Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah Ara setuju menikah dengan Aris, Ibunya dan Aris langsung tersenyum senang.


" Kalau begitu lagi 2 hari kalian akan menikah. "Ucap Ibunya tersenyum senang.


Mata Ara terbelalak lebar mendengar ucapan Ibunya itu .


"Terserah Ibu saja," balas Ara dengan wajah yang terlihat begitu sedih.


" Baiklah, kalau begitu lagi 2 hari kalian akan menikah. "Balas Ibunya yang terus tersenyum


" Kalau begitu kita jemput si kembar dan bawa dia kemari, karena sebentar lagi kita juga akan menikah. Aku juga sudah kangen banget sama si kembar," kata Aris


" Biar aku saja yang menjemput si kembar, kalau begitu aku pulang dulu." Ujar Ara .


" Dari pada pulang naik taksi, lebih baik aku yang mengantar pulang. Aku juga ingin sekali mengetahui dimana calon istriku tinggal selama ini."ucap Aris sambil menatap Ara


" Tidak usah Kak, sopirku sudah menunggu di depan. Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Ara .


" Tapi kamu beneran akan balik lagi kesini kan? Kalau kamu tidak kesini , maka lebih baik Ibu mati saja."ancam Ibunya


"Tenang saja Bu, aku pasti akan kesini," balas Ara yang langsung meninggalkan rumah orang tuanya.


Ara merasakan hatinya begitu sakit, hancur, dan kepalanya juga terasa berat sekali. Air matanya terus mengalir tanpa henti.


Setelah sampai di Villa badannya terlihat lemas dan sempoyongan lalu dia pingsan.


Ibu Nining begitu kaget melihat Ara yang jatuh pingsan di depan pintu. Dia langsung menghubungi Bian.


Bian yang mendengar kalau Ara pingsan dia langsung meninggalkan pekerjaannya.


Ketika sampai di Villa dia langsung menghampiri Ara .


" Sayang, Bangun sayang ! " ucap Bian yang terus berusaha membangunkan Ara . Akan tetapi, Ara tidak kunjung bangun.


Sudah 1 jam , akan tetapi Ara tetap tidak bangun. Bian lalu membawa Ara ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, dia langsung di periksa oleh Dokter Virza sahabat dari Bian.


" Ibu , ada apa dengan Ara ? Kenapa dia tidak bangun juga ? " tanya Bian dengan wajah khawatir.


"Ibu juga tidak tahu,saat Ibu membuka pintu Ara sudah pingsan di sana ." jawab Ibunya

__ADS_1


"Vir, bagaimana keadaan Ara ? " tanya Bian saat melihat Dokter Virza keluar dari ruangan Ara.


" Apa yang lo lakuin dengan calon istrimu itu sampai dia jatuh pingsan seperti ini ? " tanya Virza kepada Bian


" Jangan berpikir negatif dulu, karena gue tidak ngelakuin apapun dengannya,pikiran lo itu negatif mulu sama gue,''sahut Bian kesal


" Dia tidak apa-apa, cuma terlalu banyak pikiran saja." Balas Dokter Virza .


" Thank you bro , kalau begitu gue ke dalam dulu," ucap Bian


"Ya sama-sama bro, " balas Dokter Virza .


Sudah 3 jam tapi Ara belum bangun juga.


Bian hanya diam,matanya yang sayu menatap wajah Ara yang masih tenang dalam tidurnya. Entah sampai kapan dirinya menunggu wanita itu untuk bangun.Tidak ada lagi semangat dalam hidupnya untuk saat ini. Bian menunggu Ara bangun tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Dia mengusap tangan Ara dengan lembut. Lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada wajah Ara,dan mengecup kelopak matanya secara bergantian.


" Bangunlah,apakah kamu tidak merindukanku ? " tanya Bian dengan getir


Di alam bawah sadarnya , Ara bisa mendengar suara Bian yang sendu. Dia bisa merasakan sentuhan bibir Bian yang hangat dan lembut.


Sebenarnya Ara ingin sekali membuka, dan menyadarkan diri ,tapi sulit sekali. Kelopak matanya terasa berat saat di angkat, anggota tubuhnya yang lain juga sulit untuk di gerakkan.


Ara ingin sekali menjawab pernyataan Bian ,karena dia juga sangat merindukan pria itu . Namun bibirnya terasa kelu, suaranya seperti menghilang dari tenggorokannya.


Tok...tok...tok..


Terdengar ketukan pintu hingga beberapa kali sebelum akhirnya ada suara derit pintu yang terbuka. Alex sopir pribadi Bian masuk ke dalam.


" Tuan , sepertinya Non Ara seperti ini karena permintaan dari Ibunya ." Kata Alex


" Permintaan apa ? Dan apa yang terjadi di sana ? " tanya Bian menatap Alex


" Sebaiknya Tuan lihat sendiri vidionya , karena saya sudah merekam apa yang Non Ara lakukan selama disana. " Jawab Alex sambil menyerahkan ponselnya


Hati Alex merasa tersentuh dengan kesetiaan bosnya. Dia tahu kalau dari dulu bosnya begitu mencintai Ara.


Wajah Bian langsung memerah , rahangnya mengeras,dan otot-otot tangannya juga mengeras saat melihat vidio itu.

__ADS_1


" Alex, kamu hubungi Joni ,dan suruh dia untuk membatalkan kerja sama kita dengan perusahan milik Aris." perintah Bian dengan Alex.


Selama ini memang tidak ada yang tahu kalau dirinya memiliki perusahan , tapi mulai saat ini dia ingin orang lain tahu siapa dirinya sebenarnya.


" Aku selalu diam saat mereka menghinaku , tapi sekarang aku tidak ingin diam terus melihat calon istriku seperti ini," gerutu Bian dengan wajah berapi-api.


"Tuan,sebaiknya anda makan dulu. Dari tadi pagi anda belum makan apapun. Tidak baik jika anda menyiksa diri sendiri. Bagaimana kalau nanti nona bangun dan melihat anda seperti ini ? Nona pasti akan sangat sedih," ujar Alex


Akan tetapi Bian hanya diam saja.


" Tuan , perusahaan juga membutuhkan anda,karena tadi anda langsung pergi saat meeting sedang berlangsung, " bujuk Alex .


" Kamu suruh saja Joni untuk mengurus semuanya. Dan juga suruh seseorang untuk menyelidiki Aris dan Viona, karena aku yakin Viona tidak akan tinggal diam saat mendengar Aris akan menikah, "ucap Bian


"Baik Tuan ," jawab Alex


Alex kemudian menghubungi seseorang , setelah selesai dia menghampiri Bian lagi.


" Tuan makanlah dulu, jangan menyiksa diri sendiri seperti ini," ulang Alex untuk menyadarkan Bian, karena tidak tega membiarkan bosnya tidak makan dari tadi pagi.


"Bagaimana mungkin aku bisa makan sedangkan calon istriku tidak baik-baik saja ? Aku tidak akan makan sebelum dia sadar," sahut Bian dengan tatapan yang sangat kosong. Dia seperti tidak ada gairah lagi dalam hidupnya sebelum Ara sadarkan diri.


Tidak ada lagi yang bisa di lakukan oleh Alex jika Bian sudah berucap demikian. Pria itu hanya menuruti perintah bosnya sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.


" Jika sesuatu yang buruk terjadi dengan calon istriku , jangan harap aku bisa memaafkan kalian," gerutu Bian dengan suara bergetar


Bian merasakan sebuah pergerakan di bawah genggaman tangannya. Seketika pria itu langsung mengendurkan jemari yang sedang menggenggam erat tangan Ara.


"Ara ?" Ujarnya dengan wajah berbinar.


Benar saja , dia bisa meihat jari Ara yang mulai bergerak. Awalnya hanya jari telunjuk saja, perlahan jari yang lain ikut bergerak pula.


Tanpa pikir panjang, Bian bergegas menekan tombol untuk memanggil dokter agar segera datang ke ruangan itu.


Setengah jam kemudian..


Dokter dan perawat yang menangani Ara sudah keluar di ruangan itu. Kini tinggallah Ara dan Bian saja di dalam sana.


Butuh waktu yang lama bagi Ara untuk benar-benar tersadar dari tidurnya. Sebelumnya , kelopak matanya terasa sangat berat ketika hendak di buka. Namun sekarang sudah terasa jauh lebih baik lagi.

__ADS_1


"Sayang," panggil Bian dengan lembut. Pria itu sangat berharap Ara membuka matanya.


Suara Bian yang berhembus merdu di telinganya, menyebabkan Ara tidak sabar ingin melihatnya. Perlahan wanita itu membuka matanya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu meskipun masih belum terlalu jelas.


__ADS_2