Menderita Setelah Menikah

Menderita Setelah Menikah
Pergulatan Panas (21+)


__ADS_3

Reflek tangan Ara langsung menutupi bagian dada dan inti tubuhnya. Ara begitu terkejut karena Bian melakukannya tanpa kompromi.


"Bajuku."Ara memandang bajunya yang ada di tangan Bian yang sudah bernasib naas.


Bian segera melemparkan baju itu ke sembarang arah.


" Aku bisa membelikannya untukmu yang baru , seratus kali lipat lebih bagus dari baju itu," kata Bian


" Tapi itu baju kesayanganku," jawab Ara


" Tenanglah, setelah ini posisi baju itu akan tergantikan olehku," sahut Bian lalu mel*mat bibir Ara .


Suhu pasangan itu semakin memanas. Dinginnya AC tidak mampu lagi mendinginkan tubuh mereka yang terbakar oleh api gairah yang semakin memuncak.


Bibir Ara memekik pelan ketika Bian menelusuri bagian inti tubuhnya menggunakan jemari. Kupu-kupu di perutnya sudah terkumpul seperti hendak meledak.


Terlebih lagi ketika bibir Bian beralih pada dua persik ranum miliknya. Ara tidak mampu lagi menahan bibirnya untuk mend*sah diikuti dengan punggungnya yang melengkung.


Kedua kaki Ara merapat, bergerak gelisah dengan kedua tangan mencengkram erat sprei hingga berkerut.


" Teruslah mend*sah ,sayang. Aku suka suaramu yang terdengar sangat seksi," bisik Bian. Tangannya terus bergerilya mengusap titik-titik sensitif tubuh Ara agar nantinya wanita itu lebih rileks lagi.


Ara tidak bisa mendengar ucapan Bian lagi karena sentuhan Bian sangat memabukkan.


Tubuh Ara tersentak ketika sebuah benda keras menyeruak masuk ke dalam dinding vagin*nya.


Pelan-pelan Bian mulai menghujam tubuh Ara hingga wanita itu kembali memekik pelan.


Ara mencengkram erat punggung Bian hingga kuku-kukunya menancap pada kulitnya.


Hanya suara ******* dan lenguhan yang menggema di ruangan itu. Nafas keduanya terengah-engah dengan keringat yang terus keluar membanjiri tubuh mereka.


Ara merasakan seperti melayang di udara. Menginginkan lebih dan lebih lagi.


Beberapa jam kemudian, akhirnya Bian terkapar tepat di sisi tubuh Ara setelah pergulatan panas yang terjadi .Nafasnya memburu dengan tubuh yang terasa mulai lemas.


Sedangkan Ara hanya mampu menutup matanya. Dia begitu kelelahan karena Bian menghujamnya tanpa ampun. Pria itu terlalu kuat, sulit bagi Ara untuk mengimbanginya.


Bian membuka matanya, rasa puas terpancar di wajahnya. Meski cukup melelahkan tapi semua tergantikan dengan apa yang didapatkan.


" Lelah ? " tanya Bian

__ADS_1


" Sangat," sahut Ara dengan bibirnya yang bengkak akibat ******* Bian yang kelewat agresif. Bibirnya sebenarnya terasa perih tapi dia sudah terlalu lelah sehingga memilih pasrah.


" Tidurlah," Bian mengecup kening Ara terlebih dahulu lalu merentangkan tubuh mereka yang sudah basah oleh keringat yang mengalir deras.


Ingin membersihkan diri tapi tenaganya sudah tidak sanggup lagi meski hanya sekedar berjalan menuju kamar mandi yang hanya beberapa meter saja. Ara ingin istirahat terlebih dahulu agar tenaganya terisi lagi.


"Hmm," sahut Ara dengan suara lemas.


Perlahan keduanya terlelap dengan posisi Bian memeluk tubuh Ara dari belakang.


*****


Pagi hari


Kedua pasangan yang baru saja memadu kasih itu masih terlelap dalam mimpi indah yang perlahan sudah menjadi kenyataan.


Ara menggosok tenggorokannya yang terasa kering. Setelah pergulatan panas itu, dia tidak sempat minum. Ara meregangkan tubuhnya yang terasa remuk. Dia merasakan tubuhnya pegal semua hingga sulit untuk digerakkan. Apa yang mereka lakukan masih seperti sebuah mimpi karena kesadarannya masih setengah.


" Tubuhku rasanya lelah sekali,"gumam Ara lirih. Tangan kekar Bian yang melingkar di perutnya semakin membuatnya tidak bisa berkutik lagi.


Bian ikut terbangun merasakan pergerakan tubuh Ara di dalam dekapannya.


" Mau kemana ? Bukankah ini masih terlalu pagi untuk bangun? " ujar Bian dengan suara seraknya, nafasnya berhembus menerpa ceruk leher Ara hingga wanita itu merapatkan bahu dan kepalanya.


Bian menyingkirkan tangannya lalu membuka matanya lebar-lebar.


" Sini aku pijat sedikit untuk mengurangi rasa sakitnya," ucap Bian.


Meski tubuh Bian juga lelah tapi dia lebih mencemaskan Ara.


Ara merasa nyaman ketika kedua bahunya di pijat oleh Bian. Begitu lembut sehingga mampu sedikit mengurangi rasa sakit di tubuhnya.


" Bagaimana tadi malam ? Bukankah semalam sangat indah ?" tanya Bian


Ara mengerjap, kelopak matanya terbuka lebar-lebar. Sejak tadi dia belum menyadari apa yang terjadi semalam. Dia hanya berpikir antara mimpi dengan kenyataan sangatlah tipis. Dengan cepat Ara langsung menyingkap selimut yang masih membalut di tubuh mereka.


Ara termangu sambil menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Dia masih syok karena semuanya sangat nyata, dia pikir semua itu hanyalah mimpi.


"Apa yang terjadi ? " tanya Ara


" Kenapa kamu terlihat sangat terkejut ? Bukankah kamu menyadari apa yang kita lakukan semalam ? Kamu bahkan tampak sangat menikmatinya," terang Bian dengan jujur.

__ADS_1


"Aku...aku pikir semunya mimpi," kata Ara sambil mengusap gusar rambutnya dengan telapak tangannya.


" Mau mengulangi lagi agar kamu percaya kalau semua itu nyata ?" bisik Bian


Ara mencebikkan bibirnya. Seketika pipinya bersemu merah karena menahan malu.


"Kamu bahkan sudah membuat tubuhku remuk begini, tapi masih saja ingin mengulangnya lagi,"gerutu Ara dengan bibir cemberut.Pura-pura marah meskipun jadi malu sendiri saat mengingat pergulatan panas yang mereka lakukan.


" Aku hanya sekedar mengingatkanmu saja agar kamu tidak lupa." Bian mengedipkan sebelah matanya sambil mengulum senyum. Dia menggelengkan kepalanya melihat betapa brutal apa yang dia lakukan semalam atas tubuh istrinya.


Tanda-tanda merah sudah berserakan dimana-mana.


" Aku mau mandi, agar tubuhku jauh lebih segar," ujar Ara. Dia khawatir jika berada disana Bian akan menghujam tubuhnya lagi, karena saat ini dia belum sanggup mengulanginya lagi.


" Kalau begitu tunggulah dulu, " ucap Bian yang langsung pergi ke kamar mandi


Bian menyiapkan air untuk Ara mandi, dan setelah selesai dia langsung keluar.


" Mandilah, aku sudah menyiapkan air untukmu." Kata Bian sambil mengecup kening Ara hingga beberapa detik.


" Kenapa kamu harus menyiapkan air segala ? Aku bisa melakukan sendiri," ujar Ara


" Aku ingin memanjakanmu,apa mau aku gendong? " tanya Bian


" Tidak usah, aku bisa sendiri." Balas Ara dengan wajah malu-malu.


Namun Bian tetap menggendong Ara dan menurunkan istrinya di bak mandi yang sudah penuh berisi air.


" Terimakasih ,tapi lain kali tidak usah menggendongku segala," kata Ara


" Aku akan selalu melakukan itu," jawab Bian sambil tersenyum


" Kamu memang keras kepala," sahut Ara.


" Biar aku bantu menggosok tubuhmu," ujar Bian sambil meraih botol sabun yang terletak di sudut bak mandi.


" Tidak usah, biar aku saja yang melakukannya ," tolak Ara dengan cepat sambil merebut botol sabun yang ada di tangan Bian, namu Bian tetap keras kepala.


" Memangnya kenapa kalau aku yang melakukan ? Apakah kamu malu dengan suamimu sendiri ?" tanya Bian sambil mengernyitkan dahinya. Bian duduk tepat ditepian bak mandi.


" Aku hanya tidak enak padamu, "jawab Ara.

__ADS_1


" Ibuku bilang ,kalau aku harus memanjakan istriku karena dia rela jauh dengan orang tuanya demi suaminya." Terang Bian.


__ADS_2