
"Zia mau maafin Papa, kalo papa juga maafin Zidan. Papa juga harus minta maaf ke Zidan karena udah pukulin Zidan tiap malem," pinta Zia.
Mendengar permintaan teraebut dari mulit sang putri, Papa Riyan jadi menoleh ke arah Zidan, menantunya. Terdiam sebentar lalu mengangguk, "Iya. Papa udah maafin Zidan, dan Papa minta maaf banget sama kamu Zidan."
Papa Riyan menghampiri Zidan, Bunda Dian yang mengerti keadaan pun langsung mengambil Zavian dari pangkuan Zidan.
Zidan juga ikut berdiri, menerima uluran tangan mertuanya lalu menciumnya. "Maafin saya, Om. Maaf karena pernah membawa Zia hidup menderita, maaf juga karena telah membuat Zia harus menjadi ibu di usianya yang masih sangat muda," kata Zidan yang sudah sejak lama ingin mengungkapkan ini, tapi sellau gagal karena mendapat penolakan terus-menerus.
"Kamu nggak salah, yang salah saya. Saya telah menjadi seorang papa yang gagal menjaga putrinya, gagal menjadi ayah yang baik karena selalu menyakiti hati Zia. Saya sekarang sadar, sikap saya membuat anak saya membenci papanya sendiri," ujar Papa Riyan, kemudian memeluk tubuh Zidan.
Zia tersenyum melihat apa yang selama ini ia inginkan. Papanya dan Zidan akur, papanya mau memaafkan Zidan begitupun sebaiknya, saling memaafkan.
"Maafkan Papa yang setiap malem bikin luka di tubuh kamu, maaf! Papa khilaf, Papa hanya memikirkan reputasi perusahaan dan nama baik sendiri, tapi tidak mengingat bagaimana menderitanya anak menantu papa di balik itu," ucap papa Riyan lagi dengan suara serak menahan tangis. Penyesalan luar biasa ia rasakan sekarang.
Zidan mengangguk. Jujur, ia tidak membenci mertuanya ini, hanya kecewa dengan perlakuannya pada Zia, tidak masalah kalau perlakuan papa Riyan padanya.
"Kalau sudah begini kan enak, mertua sama menantu akur," celetuk Ayah Dimas.
Papa Riyan menoleh lalu menghampiri besannya itu, "Maafin saya. Maaf karena sering melukai putra kalian."
__ADS_1
Ayra Dimas dan Bunda Dian mengangguk. Mereka sama sekali tidak tahu menahu masalah ini sebelumnya, tentang baku hantam mertua dan menantu itu, tapi begitu tau Ayah Dimas memang agak kesal. Ia saja sebagai ayahnya Zidan tidak pernah memukuli, pernah sekali saat Zidan mengatakan sudah menodai Zia.
"Saya awalnya memang tidak habis pikir dengan pemikiran Pak Dimas, tapi saya sudah memaafkan," ucap Ayah Dimas. Sesama besan tidak seharusnya saling menyimpan dendam kan?
"Berarti kita semua udah akur nih? udah nggak ada yang namanya saling benci kan?" tanya Zia yang diangguki mereka semua.
"Kalo gitu, Zia mau minta kita jalan-jalan bareng. Gimana?" ucap Zia lagi. Terhitung sudah setahun ia tidak pernah jalan-jalan dengan keluarganya..
"Em. Papa sibuk," kata papa Riyan membuat Zia mengerucutkan bibirnya.
"Ih.. papa... Zia ngga jadi maafin kalo gitu," kesal Zia yang langsung mendapat respon tawa dari sang papa.
"Kemana aja, yang penting sama kalian semua, sama kak Zio juga," jawab Zia dengan antusias.
"Emang dibolehin sama suami?" goda Papa Riyan. Zia langsung menoleh pada Zidan, mendapat respon anggukan kepala dari Zidan membuat Ayra bersorak menggemaskan.
"Asal Weekend, nggak bolos sekolah dan nggak bolos kerja," kata Zidan yang diangguki smeua orang di ruangan itu.
Sore itu, dua keluarga yang dulunya tidak pernah saling bertukar kata itu, kini bisa mengobrol dengan begitu harmonis.
__ADS_1
"Ke Dufan aja ya?" saran Zidan saat Zia meminta pendapat padanya.
"Boleh. Wisata keluarga asyik juga ke sana," balas Zia.
"Kalau liburan semester nanti baru yang jauh, luar kota atau luar negri juga Papa iyain," tambah Papa Riyan. Entah sudah berapa lama ia tidak nendapati senyum manis nan imut dari putrinya. Dan sekarang ia merasakan lebih, bahkan tawa riang Zia saat mereka bercanda.
::::::::::::::::::::
Keinginan Zia benar-benar dituruti, semua keluarganya menyisihkan waktu mereka untuk jalan-jalan bersama.
Dufan. Tempat rekreasi tujuan yang tepat untuk keluarga. Zia tidak pernah berhenti tersenyum saat sepanjang menikmati semua wahana, tangannya terus digenggam sang papa. Sampai Zidan mengalah untuk tidak bermesraan dengan sang istri tercinta.
"Liat mama kamu itu, kaya anak TK diajakin main sama papanya," kata Zidan pada Zavian di gendongannya. Menunjukkan Zia yang sedang menaiki wahana bersama Papa Riyan.
Zidan tersenyum saat Zia menghampirinya lalu menggandeng tangannya untuk ikut menaiki wahana bersama. Zavian mereka titipkan pada neneknya.
Zidan dan Zia menikmati waktu berdua, juga bersama keluarganya.
"Foto bareng-bareng yuk," ajak Zia saat melohat spot yang bagus.
__ADS_1
Mereka setuju, meraapt satu sama lain lalu meminta pengunjung lain untuk memotret mereka.