Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Tubuh terasa panas


__ADS_3

" Pantas saja waktu di rumah perasaanku tidak tenang. Ternyata ada wanita yang mencoba merayu suamiku lagi," sindir Ara lalu meletakkan paper bag dan kotak makanan di atas meja.


" Sayang," panggil Bian


" Sebenarnya yang paling menyakitkan adalah saat pria yang di goda hanya diam saja. Sepertinya dia sangat menikmati menatap tubuh wanita itu," sindir Ara kembali sambil membersihkan ujung kukunya dengan kuku yang lain.


" Aku tidak seperti itu, aku tadi sudah melarangnya masuk ,tapi dia tetap memaksa. Saat dia ada di sini juga aku tidak menghiraukannya," balas Bian


Namun Ara tetap menggerutu. Bian hanya bisa pasrah sambil mendengarkan celoteh istrinya panjang lebar. Namun Bian justru berpikir kalau mungkin itu adalah salah satu cara Ara untuk menghibur perasaannya.


Tidak bosan-bosan Ara menyindir Bian.


Ara memutar bola matanya ketika mendapati Bian yang tidak merespon ucapannya membuat hatinya kesal.


" Sudahlah , percuma saja berbicara panjang lebar. Orang yang aku ajak bicara juga tidak akan merespon," kata Ara lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.


" Sayang, kenapa kamu berpikir tidak-tidak tentangku ?"Bian yang sejak tadi berdiri lantas mendekati Ara.


" Benarkah aku berpikir yang tidak-tidak ? Sepertinya aku hanya mengatakan fakta sebenarnya," sahut Ara dengan nada sedikit sinis.


"Sayang, 5 menit lagi aku harus menangani seorang pasien. Apa kamu sudah makan ? " tanya Bian sambil menatap istrinya.


" Belum, tapi aku ingin makan ini," Ara meraih kotak makanan yang di bawa Qilla lalu menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.


" Makanlah apapun yang kamu inginkan," sahut Bian sambil memandang lekat wajah istrinya yang masih sibuk menggerakkan mulutnya.


" Kenapa melihatku seperti itu ? Apakah kamu keberatan aku makan pemberian  temanmu itu ?" ujar Ara sembari mendengus.


"Tidak, aku hanya ingin mengatakan kalau aku harus keluar sekarang. Kamu tetaplah di sini," ucap Bian.


" Pergilah, awas saja kamu berselingkuh di belakangku," ancam Ara hanya untuk menggertak Bian. Dia tahu kalau Bian tidak mungkin melakukan itu di belakangnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setengah jam kemudian...

__ADS_1


Ara sudah menghabiskan makanan yang di bawa oleh Qilla.


Wanita itu hendak beranjak dari sofa karena ingin pergi ke kamar mandi ,tapi tiba-tiba saja dia merasa kepalanya berputar-putar. Tidak hanya itu, tubuhnya juga sudah mulai memanas . Ara merasakan seperti sedang berada di gurun pasir yang haus akan air.


" Kenapa mendadak pandanganku jadi kabur setelah selesai makan ? " gumam Ara sambil memijat kepalanya.


Dengan tubuh sempoyongan Ara mengambil air, dan dalam satu tegukan air itu telah habis.


" Apakah AC di ruangan ini rusak ?" keluh Ara lalu meraih majalah yang ada di meja untuk mengipasi tubuhnya. Bukannya berkurang,rasa panas itu justru semakin bertambah.


Ara tidak tahan lagi dengan tubuhnya yang kepanasan. Dia lantas melepaskan dua kancing kemejanya.


" Ini jauh lebih dingin," sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


Tiba-tiba Tio datang ingin bertemu dengan Bian.


" Anda bisa menunggu bos di dalam. Bos sedang menangani seorang pasien , mungkin beberapa menit lagi dia akan selesai. Di dalam ada Nona Ara, anda bisa mengobrol dulu dengan Nona Ara hingga bos selesai menangani pasien," ujar salah seorang bawahan Bian pada Tio dan lalu membuka pintu ruangan itu lebar-lebar.


" Hmmm," sahut Tio


"Ngomong-ngomong di mana Ara ? " gumam Tio


Keberadaan Ara yang tertutup oleh sandaran sofa membuat tubuhnya tidak terlihat dari arah pintu. Namun samar-samar Ara sempat mendengar ada suara orang mengobrol.


Tio mendekati sofa, dia mengernyitkan dahinya melihat Ara yang sedang berbaring sambil mengibaskan majalah di depan dadanya. Melihat kemeja Ara yang sedikit terbuka, Tio menelan salivanya berulang - ulang. Apalagi leher Ara yang jenjang juga terlihat sangat jelas.


" Ara, kita bertemu lagi. Aku merasa sangat senang karena berjumpa denganmu lagi," tutur Tio sambil menyeringai


Mendengar ada yang menyebut namanya , Ara menegakkan tubuhnya. Wanita itu mengamati wajah tidak asing Tio, tapi sayang sekali otaknya terlalu berat untuk mengingatnya.


" Siapa kamu ? Untuk apa kamu datang kemari? " tanya Ara sambil menyipitkan matanya.


" Apa yang terjadi dengannya ? " pikir Tio yang terus mengamati Ara. Setelah itu dia melihat kotak makan milik Qilla ada di meja Bian.


" Qilla membuat makanan untuk Bian  dan makanan itu berisi sebuah obat perangsang. Jangan - jangan makanan itu di makan oleh Ara ? " pikir Tio

__ADS_1


" Aku Bian suamimu,aku kesini ingin melihatmu," sahut Tio berbohong sambil menyisir rambutnya agar terlihat seperti rambut Bian.


" Ini kesempatan yang bagus,aku harus merebut istrinya Bian. Gadis seperti Ara hanya cocok menjadi istriku,"gumam Tio di hatinya sambil menatap Ara


"Kamu Bian ? " tanya Ara sambil menyipitkan matanya. Dia mengamati potongan rambut Tio yang berbeda dengan rambut milik Bian ,dan bahkan pakaian yang digunakan juga memiliki style yang berbeda.


Ara masih bisa mengenali suaminya dengan baik. Dia tidak mungkin salah lihat meskipun kepalanya berputar-putar.


" Bukan, kamu bukan Bian suamiku," ucap Ara sambil mendengus.


" Sial ! Ternyata dia masih bisa mengenali suaminya walaupun keadaannya seperti ini," gerutu Tio di hatinya dengan wajah yang terlihat sangat kesal.


" Apakah kamu kepanasan ? " tebak Tio


" Tolong panggilkan seseorang untuk memperbaiki AC," sahut Ara


" Tidak perlu, biarkan aku yang membantu mendinginkan tubuhmu,"  balas Tio sambil menyeringai licik. Dia menoleh ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Tinggal selangkah lagi dia pasti bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga Ara dan Bian.


" Aku harus bisa menggunakan kesempatan ini dengan baik agar bisa mendapatkan Ara," pikir Tio


"Jangan menyentuhku, lebih baik kamu pergi dari sini," tolak Ara sambil menepis tangan Tio


" Kenapa ? Aku ini adalah suamimu," terang Tio. Pria itu sudah duduk di samping Ara dengan jarak yang cukup dekat dengan Ara.


" Pergilah,tidak usah kurang ajar. Kamu itu bukan suamiku,karena suamiku sangat benci sekali memakai dasi kupu-kupu,'' ungkap Ara


Semakin lama Ara merasakan tubuhnya semakin lemas, dan kepalanya juga terasa sangat berat. Jangankan berdiri untuk beringsut menjauh dari Tio saja tubuhnya seperti tidak mampu.


" Ada apa denganku ? Apakah aku lumpuh ? " pikir Ara merasa bingung


Tio semakin bersemangat mendekati Ara. Pria itu lantas mengusap dengan lembut pipi Ara dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


" Aku ingin kamu bersama denganku, lalu Bian bersama dengan Qilla," ucap Tio yang terus mengusap wajah Ara dengan sangat lembut.


Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, Ara menendang Tio hingga pria itu terhuyung karena ke hilangan keseimbangan. Tubuh Tio berbenturan dengan meja hingga vas yang ada di atasnya terjatuh dan menyebabkan bunyi yang begitu nyaring.

__ADS_1


"Sial! " umpat Tio sambil mengusap sikunya yang terluka akibat pecahan vas.


__ADS_2