Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Balas dendam


__ADS_3

Ara berdiri di balkon kamarnya . Pandangannya tidak pernah lepas dari pintu gerbang yang tertutup rapat. Sudah 4 jam tapi tidak ada satupun mobil yang masuk ke rumahnya. Hatinya sungguh gelisah, karena sejak siang tadi Bian tidak menghubunginya. Ara juga sudah menghubungi nomer Bian ,namun nomer ponselnya tidak aktif.


" Tumben Bian jam segini belum pulang," gumam Ara dengan wajah yang begitu khawatir sambil mengusap wajahnya dengan gusar.


" Sebenarnya Bian pergi kemana sih ? "


ujar Ara sambil mencebikkan bibirnya.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Ara. Ara bergegas masuk kembali ke dalam kamar lalu membuka pintu.


Di depan pintu Ibu Nining menyambutnya dengan senyum hangat.


" Sudah aku duga kalau menantuku pasti belum tidur," kata Ibu Nining


" Ada apa ,Bu ? " tanya Ara


" Kenapa belum tidur ? Ini sudah larut malam ," ujar Ibu Nining sambil memandang menantunya yang tampak cemberut.


Ara menghela nafas berat lalu memasang wajah muram.


" Aku tidak bisa tidur, sampai sekarang Bian belum pulang. Aku sangat mencemaskannya," ungkap Ara dengan mimik wajah cemberut.


" Mau Ibu temani ? " tawar Ibu Nining sebelum masuk ke dalam kamar.


Ara menganggukkan kepalanya. Dia memang butuh seseorang untuk bercerita tentang apa yang terjadi hari ini.


" Ibu,siang tadi aku dapat ke rumah Nenek Rita," ucap Ara. Dia menceritakan semua yang terjadi di sana.


" Tapi menantu Ibu sangat hebat karena bisa melawan mereka,"Ibu Nining meraih tangan Ara sambil tersenyum


" Biasanya Bian selalu menghubungiku jika lembur, tapi sekarang bahkan ponselnya tidak aktif,"ungkap Ara dengan wajah terlihat khawatir.


" Mungkin dia lagi menangani seorang pasien. Sekarang lebih baik kamu tidur. Jangan cemas,mungkin satu jam lagi Bian baru akan pulang," ujar Ibu Nining sambil menepuk Ara.


Setelah meluapkan keresahan di hatinya,Ara merasa sedikit lega meskipun rasa cemas belum sepenuhnya hilang dari dalam benaknya.


" Cepatlah tidur ! "


Ara merebahkan tubuhnya lalu menutupinya dengan selimut.


Sebelum keluar, Ibu Nining mematikan lampu agar tidak terlalu terang. Kini hanya tersisa lampu tidur sebagai cahaya satu-satunya di dalam ruangan itu. Meski dia juga gelisah, tapi dia yakin Bian baik-baik saja.

__ADS_1


○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○


Di sebuah gedung tua


Seorang pria dan wanita duduk pada sebuah kursi kayu dengan kedua tangan yang di ikat di belakang. Tidak hanya tangannya yang terikat, tapi matanya juga di tutup dengan kain hitam sehingga dia tidak bisa melihat dimana keberadaannya saat ini.


" Hei , lepaskan aku ! " teriak mereka berdua dengan sekuat tenaga. Suara yang di hasilkan menggema di tempat yang sunyi itu.


Tidak ada yang menyahut teriakannya. Hanya suara jangkrik yang berbunyi di tengahnya malam yang semakin larut.


Mereka mencoba melepaskan ikatan tali di tangannya. Namun bukannya terlepas, tanganya justru semakin terasa sakit.


" Sial ! " umpatnya kembali karena usahanya sia-sia.


Di depan mereka berdiri seorang pria dengan tubuh tegap. Sejak setengah jam yang lalu dia hanya diam mendengar umpatan-umpatan tawanannya tanpa bersuara sedikitpun.


" Orang yang menyekap kita disini memang pengecut. Aku pikir kamu bukanlah pria, melainkan seorang wanita," cibirnya kembali.


" Hmmm, benarkah ? Bagaimana dengan pria yang memfitnah seorang wanita ? Apakah dia sebenarnya pria jelmaan ? Aku jadi penasaran kalau dia juga sepertinya bukan seorang pria ." Setelah beberapa saat akhirnya ada sebuah suara yang menjawab dengan begitu lantang.


" Bian ? " ujar Tio dan Qilla secara bersamaan.


" Aku pikir kalian tidak mengenali suaraku," sahut Bian dengan santai lalu duduk di kursi yang berada beberapa meter dari mereka berdua.


"Masihkah kamu bertanya ? Apakah kamu belum sadar atas kesalahan yang kamu lakukan ? Haruskah aku mengingatkan kalian kembali ? " tanya Bian sambil menaikkan sebelah kakinya di atas kaki yang lain. Di tangannya sudah terdapat sebuah pistol yang meledak kapan saja jika dirinya menginginkannya.


" Bian , apa maksudmu bicara seperti itu ?" tanya Qilla


" Aku tidak melakukan apapun. Cepat lepaskan aku." Tio bersikeras mengelak karena dia tidak mungkin mengungkapkan sesuatu hal yang sebenarnya.


" Oh ,baiklah. Sepertinya kalian memang sudah bosan hidup."


Dor...dor....


Sebuah suara tembakan menggema hingga beberapa kali di udara setelah Bian berhenti bicara.


Tubuh Tio dan Qilla bergetar hebat dengan keringat dingin yang semakin mengalir dari pori-pori kulitnya. Jantungnya hampir saja copot mendengar suara tembakan yang terdengar begitu keras.


" Apa kamu mengancam kita ? " ujar Tio terbata.


" Bisa di bilang seperti itu. Sudah lama aku tidak menembak seseorang dengan tanganku sendiri," ucap Bian dengan santainya.


" Ke...kenapa kamu begitu ? Bukankah kita bersahabat ? Aku juga sangat mencintaimu, " kata Qilla gelagapan

__ADS_1


" Tapi aku tidak pernah menganggapmu sahabatku. Apalagi mencintai wanita sepertimu. Dari dulu kamu yang selalu menggangguku " balas Bian


" Bian , tenangkan dirimu. Kita bicarakan dengan baik-baik," jawab Qilla


" Kenapa kalian mengganggu istriku ? " ungkap Bian terus terang.


" Siapa juga yang mengganggu istrimu," elak Tio


" Siapapun itu , aku pasti akan membuat perhitungan dengannya ," sahut Bian.


" Kalian hanya tinggal pilih. Ingin mati lebih cepat atau masih ingin tetap hidup. Cepat berikan aku pilihan, karena aku ingin segera pulang," kata Bian kembali sebelum Tio membuka suara lagi.


" Teganya kamu...." Tio hanya bisa menggeram, untuk melepaskan diri juga dia percuma karena tidak bisa. Kondisi matanya yang tertutup juga menyulitkannya.


" Aku tidak akan memgusik hidup orang jika dia tidak mengganggu kehidupanku,"balas Bian.


" Bian , aku mohon lepaskan kami ," ucap Qilla


" Aku tidak akan melepaskan kalian,"


" Apa maumu ? " ujar Tio


" Mauku ? Aku ingin mengadakan konferensi pers kalau berita yang beredar di media tentang istriku tidaklah benar. Kalian harus membersihkan nama baik istriku," ungkap Bian dengan berterus terang.


" Aku tidak mau," tolak Tio mentah-mentah tanpa jeda.


" Aku juga tidak mau," sahut Qilla


Dor....


Tanpa menunggu satu menit, Bian langsung melesakkan kembali tembakannya hingga suaranya menggema di sudut gedung tua tersebut.


" Arghhh! " teriak Tio


Tio meraung -raung , menahan rasa sakit ketika kakinya tertembak. Bibirnya terus mengumpat dan mengatakan sampah serapah. Suaranya begitu nyaring, menggema di gedung tua yang tidak berpenghuni.


" Kakak ? " ujar Qilla ketakutan.


" Bian ,kamu memang breng*ek ! " umpat Tio sambil menahan sakit yang luar biasa pada kakinya. Rasa sakit yang di rasakan terasa di ubun-ubun hingga matanya terasa hampir terlepas.


Bian menatap mereka dengan santai dan tidak peduli atas tindakannya saat ini. Selagi hatinya puas balas dendam maka hal gila pun akan dia lakukan.


Bibirnya menyeringai licik melihat Tio berteriak tanpa bisa berbuat apa-apa, seperti sedang menonton sebuah pertunjukan yang sangat menarik.

__ADS_1


__ADS_2