
Pov Aranika
Saat Dokter mengatakan kalau aku harus melahirkan, semua perasaan sedih,takut, khawatir ,dan senang rasanya menjadi satu.
Aku yang sebelumnya belum pernah melahirkan ,dan tidak pernah tahu rasanya kontraksi seperti apa. Tapi kata temanku,saat kontraksi rasanya begitu sakit dan aku yang mengingat perkataan temanku merasa begitu takut.
Setelah itu aku di bawa ke ruang bersalin. Seorang perawat menyuruhku untuk mengganti bajuku menggunakan baju pasien. Kak Aris langsung mengantarku menuju ke kamar mandi . Raut wajah Kak Aris terlihat begitu khawatir. Saat aku mengganti bajuku menggunakan baju khusus pasien , aku begitu kesusahan mengikat tali baju yang ada dibelakang. Karena perasaanku sudah bercampur jadi satu,aku tidak merasa malu menyuruh Kak Aris untuk mengikat tali baju itu. Dan aku yakin kalau Kak Aris pasti melihat tubuhku dari belakang.
Aku juga tidak tahu harus minta tolong dengan siapa lagi, seharusnya suamiku yang menemaniku,tetapi dia malah sibuk dengan istri barunya.
Selama ini Kak Aris yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Kak Aris sudah seperti suami yang siap siaga .
Sesudah mengganti baju , aku di suruh merebahkan tubuhku. Setelah itu datang seorang Dokter memasang obat induksi dengan menyuntikkannya di infus. Dokter memberi jatah 2 botol obat induksi,dan jika induksi tidak berhasil terpaksa di operasi caesar.
Kak Aris terus memberiku semangat.
"Kak, apa rekaman itu sudah di sebarkan ? "tanyaku pada Kak Aris
"Kakak lupa menyuruh orang suruhan Kakak untuk menyebarkannya. Kalau begitu kamu tunggu sebentar,Kakak akan menghubungi orang suruhan Kakak dulu, dan sekalian Kakak akan menghubungi Om dan Tante juga. Oh iya Ra, apa Arya perlu di beritahu masalah ini? " Kak Aris bertanya sambil menatapku
"Lebih baik di beritahu saja Kak, walau bagaimanapun dia adalah Ayah dari anak yang aku kandung. Mau dia datang atau tidak ,ya itu terserah mereka.Yang penting kita sudah memberi kabar.Kalau kita tidak memberi tahu mereka ,nanti mereka malah mencari-cari kesalahan kita saat mengurus hak asuh si kembar."
"Kamu benar Ra,kalau begitu Kakak menghubungi mereka dulu" kata Kak Aris dan kemudian meninggalkanku .
10 menit kemudian Kak Aris datang .
"Kakak sudah menghubungi suamimu, dan yang menjawab adalah Mama mertuamu.Dan dia bilang ,kalau mereka tidak bisa datang dengan alasan kalau penyakit suaminya tambah parah. " Kak Aris bicara sambil duduk di kursi samping tempat tidurku.
5 menit kemudian orang tuaku datang.
"Aris,bagaimana dengan Ara? Apa sudah ada pembukaan? " orang tuaku bertanya dengan raut wajah yang begitu penasaran.
"Belum ada Om, tapi sudah di rangsang mengunakan obat induksi. " kata Kak Aris menjelaskan kepada orang tuaku
__ADS_1
"Ara ,Ibu membawa makanan kesukaanmu. Dimakan sedikit ya! " ucap Ibuku
"Aku tidak lapar Bu, rasanya aku tidak ada nafsu makan sedikitpun. " balasku sambil menatap Ibu dan Bapak.
" Makan sedikit saja biar ada tenaga." kata Ibuku lagi.
" Biar aku yang menyuapi Ara Tante " Kak Aris lalu mengambil makanan itu dari tangan Ibu.
"Pak, Aris selalu menemani Ara. Sepertinya dia begitu mencintai Ara. Mereka sudah seperti suami istri saja." ucap Ibuku kepada Ayah
Kak Aris tidak berhasil memaksaku untuk makan, karena aku benar-benar tidak ada nafsu makan sedikitpun. Bahkan melihat makanan saja rasanya mau muntah.
Jam 12 malam induksi di hentikan,dan aku baru pembukaan satu dan masih bisa bicara dengan Kak Aris,karena belum merasakan apa-apa.
Wajah Kak Aris terlihat begitu khawatir, tapi dia selalu mengajakku bicara dan bercanda.
Malamnya aku ingin kencing , dan orang tuaku lagi tidur. Kak Aris lalu mengantarku ke kamar mandi.
"Kak,bagaimana caranya aku kencing? " aku bertanya sambil menatap wajah Kak Aris.
"Tapi aku malu sama Kakak," ucapku menunduk
"Tidak usah memikirkan hal itu untuk sekarang ini." jawab Kak Aris dan dia benar-benar ikut ke kamar mandi.
Setelah kencing aku langsung kembali ke tempat tidurku.
Sedangkan Kak Aris terus duduk di sampingku, kadang dia ketiduran di sampingku. Aku sudah menyuruhnya untuk tidur di sofa ruang tunggu bersama Ibu dan Bapak ,tetapi dia tidak mau. Dia tetap duduk disampingku sambil menggenggam tanganku.
Besoknya ,jam 08:00
Dokter pagi-pagi datang dan menyuntikkan 1 botol obat induksi lagi di infus. Lalu Dokter mengecekku, setelah itu dia bilang kalau pembukaan sudah maju ke 2.
Mulai dari saat diberikan obat induksi yang kedua,kontraksi mulai hebat,dan tidak bisa mengobrol sambil bercanda seperti sebelumnya. Diajak ngobrol saja rasanya aku tidak mau .
__ADS_1
Kontraksi membuatku ingin pergi ke kamar mandi terus. Berkali-kali aku pergi ke kamar mandi untuk kencing
Jam 11:00
Dokter memperkirakan kalau aku akan lahiran jam 16:00 -17:00. Dan setiap lihat jam rasanya lama banget jarum jamnya berjalan.Berkali-kali aku mengubah posisi tidurku,kontraksi itu seperti mau PUP,sudah di ujung tapi tidak boleh ngeden,dan perutku serasa di remas. Belum lagi kayak ada yang ngebor di dalam perutku.
Jam 14:00
Pembukaan 5 ke atas rasa sakitnya seperti beratus -ratus kali rasa sakit saat datang bulan. Rasanya aku tidak kuat,dan aku seperti cacing kepanasan .
Berkali-kali aku menyuruh Kak Aris untuk memijat bagian punggung bawah dan tulang belakangku,untuk meringankan rasa sakitnya. Bahkan tangan Kak Aris sampai begitu pegal karena terus memijatku. Tapi dia tetap melakukannya karena tidak tega melihatku begitu kesakitan.
Kadang Kak Aris terlihat panik dan khawatir saat melihatku kesakitan. Bahkan dia sampai menangis karena tidak tega melihatku seperti itu .
Jam 15:00
Pembukaan semakin cepat dan kontraksi tidak berhenti-henti. Jeda cuma 1 menit dari satu kontraksi ke kontraksi lainnya. Dan Kak Aris terlihat semakin panik,dan dia menemui Dokter.
"Dok, sampai kapan dia akan seperti itu? Saya tidak tega melihatnya" ucap Kak Aris sambil menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.
"Sabar Pak, ini tidak akan lama lagi kok. Menurut saya istri Bapak begitu hebat, biasanya wanita lain saat kontraksi akan berteriak-teriak karena tidak tahan dengan rasa sakitnya, tetapi istri Bapak tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Aku memang tidak mengeluarkan suara sedikitpun ,karena menurutku itu hanya membuang-buang tenaga saja, apalagi aku tidak dapat makan apapun dari kemarin.
"Kalau nanti aku memiliki istri,aku tidak ingin istriku hamil. Aku tidak tega melihatnya kesakitan seperti ini"ucap Kak Aris bicara didepanku dan didepan orang tuaku.
"Huss,tidak boleh bicara seperti itu." balas Ibu
Pas jam 16:00,aku mulai merasa tidak tahan dengan rasa sakitnya kontraksi.Rasanya begitu sakit sekali. Lalu Ibu memanggil Dokter dan setelah di cek ternyata sudah pembukaan 8
Jam 16:30 pembukaannya sudah full. Dokter datang menyuruhku untuk ngeden.Dan Kak Aris begitu setia ada di sampingku sambil menggenggam tanganku. Dia juga selalu berbisik menyuruhku untuk tarik nafas dahulu sebelum ngeden. Sekali ngeden bayiku langsung keluar. Kata Dokter aku pinter ngeden. Satu bayiku telah lahir dan dibawa oleh perawat.Sebelum mengeluarkan bayiku yang lagi satu, dengan siap siaga Kak Aris menyuruhku untuk minum air dahulu. Setelah itu aku ngeden lagi ,dan bayiku yang nomer 2 akhirnya telah lahir. Rasanya isi perutku langsung dingin dan plong.
Dan Kak Aris mengecup keningku , dengan senyum bahagia.
__ADS_1
Kedua anakku berjenis kelamin laki-laki, yang pertama dengan berat badan 2,7 kg dan yang kedua dengan berat badan 2,6 kg.
Sekarang bayiku dibawa ke ruang NICU agar mendapatkan perawatan khusus selama 28 hari ,dan setelah itu akan di pindahkan ke ruangan PICU.