melihat perutnya sekilas.


" Iya sayang, biasanya kamu tidak pernah makan sebanyak ini," balas Bian


" Ya Tuhan, mereka benar juga. Lagian bulan ini dan bulan kemarin aku belum menstruasi," gumam Ara di hatinya.


"Coba beli test pack , mana tahu kamu hamil ." Ibu Nining bangkit dari duduknya sambil membawa piring bekas makan ,lalu meletakkannya di wastafel.


" Ya Tuhan, saking sibuknya dengan dengan banyak kegiatan, sampai lupa kalau aku belum menstruasi.Semoga saja aku beneran hamil. Kalau aku hamil maka si kembar pasti akan sangat senang, karena akan memiliki seorang adik," pikir Ara sambil mengelus perutnya.


" Biar nanti aku yang memeriksanya," jawab Bian


Selesai makan Bian langsung memeriksa Ara.


" Alhamdulilah ,kamu hamil sayang," ucap Bian tersenyum dengan begitu bahagia. Dia langsung memeluk istrinya.


Saking bahagianya, Bian sampai meneteskan air mata.


" Sayang, kenapa kamu malah menangis ? " tanya Ara merasa bingung.


" Ini adalah air mata bahagia.Aku mencintaimu dari awal pertama melihatmu saat SMA dulu. Lalu setiap hari aku selalu berkhayal menjadi pacarmu dan menikah denganmu. Aku juga tidak pernah pacaran dan bahkan tidak mau dekat dengan wanita manapun karena aku mencintaimu. Aku bekerja keras hingga menjadi seorang pengusaha hanya untukmu. Aku merasa semua seperti sebuah mimpi karena sekarang semuanya sudah menjadi kenyataan. Aku sangat mencintai. Aku akan berusaha menjadi suami dan Ayah yang baik ," ucap Bian sambil meneteskan air mata. Dia mengecup kening Ara dengan begitu lembut.


" Iya ,Sayang. Aku juga mencintaimu. Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik," balas Ara.


Tiba-tiba si kembar masuk ke dalam.

__ADS_1


" Horeee ,sebentar lagi aku akan punya seorang adik ," kata Radinka sambil tersenyum senang.


"Aku akan bilang pada teman-temanku kalau sebentar lagi aku akan punya seorang adik," sahut Raditya.


__ADS_2