
Hari ini Ara dan Bian akan pulang. Bian sudah memesan sebuah mobil untuk mengantarnya ke bandara.
" Bi, kok kamu bawa koper sih ? Memangnya mau pulang sekarang ?" tanya Qilla.
Qilla tiba-tiba saja datang menghampiri Bian.
" Iya ," jawab Bian singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel yang sedari tadi dia sibuk otak-atik.
Karena ada Qilla di sini, maka Ara lebih mendekat lagi ke arah Bian dan menggelayutkan tangannya di lengan Bian. Dan Qilla tampak sengit melihat kelakuan Ara.
" Padahal baru tadi aku memberinya pelajaran hingga dia merasakan sangat kesakitan , tapi masih saja dia berani mendekati suamiku," gumam Ara di dalam hatinya.
" Ehem ,"kita memang mau pulang, Mbak Qilla yang terhormat," ucap Ara sedikit di buat-buat.
" Aku tidak bertanya sama kamu ya," sinisnya membuat Ara semakin tertarik untuk beradu suara.
" Iya aku tahu kok, tapi kan situ baru saja bertanya ke suamiku, ya aku sebagai istrinya juga jawab dong, barang kali situ masih belum jelas mendengar jawaban suamiku." Ara semakin memanasi Qilla.
Qilla berdecih. "Aku tidak perlu jawaban darimu," jawab Qilla
"Sayang, mobil jemputan kita sudah datang, ayo kita ke depan," ajak Bian pada Ara tanpa memperdulikan Qilla yang jadi semakin kesal.
" Bi, apa tidak bisa di tunda dulu pulangnya ? Aku masih kangen sama kamu," ucap Qilla dengan nada manja.
" Kamu ngomong apa sih ,Qi ? " Bian sedikit kesal
" Aku ingin jalan berdua denganmu," jawab Qilla
"Qi, apa kamu tidak bisa melihat kalau aku sudah menikah ? Memangnya kapan kita pernah jalan berdua ? Dari dulu kita tidak pernah ada hubungan apapun." Selesai mengucapkan itu, Bian menggenggam tangan Ara dan membawanya menuju ke mobil jemputan.
" Bi, tunggu ," teriak Qilla, namun Bian tidak memperdulikannya.
"Bi,kam..."
" Hey pelakor gagal , mau apa lagi sih ?" tanya Ara sengit. Ara memotong ucapan Qilla karena begitu emosi melihat tingkahnya. Kini Ara dan Bian sudah bersiap menaiki mobil, tapi malah di tahan oleh Qilla.
__ADS_1
" Mau apa lagi sih ini orang ? " gerutu Ara dalam hatinya.
" Aku mau bicara sama Bian ,bukan sama kamu," ketusnya di depan wajah Ara. Tanpa di sangka Qilla mendorong Ara hingga Ara hampir saja terjatuh kalau Bian tidak sigap menangkapnya.
"Qilla,sekali lagi kamu berani menyentuh istriku, maka jangan harap aku akan mengampunimu." Rahang Bian terlihat mengeras , karena sedang marah.
Setelahnya tidak ada lagi jawaban dari Qilla. Ara dan Bian segera naik mobil menuju ke bandara.
Dalam perjalanan Ara terdiam meski Bian beberapa kali mengajak bicara.
"Sayang , kenapa kamu diam saja ? " tanya Bian sambil menggenggam tangan Ara
" Aku hanya heran saja,"
" Heran kenapa ?"tanya Bian dengan alis mata terangkat.
" Aku hanya heran , kok kamu bisa punya teman seperti Qilla sih ?"ujar Ara yang terlihat emosi
" Sebenarnya aku tidak pernah dekat dengannya, dari dulu dia yang selalu mendekatiku, walaupun aku selalu bicara kasar padanya tapi dia tetap mencariku terus, tapi aku hanya mencintaimu. Kalau aku mencintai Qilla, mungkin aku sudah menikahinya sejak dulu,tapi aku tidak melakukannya ,karena dari dulu aku hanya mencintaimu," ungkap Bian sambil menggenggam tangan Ara
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Qilla ,apa kamu mau pulang sekarang ?" tanya Kakaknya
" Iya ,Kak. Aku mau pulang sekarang juga. Bian sudah pulang jadi untuk apa aku berada di sini ? " tanya Qilla yang terlihat buru-buru.
" Qilla, tolong berhenti mengejar Bian. Dia tidak pernah mencintaimu, dan apalagi sekarang dia sudah menikah,"
" Tapi aku hanya mencintai Bian Kak, aku tidak akan mau menikah dengan pria lain selain Bian,"teriak Qilla pada Kakaknya.
" Sadar dong ,Qi . Dari dulu kamu selalu di tolak oleh Bian, bahkan dia saja tidak pernah mau di deketin sama kamu. Bahkan sekedar makan siang berdua saja kamu tidak pernah, padahal kamu mengenalnya sudah lama." Terang Tio merasa kesal dengan sikap adiknya itu.
" Aku tidak peduli walaupun dia selalu menolakku . Aku akan terus berusaha mendekatinya hingga hatinya luluh,"
" Kakak tidak setuju kamu bersama Bian, karena semua kekayaannya sudah di atas namakan istrinya, jadi kalau kamu nanti ingin menikah dengannya , maka Bian tidak akan memiliki apapun,"
__ADS_1
" Bukannya aku juga memiliki harta ? Kalau nanti aku menikah,Mama dan Papa akan memberikan warisan padaku , jadi hidupku tidak akan menderita walaupun suamiku miskin, Jawab Qilla
" Sepertinya Kakak punya rencana ," sahut Tio sambil tersenyum licik
" Rencana apa Kak ? " tanya Qilla dengan alis mata terangkat
" Sepertinya Kakak akan mendekati istrinya Bian. Kakak akan membuat rencana agar mereka bercerai. Dan setelah mereka bercerai ,maka Kakak akan mendekati Ara dan mengajaknya menikah," ujar Tio sambil tersenyum.
" Aku tidak setuju Kakak menikah dengan perempuan itu. Kelakuannya sudah seperti preman saja. Dan dia juga seorang janda," sahut Qilla sambil mengingat- ngingat apa yang Ara lakukan padanya.
" Walaupun dia seorang janda, tapi dia sangat cantik sekali. Dia juga terlihat seperti masih berusia 20 tahun. Setiap melihat Ara , Kakak sampai menghayal tidur satu ranjang bersamanya. Dan kalau Ara cerai, dia juga akan mendapatkan semua kekayaan milik Bian , jadi menurut Kakak dia adalah wanita yang sangat sempurna,"kata Tio sambil menghayal
" Cih, sepertinya mata Kakak sedang bermasalah. Masak wajah seperti Ara di bilang cantik, kalau di bandingkan denganku masih cantikan aku juga kali," balas Qilla dengan wajah cemberut
" Menurut Kakak , Ara lebih cantik darimu. Tidak memakai make up saja dia sangat cantik ,apalagi memakai make up. Sedangkan kamu, di rumah saja pakai make up," ucap Tio sambil menatap adiknya
"Kok Kakak malah membela dia sih ? Menyebalkan sekali " gerutu Qilla yang langsung meninggalkan Tio yang lagi senyum-senyum sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ara dan Bian saat ini sedang menuju ke rumahnya.Saat lampu merah Ara melihat orang gila yang wajahnya mirib dengan Mika.
" Mika ? " ucap Ara sambil melihat ke arah seorang wanita yang sedang membawa boneka dengan rambut acak-acakkan.
" Sayang, apa kamu mengenal orang itu ? " tanya Bian sambil menatap seorang wanita yang duduk di dekat lampu merah
" Dia itu adalah mantan istrinya Kak Arya. Dia adalah orang yang mengganggu rumah tanggaku dengan Kak Arya hingga kami bercerai. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia menjadi seperti itu ?" ujar Ara yang terlihat bingung
" Dulu orang itu pernah melahirkan di rumah sakitku. Lalu beberapa minggu kemudian dia datang kerumah sakit dengan membawa seorang bayi yang sudah meninggal. Dia meminta kami untuk memeriksa bayinya, dan dia bilang ada yang ingin melukai bayinya. Saat aku bilang bayinya telah tiada, dia tidak percaya dengan ucapanku. Dia bilang bayinya masih hidup dan kemudian dia menjadi seperti itu hingga sekarang. Waktu itu keluarganya sudah membawanya ke rumah jiwa ,tapi aku tidak mengerti kenapa dia bisa disini," Kata Bian
" Kasihan juga dia," balas Ara sambil menatap ke arah Mika.
Terima kasih untuk semua pembaca ,semoga kalian dalam keadaan sehat selalu dan rejekinya di lancarkan.Yuk sekalian mampir di novel author di bawah ini 🙏
__ADS_1