
"Ara ,akhirnya kamu bangun ,"ucap Bian sambil tersenyum. Pria itu mengecup punggung tangan Ara hingga berulang kali.Betapa bahagianya Bian, karena belahan jiwanya akhirnya sadarkan diri.
Ara memejamkan matanya sekali lagi lalu mengerjapkan untuk menjernihkan penglihatannya.
" Sayang ? Kenapa kamu ada di sini ?" tanya Ara dengan suara parau, yang masih teringat di benaknya adalah Bian ada di kantornya. Dia cukup terkejut karena pria itu sekarang sudah berada di dekatnya.
"Kenapa matamu merah ? Apakah kamu menangis ? " tanya Ara sambil mengulurkan tangannya menyentuh pipi Bian.
Pertanyaan itu membuat air matanya kembali jatuh dari pelupuk mata Bian. Tidak masalah jika dirinya harus terlihat lemah di depan calon istrinya.
Ara mengernyitkan dahinya melihat Bian meneteskan air mata.
" Apa yang terjadi dengan Bian?" Pikir Ara merasa bingung.
" Kenapa menangis ? Apa ada masalah di Kantor ? " tanya Ara sambil mengusap pipi Bian.
" Tidak, aku hanya merasa senang karena akhirnya kamu bangun," ucap Bian sambil menyeka sudut matanya. Dan seulas senyum terukir di bibirnya.
" Bangun?" Ara menautkan kedua alisnya lalu mengedarkan pandangannya mengitari ruangan serba putih itu sekali lagi. Barulah Ara tersadar, kalau ruangan itu terasa sangat asing, bukan seperti ruangan di kamarnya.
Ara mengangkat tangannya yang terpasang jarum infus pada bagian punggung tangannya .
" Kenapa aku berada di rumah sakit ? " tanya Ara sambil mengerjapkan kelopak matanya. Untuk sejenak dia masih belum ingat apa yang terjadi sebelumnya.
Bian memilih diam saja, dia ingin mendengar semuanya dari bibir Ara sendiri.
"Bian..." Ara tidak melanjutkan ucapannya lagi. Kedua matanya sontak terpejam setelah mengingat semuanya, tetes - tetes air akhirnya lolos dari pelupuk matanya. Semakin lama semakin deras hingga membasahi bantal di bawahnya.
" Aku minta maaf , karena sepertinya kita tidak berjodoh," ucap Ara terbata, dan dia mulai terisak-isak.
Beberapa detik kemudian, tangisnya seketika langsung pecah mengingat kejadian di rumah orang tuanya. Tidak di sangka kalau dia dan Bian akan berpisah.
Bian langsung menarik kepala Ara ke dadanya. Lalu mengusap lembut rambutnya yang panjang.
" Jangan menangis, coba jelaskan pelan-pelan apa yang sebenarnya terjadi. Lalu kita cari solusinya sama-sama."Bian mencoba menenangkan perasaan Ara dengan suara yang parau.
__ADS_1
"Aku..aku..."Ingin sekali bibir Ara menjelaskan semuanya, tapi sayang sekali lidahnya terasa kelu. Dia hanya tidak menyangka kalau Ibunya sangat nekad sekali.
" Tenanglah," ujar Bian
Ara terus terisak-isak di dada Bian , menumpahkan segala kesedihannya.
" Sudah, jangan menangis."
Setelah setengah jam mengeluarkan rangkaian kata-kata bujuk rayu, akhirnya Bian berhasil membuat Ara berhenti menangis. Pria itu mengusap sisa-sisa air mata yang mulai mengering di pipi Ara.
"Sekarang,kamu harus makan dulu," kata Bian sambil mengambil piring yang berada di atas nakas.
"Berapa lama aku tidak bangun? " tanya Ara dengan mata yang sudah sembab. Ini seperti mimpi buruk baginya.
" Hampir 10 jam," sahut Bian sambil menahan perutnya yang tiba-tiba saja terasa nyeri. Setelah Ara bangun, barulah dia merasakan perutnya kelaparan yang bercampur nyeri. Tidak hanya itu, ulu hatinya juga terasa sakit.
Ara mengamati raut wajah Bian yang sepertinya sedang menahan rasa sakit.
" Bian,Apa yang terjadi ? Apa kamu sedang sakit ? " tanya Ara dengan penuh selidik. Dia melihat Bian seperti menahan rasa sakit.
"Sayang, apa kamu sudah makan ?" tanya Ara tanpa mengalihkan pandangannya pada Bian.
" Tentu saja. Fokus saja pada kesehatanmu, aku baik-baik saja." Bian mencoba meyakinkan.
Bian mulai menyuapkan makanan ke mulut Ara sambil sesekali meringis menahan nyeri pada perutnya. Berusaha menyembunyikan rasa sakit di depan Ara. Dia tidak ingin wanita itu mencemaskannya. Melihatnya sudah bangun adalah suatu hal terindah dalam hidupnya.
" Sayang ,apakah kau yakin kalau dirimu baik-baik saja ? " tanya Ara dengan tatapan curiga.
" Tentu,melihatmu membuka mata membuatku jadi lebih bersemangat," sahut Bian
Setengah jam kemudian,datang seorang perawat yang akan mengganti botol infus. Kebetulan sekali Bian sedang pergi ke kamar mandi sehingga Ara bisa bertanya akan sesuatu hal terhadapnya.
"Suster ,bisakah kamu memeriksa kekasihku ? Aku merasa khawatir terhadapnya. Dia terlihat tidak baik-baik saja dan menyembunyikan sesuatu dariku,"tutur Ara sambil memandang pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Sudah sepuluh menit Bian di dalam sana tapi tidak kunjung keluar dari ruangan itu.
" Apakah dia mengeluh ? Yang aku dengar dari sahabatnya, kalau kemarin malam Dokter Bian lembur di kantornya, setelah itu pagi-pagi sekali dia ke kantor lagi karena ada rapat penting. Tadi juga aku dengar pembicaraannya dengan sopir pribadinya, kalau Dokter Bian sama sekali tidak mau makan , padahal dari tadi pagi dia tidak dapat makan apapun. Bahkan dia juga tidak beranjak dari ruangan ini, aku hanya khawatir kalau dia mengalami masalah pada pencernaannya atau bisa menjalar pada penyakit lain." Perawat itu mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Ara.
__ADS_1
"Apa ? Dia tidak makan ?" Tanya Ara dengan wajah tercengang. Pantas saja dia merasakan kalau Bian tampak lesu dan seperti sedang menahan rasa sakit.
"Beruntung sekali kamu memiliki kekasih seperti dirinya," ujar perawat itu kembali.
Bian keluar dari kamar mandi sambil memegangi bagian atas perutnya. Dia menggaruk bagian belakang kepalanya karena salah tingkah mendapatkan tatapan tajam dari Ara
" Bian,kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri ? Seandainya aku tidak bangun selama 1 bulan, akankah kamu tidak makan selama itu juga ? Padahal kamu sendiri seorang Dokter ,tapi kenapa kamu tidak bisa menjaga kesehatan pada dirimu sendiri ?" tanya Ara dengan suara meninggi.
Ara begitu marah ,dan kesal karena Bian bertindak sangat ceroboh dengan kesehatannya.
"Aku....aku...." Bian gelagapan, bingung sendiri bagaimana caranya mengungkapkan alasannya.
" Suster,tolong periksa dia. Aku tidak ingin dia mati konyol," ujar Ara
" Sayang ,aku baik-baik saja," sergah Bian
"Dokter Bian,mari ikut denganku," ujar perawat itu.
" Aku tidak akan pergi dari ruangan ini," tolak Bian mentah-mentah.
Dia baru saja melihat Ara bangun sehingga apapun yang terjadi dia akan tetap berada di sana .
"Suster,jika dia tidak mau keluar sebaiknya panggilkan saja Dokter agar memeriksanya disini," tukas Ara
" Baiklah , kalau begitu aku akan memanggil Dokter Virza ." Jawab Suster tersebut
Bian terdiam, dia memang terlalu bodoh karena sudah menyiksa dirinya sendiri. Namun Bian memang sama sekali tidak selera untuk makan. Karena hanya ada Ara di pikirannya.
" Kenapa kamu bodoh sekali,"kata Ara kesal
" Bagaimana mungkin aku bisa menelan makanan,jika kamu masih belum membuka mata ? Melihatmu terbaring di ranjang ini, aku jadi kehilangan semangat,"terang Bian dengan jujur.
"Bian," ucap Ara dengan sendu.
" Aku hanya lapar sedikit. Jangan terlalu percaya dengan apa yang perawat tadi katakan," balas Bian. Melihat Ara yang hendak menangis lagi, Bian tidak jadi memberi tahu mengenai rencana Viona.
__ADS_1