
" Apakah semua orang sudah mengetahui kabar itu ? " tanya Ara. Hati Ara merasa cemas dan mencemaskan Bian.
" Bian pasti akan merasa malu kalau sampai kabar itu tersebar luas kemana-mana ," pikir Ara merasa tidak tenang.
" Nona tenang saja, bos pasti tidak akan tinggal diam melihat semuanya. Ini semua hanya kesalahpahaman, mana mungkin Nona merayu Tio," terang Bobi.
" Selama ini aku sudah cukup mengenal Nona Ara, menurutku dia bukanlah wanita yang haus akan belaian sehingga menggoda Tio. Pasalnya bos Bian sudah memberikan segalanya untuk istrinya," pikir Bobi .
" Entahlah ,aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi. Yang aku ingat , aku sedang memakan makanan yang di bawa oleh Qilla,dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi," sahut Ara dengan tatapan nanar.
" Apa jangan-jangan ini adalah perbuatan Tio dan Qilla ? Nanti biar aku dan bos yang menyelidiki semuanya,"
" Terimakasih ," jawab Ara
" Tuan berpesan agar Nona bersikap tenang dan tidak terlalu berpikir berlebihan. Bagaimana perasaan anda sekarang ini ? Apa masih pusing ? " tanya Bobi sambil menatap Ara.
" Bagaimana mungkin aku tidak pusing ? Harga diriku sedang di permainkan saat ini," sahut Ara
" Hacihhh..." Terlalu lama berendam di dalam air dingin, Ara mulai merasa kurang enak badan. Sejak tadi dia sudah bersin-bersin karena hidungnya terasa gatal.
" Apakah anda sakit ? " tanya Bobi sambil mengamati hidung Ara yang memerah.
" Aku hanya bersin, mungkin karena terlalu lama berendam, " sahut Ara
" Dimana Bian sekarang ? Apa dia masih sibuk ? " tanya Ara. Dia cemas memikirkan perasaan suaminya yang tertekan.
" Bos sedang menangani seorang pasien. Mungkin setengah jam lagi baru kembali, aku mohon anda tetaplah disini," kata Bobi.
Ara menganggukkan kepalanya meskipun dia mulai bosan.
" Ah , aku jadi kesal pada Tio karena sudah kurang ajar memfitnahku," gerutu Ara dengan wajah yang sangat kesal.
"Nona aku permisi dulu. Kalau anda membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya padaku,"ucap Bobi sebelum undur diri dari ruangan itu.
Selepas kepergian Bobi, Ara kembali menyandarkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar. Mengingat- ingat apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai dia mempermalukan dirinya sendiri dan suaminya.
Setengah jam sudah berlalu, Ara tidak ingin tinggal diam, dia memutuskan keluar dari ruangan untuk mencari tahu suasana di kantor.
__ADS_1
Dengan cara berjalan sambil jongkok. Ara keluar dari ruangan itu melewati Bobi. Setelah memastikan aman, barulah Ara bangkit berdiri lalu mencari tahu apa yang terjadi di luaran sana.
" Aku sungguh tidak menyangka kalau Nona Ara menggoda Tuan Tio," ucap salah seorang wanita.
" Aku kasihan pada Tuan Bian." Sahut seorang wanita lagi.
Ara menyugar rambutnya hingga ke belakang kepala. Tubuhnya merosot ke lantai, sekarang semua orang mengolok-ngoloknya padahal dia tidak mengingat apa yang terjadi. Dia juga tidak ingat semuanya.
" Pria yang malang, dia adalah pria yang baik tapi tidak menyangka kalau istrinya tidak setia,"ucap seorang perawat.
Ara menutupi telinganya dengan telapak tangan. Dia tidak kuat lagi mendengar orang-orang yang menghujat tanpa menyelidiki lebih dahulu kepastiannya.
Ara terduduk di lantai tepat di dekat tiang sambil memegangi kepalanya dengan sebelah tangan. Penasaran dengan berita hari ini, Ara memeriksa situs berita dari ponselnya.
Matanya terbelalak lebar dan syok melihat berita terhangat hari ini. Di depan layar terpampang dirinya dan Tio yang menjadi topic pembicaraan. Kata-kata yang tertulis sebagai judul juga mengandung kebencian.
*Wanita Penggoda* itulah kalimat singkat sebagai judul di halaman tersebut lalu di ikuti dengan kalimat- kalimat lainnya.
Tubuh Ara semakin gemetar melihat komentar-komentar yang menghujatnya. Kalimat yang mereka tulis sangat menyakitkan dan menusuk rongga dada Ara.
" Kenapa berita keji itu cepat sekali menyebar ?" gumam Ara di hatinya.
" Sudah , jangan di lihat lagi," jawab Bian yang tiba-tiba saja sudah berjongkok lalu menutupi layar ponsel sang istri. Bian khawatir wanita itu setres berat memikirkan berita palsu yang menimpanya.
" Bian ? " ujar Ara dengan mata berkaca-kaca.
" Apa yang kamu lakukan di sini ? Bukankah aku sudah memintamu untuk tetap berada di ruanganku?" Bian membantu Ara untuk bangkit berdiri.
" Aku...aku..." Ara tidak sanggup berkata-kata, terlalu syok membaca umpatan-umpatan orang-orang terhadapnya .
" Kita bicara di dalam saja,"
Ara menurut, ini seperti mimpi buruk baginya.
" Seandainya saja aku tidak kesini, mungkin semuanya tidak akan terjadi," gumam Ara
" Mulai sekarang jangan membaca berita yang tidak penting," tutur Bian yang sudah duduk di sofa bersama Ara.
__ADS_1
" Apakah kamu percaya padaku ?" tanya Ara dengan mata memerah. Ara takut kalau suaminya lebih percaya dengan Tio dari pada dirinya.
" Aku bersumpah tidak pernah menggoda Tio,"ucap Ara dengan mata berkaca-kaca.
" Tentu saja aku percaya, karena mana mungkin kamu menggoda lelaki seperti Tio. Bisakah kamu menjelaskan padaku apa saja yang kamu makan saat perjalanan kemari ? " ujar Bian sambil menangkup pipi Ara.Bian ingin membersihkan nama Ara lebih cepat agar berita itu tidak semakin melebar. Bian sangat yakin kalau Tio sengaja memberitahu media tentang kejadian tadi.
"Saat mau berkunjung kemari aku hanya makan kentang goreng di restoran. Setelah itu aku makan-makanan yang di bawa oleh Qilla," terang Ara pelan-pelan sambil mengingat-ingat agar tidak ada yang terlewatkan dalam ceritanya.
" Sebelum itu kamu tidak makan yang lainnya ? " tanya Bian sambil mengernyitkan keningnya.
Ara hanya menggelengkan keningnya.
" Mungkinkah Qilla yang menjebak ? Karena sebenarnya dia ingin memberi makanan itu ke padamu ,tapi ternyata malah aku yang memakannya," ujar Ara
Tidak ada orang lain di dalam benaknya selain Qilla karena wanita itu sangat licik.
" Aku sudah meminta seseorang untuk memeriksa makanan yang kamu makan tadi. Kita akan lihat hasilnya nanti," kata Bian
" Aku juga curiga dengan Qilla," pikir Bian
" Sayang, aku minta maaf.Gara-gara aku jadi timbul masalah seperti ini," kata Ara dengan sendu.
" Kenapa harus minta maaf ? Semua ini bukan salahmu. Aku yakin ada orang yang sengaja ingin menjebakmu dan menghancurkan hubungan kita.
Ara menyandarkan kepalanya di dada Bian. Masalah kali ini sungguh membuatnya sangat takut.
" Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Bian tidak datang," pikir Ara
" Kenapa media cepat sekali mengetahuinya? " keluh Ara.
" Jangan cemas , aku sudah meminta Bobi agar berita-berita itu cepat di hapus," terang Bian
Ara kembali bersin-bersin karena hidungnya semakin terasa gatal.
" Lebih baik sekarang kita pulang, jangan sampai cuma karena masalah ini kamu jadi sakit ," kata Bian sambil memeriksa dahi Ara dengan punggung tangannya yang terasa hangat.
" Iya ,baiklah ."Jawab Ara.
__ADS_1