Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
115. Kontraksi Palsu


__ADS_3

Pukul 02.27


Zia kembali terbangun karena rasa ingin buang air kecil yang tidak bisa ditahan.


"Kebelet lagi..." keluh Zia sembari menyingkap selimut. Zia melihat ke arah Zidan yang pulas dalam tidurnya, lalu berdiri dengan perlahan dan mulai melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Setelah selesai dengan hajatnya, Zia keluar dari kamar mandi dengan berpegangan pada dinding. Perutnya terasa kencang membuatnya mengatur napas sesuai yang ia pelajari di kelas yoga.


"Kok kenceng lagi," monolog Zia yang terdiam di depan kamar mandi.


Menghitung dalam hati berapa lama perutnya mengencang.


"Zidan!" panggil Zia saat rasanya tidak kunjung menghilang padahal sudah lebih dari tiga puluh detik.


Zidan dapat mendengar suara Zia karena Zia berucap cukup keras.


"Loh? Kenapa?" panik Zidan lalu langsung melompat dari tempat tidur guna menghampiri sang istri.


Zia langsung meraih tangan Zidan untuk ia remas, Zidan melihat wajah Zia yang tengah mengatur napas dengan mata terpejam.


Huufff.... Huufff...


"Kontraksi?" tanya Zidan yang jantungnya sudah berdetak dengan begitu cepat.


Zia tidak menjawab, membuat Zidan bertambah khawatir. "Mau ke rumah sakit sekarang?" tanyanya.


Zia menggelengkan kepalanya lalu mengendurkan remasan pada tangan Zidan sembari menghela napas panjang.


Mata Zia terbuka dan tampaklah Zidan yang wajahnya sudah pucat, "Udah ilang sakitnya."


"Yakin?" tanya Zidan meyakinkan sembari menuntun Zia untuk kembali ke kasur.


"Apa mau aku panggilin Bunda?" tanya Zidan lagi.


Zia yang tengah dibantu duduk pun menggelengkan kepalanya. "Nggak usah. Kontraksi palsu kayanya."


Zidan masih belum bisa tenang, terlihat dari wajahnya yang masih gelisah. "Dari mana kamu tau itu kontraksi palsu? Kalo itu kontraksi beneran gimana?"


"Kata Bunda, kalo sakitnya cuma di bagian bawah perut itu berarti kontraksi palsu, tapi kalo sampe ke seluruh perut terus ke bagian belakang itu baru kontraksi beneran," jawab Zia yang memang sudah mempelajari tentang itu pada sang mertua.

__ADS_1


"Yakin? Aku takut nih kalo tiba-tiba kamu lahiran sekarang," kata Zidan.


Zia menggelengkan kepalanya, "Nggak. Kalo emang beneran kontraksi nanti juga dateng lagi. Kalo sampe pagi nanti nggak berasa lagi berarti kontraksi palsu."


Zidan kini mengangguk, mencoba percaya dengan ucapan sang istri. Karena yang mengalami yang lebih paham.


"Sekarang tidur lagi, kalo tadi emang kontraksi beneran kamu harus simpan energi," kata Zidan sembari membantu Zia mencari posisi tidur yang tepat.


Zia menemukan kenyamannya dengan duduk dalam posisi bersandar ke tubuh Zidan. Akhirnya mereka kembali tertidur, tentunya Zidan tidak mengeluh karena posisi ini tidak nyaman untuknya. Karena dengan posisi ini dia bisa langsung tau saat Zia kontraksi lagi. Masih was-was karena memang sudah masuk bulannya melahirkan.


Sampai pagi, Zia tidak merasakan kontraksi lagi. Keduanya terbangun saat alarm untuk sholat subuh terdengar.


Zidan yang pertama membuka mata, mematikan alarm yang cukup terjangkau dari posisinya, lalu membangungkan Zia.


"Ziaa... Subuh dulu," kata Zidan sembari mengguncang pelan lengan Zia. Beberapa kali percobaan akhirnya Zia bangun.


"Nggak kontraksi lagi?" Hal yang pertama Zidan tanyakan saat Zia tengah mengucek matanya.


Zia menggelengkan kepalanya dengan wajah yang masih mengantuk lalu beranjak dari posisinya dengan bantuan Zidan.


Keduanya sholat subuh dengan Zidan menjadi imamnya, doa agar persalinan Zia dilancarkan adalah doa yang tidak pernah absen Zidan dan Zia ucapkan selepas sholat.


"Tadi malam Zia kontraksi palsu, Bun," cerita Zia. Saat ini mereka tengah sarapan pagi.


"Oh ya? Udah deket banget berarti," respon Bunda Dian sembari mengusap perut sang menantu, memastikan bahwa memang benar kontraksi palsu yang dirasakan Zia.


Zia mengangguk antusias, "Udah kayanya Bun, kalo Zia jalan aja kaya kadang bisa ngerasain kepala bayinya udah di bawah."


"Ya udah banyakin jalan sama gerak ya? biar cepet turun bayinya," pesan Bunda Dian, ya walaupun ia sudah merasakan kepala cucunya itu sudah masuk ke panggul. Menurutnya hanya tinggal hitungan hari.


"Iya Bunda."


Pagi ini Zia menjalani homeschooling seperti biasa. Ada Ayra juga yang bergabung sejak pendarahan waktu itu.


Awalnya pembelajaran berlangsung dengan normal, seperti biasanya. Akan tetapi, saat pukul sepuluh, Zia merasakan ingin buang air kecil lagi. Sudah kali ketiga sejak homeschooling ini dimulai.


"Kenapa, Zi?" tanya Bu Fitri. Guru yang mengampu mata pelajaran hari ini.


"Nggakpapa Bu, Zia mau izin ke belakang lagi," kata Zia yang tengah berdiri dibantu Sherena dan Ayra yang duduk di kanan dan kirinya.

__ADS_1


Dengan langkah perlahan, bahkan kakinya sedikit terseok karena memang pangkal pahanya cukup pegal.


Selepas buang air kecil, Zia malah kembali merasakan sensasi yang ia rasakan dini hari tadi.


Zia pun mencoba tetap tenang lalu menumpukan kedua tangannya pada meja. Mengatur napasnya agar sakitnya mereda.


Hampir satu menit rasa itu baru hilang, Zia pun berinisiatif berjalan perlahan seperti yang diucapkan bunda Dian tadi pagi. Dengan satu tangan menyangga pinggang dan tangan yang satunya mengusap perut, Zia berjalan bolak-balik di area dapur.


"Kenapa belum balik Zi? Bu Fitri nyariin."


Zia terkejut saat mendengar suara Ayra, menengok lalu berkata, "Nanti ya Ra, izinin dulu. Perut Zia lagi kenceng nih."


"Kenceng?" tanya Ayra yang mendekati Zia lalu memegang perut buncitnya yang sudah lebih turun dari biasanya.


Zia mengangguk, "Iya ini kali kedua. Kontraksi palsu."


"Udah mau lahiran?" tanya Ayra yang terlihat khawatir dengan sahabatnya itu.


Gelengan kepala Zia lakukan sembari kembali berjalan pelan, "Belum kayaknya, masih jauh. Tadi pagi jam setengah tiga."


Ayra melihat ke arah jam dinding, sudah pukul sepuluh.


"Udah enggak nih. Yuk belajar lagi," ajak Zia saat rasa tidak nyaman di perutnya sudah tidak ada.


"Nggak mau istirahat aja? Siapa tau emang udah waktunya lahiran," saran Ayra yang wajahnya cukup terlihat cemas.


"Enggak. Kata bunda belum kok." Zia menggelengkan kepalanya, membuat Ayra mengangguk lalu memuntunya untuk kembali ke ruang tengah, tempat yang mereka gunakan untuk homeschooling.


Zia sebenarnya sudah takut sendiri, takut jika memang dia akan melahirkan. Tapi sampai homeschooling selesai, Zia tidak merasakan kontraksi itu lagi.


"Kita di sini dulu kali ya? Kan bentar lagi ke basecamp," kata Sherena begitu guru mereka sudah pamit pulang.


"Iya di sini aja dulu, temenin Zia," kata Zia sembari kambali berdiri saat kembali merasakan tidak nyaman pada perutnya.


Mereka membicarakan Adel yang sudah jadian dengan Langit, juga tentang Adel yang sudah bergabung dengan mereka sebagai angel Atlansa.


"Lo kenapa sih Zi? Kok mondar-mandir mulu?" tanya Sherena saat Zia sudah sesekali berdiri lalu berjalan bolak-balik saat mereka tengah mengobrol.


"Nggak apa-apa, cuma biar otot kakinya nggak kaku aja kelamaan duduk, alasan Zia yang tidak ingin membuat mereka khawatir. Karena sore ini ada rapat besar antara Atlansa dan SMA Trisatya untuk acara amal untuk mengembalikan nama baik keduanya.

__ADS_1


"Udah mulai kenceng-kenceng ya?" tanya Keyna.


__ADS_2