Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Bali


__ADS_3

Hari ini Ara dan Bian akan pergi ke Bali. Bian ke Bali karena ada urusan bisnis , tetapi dia sekalian mengajak Ara karena ingin mengajak gadis itu berbulan madu.


Ini adalah pertama kalinya Ara naik pesawat,perasaan gadis itu langsung ketar-ketir. Selama di dalam pesawat, tidak sedikitpun tangannya terlepas dari genggaman Bian.


" Sayang , tenanglah. Semuanya pasti akan baik-baik saja," Bian bicara sambil mengusap tangan istrinya.


Tidak begitu lama pesawat mereka telah sampai di Bali.


" Sayang, ayo naik," ajak Bian ketika mobil yang menjemputnya di bandara telah tiba.


Dalam perjalanan menuju hotel tempat penginapan,baik Ara maupun Bian tidak ada yang bersuara.


Sesampainya di hotel, Ara melihat seorang wanita yang sedikit familiar menjemput kedatangan mereka. Wanita itu namanya Qilla . Yang dia tau dari Ibu mertuanya, kalau Qilla dan Bian dulu kuliah di kampus yang sama, dan Ibu mertuanya juga bilang kalau Qilla dari dulu suka mendekati Bian , walaupun Bian tidak pernah peduli dengannya.


Tadinya Qilla tersenyum melihat kedatangan Bian, tapi setelah menyadari kalau Ara disamping Ara, senyumnya langsung memudar begitu saja.


"Selamat datang di Bali Bi ," ucap Qilla dengan ramah. Qilla tidak menghiraukan keberadaan Ara sama sekali. Ara bagaikan mahkluk gaib di mata Qilla.


" Terima kasih , Qilla ." Bian menjawab biasa saja. Padahal Qilla mengharapkan di balas dengan manis.


" Bi, kok kamu bawa dia sih ? " tanya Qilla menatap tidak suka ke arah Ara.


" Idih,keberatan apa gimana ? Padahal dia bukan siapa-siapanya Bian,"gerutu Ara di hatinya.


"Ara ini adalah istri aku, jadi wajar dong kalau aku ajak," Bian memeluk pinggang Ara. " Kita mau sekalian bulan madu," kata Bian sambil tersenyum.


" Kamu mau bulan madu sedangkan aku ada di sini ,Bi ? " Qilla tampak sendu


" Cih,mulai akting. Semoga Bian tidak terpengaruh." Gumam Ara di dalam hatinya.


" Memangnya kenapa ? Kita kemari karena urusan bisnis ,tapi aku mau sekalian berbulan madu,"jawab Bian


Qilla semakin terlihat kesal dengan jawaban Bian.


" Tapi Bi..."


"Sudah dulu ya, Qi. Aku dan istriku lelah mau istirahat dulu. Urusan bisnis, bisa kita bicarakan nanti." Bian membawa Ara menuju ke kamar hotel yang sudah di pesan.


"Kasian deh, pelakor gagal." Gumam Ara di hatinya


Merasa menang, Ara menjulurkan lidahnya ke arah Qilla dan itu membuat Qilla melotot ke arah Ara.


Ibu Nining menyuruh Ara agar hati-hati dengan Qilla, karena gadis itu sangat licik. Ibu mertuanya juga menyuruh agar Ara selalu melawan jika Qilla melakukan sesuatu kepadanya.

__ADS_1


Selesai makan malam di restoran hotel, Ara memilih untuk kembali ke kamar, sedangkan Bian masih membicarakan soal bisnisnya dengan Qilla dan Kakaknya.


" Biarlah kali ini aku biarin Bian sama Qilla," ucap Ara


Setelah membersihkan diri,Ara tidak menemukan kopernya yang berisi baju-baju.


" Kemana koperku ?"


Ara membuka lemari di kamar itu, tapi hasilnya juga nihil.


" Padahal sebelum aku keluar untuk makan malam, koperku masih ada di kamar ini, masa iya tiba-tiba hilang. Mau tidur pakai baju ini juga risih rasanya, meskipun baru di pakai cuma buat makan malam . " Pikir Ara dengan bingung.


Ara melirik ke ranjang, dia melihat di atasnya ada gaun berwarna merah maroon.


"Oh astaga, itu kan lingerie yang di kasih Ibu mertua. Apa Bian sengaja membawanya kemari ? Dan dia jugalah yang menyembunyikan koperku ? " pikir Ara sambil menatap lingerie itu.


"Sebenarnya penasaran juga dengan lingerie ini,apakah cocok di pakai olehku atau tidak ya ? Mumpung Bian masih di luar ,tidak ada salahnya aku coba pakai lingerie itu, setelah itu aku akan langsung ganti lagi," pikir Ara lagi sambil mengambil lingerie itu


Ara memandang dirinya di cermin yang menampakkan sosoknya yang tengah memakai lingerie berwarna merah maroon.


" Ternyata cocok juga di tubuhku ," gumam Ara


Sedang asik memuji dirinya sendiri, tiba-tiba pintu kamar terbuka ,dan tampaklah Bian di sana.


" Ya ampun..aku lupa mengunci pintu. Jadi ketahuan kan. Duh malu deh, apalagi Bian memandangiku tanpa berkedip." Gumam Ara di hatinya.


" Kamu cantik pakai ini," lirihnya sambil memelukku dari belakang


Ara tidak bisa berkata apa-apa lagi, bibirnya rasanya kelu. Tidak lama kemudian Bian menuntunnya menuju ke ranjang.


Kecupan demi kecupan Bian daratkan di beberapa bagian wajahnya. Hingga yang terakhir , bibir Ara menjadi sasarannya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Besok Paginya


"Selamat pagi , sayang ? " bisik Bian di telinga Ara.


"Selamat pagi," Ara mengerjapkan matanya berkali-kali.


" Sayang, ayo mandi dulu," kata Bian


Ara langsung bangun dan memunguti pakaiannya, namun Bian langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


" Kita mandi sama-sama,"


"Apa ? " tanya Ara terlihat kaget


Hal yang tidak pernah Ara duga pun terjadi. Dia mandi bersama dengan suaminya.


"Duh ,aku sungguh malu," gumam Ara di hatinya.


Beberapa menit kemudian Ara terdiam, dia terdiam karena mengingat pernikahannya yang dulu saat bersama Arya hanya mengeluarkam air mata. Tapi sekarang semuanya telah berubah.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Koper yang berisi baju-baju Ara tiba-tiba sudah tersedia kembali di kamarnya. Dia pun memilih baju untuk di kenakan hari ini, dan dia memilih baju yang tertutup. Dia juga menggunakan syal di lehernya.


" Sayang, apa kamu tidak gerah ? " tanya Bian menatap istrinya


"Aku berpakaian seperti ini karena untuk menutupi tanda-tanda merah yang lumayan banyak di leherku. Dan ini juga gara-gara kamu," ucap Ara cemberut


" Maaf ya sayang. Ya sudah, kalau begitu sekarang kita sarapan," kata Bian sambil mengecup kening Ara


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


" Bi, kamu lagi sarapan ? " tanya Qilla yang tiba-tiba datang mengganggu momen sarapan Ara bersama Bian.


"Udah tahu lagi sarapan , pake nanya segala." Gerutu Ara di hatinya


" Iya," Bian menjawab singkat.


" Loh ,Bi , kok penampilan istrimu hari ini aneh sekali. Apa kamu mau pergi ke ?" Qilla bertanya seperti itu sambil menatap aneh ke arah Ara.


" Bikin mood sarapan hilang saja,dasar pelakor gagal." Gerutu Ara di dalam hatinya.


" Enggak," sahut Bian


" Tapi kok pakaiannya aneh sekali ? " Qilla memandang sinis ke arah Ara.


Wajah Ara sudah terlihat sangat marah, karena Qilla selalu membuatnya marah.


" Terserah aku dong ,mau aku berpakaian apapun. Apa urusannya sama kamu ? Lagian kamu ngapain pagi-pagi nyamperin kesini ? Ganggu orang lagi sarapan tau tidak ," kata Ara ketus.


"Idih , ini kan restoran umum, jadi terserah aku mau kesini atau tidak " ujarnya tidak kalah ketus


Sungguh Qilla yang Ara temui tempo hari di restoran Bian, berbeda dengan sekarang. Waktu itu dia ramah dan tidak memandang Ara rendah, tapi sekarang dia berubah seratus delapan puluh derajat.

__ADS_1


Terima kasih untuk para pembaca semua, yuk sekalian mampir ke novel di bawah ini 👇



__ADS_2