Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
51. Dikeluarkan atau Tidak?


__ADS_3

Zia memandangi teman-temannya yang sedang tertidur sembari ia memakan biskuit, Zia baru saja terbangun karena lapar. Malam ini Zia harus menginap di rumah sakit dan baru akan pulang besok pagi. Para sahabat Zidan juga sahabatnya tidak ada yang pulang, mereka juga tidak akan berangkat sekolah esok hari.


Zidan tidur dengan posisi duduk di sebelahnya, Galen tidur dengan bersandar pada sofa dan kepala Keyna di pangkuannya, begitupun dengan Zio dan Sherena, Langit dan Dyu tidur di lantai beralaskan karpet dan sarung yang sengaja mereka bawa. Beruntungnya ruangannya kelas VIP, kalian sudah tau kan siapa yang pesan kamarnya? Yap, Bunda mertua Zia.


"Liat baby, mereka sayang banget sama kamu. Kamu yang kuat ya di dalem sana," ucap Zia sembari mengelus perutnya yang sudah kelihatan sedikit buncit itu.


Zia tau mereka tidak mau Zia merasa kesepian dan akan berpikiran buruk terus-terusan. Zia merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari mereka, bahkan di saat orangtuanya saja entah masih menganggapnya atau tidak, mereka tetap jadi yang pertama bertindak saat Zia kenapa-napa.


Setelah merasa kenyang, Zia mengantuk dan tertidur kembali. Sepertinya mereka semua kecapaian hingga tidak mendengar Zia bangun.


°°`°°


"Apa? Saya harus tetep biarin siswi yang hamil itu sekolah saya? Yang bener aja Ayra," protes Ervan pada istri kecilnya itu.


"Dia sahabat aku Om, masa aku tega biarin dia putus sekolah gitu aja sih? Dia hamil juga karena dijebak Om, bukan kemauan dia sendiri," kata Ayra berusaha membujuk suaminya.


Ervan tampak berpikir sejenak, "Apa yang saya dapet kalau saya biarin sahabat kamu itu tetep sekolah?"


Ayra harus putar otak untuk menjawabnya, "Gini Om, bayangin itu Aku, gimana kalau aku yang ada di posisi Zia. Emang Om tega biarin aku putus sekolah? Aku juga udah nikah, sama kaya Zia. Bayangin Om!"


"Ngga bisa bayangin lah Kan kamu tidak sedang hamil. Apa saya hamilin kamu dulu biar saya bisa gampang bayanginnya?" ucap Ervan, Ayra dibuat gelagapan karenanya, mana siap dia hamil sekarang.


Ayra semakin memundurkan langkahnya saat Ervan semakin mendekatkan tubuhnya pada Ayra, "Om mau ngapain?"


"Saya mau buat kamu hamil, gimana?" bisik Ervan tepat di telinga Ayra. Ayra bergidik dan dengan cepat mendorong tubuh Ervan.


"Nggak! Syaratnya yang lebih gampang ngga ada apa?" ucap Ayra sembari menghindar dari serangan Ervan.


"Coba kasih tawaran yang menggiurkan buat saya," tantang Ervan.


Ayra berpikir sejenak tentang apa yang menarik untuk CEO dingin seperti Ervan. Dingin saat di luar maksudnya, saat di kamar ya seperti ini. Sangat jail.


"Om maunya apa? Asalkan bukan buat aku hamil. Aku masih dibawah umur loh, masa mau diperk*sa," ujar Ayra dengan nada memelas saat otaknya tidak menemukan jawaban.

__ADS_1


"Em... Gimana kalo kamu pindah tidur di kamar saya." Ayra membulatkan matanya, sangat tidak aman jika mereka berada dalam satu kamar sepanjang malam.


"Om pasti mau mesum ya?" tuding Ayra menunjuk tepat di depan wajah tampan Ervan.


Ervan menangkis jari itu pelan, "Mesum itu wajib kalo sama istri sendiri. Kalau sama istri orang lah ngga boleh."


"Gimana mau ngga? Kalo ngga mau, saya ngga bakal bantu temen kamu itu buat tetep sekolah," tawar Ervan membuat Ayra dengan terpaksa mengangguk.


"Yang penting Om ngga mesumin aku kalo lagi tidur, awas aja ya kalo berani sentuh-sentuh aku!" ucap Ayra yang mengundang kekehan Ervan.


"Iya, kalo ngga khilaf," jawab Ervan lalu keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.


°°`°°


Waktu terus berjalan, dua hari kemudian.


Hari ini Zia akan berangkat sekolah setelah kemarin keluar dari rumah sakit. Hari ini juga pertama kalinya Zia dibonceng Zidan sampai sekolah. Walaupun banyak pasang mata yang menatapnya tidak suka dan jijik, mereka tidak berani mengolok-olok saat Zia sedang bersama inti Altansa seperti sekarang ini.


"Udah nggapapa. Ada kita kok," ucap Galen yang melihat ketakutan Zia. Galen sudah menyuruh semua anggotanya yang bersekolah di sini untuk melindungi Zia dari bulian.


"Yuk kita ke kantin. Ngga ada pelajaran juga," ajak Sherena. Sejak kemarin memang sudah tidak ada pembelajaran karena ulangan akhir semester satu sudah selesai, dan kini saatnya mereka me-refresh otak mereka dengan lomba-lomba classmeeting.


Mereka akan berusaha tetap di sekitar Zia. Apalagi Atlansa yang notabenya siswa paling ditakuti di sekolah ini.


"Eh ketemu sama bumil. Lagi ngidam apa nih ke kantin," ejek Adel saat mereka bertemu di pintu menuju kantin. Ada Ayra juga diantara Adel dan dua temannya.


"Ngidam pengen nendang lo sampe mars," kesal Sherena, yang lain menahan tawa mendengarnya.


"Pergi Del. Mau gue bongkar rahasia lo?" Adel langsung menciut saat Galen berucap. Jangan sampai Galen membongkarnya.


Adel dengan kesal pergi diikuti temannya yang bingung dengan tingkah aneh Adel. Kecuali Ayra, ia tahu betul apa maksud ucapan Galen.


"Yang di club itu Gal?" tanya Zidan saat mereka sudah duduk di kantin. Galen mengangguk, lalu bergidik sendiri. Jijik.

__ADS_1


Mereka memesan makanan mereka masing-masing. Lumayan banyak, karena mereka berniat akan lama di sini.


"Nih vitaminnya," ucap Zidan menyodorkan obat yang sudah dilarutkan dalam sensok pada Zia. Tadi pagi Zia belum memakannya karena belum sarapan, katanya ingin sarapan di kantin.


Zia menerimanya dan langsung meminumnya dengan cepat, setelahnya Zidan memberikan minum.


"Enak Zi?" tanya Sherena yang memperhatikan Zia meminum itu seperti biasa saja.


"Cukup enak. Tapi Zia tetap ngga bisa nelen kalo masih bentuk obat," jawab Zia yang diangguki Sherena.


"Kalo gue minum tuh vitamin gue jadi hamil ngga ya?" celetuk Dyu yang langsung mendapat jitakan di kepalanya dari Langit.


"Ngga gitu konsepnya, Pe'a," kesal Langit.


"Panggilan kepada Kanezia Amanda Alfarezi Putri kelas XI IPA 1 dan Zidan Harsha kelas XI IPS 3 untuk menuju ke ruang kepala sekolah sekarang juga. Sekali lagi, panggilan kepada Kanezia Amanda Alfarezi Putri kelas XI IPA 1 dan Zidan Harsha XI IPS 3 untuk menuju ruang kepala sekolah sekarang juga. Terima kasih."


Suara yang menggema di setiap sudut sekolah itu membuat Zidan dan Zia menegang.


"Udah sana. Percaya sama gue semuanya bakal baik-baik aja," ucap Galen.


Dengan lesu Zidan mengangguk dan membantu Zia berdiri. "Doain Zia ya Guys!"


°°`°°


Halloo Semuanyaa👋


Gimana? Suka?


Like dong👍, komen juga.


Kasih hadiah atau tips gitu biar aku makin rajin update😁


Ikuti juga akun aku

__ADS_1


__ADS_2