
Sudah seminggu Ara hanya mengurung diri di rumahnya. Semenjak kejadian itu dia tidak berani keluar rumah.
Saat ini Bian sudah berpakaian lengkap karena akan pergi ke kantor.
" Sayang, aku pergi dulu. Percayalah padaku, aku pasti akan menyelesaikan masalah ini secepatnya," ucap Bian sambil menangkup kedua pipi Ara dengan telapak tangannya yang besar.
" Aku percaya padamu," kata Ara sambil tersenyum
Bian mendaratkan ciuman lembut di bibir Ara untuk beberapa detik.
" Tetaplah dirumah , dan tunggu kabar baiknya," ujar Bian
Ara mengangguk dengan pelan sambil tersenyum.
***********************************
Beberapa jam kemudian.
Ara tidak ingin berdiam diri di rumah menunggu Bian menyelesaikan masalahnya. Hari ini juga Ara ingin menemui Tio apapun yang terjadi.
" Dimana aku harus mencari pria itu ? Tempat kerjanya saja aku tidak tahu. Haruskah aku menemui pria itu di rumahnya ? " pikir Ara yang terlihat bingung.
Ara mulai menginjak pedal gas dengan hati-hati karena dia baru bisa membawa mobil. Secara diam-diam dia memutuskan untuk mengendarai mobil sendiri karena tidak ingin terus bergantung pada suaminya.
Perlahan mobil yang di kendarainya sudah mulai keluar dari rumahnya. Ada perasaan sedikit gugup dan was-was karena dia baru bisa menyetir sendiri.
Setengah jam sudah berlalu, Ara sesekali menoleh kesana dan kemari. Berharap hari ini dirinya begitu beruntung sehingga bisa bertemu dengan Tio.
" Akan aku buat pria itu menanggung akibat karena sudah berani mempermalukanku. Jika kemarin aku ketakutan, maka hari ini adalah waktu yang tepat untuk membalas dendam," gumam Ara.
Tepat ketika mobil yang di kendarai oleh Ara melintasi sebuah restoran, tanpa sengaja Ara seperti melihat Tio dari kejauhan. Refleks kakinya langsung menginjak rem sebelum mobilnya terlalu jauh.
Di depan sebuah restoran, Tio sedang di kerumuni oleh para wanita muda. Disana juga ada Qilla.
" Bisa- bisanya mereka masih bisa tersenyum di atas penderitaanku? Awas saja, aku pasti akan memberi perhitungan padanya,"
Ara mengepalkan tinjunya lalu memukul setir kemudi hingga beberapa kali. Sebelum menghampiri mereka, Ara terlebih dahulu mencari topi dan kaca mata hitam untuk menutupi wajahnya agar tidak terlalu nampak. Dia terus bersembunyi sampai para gadis itu pergi dari restoran. Melihat mereka tampak sama sekali tidak bersalah membuat darahnya semakin mendidih.
__ADS_1
" Akan aku buat kalian bertekuk lutut di hadapanku dan Bian," ucap Ara dengan geram
" Akhirnya mereka pergi." Ara keluar dari tempat persembunyiannya lalu masuk ke dalam restoran. Matanya berkeliling mencari Tio dan Qilla di setiap sudut ruangan.
" Di mana mereka ? Apa mereka sudah pergi ? " pikir Ara
Tubuh Ara terasa lemas, karena mengira mereka telah pergi.
Namun Ara tidak ingin menyerah, dia lantas melambaikan tangannya memanggil salah seorang pelayan lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
" Maaf Nona, aku tidak bisa mengatakannya, " sahut sang pelayan dengan sopan.
Ara lantas mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tasnya. Tidak ada cara lain, terpaksa dia menyuap pelayan itu demi mendapatkan informasi dimana Tio berada.
○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○
Lima belas menit kemudian, Ara sudah mengenakan seragam seorang pelayan untuk mengantar makanan ke private room dimana Tio sedang makan bersama Qilla dan teman-temannya.
" Huh ," Ara menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah masuk, karena pasalnya Tio di sana tidak sendirian.
Ara melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata di dalam ada tiga orang pria , salah satunya adalah Tio yang sedang tertawa renyah, dan satu orang perempuan yaitu Qilla yang juga sedang tertawa.
" Tio ,aku lihat gadis yang namanya Ara cantik juga. Kenapa kamu tidak menerimanya saat dia menggodamu ?" ujar salah seorang pemuda dengan tawa lepas sambil menunjukkan layar ponsel pada teman-temannya yang lain. Disana memperlihatkan foto Ara yang sedang tersenyum
" Tadinya aku mau menerima godaannya, tapi suaminya keburu datang. Siapa sih yang tidak mau dengan wanita secantik dia ? Di tambah lagi di sangat kaya," sahut Tio
" Uhuk...uhuk...uhuk," Ara terbatuk-batuk mendengar jawaban Tio yang sangat membuatnya merasa muak untuk mendengarnya.
" Kenapa kamu batuk di sini ?"gerutu Tio
" Maaf," ucap Ara lalu memundukkan kepalanya
" Apakah kamu sudah melihat tubuhnya ?" ujar pria berkemeja putih dengan wajah berbinar.
" Hmmmm, aku hanya melihat sedikit saja karena Bian sudah lebih dulu datang,"sahut Tio dengan entengnya
" Sepertinya wanita itu kurang belaian dari suaminya,"
__ADS_1
" Aku pun berpikir seperti itu. Sungguh wanita yang sangat malang," kata Qilla
" Lain kali terima ajakannya. Bawa dia bersama kita. Wanita yang sudah menikah biasanya lebih agresif dan berpengalaman. Lumayan dari pada kita membayar wanita yang tidak jelas di luaran sana,"
" Ide yang sangat bagus," puji Tio sambil mengacungkan jempolnya.
Telinga Ara semakin panas mendengar obrolan mereka yang menganggapnya wanita murahan. Saat ini Tio memang sudah sangat keterlaluan dan sudah sepantasnya di berikan pelajaran agar kapok.
" Nanti akan aku atur waktunya, aku pasti akan mengatakannya kepada kalian kalau bertemu dengannya lagi," sahut Tio sambil menuangkan bir ke dalam gelasnya.
Ara mengepalkan tinjunya kuat-kuat setelah selesai meletakkan satu per satu pesanan mereka di atas meja. Kali ini amarahnya sungguh tidak bisa di bendung lagi. Dengan cepat Ara meraih gelas yang baru saja di tuangkan bir oleh Tio.
" Hei,kenapa kamu masih berada di sini ? Seorang pelayan sebaiknya cepat pergi dari sini,"usir Tio dengan kasar.
" Sepertinya dia tertarik padamu,karena aku lihat dari tadi dia melihatmu terus," balas Qilla sambil terkekeh.
" Cepat berikan gelas itu padaku, atau kamu sudah bosan bekerja di restoran ini ?"tanya Tio dengan jengkel. Menurut Tio baru kali ini ada pelayan yang berani padanya.
Ara sengaja menjauhkan gelas itu ketika Tio hendak meraihnya.
Byur...
Tanpa basa - basi lagi Ara langsung menyiramkan bir ke wajah Tio agar pria itu tahu rasa. Dengan santainya di melepaskan topi yang berada di atas kepalanya lalu menguraikan rambutnya yang panjang.
" Beraninya kamu ...." Tio bangkit berdiri sambil menuding wajah Ara.
Plak....
Plak...
Tidak hanya siraman di wajah Tio tapi tanpa rasa takut Ara juga menampar pipi Tio kiri dan kanan sekuat tenaga. Menurut Ara tamparan itu bahkan tidak sebanding dengan sakit hati yang di rasakannya.
"Awh,"rintih Tio sambil menahan nyeri di pipinya. Wajahnya merah padam menahan amarah.
Ara lalu menarik rambut Qilla dan menampar wajahnya berkali-kali hingga mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
" Beraninya kamu mengatakan kalau aku yang menggodamu ? Apakah kamu pikir wajahmu yang tidak seberapa tampan itu membuatku tertarik ?" ucap Ara sambil mengertakan giginya kuat-kuat. Tatapannya tajam bagaikan bagaikan api unggun yang sedang berkobar-kobar.
__ADS_1