
Dua pria yang tidak lain adalah teman dari Tio sangat terkejut dengan keberanian Ara menampar Tio.
" Ara ? " ujar Tio dengan wajah yang begitu terkejut. Tio tidak menyangka kalau pelayan yang begitu berani padanya ternyata adalah Ara.
" Bian bahkan jauh lebih tampan darimu. Jika di sandingkan dengan Bian, kamu bagaikan sampah yang tidak berguna," ucap Ara dengan kata-kata yang begitu lantang.
Tio mengusap pipinya yang panas dan memerah.
" Dasar wanita penggoda! " cibir Tio
"Berhenti mengatakan hal itu ! Bukan aku yang menggoda, tapi kamu yang menggodaku lebih dulu,"sanggah Ara dengan dada bergerak naik turun.
" Benarkah ? Tapi bukti yang ada justru kamulah yang menggodaku lebih dulu. Saat ini tidak akan ada yang mempercayaimu," ucap Tio sambil tersenyum mengejek.
" Dasar pembohong ! " umpat Ara dengan geram. Belum sempat tangannya mendarat di pipi Tio kembali, pria itu sudah terlebih dahulu menahan pergelangan tangannya. Mendorongnya hingga tubuh Ara terhempas ke belakang membentur pintu.
Bugh...
Tubuh Ara terjengkang ke lantai karena kakinya tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
" Sebaiknya kamu menyerah. Katakan saja pada semua orang kalau kamu memang menggoda Kakakku," ucap Qilla sambil menyeringai licik. Dia berjongkok di depan Ara dengan senyum mengejek.
Cuih...
Ara meludah tepat di depan wajah Qilla hingga membuat gadis itu semakin marah.
Wajah Qilla merah padam menahan amarah. Ludah di wajahnya seperti sebuah penghinaan baginya. Dengan mata yang nyalang, gadis itu menatap Ara dengan tatapan mata yang tajam.
" Beraninya kamu meludahiku ?" ucap Qilla dengan bibir gemetar. Giginya bergemeletuk dengan dada yang naik turun .
" Kenapa ? Kamu adalah sampah sehingga pantas mendapatkannya. Orang seperti kalian seharusnya mendapatkan penghinaan yang lebih dari pada ini," balas Ara tanpa rasa takut takut sedikitpun.
__ADS_1
" Jika mereka berani macam-macam maka aku akan melawan mereka," pikir Ara.
" Kurang ajar ! " umpat Tio dengan amarah menggebu. Tangannya sudah bersiap terangkat ingin menampar Ara.
" Tamparlah, satu kali kamu berani menamparku maka seratus kali aku akan membalasnya," ancam Ara.
Teman Tio hanya diam dan saling berpandangan . Mereka merasa apa yang di ucapkan oleh Tio berbeda jauh dengan kenyataannya. Tidak ada tanda-tanda Ara menggoda seperti yang di katakan oleh Tio.
Tio melirik ke arah teman-temannya sambil memurunkan tangannya.
" Sepertinya aku tidak perlu mengotori tanganku untuk memberimu pelajaran," ucap Tio.
Ara berusaha bangkit berdiri tapi Tio sudah menahan kedua pundaknya agar tetap duduk.
" Lepaskan," ujar Ara
"Disini tidak akan ada yang menolongmu. Tidak ada Bian yang menjadi penyelamat setiap kamu mendapatkan masalah,"ucap Tio sambil menaikkan sebelah bibirnya ke atas membentul seringai licik.
Sebelum kedua pria itu beranjak dari kursi,Ara sudah terlebih dahulu melotot tajam ke arah mereka. Menyiratkan kalau mereka berani macam-macam akan mendapatkan masalah besar.
" Sebaiknya kami tidak ikut campur," balas salah seorang pria yang masih duduk di kursinya dengan terbata. Pria itu melihat kalau tatapan Ara menyiratkan kalau wanita itu bukan seorang wanita yang haus akan belain. Ara justru terlihat haus akan membunuh.
" Jangan pengecut ,bukankah kalian tadi mengatakan menginginkannya ? Sebaiknya jangan menyia-nyiakan kesempatan ini," bujuk Tio
"Maaf,tapi aku tidak ingin mendapatkan masalah," sahut seorang pria.
" Dasar pengecut," balas Tio terlihat kesal
" Kalau begitu Kakak sendiri saja yang malakukannya," ucap Qilla pada Kakaknya.
" Cerailah dengan Bian lalu menikah denganku , maka aku akan membersihkan nama baikmu," tawar Tio menatap Ara sambil tersenyum
__ADS_1
" Sepertinya kamu kebanyakan bermimpi.Apa aku begitu cantik ? Hingga kamu melakukan cara licik seperti itu. Tapi maaf , aku tidak bisa menerima cintamu itu," ucap Ara memuji dirinya sendiri.
" Sok kecantikan banget sih jadi orang," balas Qilla merasa kesal mendengar jawaban Ara.
" Aku kan memang cantik, buktinya Bian lebih memilih aku dari pada gadis sepertimu. Lalu sekarang Kakakmu juga menyuruh aku menceraikan Bian . Sepertinya semua pria tergila-gila denganku, " ucap Ara. Dia sengaja berbicara seperti itu karena ingin membuat Qilla dan Tio marah.
Qilla langsung mengangkat tangannya bersiap menampar Ara.
" Berani kamu menamparku, akan aku pastikan tanganmu setelah ini patah," ancam Ara dengan tatapan dingin.
Namun Qilla tetap ingin menampar Ara. Dengan langkah cepat Ara langsung menendang perut Qilla hingga gadis itu jatuh ke lantai.
"Agh ! " teriak Qilla kesakitan.
" Kurang ajar , berani sekali kamu melakukan itu pada adikku . Dasar wanita penggoda ," teriak Tio terlihat marah.
"Tutup mulutmu! " teriak Ara dengan geram seperti hendak menelan Tio hidup-hidup.
" Kenapa ? Apakah ucapanku benar ?" ujar Tio dengan tatapan merendahkan.
Darah Ara semakin mendidih mendengar ucapan Tio. Ara menatap Tio dengan tatapan mata yang sangat tajam . Ara mengambil botol alkohol yang ada di sampingnya lalu memukul kepala Tio dengan botol itu hingga mengeluarkan darah.
"Aku bukan Ara yang dulu lagi. Aku akan melawan jika ada orang lain membuat masalah denganku,"pikir Ara
" Apa yang kamu lakukan ? Apa kamu mau membunuhnya ? " ujar salah satu teman Tio
" Diam ! Tidak usah ikut campur dengan masalahku. Kalau kalian ikut campur maka aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang," ancam Ara dengan wajah berapi-api
Qilla memilih diam saja, karena merasa begitu takut.
" Kamu harus membersihkan nama baikku secepatnya.Kalau sampai besok kamu tidak mengakui kesalahannu , maka aku akan melakukan sesuatu yang lebih parah dari ini " ancam Ara
__ADS_1