
Besoknya...
Pagi-pagi sekali Bian sudah berada di Villa Ara. Hari ini dia ingin berkenalan dengan orang tua Ara dan meminta restu dengan mereka.
"Bian , apa ini tidak terlalu cepat ? Ibu kasihan dengan Non Ara. Takutnya Non Ara belum siap untuk datang ke sana." Ibu Nining bicara dengan wajah yang begitu cemas.
" Tenang saja Bu, aku sudah siap kok . Karena tidak mungkin aku bersembunyi terus dari mereka ," kata Ara tersenyum
" Iya Bu, Ara benar. Ibu tidak usah cemas, kami pasti baik-baik saja." jawab Bian sambil merangkul pundak Ara.
"Baiklah kalau begitu. Oh iya Bian, tolong dijaga dengan baik calon menantu Ibu ya! " ucap Ibunya
"Tenang saja Bu , aku akan menjaga calon menantu Ibu ini dengan baik," sahut Bian tersenyum
"Bu ,aku titip si kembar ya ! Kalau dia rewel langsung saja hubungi aku," kata Ara sambil menatap Ibu Nining.
"Non Ara tenang saja, Ibu pasti akan menjaga mereka,apalagi mereka akan menjadi cucu Ibu sendiri,"balas Ibu Nining tersenyum.
"Bu,mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan 'Non' lagi ya ! Rasanya tidak enak di dengar ,apalagi aku akan menjadi menantu Ibu." ucap Ara
"Iya Bu, Ara benar." kata Bian
"Maaf ,ya nak ! Ibu hanya belum terbiasa,"sahut Ibu Nining.
"Ya sudah, kalau begitu kami pergi sekarang ya Bu ! " ucap mereka berdua
"Ya, hati-hati di jalan."balas Ibu Nining
Mereka lalu keluar dari Villa .
"Sayang , bagaimana kalau nanti orang tuamu tidak merestui hubungan kita ? " tanya Bian sambil menatap Ara.
" Aku tidak peduli mau mereka merestui kita atau tidak, yang penting kita sudah meminta restu kepada mereka." jawab Ara menunduk.
Sebenarnya dia merasa begitu takut untuk berhadapan dengan keluarganya, akan tetapi dia tidak mungkin terus-menerus menghindari keluarganya.
__ADS_1
"Sayang, aku tahu kalau kamu pasti masih takut berhadapan dengan keluargamu. Pasti kamu melawan rasa takutmu itu demi aku. Terimakasih ya sayang, aku janji akan selalu menjagamu ,dan melindungimu."ucap Bian sambil menggenggam tangan Ara.
" Terimakasih ,karena kamu selalu mengerti aku," balas Ara tersenyum
"Sayang, apa aku boleh bertanya sesuatu ? " tanya Bian sambil menatap kekasihnya itu
" Boleh,memangnya mau bertanya apa?" tanya Ara dengan alis mata terangkat.
" Kenapa kamu mau menerima lamaranku begitu cepat ? Padahal seharusnya kita pacaran dulu agar kamu bisa mengetahui lebih banyak tentangku,tetapi aku malah langsung melamarmu."kata Bian sambil menunggu jawaban Ara.
"Jujur , saat kakak sepupuku lebih percaya ucapan sahabatnya dari pada aku, hatiku begitu sakit karena dia begitu mudahnya mempercayai ucapan sahabatnya itu. Padahal dia sudah mengenalku dari kecil. Dan saat itu aku langsung berpikir untuk tidak melanjutkan hubunganku dengannya, karena aku merasa takut kalau nantinya rumah tanggaku sama seperti rumah tanggaku sebelumnya. Apalagi Viona itu begitu licik sekali. Waktu aku memutuskan akan kabur dari rumah, aku sudah berpikir untuk tidak menikah lagi , akan tetapi saat aku bertemu denganmu semuanya langsung berubah dalam sekejap.Waktu SMA aku sering memperhatikanmu dari jauh, makanya saat kamu kesulitan aku bisa mengetahuinya. Dan aku langsung menerima lamaranmu ,karena aku merasa begitu nyaman saat berada di dekatmu," ungkap Ara menunduk
"Terimakasih ya sayang, aku janji akan selalu membahagiakanmu," kata Bian sambil mengecup tangan Ara.
1 jam kemudian mereka telah sampai di depan rumah orang tua Ara. Mereka langsung memencet bell rumah itu . Tidak menunggu begitu lama Ibunya membuka pintu rumah itu.
Mata Ibunya terbelalak lebar karena terkejut melihat kedatangan Ara.
"Ara ,kemana saja kamu nak ? Kami begitu khawatir denganmu. " sambil memeluk Ara.
"Ayo masuk kedalam, Ibu akan memanggil Bapakmu dulu . Dia pasti begitu senang melihatmu sudah pulang kerumah."ucap Ibunya dengan wajah yang begitu senang.
Tidak menunggu begitu lama Aris dan Bapaknya langsung datang ke ruang tamu. Saat melihat Ara , Aris langsung memeluk gadis itu sambil menangis.
" Ara, maafkan aku. Tolong jangan pergi lagi dariku."kata Aris yang terus memeluk Ara.
"Kak Aris , tolong lepaskan aku ," ucap Ara yang berusaha melepaskan pelukan Aris karena dia merasa tidak enak dengan Bian.
" Ara , sebenarnya kamu pergi kemana ? Kenapa harus kabur segala ? " tanya Bapaknya.
"Kalau aku tidak kabur, mungkin kalian sudah membawaku ke rumah sakit jiwa ."kata Ara dengan wajah terlihat marah.
"Maafkan kami nak, kami begitu bodoh karena tidak mendengarkan ucapanmu waktu." balas Bapaknya merasa bersalah
"Oh iya, si kembar di mana ? Kenapa tidak ikut bersamamu ? " tanya Aris merasa bingung.
__ADS_1
" Tenang saja,mereka ada di tempat yang sangat aman saat ini, " jawab Ara
" Lalu siapa pria ini ? " tanya Bapaknya yang merasa bingung melihat Bian.
" Maaf aku lupa mengenalkannya kepada kalian. Perkenalkan dia adalah calon suamiku dan namanya adalah Bian .Bian ini adalah anak dari Ibu Nining , dan aku kesini karena ingin meminta restu kepada kalian. " terang Ara sambil menatap orang tuanya.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong,mereka begitu terkejut mendengar ucapan Ara.
"Apaaaa ? Kakak tidak setuju kamu menikah dengan pria ini. Karena kamu hanya boleh menikah denganku saja " sahut Aris dengan wajah berapi-api.
" Ara, apa pria ini yang mengajakmu kabur dari rumah ?" " tanya Bapaknya dengan wajah yang merah padam.
" Tidaķ ada yang mengajakku kabur dari rumah ini . Aku pergi karena aku merasa tidak aman tinggal disini dan kalian juga tidak pernah percaya denganku, " jawab Ara denga dada naik turun
" Berani-beraninya kamu membawa calon istriku pergi,"ucap Aris menatap Bian sambil menggertakkan giginya kuat-kuat.
" Cukup Kak Aris, sudah aku katakan kalau aku pergi karena aku merasa tidak aman berada disini," balas Ara
"Tapi kami tidak setuju kalau kamu menikah dengan seorang anak baby sister. Hidupmu pasti akan kekurangan terus kalau menikah dengannya. Dan kami hanya setuju kalau kamu menikah dengan Aris, karena kalau kamu menikah dengan Aris maka hidupmu pasti akan begitu bahagia , apalagi Aris memiliki segalanya. Dan kamu juga sudah mengenal dia dari kecil," kata Ibunya sambil menatap rendah Bian
" Apa yang Ibumu katakan itu benar , Aris juga selama ini selalu baik denganmu. Dan selama ini dia selalu menjagamu," sahut Bapaknya
"Maaf Om ,Tante, memang apa salahnya kalau Ara menikah dengan seorang anak baby sister ? Walaupun aku seorang anak baby sister tapi aku bisa membahagiakannya," terang Bian sambil menggenggam tangan Ara.
Aris terus memandang Bian dengan tatapan berapi-api. Api yang bisa membakar pria di depannya hidup-hidup,bagaikan seekor naga yang haus akan membunuh. Dia kemudian mencengkram kerah baju Bian dengan kedua tangannya.
"Beraninya kamu mengambil calon istriku!"umpat Aris sambil mengangkat tangannya yang mengepal dan bersiap untuk meninju wajah Bian.
Bian refleks memejamkan kelopak matanya,dan bersiap menerima amukan dari Aris. Baru kali ini dia begitu pasrah ketika ada yang berbuat kasar dengannya. Dia hanya tidak ingin menyakiti keluarga Ara, karena kalau dia membalasnya maka Ara pasti akan marah kepadanya.
Ara yang melihat hal itu lantas menghentikan Aris,
" Kakak hentikan , lebih baik Kakak pukul saja aku," kata Ara dengan wajah yang merah padam
" Sayang, jangan melindungiku nanti kamu terluka."balas Bian yang tampak khawatir.
__ADS_1
" Arghh ! " teriak Aris lalu menghempaskan kerah baju Bian.