Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Ceraikan dia


__ADS_3

Malam harinya


Berita tentang Ara yang menggoda Tio sudah terdengar di telinga kedua keluarga mereka. Mereka tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh Ara sehingga Kakek dan Nenek Bian langsung pergi ke Indonesia untuk menemui Bian.


" Sayang, aku harus keluar sebentar. Kamu tidak apa-apa kan tinggal di rumah sendirian ? Ibu masih pergi berkunjung ke rumah orang tuamu bersama si kembar, mungkin sebentar lagi dia pulang," ujar Bian sambil memakai kemejanya.


" Memangnya kamu mau pergi kemana ? " tanya Ara dengan alis mata terangkat.


" Aku mau pergi ke rumah Kakek dan Nenekku, kebetulan dia baru sampai di indonesia."terang Bian


" Ah ? Kamu masih memiliki Kakek dan Nenek ? Lalu kenapa Ibu bilang padaku kalau dia hanya memiliki kamu saja ? " tanya Ara dengan wajah bingung . Ara mengira kalau Bian hanya memiliki Ibu Nining saja.


" Dulu Kakek dan Nenek tidak setuju dengan pernikahan Ayah dan Ibu. Alasannya karena Ibu orang miskin,  tetapi Ayah dan Ibu tetap menikah. Setelah Ayah meninggal mereka mengusir kami dari rumahnya, dan tidak mengakui kami sebagai keluarga," tutur Bian sambil berjalan mendekati Ara


" Mereka keterlaluan sekali, padahal Ibu sangat baik," sahut Ara. Dia berpikir kalau rumah tangga Ibu mertuanya hampir mirib dengan rumah tangganya dulu.


" Kasihan Ibu mertua, pasti dia sangat menderita. Aku juga pernah berada di posisinya saat menikah dengan Kak Arya," pikir Ara sambil mengingat kenangan saat menikah dengan Arya.


" Tapi setelah aku sukses , mereka baru datang mencari kami dan mengajak kami kembali ke rumahnya, tetapi aku dan Ibu menolak tawarannya itu, " terang Bian


" Kenapa di tolak ?"tanya Ara bingung


" Mereka mencariku karena mereka tahu kalau aku sudah sukses," ucap Bian


" Lalu kenapa sekarang kamu ingin menemui mereka ? " tanya Ara dengan alis mata terangkat


" Aku mau menemui mereka karena walau bagaimanapun mereka adalah orang tua Ayahku," balas Bian sambil mengecup kening Ara


" Baiklah , kalau begitu hati-hati di jalan," sahut Ara sambil tersenyum

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saat ini Bian sudah berada di rumah Kakek dan Neneknya. Dia duduk di ruang tengah dengan tatapan Kakek dan Neneknya yang mengarah padanya. Tatapan mereka penuh menyelidik meski belum ada pertanyaan yang di lontarkan.


Sepuluh menit sudah berlalu tapi Kakek dan Neneknya belum juga bicara pada Bian. Mereka justru sedang asyik dengan pikirannya masing-masing.


Bian melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya lalu menghela nafas panjang.


" Untuk apa kalian memanggilku kemari ?  Apakah hanya untuk saling diam seperti ini ? " tanya Bian sambil membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.


" Jika dalam lima menit kalian tidak bicara, maka aku akan pergi dari sini," ucap Bian sambil menatap Kakek dan Neneknya secara bergantian


" Bian , bicaralah yang sopan pada orang yang lebih tua," balas Neneknya


" Sebaiknya kamu ceraikan saja Ara. Jika memang istrimu itu menggoda Tio maka berikan saja padanya. Kamu bisa mencari wanita yang jauh lebih baik lagi dari dia. Aku tidak ingin orang-orang berpikir negatif dengan keluarga kita," kata Kakeknya


" Kakek bilang keluarga kita ? Bukankah kalian tidak ingin memiliki keluarga seperti kami ? " tanya Bian dengan wajah terlihat merah padam


Bian menatap mereka sepersekian detik.


" Kenapa aku harus menyerahkan istriku pada Tio ? Aku tidak akan menceraikannya karena istriku tidak bersalah. Dia hanya di jebak, selama ini dia bukan wanita yang suka bertindak aneh- aneh. Aku tahu bagaimana sifat istriku, dan asal kalian tahu karena berkat dia aku bisa seperti sekarang ini," sahut Bian dengan nada datar. Dia begitu kesal karena Kakek dan Neneknya dari dulu tidak pernah berubah sama sekali.


" Tapi kamu tidak ada bukti kalau istrimu itu tidak bersalah. Semua orang sudah melihat bukti-bukti yang mengarah pada istrimu yang menggoda seorang pria," kata Kakeknya


" Kakekmu benar, lebih baik kamu ceraikan istrimu itu. Apalagi dia seorang janda yang sudah memiliki 2 orang anak. Pasti sifatnya sangat buruk sekali , makanya dia di ceraikan oleh mantan suaminya," ucap Neneknya sambil membersihkan kaca matanya.


"Jaga ucapan kalian, kalian tidak tahu bagaimana sifat istriku. Kalau aku mendengar kalian menjelekkan istriku lagi, maka aku akan menghancurkan bisnis kalian ," ancam Bian dengan wajah berapi-api


" Kalian tidak perlu cemas, karena aku sudah memiliki buktinya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Dan kalian juga tidak perlu ikut campur dengan keadaan rumah tanggaku," tutur Bian lalu menyeruput secangkir kopi yang ada di depannya.

__ADS_1


" Kamu ini memang keras kepala , bukti sudah ada di depanmu , tapi kamu masih tetap mempertahankan istrimu itu," sahut Neneknya


" Bian , kamu ini laki- laki yang tampan dan memiliki segalanya.Jadi kalau nanti istrimu benar-benar menggoda Tio maka lebih baik ceraikan dia. Nanti kami yang akan mencarikanmu seorang pendamping," kata Kakeknya sambil menatap Bian


Bian menghela nafas panjang lalu bangkit dari duduknya. Dia tidak ingin berlama-lama disana hanya untuk mendengarkan Kakek dan Neneknya bicara.


" Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan istriku. Dan sepertinya pembicaraan kita sudah selesai. Aku pergi dulu, karena ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Jika kalian memanggilku hanya ingin berbicara seperti ini seharusnya aku tidak perlu datang ," ucap Bian lalu membenarkan pakaiannya sebelum pergi dari rumah itu.


" Bian , tunggu! " seru Kakeknya. Namun  sayang sekali Bian sudah melangkahkan kakinya lebih cepat meninggalkan ruangan itu.


" Apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak suka kalau Bian bersama wanita itu," kata Neneknya dengan wajah kesal.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di rumah Bian


Ibu Nining yang baru saja pulang langsung menemui Ara dan menenangkan menantunya . Dia juga tidak menyangka kalau fitnah seperti itu menyebar begitu cepat.


" Ya Tuhan , kenapa kedua anakku di rundung masalah secara bersamaan ?" gumam Ibu Nining di hatinya.


" Ara, makanlah dulu. Jangan terlalu di pikirkan, " bujuk Ibu Nining. Hatinya begitu sedih melihat menantunya tidak mau makan.


Ara tetap menggelengkan kepalanya. Dia menolak untuk makan sebelum masalah itu menemukan titi terang.


" Apakah Ibu percaya padaku ? Aku sungguh tidak menggoda Tio, aku dijebak," tutur Ara sambil memandang lekat wajah Ibu mertuanya dengan nanar.


" Tentu saja aku mempercayaimu . Kamu adalah wanita yang baik, maka tidak mungkin kamu menggoda Tio," terang Ibu Nining dengan tatapan hangat.


" Tapi media sudah membicarakanku ? " ucap Ara dengan panik.

__ADS_1


" Tenanglah, itu hanya sementara. Saat kamu membuka mata besok pagi, maka sudah pasti tidak terjadi apa-apa ,karena orang -orang pasti sudah melupakannya," terang Ibu Nining


Ara sebenarnya ingin bersikap tenang seperti apa yang di katakan oleh Ibu mertuanya. Namun hatinya kalut dengan segala pikiran-pikiran buruk yang ada di kepalanya


__ADS_2