
Malam sudah larut, tetapi tidak menghalangi sekumpulan remaja yang kini tengah asik bermain permainan truth or dare, permainan yang sudah menjadi kebiasaan saat mereka berkumpul.
Dyu memutar botol air mineral sisa minum tadi, semuanya tampak fokus memperhatikan botol itu berputar semakin lambat hingga berhenti di hadapan salah satu dari mereka, membuat mereka bersorak.
"KENZIO!" seru mereka heboh.
"Truth or dare?" tanya Dyu selaku yang memutar botol.
"Truth dong, biar gentle," jawab Zio santai.
"Em.. Kalo Lo disuruh milih, lo milih Zia apa Sherena?" mendengar pertanyaan tersebut Zio tampak berpikir.
"Berat bro, dua-duanya gue sayang," jawab Zio.
"Sher masa lo mau diduain Zio si?" goda Galen. Ketua geng Atlansa yang memiliki tujuh anggota inti dan 250 anggota.
"Zia kembaran dia b e g o!" tukas Sherena menjitak kepala Galen. Sangat tidak sopan memang!
"Untuk sekarang gue pilih Zia, soalnya Sherena belum kasih gue kepastian." Sorakan heboh semakin terdengar menggoda Sherena yang sampai sekarang belum menerima cinta Zio.
Botol kembali diputar oleh Zio dan berhenti menghadap Ayra, pacar dari Zidan.
"Truth," ucap Ayra cari aman, karena dipermainan sebelumnya dia memilih dare, dan tantangannya membuat ia harus merelakan uang jajannya dipotong sebulan karena memotong bulu kucing kesayangan mamanya.
"Cari aman lo, Curang!" timpal Dyu, disambut gelak tawa semuanya.
"Okee, gue harap lo ngga salah pilih truth. Sejak kapan dan sebesar apa lo cinta Zidan?" tanya Zio menaik turunkan alisnya.
"Pegangin Zidan Gal, takutnya terbang," goda Dyu pada Zidan yang duduk diantara Ayra dan Galen.
"Ngga boleh double dong, harus satu pertanyaannya," protes Ayra.
"Itu satu pertanyaan Ay," jawab Zio terkekeh.
"Ay! Ay! ayang lo emang? panggilnya Ra aja kenapa sih," ketus Zidan tidak rela cowok lain memanggil Ay pada Ayra, padahal kan itu namanya.
"Okee, sejak kelas dua SMP waktu pertama kali Zidan nyalonin diri di Atlansa, gue juga sering liat dia waktu ikut Kak Deva ke markas, Kalo besarnya cuma aku sama Tuhan yang tau." Jawaban Ayra sukses membuat Zidan langsung memeluknya dari samping.
Memang diantara semuanya Zidan dan Ayra lah yang paling lama pacaran, hampir 3 tahun.
"Dasar bucin," gerutu Galen, matanya sesekali melirik salah satu cewek diantara mereka. Keyna Athela.
Botol kembali diputar dan berhenti tepat di hadapan Zia, sang pemeran utama cerita ini.
"Truth or dare?"
"Zia pilih Dare deh, daritadi truth semua," kata Zia. Oke, semoga saja tidak salah pilih.
"Cium Zidan," ucap Ayra membuat semuanya membulatkan matanya tak terkecuali Zidan sendiri.
__ADS_1
"Lo gila?" sahut Zio tidak terima, "Nggak! adek gue masih polos, ngga boleh cium-cium."
Zia masih berulang kali mengedipkan matanya dengan cepat, masih kaget dengan tantangan dari Ayra.
"Cium apanya Ra?" tanya Zia polos. Ayra berdehem melirik Zidan yang menatapnya tajam kemudian menatap Zia,"Terserah kamu," ucapnya.
"Emm... tangannya aja yaa," ucap Zia pelan, namun menggemaskan.
Semuanya mengangguk, dan Zidan menatap Ayra kemudian menyodorkan tanganya dihadapan Zia untuk dicium. Zidan tersenyum jail sudah tau sifat pacarnya itu, mana mungkin ia rela pacarnya dipegang cewek lain, apa lagi cium.
Saat bibir Zia, hampir menyentuh punggung tangan Zidan, dengan cepat Ayra menarik tangan Zidan menjauhkannya dari Zia.
Semua menatapnya dengan tatapan bingung, tetapi tidak dengan Zidan, ia tersenyum puas.
"Jangan! Cuma aku yang boleh cium tangan kamu nanti setelah ijab kabul." Kalimat yang terlontar dari mulut Ayra sukses membuat suasana semakin ricuh dengan sorakan menggoda terutama Dyu, lelaki humoris milik Atlansa.
"Dan gas lah, abis dari sini langsung ke KUA."
"Kode keras tuh Dan, Ayra minta dikawinin."
"Nikah dulu baru kawin." seru Zio.
"Emang beda Kak?" tanya Zia dengan polosnya.
M a m p u s.
"Em...beda Zia, kalo nikah itu yang sama penghulu, kalo kawin yang...." Zio berdehem, bingung melanjutkan perkataannya sendiri, mencoba meminta bantuan, tapi mereka malah sok sibuk sendiri menghindari tatapan memohon Zio.
"Yang apa Kak?" tanya Zia menautkan alisnya bingung.
"e- itu, lanjut yuk!" ucap Zio mengalihkan atensi kembarannya yang sangat polos, malah nyerempet ke b e g o.
Zidan terkekeh,"Besok kalo abis lulus ya," ucapnya mengelus kepala bagian belakang Ayra lembut.
"Ha?" Ayra ngelag sebelum akhirnya menepis tangan Zidan,"Ngga gitu maksud aku, ya nanti kalo kamu udah kerjaa, bukan abis lulus langsung nikah," gerutu Ayra fokus pada botol yang akan ia putar lagi.
"KEYNA," seru mereka saat botol berhenti di hadapan gadis berbola mata coklat itu, gadis paling pendiam dan misterius yang selalu menjadi sasaran mereka dipermaian ini, tujuannya hanya ingin mengetahui lebih dalam kehidupan gadis itu.
"Truth." Keyna seakan mengerti maksud teman-temannya.
"Siapa anak kecil yang waktu itu panggil lo 'mama'?" tanya Ayra hati-hati.
Keyna mengangguk pelan, mengerti akan semua keingintahuan mereka.
"Anak gue," jawabnya menatap Galen yang juga menatapnya dalam.
"Bapaknya siapa?" tanya Ayra lagi.
"Satu pertanyaan kan?" tanya balik Keyna terkekeh sambil tangannya memutar botol itu kembali.
__ADS_1
Terdengar decakan kecewa mereka, keingintahuan mereka harus tertunda sampai mereka memainkan permainan ini lain waktu.
"Besok harus main truth or dare lagi pokoknya," ucap Ayra yang sudah sangat kepo dengan kehidupan Keyna yang penuh rahasia.
Mereka menatap Galen, cowok yang mendapat giliran sekarang, "Dare," jawabnya.
"Udah disetting nih," cetus Zio menaik turunkan alisnya pada Keyna.
Keyna hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum. "Jawab pertanyaan Ayra yang tadi," tantang Keyna.
Galen seketika menegang, pandangannya mengendar pada semua manusia yang berada satu ruangan dengannya. Terlihat muka mereka yang kaget dan bingung.
"Bapak dari anak Keyna siapa?" tanya Ayra setelah memfokuskan dirinya lagi.
"Gue."
Semuanya kembali terdiam, otak mereka masih bekerja mencoba mencerna satu kata yang membuat pikiran mereka bercabang kemana-mana.
"Kalian?" ucap Zidan menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kapan buatnya?"
"Umur kita sepantaran loh 17 tahun Key, berarti sekitar umur 15 tahun kalian udah anu?"
"Lo lebih b r e n g s e k dari Dyu ternyata Gal."
Semua geleng-geleng kepala, tidak menyangka diantara mereka ada yang sudah...Ah sudahlah. Kita tidak akan membahas mereka, bukan mereka pemeran utama dalam cerita ini.
"Bentar! otak Zia belum nyampe," ucap Zia mencoba berpikir lebih kritis dengan otak polosnya.
"Buat apa?15?anu? Ish... Kalian ngomong apa sih?" kesal Zia mengembungkan pipinya, membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
Semua dibuat tertawa dengan tingkah Zia, "Adek lo tuh," ucap Dyu menepuk bahu Zio.
Permainan berlanjut dengan penuh canda tawa, kepolosan Zia, serta kehebohan Dyu. Hingga tanpa mereka sadari malam yang semakin larut, memaksa mereka menyudahi hari indah ini untuk kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.
Zia dan Zio mengantarkan mereka hingga depan rumah, berdiri memperhatikan motor yang satu persatu melenggang meninggalkan rumahnya. Sambil melambaikan tangan pada teman-teman mereka dengan senyum yang tak pernah pudar.
"Masuk Yuk," ajak Zio merangkul adiknya.
Semoga semua akan tetap seperti ini.
°°°°
Semoga suka yaa:)♥♥
Jangan lupa tinggalin jejak dengan Like 👍
Kali mau komentar juga boleh hehe...
__ADS_1