Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Obat perangsang


__ADS_3

Tio sudah di rundung amarah , dia lantas mendekati Ara lalu menarik kemeja bajunya hingga terlepas.


Namun, beruntung Ara masih mengenakan pakaian dalam sehingga tubuhnya tidak terlalu terekspos.


" Tolong ! " teriak Ara dengan suara yang sangat lemah.


" Tidak akan ada yang menolongmu, karena Bian sedang sibuk, " ucap Tio sambil melepaskan jas dari tubuhnya.


Bian baru saja kembali. Dia menarik knop pintu sambil membawa sebuket bunga yang akan di berikan pada istrinya sebagai permintaan maaf. Namun tubuhnya membeku dengan mata terbelalak lebar melihat Tio yang sedang mencengkram kedua tangan Ara.


" Tio , apa yang kamu lakukan ? " teriak Bian dengan amarah yang menggebu. Dalam hitungan detik Bian berjalan menghampiri Tio yang sudah kurang ajar. Buket bunga yang berada di genggamannya langsung di lemparkan begitu saja.


Tio sontak terperanjat, pelan- pelan dia melepaskan cengkramannya pada tangan Ara. Belum sempat berbalik, Bian sudah mencengkram erat kerah bajunya.


" Apa yang kamu lakukan pada istriku ?" teriak Bian dengan tatapan tajam dan berapi-api.


" Aku...aku..." Tio tergagap dan kebingungan sendiri karena belum apa-apa tapi sudah tertangkap basah.


" Apa yang harus aku lakukan ? " pikir Tio dengan wajah bingung dan takut.


"Istrimu ingin menggodaku," balas Tio dengan cepat.


" Apa ? Istriku menggodamu ? " Bian menyeringai dengan sebelah bibirnya tertarik ke atas. Dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Tio.


" Benar, coba saja periksa dia. Dia bahkan dengan sengaja memberiku obat perangsang, tapi beruntung aku tidak mau meminumnya," ungkap Tio


Bian mengamati Ara yang terbaring di sofa. Wanita itu tampak berbeda dibandingkan saat dia tadi meninggalkannya.


" Jangan menipuku ! Aku tahu bagaimana sifat istriku," ucap Bian tepat di depan wajah Tio hingga dia memejamkan mata.


" Untuk apa aku berbohong. Lihat saja kondisi istrimu saat ini," ucap Tio sambil menatap Ara.


" Pergi dari ruangan ini sekarang juga. Tapi kamu jangan merasa tenang dulu, karena aku akan mencari tahu keadaan yang sebenarnya,"usir Bian sambil mengepalkan tinjunya erat-erat.


Tio membenarkan kemeja yang sudah acak-acakan lalu melenggang pergi. Nafasnya memburu, dia tidak yakin bisa terlepas dari Bian kalau pria itu sampai mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


Di dalam ruangan Bian menghela nafas panjang lalu melepaskan jasnya dan menggunakannya untuk menutupi tubuh Ara yang sudah tidak menggunakan baju. Seandainya saja terlambat datang, Bian tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

__ADS_1


" Aku akan membuat perhitungan denganmu,Tio. "Ucap sambil menggertakan giginya kuat-kuat.


Bian bergegas menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat meski di luar ada beberapa orang yang menunggu.


" Sayang , apa yang terjadi padamu ? " ujar Bian sambil menyingkirkan helaian rambut yang sudah lengket terkena keringat.


" Tubuhku panas ,"keluh Ara sambil memandang Bian


Bian meraih remote lalu mengatur suhu udara di ruangan itu agar lebih dingin. Pelan-pelan pria itu mengusap wajah dan leher istrinya yang berkeringat.


" Bian," panggil Ara dengan tatapan berkabut. Sejak tadi Ara sudah berusaha menahan sesuatu yang berkobar di dalam tubuhnya.


" Aku yakin kalau ini semua adalah ulah Tio. Aku harus menyelidiki semuanya," gumam Bian sambil mengepalkan tangannya.


" Bian membopong Ara yang tampak sudah tidak terkendali karena beberapa kali hendak membuka seluruh pakaiannya. Bian lalu membawa Ara ke kamar yang berada di ruangannya.


" Bian , jangan pergi." Ara menarik baju yang di kenakan oleh Bian cukup kuat ketika pria itu hendak beranjak.


" Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya ingin mengatur suhu ruangan ini agar jauh lebih dingin,"kata Bian sambil duduk di sisi Ara


Ara menyandarkan kepalanya di bahu Bian sambil meraba dadanya yang bidang . Seulas senyum nakal terukir dari bibirnya.


Bian menahan pergelangan tangan Ara yang sudah bergerak nakal hendak melepaskan kancing kemeja miliknya.


" Ini masih siang dan kita sedang berada di rumah sakit," sahut Bian dengan lembut.


" Seandainya saja saat ini berada di rumah, tentu hal lain yang terjadi. Pasalnya di luar ada beberapa orang yang menunggu sehingga kosentrasiku pecah," gumam Bian


"Memangnya kenapa kalau berada di rumah sakit ? Bukannya di dalam ruanganmu ada sebuah kamar?" ujar Ara. Pikiran Ara sudah semakin kacau, tidak ada hal lain di dalam benaknya selain keinginan untuk bercinta.


Bian memijak ujung pelipisnya. Sejenak mencari cara agar Ara cepat tersadar.


" Sayang,berendamlah dulu di kamar mandi." Bian bangkit dari tepian ranjang lalu membantu menegakkan tubuh Ara yang sempoyongan.


Ara menggelengkan kepalanya dengan tatapan berkabut.


" Aku tidak mau, aku hanya menginginkanmu," tolak Ara sambil mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


" Setelah kamu sadar kita akan melakukannya selama yang kamu mau," terang Bian.


Bian bersikeras membawa Ara ke dalam kamar mandi, karena hanya itu satu-satunya cara agar Ara lebih cepat tersadar. Sedangkan cara yang lain belum bisa dia lakukan.


" Dengan berendam di air dingin seperti ini maka tubuhmu tidak akan terasa panas," terang Bian lalu menghidupkan kran untuk mengisi bak mandi.


" Apakah kamu tidak mau mandi bersamaku ? " tanya Ara sambil menarik tangan Bian.


" Maaf ,aku tidak bisa ikut, karena sebentar lagi aku harus memeriksa seorang pasien." Jawab Bian


Dert...dert...


Bian melihat ada panggilan masuk dari sekretarisnya.


📞" Bos , pasien itu sudah menunggu anda dari tadi," lapor Bobi dari seberang telepon.


📞" Tunggu sebengar, aku akan kesana lima belas menit lagi," sahut Bian


📞" Baik Bos ," jawab Bobi


Bian menghela nafas panjang. Dia tidak mungkin meninggalkan Ara dalam kondisi seperti itu . Tapi dengan terpaksa dia mengguyur Ara agar tubuhnya basah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


1 Jam kemudian


Berita tentang Ara yang menggoda Tio sudah tersebar luas ke seluruh penjuru rumah sakit dan sosial media tanpa diketahui siapa yang memulai menyebarkannya terlebih dahulu.


Ara yang masih berada di ruangan suaminya sedang memijat kepalanya yang berdenyut. Keadaannya memang sudah jauh lebih baik, hanya saja dia belum berani keluar karena orang-orang pasti akan menatapnya dengan tatapan menuduh..


" Kenapa malah terjadi hal yang seperti ini ? " Ara menjambak rambutnya sendiri kuat-kuat.


Ceklek...


Ara terperanjat dan langsung menoleh ke arah pintu yang di buka secara perlahan.Ara pikir Bian yang datang, tapi ternyata Bobi yang datang untuk memastikan Ara baik-baik saja.


" Tidak usah terlalu memeriksaku sering-sering. Lebih baik kamu duduk dan istirahat dengan tenang, karena aku bukan balita yang harus di cek setiap saat," gerutu Ara dengan kesal.

__ADS_1


" Aku datang kemari hanya ingin membawakan cemilan untuk Nona," sahut Bobi.


Bobi tetap masuk ke dalam sambil membawakan makanan ringan dan air minum untuk Ara sesuai dengan perintah bosnya.


__ADS_2