Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
43. Zia Overthinking


__ADS_3

Zia kini tengah mencuci baju dengan duduk di kursi kecil di kamar mandi. Sesekali Zia menegakkan badannya jika sudah merasa pegal, lalu melanjutkan mengucek baju lagi.


Zidan menghela napas melihat itu, bukannya tidak mau membantu. Sedari tadi Zidan sudah menawarkan bantuan, tapi Zia menolaknya, malahan Zia terus mendiamkannya sedari pulang sekolah.


Zidan tidak tahu apa yang membuat Zia terus diam, bahkan saat dia bertanya, Zia tidak menjawabnya sama sekali. Hanya melihatnya sebentar kemudian pergi. Aneh sekali ibu hamil itu. Pikir Zidan.


Zia menghela napas lega saat akhirnya ia selesai mencuci baju yang tidak seberapa itu. Mengurut pinggangnya sebentar sebelum melakukan kegiatan selanjutnya. Saat akan mengangkat ember berisi cucian untuk dijemur, Zidan dengan cepat merebut ember tersebut. Bisa membahayakan janin di perut Zia jika mengangkat yang berat-berat.


"Gue aja, berat." Zia tidak sempat menjawab, Zidan sudah membawa cucian itu ke belakang rumah.


Zia mengikuti Zidan, berniat menjemur pakaian. Namun, Zidan menatapnya garang, lalu menggerakkan dagunya menyuruh Zia kembali masuk ke rumah. "Masuk!"


Dengan langkah yang dihentak-hentakkan Zia masuk kembali ke rumah. Zidan yang melihat tingkah aneh Zia hanya geleng-geleng kepala, sembari tangannya sibuk menjemur pakaian di hari yang hampir sore ini. Sudah sangat telat untuk menjemur, tapi tidak apa, setidaknya masih ada sinar matahari walaupun sebentar.


Tingkah aneh Zia tidak berhenti sampai disitu. Saat menyanyi di kafe pun Zia sama sekali tidak mau berbicara dengan Zidan. Bahkan, tidak mau berangkat bersama, Zia lebih memilih naik angkutan umum daripada berboncengan dengan Zidan.


Zidan yang mengira itu bagian dari hormon ibu hamil hanya bisa membiarkan dan mengawasi Zia terus menerus. Zidan menjalankan motornya tepat di belakang angkutan umum yang ditumpangi Zia.


Sampai sepulang dari kafe, Zia kembali mual-mual. Zidan ingin membantu seperti biasa, tapi Zia menolaknya. Zia selalu menyingkirkan tangan Zidan saat tangan itu menyentuh tengkuk atau perutnya.


Dengan sabar, Zidan terus mencoba membujuk Zia. Walaupun Zia sama sekali tidak mendengarkan apa yang ia ucapkan.


"Zi, lo kenapa sih? Kalo gue ada salah, ngomong! Jangan diemin gue terus kaya gini. Dosa Zi, diemin suami," ucap Zidan dengan tegas. Ia sudah tidak peduli dengan hormon atau apapun itu. Rasanya ada yang kurang saat Zia mendiaminya terus-terusan.


Zidan memegang kedua bahu Zia. Zia hanya menunduk, selain karena masih mual, ia juga takut dengan nada bicara Zidan. Walaupun tidak membentak, suara tegas itu baru pertama kali Zia dengar dari mulut Zidan.


"Zia, jawab gue!" tekan Zidan. Zia malah menangis, yang membuat Zidan melepaskan pundak Zia lalu mengusap wajahnya frustasi.


Zidan segera meredakan emosinya, lalu menarik tubuh Zia ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya ia memeluk perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Pelukan itu terasa nyaman baginya. Tangisan Zia semakin menjadi, Zidan dibuat semakin bingung karenanya.


"Maaf." Entah untuk apa ia meminta maaf, tapi Zidan ingin mengucapkan kata itu. Zia membalas pelukannya, bahkan Zidan merasakan punggungnya dicengkeram oleh Zia.

__ADS_1


"Bilang ke gue sekarang, lo kenapa?" tanya Zidan dengan lembut, tangannya mengusap belakang kepala Zia.


Zia mendongakkan kepalanya, menatap Zidan yang ternyata membalas tatapannya. "Zia... Hiks....ngga mau pisah... Hiks..sama Zidan."


Alis Zidan mengerut, "Siapa yang mau pisah hm?" bingung Zidan sembari mengusap air mata di pipi Zia. Sedang menangis saja wajahnya tetap imut.


Zia menggelengkan kepalanya, "Zia ngga bisa ngapa-ngapain kalo ngga sama Zidan. Zia ngga bisa, Zia ngga mauuu," rengek Zia.


"Lo kenapa sih? Siapa yang bilang kita mau pisah?" heran Zidan, Zia semakin ngelantur saja dari tadi.


"Zidan mau ninggalin Zia sendirian di sini? Zidan ngga kasian nanti siapa yang bantuin Zia, apalagi kalo anak ini udah lahir, Zia ngga bisaa.... Hiks." Zidan menggelengkan kepalanya, semakin tidak mengerti apa maksud Zia.


"Ha? Ninggalin? gimana gimana? " tanya Zidan yang dibalas anggukan oleh Zia, ditengah tangisnya.


"Makin ngga paham gue, Zi. Coba berhenti dulu nangisnya, jelasin pelan-pelan," ujar Zidan. Zidan melepas pelukan mereka lalu membawa Zia duduk di tepi kasur mereka.


Zidan duduk di sebelah Zia. Menunggu beberapa saat hingga tangisan Zia reda.


"Zia ngga mau pisah sama Zidan." Zidan mengangguk.


"Terus?"


"Ih! Zia ngga mau pokoknya!"


"Siapa yang mau pisah? Lo pengen pisah?" tanya Zidan dan Zia menggelengkan kepalanya.


"Zidan kan masih cinta sama Ayra, nanti Zidan balikan sama Ayra, terus ninggalin Zia di sini sendirian, Zia ngga mau," ucap Zia kemudian kembali meneteskan air matanya.


Zidan memejamkan matanya sejenak, ia mengerti sekarang. Zia takut ia tinggalkan karena tadi siang ia mengatakan masih mencintai Ayra. Padahalkan Zia sendiri yang bertanya, malah Zia juga yang overthinking.


"Zia, gue ngga bakal ninggalin lo! Jujur, gue emang masih ada rasa sama Ayra, tapi bukan berarti gue bakal ninggalin lo dan balik lagi ke Ayra."

__ADS_1


"Asal lo tau, sejak gue berjabat tangan sama papa lo untuk ngucapin ijab kabul hari itu, gue udah mantapin diri gue untuk tetep bareng-bareng sama lo, sama anak-anak kita nanti juga."


"Janji suci itu bukan cuma ke orang tua lo, tapi perjanjian terus sama Allah. Lo pikir gue kerja keras kaya sekarang buat siapa? Gue udah banyak ngorbanin hidup gue biar tetep bisa sama lo, karena gue tau, Kalau gue gagal jadi suami lo, gue dosa. Untuk masalah Ayra, gue lagi belajar, gue lagi usaha buat bisa hilangin rasa gue buat dia." Zidan mengucapkan itu benar benar tulus dari hatinya.


Zia yang merasa terharu langsung berhambur memeluk Zidan. Zidan pun membalasnya dan mereka berpelukan dalam posisi duduk.


"Zia udah coba ngga bergantung sama Zidan. Tapi baru setengah hari aja rasanya udah ngga sanggup," jujur Zia setelah melepas pelukan mereka.


Zidan terkekeh geli, jadi sedari tadi siang Zia mencoba melakukan semuanya tanpa bantuan dia. Menggemaskan.


"Jangan kaya gitu lagi ya?" Zia mengangguk.


"Senyum dong, hari ini gue belum liat senyum lo," goda Zidan, Zia seketika langsung tersenyum malu.


"Gue bisa minta satu hal sama lo?" tanya Zidan yang diangguki Zia.


"Jangan cinta dulu sama gue. Biarin hati gue bener-bener kosong. Gue ngga mau jadiin lo pelampiasan sakit hati gue, Bisa?"


"Kenapa?" tanya Zia.


"Gue ngga mau ibu dari anak-anak gue sakit hati."


°°°°°


Halloo semuanya👋


Gimana sama bab ini? ♥♥


Kalau suka jangan lupa like ya👍


Komen juga biar aku tambah semangat nulisnya ♥♥

__ADS_1


__ADS_2