
"Tenang ya....mereka udah pergi," ucap Zio pada Zia yang masih sangat bergetar dan menangis hebat.
"Anak Zia bukan anak haram kan?" tanya Zia di tengah-tengah tangisnya. Zio menggelengkan kepalanya lalu kembali memeluk Zia. Meletakkan dagunya di atas kepala Zia, hatinya ikut sakit mendengar ucapan Zia, apalagi Zia sendiri?
"Nggapapa kan?" Galen membersihkan rambut Keyna dari sampah kecil yang menyangkut, Keyna menggelengkan kepalanya, dirinya masih mengamati sahabatnya yang tampak sangat kacau. Bersyukur Galen dan teman-temannya segera datang. "Maaf ya, kita abis dari warung belakang sekolah. Ngga denger ada keributan di sini."
Mereka menenangkan keempat perempuan cantik tersebut dan membersihkan rambut dan baju mereka dari sampah, lalu membawa mereka ke basecamp Atlansa.
Sesampainya di Basecamp.
Zia yang sudah mandi dan diobati lukanya kini tengah duduk bersama inti Altansa, sedangkan Sherena dan Keyna sedang mandi di kamar mandi basecamp. Sementara Ayra, gadis misterius itu sudah dijemput seorang pria tampan dan gagah dengan setelan jas kantoran, Galen menebak itu adalah suami Ayra.
"Perlu ke dokter kandungan ngga nih?" tanya Zio. Ia takut kandungan Zia terkena efek lemparan tadi. Zia sedari tadi bersandar di bahunya, sembari rambutnya Zio usap, berharap bisa memberikan ketenangan pada adik kembarnya itu.
"Undang ke sini aja apa ya? Takutnya ketemu sama anak Trisatya," saran Galen.
"Boleh tuh, Kasih tau lakinya dulu apa engga?" tanya Langit, mengingat Zidan yang belum mengetahui apa apa.
"Lagi olimpiade dia, takutnya malah ngga fokus, tunggu dia selesai aja." Dyu yang tengah memakan kuaci memberi saran.
"Beneran ngga berasa sakit kan perutnya? Takutnya kita nunggu Zidan malah jadinya kenapa napa," tanya Galen pada Zia, memastikan keadaannya aman.
Zia menggeleng, "Ngga sakit sama sekali, cuma lemes aja." Suara Zia serak dan lirih.
Sekarang Zia merasakan kantuk menyerangnya, apalagi setelah lama menangis dan tadi sudah mandi, rasanya ingin segera tidur.
Kalian ada yang sama tidak?
"Zia, tidur yuk!" ajak Sherena dari pintu salah satu kamar di basecamp, kamar yang biasa keempat perempuan itu gunakan dulu.
Nah! Pas sekali. Mata Zia sudah panas tapi tidak enak mengatakannya pada yang lain.
Zia menatap semua cowok di sekitarnya, melihat anggukan mereka Zia beranjak menghampiri Sherena.
"Selamat tidur angelnya Atlansa," teriak Dyu saat pintu kamar tertutup.
Selepas kepergian Zia, empat cowok dengan seragam sekolah yang berantakan itu kembali berbicara serius.
__ADS_1
"Gue takut Zia dikeluarin dari sekolah setelah beritanya kesebar," ujar Zio.
"Nah itu! Gue dari tadi mikirin itu," timpal Langit, tadi ingin mengatakan hal tersebut tapi takut Zia tambah drop.
Ting!
Atensi Galen beralih pada ponselnya saat notifikasi pesan masuk terdengar. Senyumnya merekah saat ia membaca pesan tersebut.
"Gue rasa, masih ada kesempatan buat Zia sekolah di Trisatya," ujar Galen dengan yakin.
"Yakin banget lo?"
"Yakinlah, gue baru dapet info. Cowok yang tadi jemput Ayra tuh ternyata pemilik sekolah kita." Tiga temannya malah menyergitkan alisnya bingung. Pemilik sekolah Trisatya memang tidak dipublikasikan, mereka hanya tau pemiliknya keluarga bermarga Pradipta.
"Oke! Gue lupa belum kasih tau kalian. Ayra udah nikah, dan cowok yang tadi jemput Ayra tuh suaminya. CEO, pengusaha, sekaligus pemilik sekolah." Ucapan Galen sontak membuat mereka kaget. Mereka mencoba mencerna fakta barusan.
Keren juga Ayra bales dendamnya ke Zidan, ngga tanggung-tanggung nikahnya sama CEO sekalian, batin Dyu.
Mereka tidak menanyakan dari mana Galen dapat info tersebut, karena sama seperti Ayra, Galen memiliki banyak orang hebat di belakangnya. Hanya waktu kejadian itu saja ia bisa kecolongan, sampai Galen memecat mereka yang bertugas hari itu.
"Terus? Ada hubungannya sama sekolah Zia?" tanya Langit yang belum nyambung dengan pemikiran Galen.
"Emang Ayra mau bantuin?" ragu Dyu.
"Lo ngeraguin adiknya Bang Deva? Tadi aja Ayra rela kepalanya kena lempar pot buat ngelindungin Zia. Mau keliatan sebenci apapun Ayra sama Zia, tetep aja mereka sahabatan," ujar Langit yang membuat Dyu menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Iya juga ya."
Saat sedang asik berdiskusi, ponsel di atas meja tiba-tiba berbunyi. Zio yang tau itu ponsel Zia langsung mengambilnya, lalu melihat nama si penelepon, "Zidan."
Zio menggeser tombol warna hijau, lalu mengisyaratkan teman-temannya untuk diam.
"Hallo Zi, lo dimana? Kok belum pulang? Gue udah di rumah, tapi lo ngga ada. Lo ngga kenapa-napa kan Zi?"
Dyu terkekeh mendengar nada khawatir Zidan di seberang sana.
"Zia jawab! Lo sama Sherena sama Keyna? Atau lo dimana? Jangan bikin gue khawatir deh."
__ADS_1
"Hallo," ucap Zio. Zidan di seberang sana terdiam.
"Loh? Ini siapa? Kok pakai HP istri saya? " Zidan sudah semakin panik, takut-takut Zia diculik lagi atau kecelakaan.
"Zio b e g o!" ucap Zio tidak santai.
"Oalah, gue udah panik banget, Nyet! Dimana lo bawa istri gue?" tanya Zidan yang malah nyolot.
"Basecamp, buru ke sini." Setelah itu Zio memutus sambungan dengan sepihak lalu kembali meletakkan ponsel Zia di meja.
Sesampainya Zidan di basecamp.
"Mana Zia?" tanpa basa basi Zidan langsung mencari istri kecilnya.
"Tidur," jawab Dyu. Zidan menangguk lalu mendudukkan dirinya di sebelah Galen.
"Kenapa Zia kalian bawa ke sini?" tanya Zidan penasaran. Galen yang di sebelahnya memberi Zidan minum sebelum menjelaskan apa yang terjadi hari ini.
"Gue mau jelasin, jangan dipotong," ujar Galen lalu menjelaskan semuanya. Zidan yang mendengar penjelasan Galen mengepalkan kedua tangannya. Kenapa dia tidak ada disana tadi, kalau ada, Zidan akan langsung mengklarifikasi bahwa dia adalah cowok di foto itu, juga ayah dari janin yang dikandung Zia.
"Terus Zia nggapapa?" khawatir Zidan.
Mereka menggelengkan kepalanya serempak. "Fisiknya aman, tapi psikisnya gue rasa keguncang," ucap Langit.
Zidan langsung bangkit dari duduknya dan menuju kamar yang sudah sangat ia hafal. Ingin memastikan sendiri kondisi Zia.
Zidan membuka pintu kamar tersebut sepelan mungkin, berusaha tidak mengganggu tidur para kesayangan Atlansa. Begitu pintu terbuka, dilihatnya Zia yang sedang tidur dipeluk kedua sahabatnya. Zidan hanya memperhatikan dari pintu, beruntungnya perut Zia tidak tertindih kaki dua gadis di sebelah Zia.
Saat akan kembali menutup pintu, terdengarlah suara gumaman Zia.
"Anak Zia bukan anak haram," gumam Zia berulang kali. Zidan yang mendengar itu hatinya mencelos, nyes gitu rasanya. Sesak dadanya saat anaknya dikatai banyak orang sebagai anak haram.
°°°°°
Halo semuaaa👋
Lanjut ngga nih? 😂
__ADS_1
Aku pengin kalian tulis teori kalian tentang siapa pelakunya di kolom komentar😃
Bye 👋