
"Gimana tadi jadi ketemu Ayra?" tanya Zidan saat mereka sampai di rumah. Tante Shofia menepati janjinya untuk tidak memforsir Zia saat menyanyi. Zia hanya menyanyi beberapa lagu, selebihnya Zidan yang menyanyi.
Zidan merasa pekerjaan ini lebih mudah dan gajinya juga lebih besar, apalagi jika digabung dengan Zia. Tante Shofia menawarkan gaji yang cukup besar hanya untuk penyanyi kafe.
"Ayra nya ngga ada di rumah. Waktu Sherena minta Zio lacak, kata Zio HP Ayra ganti jadi ngga bisa dilacak," cerita Zia yang hanya diangguki Zidan.
Zia mendudukkan diri di tepi kasur. Kakinya terasa pegal, tangan kiri Zia memijat kakinya sendiri membuat dirinya sangat membungkuk.
"Eh! Jangan kaya gitu," ucap Zidan kembali menegakkan tubuh Zia. "Perutnya keteken banget kalo lo kaya gitu," lanjut Zidan saat Zia menatapnya bingung.
"Maaf," sesal Zia, ia tidak tahu. Tangannya reflek mengusap perutnya sembari mengucapkan kata maaf berkali kali. Ia masih sering lupa kalau ia tengah hamil.
"Sini gue ganti perbannya," ucap Zidan yang sudah memegang perban yang baru. Zia tersenyum kemudian menyodorkan tangan kanannya yang beberapa hari lalu baru dijahit.
Zia memperhatikan muka serius Zidan yang dengan hati-hati melepas perban di tangannya. Wajah Zidan sangat tampan jika dari dekat seperti ini, Zia bertanya dalam hati apakah anaknya nanti akan setampan Zidan? Pasti sedikit banyak akan mirip karena ada darah Zidan di dalam tubuhnya.
"Gue ganteng banget ya?" goda Zidan saat melihat Zia tak berkedip mentapnya. Zia gelagapan yang memalingkan wajahnya, rasanya malu sekali ketahuan memperhatikan.
Zidan terkekeh kemudian menarik pelan tangan kiri Zia saat selesai mengganti perban tangan kanan. Tangan kiri lebih sedikit perban karena bukan luka jahit, hanya goresan. "Udah mulai kering nih." Zia hanya mengangguk, masih merasakan malu.
"Zidan besok pagi masih kerja di pasar?" tanya Zia saat Zidan tengah merapikan bekas perban tadi, Zidan mengangguk.
"Gue berhenti kalo gaji di kafe udah keluar. Semingguan lagi kayanya," jawab Zidan yang diangguki Zia.
Zidan membantu Zia membersihkan diri, kemudian menyiapkan makan malam yang sebenarnya sudah sangat terlambat, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Zidan hanya menggoreng telur dan membuatkan susu hamil untuk Zia.
Zia memakannya dengan lahap, apalagi saat Zidan mengatakan telur baik untuk mempercepat penyembuhan luka. Zia ingin cepat sembuh agar Zidan tidak terlalu lelah mengerjakan pekerjaannya di rumah.
Namun, setelah selesai makan Zia malah kembali dilanda mual.
"Kok ngga ada yang keluar?" tanya Zidan saat Zia hanya mual dan tidak memuntahkan apapun seperti biasanya. Zia hanya menggeleng dan kembali membungkukkan badannya saat perutnya kembali sangat bergejolak.
__ADS_1
Huek huek ugh!
Zidan terus mengurut tengkuk Zia, Zia terlihat lebih tersiksa saat tidak ada yang ia keluarkan. Zia menegakkan tubuhnya saat lelah menunduk ke arah kloset.
Zidan mengelap keringat di dahi Zia yang mengerut menahan mual. "Coba sekali lagi," ucap Zidan kembali mengurut tengkuk Zia yang mencoba mengeluarkan isi perutnya.
Zidan bernapas lega saat Zia sudah memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya. Setelah dirasa reda mualnya, Zia menegakkan tubuhnya dan Zidan menyiram muntahannya.
"Perih," adu Zia saat perutnya terasa perih. Zidan mengangguk kemudian menuntun Zia kembali ke kamar.
Zidan mengambil biskuit dari bunda dan susu yang sudah hampir dingin, tidak lupa obat mual yang sudah dihaluskan.
Setelah semuanya masuk ke perut Zia, Zidan bernapas lega saat Zia sudah tidak merasa mual.
"Setiap gue belum pulang lo selalu kaya gini?" tanya Zidan pada Zia yang berbaring di sampingnya dengan mulut yang sibuk mengunyah biskuit. Zia mengangguk.
"Biasanya lebih lama kalo ngga ada Zidan, ngga setiap hari tapi sering. Siang siang juga kadang mual," cerita Zia. Zidan terus memperhatikan Zia, pipi istrinya itu makin hari makin tembam. Apalagi saat tengah mengunyah seperti sekarang ini, terlihat terlalu imut untuk disebut sebagai ibu hamil.
"Besok-besok periksa ke Bunda ya, takutnya bahaya kalo lo terus mual muntah kaya tadi," ucap Zidan yang diangguki Zia. Perempuan hamil itu masih terus mengunyah biskuit dengan disuapi Zidan. Setelah muntah, ia akan merasa kelaparan seperti sekarang ini. Maka dari itu Zidan menyetok biskuit dan camilan sehat untuk Zia.
Setelah menghabiskan satu toples biskuit dan segelas susu Zia langsung tertidur. Zidan ikut menyusulnya setelah meletakkan toples dan gelas bekas Zia ke dapur. Sudah pukul sebelas lebih dan dia hanya punya waktu sedikit untuk tidur.
°°°°°
Pertandingan basket antar sekolah kini tengah berlangsung. Zio selalu kapten basket di sekolahnya terlihat sibuk di pagi hari. Ia harus memastikan semuanya berjalan lancar dan ia dapat membawa pulang piala untuk sekolahnya.
Tak hanya Zio, Sherena juga tidak kalah sibuk. Gadis berambut panjang itu tengah berada di ruang ganti bersama tim Chersnya.
Keyna juga ikut andil dalam pertandingan ini, sebagai OSIS ia harus memberikan yang terbaik sebagai tuan rumah.
Sedangkan Galen dan teman-temannya bertugas sebagai keamanan sekolah. Memastikan tidak terjadi keributan saat pertandingan nanti.
__ADS_1
Hanya Zia yang tidak ada kerjaan, perempuan hamil itu hanya duduk di tribun paling pojok sambil mengamati orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Ia bosan di kelas dan memilih ke area pertandingan lebih awal.
Oh iya, tangan Zia sudah sembuh. Zia sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Zidan juga sudah tidak bekerja di pasar, walau kadang Zidan masih ke pasar tapi hanya untuk membeli jajanan pasar pesanan Zia.
Kini Zia sedang memakan kue serabi, kue lapis, dan jajanan lainnya yang ada di kotak makan yang berada dalam pangkuannya. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, rasanya selalu lapar dan lapar. Bahkan berat badannya mungkin sekarang sudah naik drastis.
"Hii! Boleh ikut duduk?" tanya cowok yang berdiri di hadapan Zia. Zia mendongak dan tersenyum kaku lalu mengangguk. Cowok itu langsung duduk dan menyodorkan minum pada Zia. Zia menolaknya dengan halus. Ia sudah membawa minum sendiri.
"Boleh kenalan?" tanya cowok itu dan diangguki Zia.
"Nama gue Janu," ucap cowok itu menyebutkan namanya dan menyodorkan tangan mengajak Zia berjabat tangan.
"Zia," ucap Zia menerima uluran tangan Janu. Dari seragamnya ia masih siswa Trisatya, tapi Zia seperti baru melihatnya.
Entah kenapa Zia sedikit mual saat mencium bau parfum Janu, tapi untung saja Zia masih bisa menahannya. Semoga ia tidak sampai muntah.
Tanpa mereka sadari Zidan melihat keduanya, Zidan yang memang sedang mencari Zia tidak sengaja melihat mereka. Tangan Zidan mengepal kuat saat melihat siapa orang yang tengah bersama istrinya.
Orang yang Zidan benci.
°°°°°
Hallo semuanya 👋
Gimana kabar kalian? Sehat kan?
Siapa yang ingat siapa Janu?
Like 👍
Komen
__ADS_1