
Tengah malam Zia kembali terbangun, tangannya secara refleks meremas tangan Zidan yang menggenggam tangannya sembari tidur dalam posisi duduk. Kontraksi yang menderanya sekarang lebih kuat dari yang sebelumnya.
"Kontraksi lagi?" tanya Zidan yang terbangun dari tidurnya. Zia mengangguk sembari mengatur napasnya. Zia melakukan itu karena memang sedari awal kontraksi, pernapasan cukup membantu mengurangi sakitnya.
"Bunda..." panggil Zidan pada Bunda Dian yang tertidur di sofa bersama ayah Dimas, dia tidak tahu harus melakukan apa. Bunda Dian pun terbangun dan langsung menghampiri Zidan dan Zia.
Bunda Dian langsung memijat pinggang bawah dan bahu Zia sembari menuntun pernapasan sang menantu. Juga menghitung lamanya kontraksi Zia.
"Cek pembukaan lagi ya?" kata Bunda Dian saat kontraksi Zia berakhir dalam satu menit.
Zia mengangguk lalu mulai mengangkat kaki kanannya karena ia tengah tiduran miring ke kiri. Zia mengeratkan pegangannya pada pegangan yang ada di depannya saat kembali dilakukan pemeriksaan dalam.
"Udah 5, Alhamdulillah," kata Bunda Dian. "Setelah ini bakalan lebih lama dan intens kontraksinya. Jadi pinter-pinter hemat tenaga ya?"
Zia mengangguk, ia sudah diajarkan cara menghemat tenaga saat kontraksi, yang paling ia ingat adalah untuk tidak berteriak berlebihan.
"Mama sama papa bakalan dateng nggak?" tanya Zia yang ingin menanyakannya sedari tadi malam tapi tidak jadi.
Zidan mengangguk. "Bentar lagi dateng kok," kata Zidan menenangkan sang istri.
Zia mengangguk lalu menengok pada sang mertua, "Adik bayinya lahirnya kapan, Bun?" tanyanya.
"Bentar lagi sayang. Prediksi Bunda itu pagi nanti sekitar jam tujuh atau delapan kamu udah mulai persalinan. Sekarang aja udah pembukaan lima, tinggal setengah lagi. Semangat yaa?" ucap Bunda Dian dengan lembut. Jika biasanya ia tidak menemani pasien yang akan melahirkan sepanjang waktu, tapi karena ini adalah menantunya sendiri, Bunda Dian tidak keluar dari ruangan. Ia akan terus menemani dan membantu sampai cucunya nanti lahir ke dunia.
"Itu lama Bundaa..." rengek Zia saat melihat baru pukul satu dini hari.
"Dinikmatin prosesnya, nggak lama kok," hibur Bunda Dian. Ayah Dimas juga terbangun, tapi hanya duduk di sofa sembari menyimak.
Saat akan berucap lagi, kontraksi datang lagi. Membuat Zia kembali mencengkeram lengan Zidan saat perutnya sakit, semakin lama sakitnya bertambah kuat.
"Mules banget..." keluh Zia sembari tangan satunya mengusap perut secara melingkar.
"Bagus itu Zi, kalo mulesnya teratur berarti pembukaannya bakalan cepet." Bunda Dian berucap sembari mengambil Birthing ball yang ada di salah satu sudut ruangan.
Dengan dibantu Zidan, Zia turun dari tempat tidur lalu dituntun perlahan untuk duduk di atas bola besar yang dipegangi bunda.
"Putar pinggangnya biar lebih relaks," kata bunda Dian yang mulai mencontohkan caranya lalu membiarkan Zidan yang melakukannya.
Zidan memegang pinggang Zia dengan kedua tangan Zia berada di bahunya sebagai tumpuan.
__ADS_1
"Udah sakit banget ya?" tanya Zidan saat Zia terdengar tengah meringis.
"Udah. Padahal baru bukaan lima," cicit Zia dibarengi air matanya yang jatuh.
Zia segera mengusapnya, "Nggak papa, kuat kok istri aku. Sebentar lagi ketemu sama baby."
Zia mengangguk lalu kembali memutar pinggangnya. Semoga ia kuat sampai akhir nanti, sampai bayinya lahir.
"Zia mau makan?" tanya bunda Dian.
Zia menggelengkan kepala, "Belum pengen lagi, Bun."
"Mau buah?" tanya Bunda Dian lagi, karena Zia butuh banyak asupan makanan.
Kini Zia mengangguk, "Boleh Bun."
Mendengar jawaban sang menantu, Bunda Dian pun mengambilkan apel. Mengupas juga memotongnya agar Zia mudah memakannya.
Kini bagian Galen yang masuk ke dalam. Ketua Atlansa itu menemani sang sahabat yang tengah harap-harap cemas.
"Udah ada kemajuan?" tanya Galen yang berdiri di sebelah Zidan yang tengah menyuapi apel pada Zia.
"Bentar dulu, lagi mules juga," jawab Zia sembari menundukkan kepalanya dan mengatur napas.
Bertepatan dengan itu, mama Salma dan papa Riyan masuk ke dalam ruangan dengan diantar Zio.
"Ziaa."
Zia mendongakkan kepala saat ada yang menyebut namanya. Zia terdiam sebentar lalu menangis kencang saat melihat papa dan mamanya berdiri di depannya.
Zia berdiri dari Birthing ball lalu memeluk papa dan mamanya secara bersamaan.
"Mama...Papaa..." Yang paling mencuri perhatian Zia adalah papanya. Rasanya seperti mimpi ia bisa kembali memeluk sang papa dan tentunya dibalas.
"Iyaa... Ini papa, maafin papa ya? Sekarang Zia harus semangat lahirin cucu pertama papa," kata Papa Riyan sembari melepas pelukan mereka lalu mengecup dahi Zia.
Zia mengangguk lalu kembali memeluk papanya. Mama Salma pun mengusap rambut Zia yang berada di pelukan papanya.
"Mama, baby Zira sama siapa?" tanya Zia, karena Zira tidak mempunyai pengasuh, seratus persen diurus mamanya.
__ADS_1
"Ada di luar. Lagi sama Keyna," jawab mama Salma.
"Kenapa nggak diba-"
Ucapan Zia kembali terjeda karena kontraksinya. Semakin ke sini jaraknya semakin dekat dan sakitnya semakin terasa.
Mata Zia terbelalak saat merasakan sesuatu, "Kepala bayinya ma...makin turun."
Mama Salma mengangguk, Bunda Dian pun mendekat. "Cek pembukaan lagi ya?"
Zia mengangguk. Ayah Dimas, Papa Riyan, dan Galen keluar sementara.
"Tujuh....Sebentar lagi..." kata Bunda Dian sembari menarik jarinya keluar.
Mama Salma dan Zidan pun mengecup tangan Zia guna memberi semangat. Bunda Dian melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul empat, walaupun sudah belasan tahun menangani kelahiran, tetap saja ia merasa deg-degan saat bukaan sang menantu semakin besar. Hanya ia mampu mengotrol raut wajahnya, tidak ingin membuat Zia semakin panik.
Zia sudah tidak bisa tidur, beruntung tadi sempat tidur walaupun hanya dua jam. Di setiap kontraksi, Zia bisa memeluk orang secara bergantian, kadang Zidan, kadang mama, kadang papa, kadang juga bunda.
Jadi, Zia merasa semakin semangat karena banyak dukungan untuknya. Tidak lupa juga sahabatnya yang menunggu di ruang sebelah.
Pukul setengah enam, teman-temannya kembali masuk ke ruangan, dengan baby Zira yang digendong oleh Keyna.
"Udah bukaan berapa?" tanya Sherena sembari memeluk Zia yang tengah kontraksi.
"Udah delapan barusan," jawab Zidan. Zia sudah jarang berucap setelah bukaannya naik ke tujuh. Lebih fokus untuk menghemat tenaga dan kontraksi.
"Zia pengin ngejan, boleh?" celetuk Zia membuat Sherena segera melepas pelukannya.
"Zi, gue nggak tau sumpah, Bunda...." panik Sherena yang berteriak di akhir kalimatnya.
"Kenapa?" tanya Bunda Dian mendekat.
"Zia pengen ngejan, boleh? Mules banget inih," kata Zia dengan lemas. Tapi bunda Dian menggelengkan kepalanya.
"Tahan ya sayang, atur napasnya. Pembukaan kamu belum sempurna. Sebentar lagi kok," kata Bunda Dian, wajar memang jika sudah memasuki bukaan delapan bumil mulai mengeluh ingin mengejan, semua itu karena dorongan kepala bayi yang mendesak semakin ke bawah.
Zia dengan terpaksa mengangguk, mengatur napasnya dengan dituntun Zidan yang berbisik tepat di depan telinganya. Sungguh, Zia mendengar suara Zidan sudah mulai bergetar.
"Sabar yaa... Sebentar lagi," kata Zidan saat Zia terus menggerakkan kakinya secara tidak beraturan marena menahan kontraksi dan keinginan mengejannya. Zidan tidak tega, sudah hampir dua belas jam Zia kesakitan, dan yang membuat Zidan takut adalah ini masih proses pembukaan belum ke persalinan yang akan lebih menguras tenaga Zia.
__ADS_1
"Mules banget....Mau ngejan sekarang.. Engh!" Zia tidak sengaja mengejan pelan saat sudah tidak bisa menahannya.