Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Ibu Intan


__ADS_3

Di rumah Ibu Intan...


Wajah Ibu Intan terlihat begitu cemberut , karena semenjak Mika cerai dengan Arya ,suaminya menjadi begitu dingin dengannya. Dia juga selalu pulang larut malam. Dan perginya juga pagi-pagi sekali.


" Gluk...gluk...gluk..." Arya minum air sambil menatap ke arah Mamanya yang dari tadi melamun.


" Mama kenapa ? Makananku bahkan sudah habis ,tetapi Mama tidak menyentuh makanannya sama sekali. Jangan terlalu banyak pikiran nanti kondisi Mama ngedrop lagi," tanya Arya dengan alis mengerut dalam fokus.


" Tuk..tuk...tuk.." Ibu Intan tetap diam, hanya tangan kanannya saja yang terdengar mengetuk meja makan berkali-kali.


" Ma, Mama kenapa ? " Arya bertanya sambil menyentuh tangan Mamanya.


" Mama bosan sendirian di rumah. Rumah ini sudah seperti di kuburan saja. Apalagi semenjak kamu cerai dengan Mika, dari pagi sampai malam Mama selalu sendirian disini. Papamu setiap hari selalu pulang larut malam, dan kamu juga begitu," ujar Mamanya dengan mulut melengkung ke bawah.


"Apa ? " teriak Arya yang tampak terkejut . "Memangnya Papa kemana ? " tanya Arya dengan alis mata terangkat


"Semenjak kamu cerai dengan Mika, Papamu selalu marah-marah dengan Mama. Kalau ke kebun juga pagi-pagi sekali,dan pulang juga larut malam sekali. Mama bertanya baik-baik , tapi Papamu menjawab dengan marah-marah. Pernah Mama mencari Papamu ke kebun, tetapi di sana tidak ada Papamu." Ucap Ibu Intan dengan tatapan sendu.


" Sepertinya Papa menyembunyikan sesuatu dari kita,"jawab Arya


" Firasat Mama juga begitu, sepertinya kita harus mencari tahu," balas Ibu Intan dengan alis mata naik,dan saling mendekat.


" Nanti biar aku yang bertanya dengan Papa , dan kalau dia marah-marah maka aku yang akan menyelidikinya." ujar Arya


" Arya , apa kamu tidak ingin menikah? Mama merasa bosan di rumah sendirian, kalau kamu menikah maka Mama jadinya ada teman di rumah."


"Aku tidak ingin menikah Ma," kata Arya menunduk

__ADS_1


" Kenapa ? Apa kamu masih mencintai Ara ? " tanya Ibu Intan sambil menatap Arya.


" Ya Ma, aku masih mencintainya. Aku tidak akan pernah bisa melupakan dia. "


" Kalau begitu dekati dia lagi . Mama janji tidak akan mengganggu rumah tanggamu. Apalagi kalian sudah memiliki si kembar. Mama hanya ingin kamu memiliki seorang istri, agar ada yang menemanimu ,dan mengurusmu. Mama hanya kasihan denganmu, kalau Mama tidak ada maka kamu akan sendirian. Dan Ini adalah salah Mama sendiri, karena dulu selalu ikut campur di dalam rumah tanggamu. Coba Mama tidak ikut campur , maka kamu pasti akan bahagia,"ucap Ibu Intan dengan air mata begitu berlimpah mengalir dari kedua sudut matanya.


"Maaf Ma, aku tidak bisa mendekati Ara lagi, aku tidak pantas untuk Ara. Dia juga sudah memiliki calon suami. Lebih baik Mama makan setelah itu istirahat. Nanti aku akan mencari seorang pembantu agar ada yang menemani Mama dirumah. Kalau begitu aku pergi bekerja dulu. Akan janji kalau hari ini aku akan pulang cepat." Balas Arya yang langsung beranjak dari tempat duduknya


" Sampai kapan kamu akan seperti ini ? Kalau kamu tidak ingin mendekatinya, maka lupakan dia."Ibu Intan menatap mata Arya yang terlihat begitu sedih .


" Mungkin aku akan terus seperti ini. Tadinya aku sempat ingin bunuh diri, tapi saat mengingat wajah Mama dan si kembar aku langsung menjauhkan niatku itu. Kalau aku mati maka siapa yang akan mengurus Mama , dan mengantar Mama saat cuci darah?  Aku juga masih punya tanggung jawab terhadap si kembar, "jawab Arya menunduk, dia merusaha menahan air matanya agar tidak menetes.


Jam 18:50


Arya menepati janjinya, hari ini dia pulang lebih cepat dari biasanya karena ingin bicara dengan Papanya.


" Krieeeeeettt ! "Suara pintu terbuka.Ibu Intan, langsung tersenyum melihat Arya yang datang.


"Mama kira kamu berbohong," kata Ibu Intan


" Mana mungkin aku berbohong," ucap Arya yang langsung pergi ke kamarnya untuk mengganti baju.Selesai mengganti baju dia langsung menemui Mamanya. Selama ini dia memang sengaja pulang larut malam ,karena ketika berada di rumah dia selalu mengingat mantan istrinya.


Sudah jam 21 : 00 ,tapi Papanya belum juga pulang. "Mana mungkin Papa masih di kebun jam segini. Pasti dia pergi ke suatu tempat," gumamnya di hati.


" Ma, lebih baik Mama tidur duluan. Biar aku yang menunggu Papa. " bujuk Arya , karena Mamanya ingin menunggu Papanya .


" Mama ingin menunggu Papamu pulang, mungkin sebentar lagi dia pulang." Balas Mamanya

__ADS_1


" Aku mohon Ma , nanti kondisi Mama seperti kemarin lagi. Kalau tubuh Mama ngedrop lagi maka akan sangat sulit melakukan cuci darah," bujuk Arya.


" Hmmm , baiklah kalau begitu."ucap Mamanya yang langsung pergi menuju kamarnya.


Jam 22:00 Papanya juga belum pulang ke rumah, Arya bahkan sampai ketiduran di ruang tamu.


Jam 23:25 Arya mendengar suara mobil milik Papanya. Papanya langsung masuk ke dalam, dan saat akan melewati ruang tamu dia terdiam karena melihat Arya di ruang tamu.


" Arya, kenapa kamu belum tidur ? " tanya Papanya sambil menatap Arya.


" Papa dari mana? Kenapa setiap hari selalu pulang larut malam ? " tanya Arya dengan alis mata terangkat.


" Kenapa pertanyaanmu seperti itu ? Padahal kamu sendiri tahu kalau Papa setiap hari hanya pergi bekerja di kebun." Jawab Papanya dengan gugup.


" Papa itu bukan pekerja kantoran , Papa hanya bekerja di kebun ,jadi mana mungkin jam segini dari kebun."kata Arya menatap Papanya dengan wajah yang sudah merah padam.


Sejujurnya dia punya firasat kalau semua ini ada hubungannya dengan Mika, tetapi dia tidak mau menuduh tanpa adanya sebuah bukti. Dia tidak mau melakukan kesalahan fatal seperti yang pernah dia lakukan dengan Ara dulu.


" Terserah kamu mau percaya atau tidak dengan ucapan Papa, yang pasti Papa tidak peduli. Dari pada kamu sibuk ngurusin Papa ,lebih baik kamu urus dirimu sendiri ," ucap Papanya dengan suara yang keras.


"Papa sangat keterlaluan sekali .Padahal keadaan Mama sudah seperti itu,tetapi Papa tidak pernah peduli dengan Mama sedikit pun," balas Arya dengan wajah berapi-api. Menurutnya ,Papanya itu sangat keterlaluan sekali. Dia tidak pernah memikirkan Mamanya. Dia dan Mamanya seperti tidak terlihat, setiap hari pulang larut malam dan pergi pagi-pagi sekali tanpa bicara sedikitpun.


"Kamu saja yang mengurus Mamamu itu, karena Papa sangat capek," jawabnya dengan begitu ketus.


" Bukan Papa saja yang capek ,tapi aku juga . Setiap hari aku selalu bangun pagi-pagi sekali untuk membersihkan rumah, memasak, dan mencuci baju Mama . Aku tidak meminta apapun dari Papa , aku hanya ingin Papa menemani Mama . Bukan malah pulang larut malam begini." Teriak Arya dengan suara yang begitu keras . Akan tetapi Papanya tidak menghiraukan ucapannya. Dab dia meninggalkan Arya begitu saja.


"Arrrgghh," teriaknya frustasi sembari memukul meja yang ada di depannya.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus mengikuti Papa besok,agar masalah ini cepat selesai," gumam Arya di hatinya.


__ADS_2