
"Kita seneng banget, akhirnya kalian tetep bisa sekolah," ucap Sherena setelah mereka melepas pelukan mereka.
"Cuma Zidan aja, Zia homeschooling, Sherena. Semester depan Zia sekolahnya di rumah, kalo twins udah lahir baru Zia sekolah lagi," kata Zia. Keyna tersenyum saat ia memiliki sebuah ide.
"Gue juga mau ngajuin homeschooling, biar nanti kita bareng terus sekolahnya." Ucapan Keyna sontak membuat mereka semua menatap Keyna heran.
Sherena mengangguk, "Gue ikut dong. Ngga seru kalo sekolah tapi ngga sama kalian."
Zia sontak menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Kalian sekolah secara normal aja. Sayang loh, Zia aja pengennya sekolah normal."
"Iya, emang bokap nyokap kalian ngga marah nantinya?" tanya Zidan.
"Kalian tau ortu gue kaya gimana kan? mana peduli mereka sama gue," ujar Keyna, Galen sontak mengusap punggung tangan Keyna yang di atas meja.
"Sorry," sesal Zidan, ia lupa bagaimana buruknya hubungan orangtua dan anak itu.
"It's Okay. Sekalian biar gue punya banyak waktu sama Arin juga."
"Kamu yakin mau homeschooling?" tanya Zio pada Sherena.
Sherena mengangguk yakin, orangtuanya selalu mewujudkan apa permintaanya. Dan dia juga tidak mau sekolah tanpa kedua sahabatnya itu.
"Kalo itu keputusan kalian, gue mah oke-oke aja, malah jadinya Zia ngga sendirian," ucap Zidan sembari meminum jus yang sudah ia tinggal ke ruang kepala sekolah tadi.
"Makasih banget banget loh. Sayang kalian banyak banyak." Zia mengucapkan itu sembari menatap bergantian kedua sahabat yang tengah tersenyum padanya. Lantas mereka kembali berpelukan dan tertawa bersama.
°°°°°
Sepulang sekolah.
Zia merebahkan tubuh lelahnya di kasur tipis yang sudah menjadi tempatnya tidur selama tiga bulan ini. Perutnya terasa nyeri yang lumayan sakit baginya. Zia terus mengusapnya, berharap bisa mengurangi kramnya.
Zidan baru saja memasuki kamar setelah menaruh makanan yang baru saja mereka beli di dapur.
"Kenapa? Kok dielus terus?" tanya Zidan sembari ikut mengusap perut Zia.
"Kram, Zidan." Zia menjawab lirih kemudian memejamkan matanya saat nyeri itu tidak kunjung hilang.
Zidan menatap Zia dengan khawatir, Zidan terus mengusap perut itu berusaha membantu sebisanya.
"Twins, jangan nakal ya di dalem. Kasian mamanya jadi sakit," bisik Zidan tepat di depan perut Zia yang masih tertutup seragam.
Beberapa menit kemudian Zia membuka matanya saat merasakan sakitnya mereda, ia sekarang ingin buang air kecil.
__ADS_1
"Udah?"
Zia mengangguk lalu mencoba bangkit dengan bantuan Zidan. "Mau kemana?" tanya Zidan saat Zia berdiri.
"Mau pipis," jawab Zia sembari berjalan keluar dari kamar. Zidan duduk di kasur menunggu Zia selesai dengan hajatnya.
"ZIDAN!"
Zidan sontak berlari saat mendegar Zia yang berteriak. Zidan mengetuk pintu kamar mandi dengan panik.
"Kenapa Zi? Kepleset?" panik Zidan sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi, tak lama dari itu Zia membuka pintu dengan muka yang sudah pucat pasi.
"Kenapa?" tanya Zidan memegang kedua bahu Zia. Zia menunjuk cela*a dal*mnya yang tergeletak di lantai, ada bercak darah di sana.
Zidan memejamkan matanya, Apa lagi ya Allah, batinnya.
"Lo jatuh?" Zia menggelengkan kepalanya.
"Zia tadi mau pipis, tapi waktu dilepas cela*a dal*mnya udah ada darahnya. Twins nggapapa kan?" ucap Zia dengan nada yang bergetar. Sungguh, Zia takut janinnya menapa-napa.
Zidan menggelangkan kepalanya saja, ia tidak tau itu berbahaya atau tidak. Zidan membawa Zia kembali ke kamar.
"Gue tanya Bunda dulu," ucapnya setelah mendudukkan Zia di tepi kasur. Zidan mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu berulangkali menelepon sang bunda. Zidan semakin dibuat panik saat sudah panggilan ke lima dan bundanya tidak menjawab.
"Udah nggapapa Zidan. Ngga keluar banyak juga," ujar Zia yang melihat Zidan berdiri dengan paniknya. Zia sudah tidak begitu panik, pasalnya ia ingat pernah seperti ini dan bunda bilang tidak apa-apa.
Zidan duduk di samping Zia, "Masih sakit? atau masih keluar darahnya?"
Zia menggelengkan kepalanya, tidak merasakan sakit, "Zia ngga ngerasain darahnya keluar, bahkan yang di CD itu juga Zia ngga berasa."
"Mau ke RS aja?" tanya Zidan yang bingung dan takut.
Zia menggelengkan kepala, "Zia baru keluar kemaren, masa udah mau masuk rumah sakit lagi."
"Coba lo cek itunya keluar darah lagi ngga?" suruh Zidan. Zidan sudah membalikkan badannya agar Zia tidak perlu ke kamar mandi lagi. Zia menyingkap roknya, lalu memeriksa apakah keluar darah.
"Engga ada Zidan, itu darah kaya waktu dulu mungkin, Zia kan juga pernah kaya gitu waktu belum tau kalo Zia hamil," ujar Zia.
Zidan sudah tidak begitu panik mendengarnya. "Ya udah, lo tiduran sini. Takutnya baby nya masih lemah kaya kemaren."
Zia membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Zidan masih terus mengusap perut Zia sampai Zia tertidur.
Zidan memilih mengerjakan pekerjaan rumah. Zidan mulai dari mencuci baju, lalu mencuci piring, dan sekarang Zidan tengah menyapu. Semuanya biasa Zidan dan Zia lakukan sebelum berangkat ke kafe, tapi malam ini Zidan akan melarang Zia bekerja.
__ADS_1
Zidan kembali memasuki kamar dan mengampiri Zia yang terlihat gelisah dalam tidurnya. Zidan menepuk pipi Zia agar Zia bangun, sepertinya Zia lapar tapi mager untuk bangun.
"Zia, kalo laper bangun dulu, makan. Nanti tidur lagi," ucap Zidan. Zia membuka matanya lalu meringis membuat Zidan khawatir.
"Sakit lagi?" Zia mengangguk. Pinggangnya nyeri dan perutnya kram lagi.
Zia merasakan sesuatu keluar dari itunya. Zia mengusap rok belakangnya yang terasa basah, tangannya sudah bergetar dan jantungnya berdetak begitu cepat walaupun belum melihatnya. Apalagi saat ia mengangkat tangannya, Zia langsung menangis kencang dan Zidan yang sudah sangat panik.
"Darah."
"Ke rumah sakit sekarang!" titah Zidan sembari mengangkat tubuh Zia. Zidan segera membawa Zia keluar rumah, dirinya menggendong tubuh Zia sampai jalan raya. Beruntungnya langsung ada taksi yang melintas.
Zidan dengan cepat menyetop taksi tersebut dan masuk ke dalamnya.
"Ke Rumah Sakit Pradipta. Ngebut ya Pak," ucap Zidan yang diangguki sang supir.
Zidan memangku tubuh Zia, Zia masih menangis karena takut. "Zia tenang ya... lo jangan panik."
Zidan mengucapkannya dengan napas yang masih memburu, padahal dirinya juga sudah sangat panik tapi ia tidak ingin Zia panik. Belum ada sehari mereka merasakan bahagia, sudah ada kejadian lagi.
"Sakit banget?" Zia tidak menjawab. Zia memilih menyembunyikan wajahnya di dada Zidan.
Di Rumah Sakit.
"Gimana Bun?" tanya Zidan saat bundanya keluar dari ruang pemeriksaan.
Bunda Dian mengusap bahu Zidan guna memberinya semangat. "Yang sabar ya sayang."
Jantung Zidan semakin berdetak tidak karuan. Apalagi melihat raut wajah bundanya dan apa yang barusan bundanya ucapkan.
"Janinnya udah ngga berkembang."
Dunia Zidan seolah berhenti. Badan Zidan jatuh lemas duduk di kursi. Bunda Dian duduk di sebelahnya, lalu memeluk tubuh putra semata wayangnya itu
Zidan membalas erat pelukan sang bunda dan Zidan menangis di sana. Bunda mengelus punggung Zidan, bahu Zidan bergetar karena saking kuat isakannya. Rasanya sangat hancur, perjuangan Zidan selama ini sia-sia.
°°`°°
Hallo semuanyaa 👋
Jangan pada ngamuk ya? 😃
Gimana sama bab ini? ♥♥
__ADS_1
Spam komentar biar aku up cepet. ♥♥
NEXT...