Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Rumah untuk Ara


__ADS_3

Satu jam kemudian ...


Dokter dan perawat yang menangani Bian sudah keluar dari ruangan itu. Setelah itu jari tangan Ara juga sudah mulai bergerak. Aris yang melihat hal itu langsung menekan tombol untuk memanggil dokter agar segera datang ke ruangan itu lagi.


Keluarga Ara akhirnya bernafas lega ketika mendengar kalau Ara dan Bian sudah sadar.


Butuh waktu yang lama bagi Ara dan Bian untuk benar-benar tersadar dari tidur panjangnya. Sebelumnya,kelopak matanya terasa sangat berat ketika hendak di buka. Namun sekarang sudah terasa jauh lebih baik lagi.


" Ara,Bian , ayo bangun nak!" Panggil Ibu Nining dengan suara lembut. Wanita itu sangat berharap kalau Ara dan Bian membuka matanya.


Suara Ibu Nining menyebabkan Ara , dan Bian tidak sabar ingin melihat Ibunya. Perlahan mereka membuka matanya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu meskipun masih belum terlalu jelas.


" Ara ,Bian , akhirnya kalian bangun, " ucap Aris sambil tersenyum.


Ibu Nining juga begitu bahagia karena anak dan menantunya akhirnya sadar.


Ara dan Bian memejamkan matanya sekali lagi lalu mengerjap untuk menjernihkan penglihatannya.


Bian lalu melihat ke samping, dia melihat Ara yang juga terbaring lemah di samping dirinya.


" Ibu , apa yang terjadi dengan Ara ? " tanya Bian sambil menatap Ara yang  terbaring lemah di sampingnya. Untuk sejenak pria itu belum ingat apa yang menimpanya


Pria itu lalu menggenggam tangan Ara dengan sangat erat.


" Apa kamu lupa, kalian mengalami kecelakaan saat akan menuju ke Villa." Tutur Ibu Nining


" Ya aku ingat semua, untung si kembar pulang duluan bersama Ibu. Kalau dia ikut bersama  kami, entah apa yang akan terjadi ." Kata Bian


" Ibu ,bagaimana keadaan si kembar ? " tanya Ara.


"Mereka baik-baik saja, sekarang mereka ada diluar." Balas Ibu Nining sambil mengusap rambut Ara dengan lembut.


Beberapa menit kemudian keluarga Ara masuk ke dalam.


"Ara, akhirnya kamu sadar juga. "Ujar Bapak dan Ibunya


"Ara ,Bian ,tolong maafkan kami ! Kami sudah begitu jahat pada kalian, " kata Aris sambil menunduk.


"Iya nak, tolong maafkan kami ! Kami terlalu dibutakan oleh materi , " ucap orang tuanya sambil meneteskan air mata.


" Aku sudah memaafkan kalian semuanya, kalian adalah keluargaku jadi mana mungkin aku bisa marah terlalu lama dengan kalian. " Kata Ara sambil menatap mereka

__ADS_1


"Lupakanlah semuanya , aku juga sudah memaafkan kalian ." Balas Bian


"Sekarang kalian harus makan,Dokter bilang setelah sadar kalian harus makan dulu ." Ujar Ibu Nining sambil meraih piring yang berada di atas nakas.


Ibu Nining mulai menyuapkan makanan ke mulut Ara dan Bian secara bergantian.


___


2 minggu kemudian Ara dan Bian sudah  keluar dari rumah sakit.


" Sayang, aku ingin mengajakmu keluar.  Sekarang cepatlah bersiap-siap, " ucap Bian sambil menatap Ara yang lagi mengobrol dengan Ibu mertuanya.


"Pergi kemana ? Kamu baru saja datang dari bekerja,masak mau keluar lagi ? " tanya Ara dengan alis mata terangkat


" Pergilah nak, semenjak keluar dari rumah sakit kalian tidak pernah pergi berdua. Si kembar biar Ibu yang menjaganya." Kata Ibu Nining sambil menatap menantunya itu.


" Baiklah kalau begitu, terimamasih ya Bu ? Ibu selalu mengerti aku," jawab Ara sambil tersenyum.


"Iya sayang, " balas Ibu Nining sambil mengusap rambut Ara.


Bian hanya cemberut saja melihat hal itu, dia merasa cemburu dengan Ibunya sendiri. Semenjak keluar dari rumah sakit dia tidak pernah punya waktu berduaan dengan istrinya, karena pekerjaannya sangat menumpuk. Bahkan dia juga belum melakukan malam pertama dengan istrinya.


" Sayang , aku sudah selesai. " Ucap Ara mendekati suaminya


Di mobil, Ara menatap Bian terus. Gadis itu tahu kalau suaminya saat ini sedang marah.


" Sayang , kamu kenapa ? " tanya Ara sambil menatap suaminya yang lagi menyetir mobil.


Bian tetap diam saja, sedangkan Ara hanya bisa menunduk. Hatinya terasa sakit melihat Bian seperti itu.


1 jam kemudian mobil Bian berhenti di sebuah rumah yang sangat mewah, dan begitu indah. Rumah itu juga sangat jauh dari keramaian.


" Sayang , ayo turun! " seru Bian sambil menggandeng tangan Ara.


"Ini rumah siapa ?"tanya Ara dengan alis mata terangkat


" Ini rumahmu, anggap ini hadiah karena kamu sudah bersedia menjadi istriku. Dan aku ingin mengajak kalian tinggal disini , bagaimana apa kamu mau ?" Tanya Bian sambil menatap istrinya.


Mata Ara terbelalak lebar mendengar ucapan suaminya itu.


" Ya aku mau, tapi Ibu ikut dengan kita kan ? " tanya Ara

__ADS_1


" Kenapa kamu hanya memperhatikan Ibuku ? Apa kamu tidak bisa memperhatikanku saja ? " tanya Bian dengan wajah kesal.


" Jadi kamu cemburu dengan Ibumu sendiri ? " tanya Ara sambil tertawa. "Akhir-akhir ini kamu sibuk terus , jadi bagaimana caranya aku memberi perhatian ? " tanya Ara


"Maaf, aku hanya merindukanmu." Balas Bian menunduk.


Bian mengajak Ara masuk ke dalam rumah itu.


"Aku ingin mengajakmu melihat bulan dari atas atap. Di sana kita bisa dengan leluasa melihat bulan.Apa kamu mau ? " tanya Bian


" Iya ,aku mau." Balas Ara sambil menganggukkan kepalanya.


" Naiklah duluan , karena aku akan membuat minuman dulu." Kata Bian


" Sepertinya dari balkon saja sudah cukup," tolak Ara


" Baiklah." Bian hanya menyetujui apapun kemauan Ara.


Wanita itu lalu berjalan menaiki anak tangga dengan cepat, dia tidak sabar ingin melihat bulan purnama.


Ara melepaskan sandal dan tasnya ke kursi yang ada di kamar itu. Setelah itu dia lalu membuka pintu lebar-lebar. Seketika angin langgsung berhembus masuk hingga menerbangkan rambutnya yang panjang. Bibirnya merekah melihat bulan purnama yang tampak jelas dari sana.


Ara memghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Dia berdiri di dekat pembatas balkon. Menikmati angin segar yang menerpa wajahnya.


"Bagaimana ? Bukankah sangat indah ?" Tanya Bian sambil meletakkan dua cangkir teh hangat bersama dengan cemilan di atas meja.


Ara terkesiap, tubuhnya berbalik menoleh pada Bian yang menyunggingkan senyum hangat padanya.


Bian senang bisa melihat wajah cantik istrinya yang terlihat bahagia. Dia lantas berjalan mendekati dan berdiri di belakangnya. Hanya ada mereka berdua di rumah itu,seketika hatinya berdesir. Sedikit gugup saat ingin menyentuh jemari Ara yang sedang memegang pagar balkon.


Baru saja Bian hendak menggenggam jemari Ara, wanita itu sudah beralih mengusap lengannya. Ara mulai merasakan kedinginan akibat angin berhembus cukup kuat. Bian segera melepaskan jasnya lalu menyapirkannya di pundak Ara.


" Malam ini udara terasa jauh lebih dingin," kata Bian


Ara mengangkat bahunya sedikit sambil mengangguk pelan. Berada berdua seperti ini membuatnya jadi canggung, bingung sendiri apa yang harus mereka bicarakan agar suasana tidak terlalu kaku.


" Mau minum teh ? ," tawar Bian setelah suasana terasa sunyi,dan senyap hingga beberapa saat . Hanya debaran dada mereka yang terdengar nyaring di telinga masing-masing .


"Boleh," sahut Ara sambil menatap suaminya.


Terima kasih untuk semua yang sudah membaca novel ini🙏, yuk mampir juga ke novel author yg satu ini

__ADS_1



__ADS_2