Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
101. Sesama Bumil Remaja


__ADS_3

"Ayra sekarang kaya Zia ya? Makannya banyak banget," kata Zia saat masih menemani para suami main game.


Ayra tersenyum sebelum menjawab, "Kan buat dua orang juga kaya lo."


Zia tampak terkejut, tampak dari mulut yang ditutup dengan talapak tangan. "Ayra hamil?"


Ayra mengangguk dengan tangan yang mengusap perut ratanya. Mendengar itu, Zidan juga menoleh ke belakang sejenak, lumayan terkejut tapi wajar karena kan Ayra juga punya suami.


"Ih seneng banget, Zia ada temennya," kata Zia sembari memeluk Ayra dari samping.


"Congrats, Pak," ucap Zidan yang diangguki Pak Ervan di tengah keseriusan mereka main.


"Katanya mau tanya tipsnya dari saya, belum dikasih udah jadi aja," canda Zidan yang membuat Ervan terkekeh.


"Ngga butuh, kamu aja ngga sadar waktu buatnya, gimana mau ngasih tips," kata Pak Ervan. Zidan kini yang terkekeh, membenarkan ucapan dari orang hebat di sebelahnya.


"Padahal Bunda Dian dokter kandungan gue juga, berarti Bunda ngga cerita, Zi?" tanya Ayra, sejak awal dia belum tau bahwa dia hamil saja, bunda Dian sudah lebih tau.


Zia menggelengkan kepalanya, "Nggak. Kan menjaga privasi pasien mungkin.ĺ


"Masih sering mual-mual ya, Ra?" tanya Zia.


Ayra mengangguk. "Bener. Suka tiba-tiba mual, paling sering sih kalo bangun tidur, pagi-pagi."


"Zia juga gitu dulu, kalo makan yang ngga suka labgsung muntah, nyium bau apa sedikit, mual. sekarang udah enggak," kata Zia.


"Oh ya? Sampai usia kandungan berapa bulan mualnya ilang?" tanya Ayra yang antusias membahas tentang kehamilan.


"Berapa ya? Kayanya di bulan ke lima udah jarang," jawab Zia setelah mengingat-ingat.


"Sekarang tinggal engap banget kalo napas, berasa disundul-sundul gitu," cerita Zia.


"Kaya pinguin tuh kalo jalan," timpal Zidan saat sudah mengakhiri game-nya. Kini ia beranjak dan duduk di sebelah Zia, begitupun dengan Pak Ervan yang duduk di sebelah Ayra.


Zia cemberut lalu memukul lengan Zidan pelan, "Kan susah, berat di perut jadinya gitu."


"Jangan ketawa, Ra. Nanti juga kamu sama aja, badannya aja sama kecilnya," kata Pak Ervan saat melihat Ayra tertawa.

__ADS_1


Ayra seketika menghentikan tawanya, "Ya iya sih. Maklum lah, kita aslinya masih dalam masa pertumbuhan ya Zi, malah udah hamil aja."


Zia mengangguk setuju, tentu saja badannya belum terlalu kuat menopang perut besar selama berbulan-bulan.


Para suami sebagai pelaku hamilnya dua remaja itu terdiam, memang benar remaja belum seharusnya hamil. Tapi mau bagaimana lagi, kan sudah jadi.


"Udah siang nih, makan siang bareng yuk," ajak Ayra saat melihat ke arah jam dinding.


"Makasih, Ra. Tapi kita pulang aja," tolak Zidan yang diangguki Zia. Lagian pasti Bunda Dian sudah masak. Zidan berdiri kemudian membantu Zia berdiri, Pak Ervan yang melihatnya ikutan engap saat Zia terdengar menghela napas.


"Oh ya udah, gue anterin ke depan," kata Ayra lalu mengantarkan mantan pacarnya dan sahabatnya ke depan rumah. Pak Ervab juga ikut mengantarkan sebagai wujud sopan santun terhadap tamu.


¤¤¤πππ


"Nyengir mulu, kering tuh gigi," celetuk Zidan saat Zia terus saja tersenyum sepulang dari rumah Ayra.


"Ih, Aku seneng banget tau bisa satu komplek sama Ayra, jadi kalo aku bosen dan kamu lagi kerja, aku bisa main deh," jawab Zia layaknya anak kecil yang mendapatkan teman baru.


"Ngga takut sama suaminya? Di rumah itu pasti juga ada Adel," kata Zidan yang membuat senyum Zia luntur berganti menjadi kerutan di dahi.


"Adel?" tanya Zia.


"Aku baru tau," respon Zia. "Kok nggak pernah kasih tau."


"Lupa. Nggak penting juga," jawab Zidan dengan santainya.


"Oh iya, kamar buat baby mau pake kamar yang mana?" tanya Zidan sembari mengusap perut buncit Zia.


"Yang sebelah aja gimana? biar deket sama kamar ini," kata Zia yang membuat Zidan mengangguk setuju.


"Bisa, bisa. Nanti tinggal jebolin tembok buat dipasang pintu. Jadi kalo nangis ngga kelamaan nyamperinnya," ucap Zidan.


Zia tampak memikirkan sesuatu, "Em.. Kalo baru lahir tidurnya di kamar ini aja ya baby-nya?"


"Iya lah. Nggak tega aku biarin anak aku tidur di kamar sendirian, aku cuma mau siapin aja kamarnya," jawab Zidan dengan cepat. Lalu dia merebahkan kepalanya ke paha Zia, hingga wajahnya tepat di depan perut buncit istri imutnya.


"Ngga sabar deh nunggu baby lahir," kata Zidan. Tapi berbeda dengan pikirannya, dua bulan bukan lah waktu yang lama, itu artinya pengungkapan kasus Tuan Willy harus berhasil. Zidan harus bisa meyakinkan mertuanya agar mau menemani di saat Zia berjuang melahirkan nanti.

__ADS_1


"Dua bulan kurang, sebentar lagi. Sabar ya," kata Zia sembari mengusap rambut lebat Zidan.


Zidan mengangguk sembari sibuk mengecupi perut buncit Zia. Saat sedang asyik dengan kegiatannya, Zia tiba-tiba membusungkan perutnya saat napasnya terasa sesak karena bayinya bergerak.


"Aktif banget sih anak papa," kata Zidan saat ia juga bisa merasakan gerakan di dalam sana.


"Kata Bunda sih bagus malah," timpal Zia saat sudah menemukan posisi yang tidak membuatnya engap.


"Iya, karena kamu pinter jaganya," puji Zidan.


¤¤¤¤¤


Di dalam sebuah ruangan bersama seorang wanita cantik nan licik, Tuan Willy Kendrick tampak sedang menyusun sebuah rencana untuk target barunya.


Ervan Kendrick, iya, putranya sendiri. Tuan Willy Kendrick merasa perusahaan putranya itu begitu mengancam posisinya, apalagi perlawanan sudah mulai terlihat dari diri Ervan.


"Mau nyerang sekolahnya?" tanya Serly, istri muda Tuan Willy.


"Iya, hancurin sekolahnya dulu, pasti bakal berimbas ke nama baik perusahaan Ervan juga," jawab Tuan Willy. Bisa dibilang dia gila, dia akan melakukan apapun asalkan nama perusahaannya tetap di puncak kejayaan. Seperti sekarang, perusahaan sang anak akan menjadi targetnya.


"Caranya?" tanya Serly lagi pada ladang uang miliknya itu. Tuan Willy tersenyum licik mendengar pertanyaan istri mudanya.


"Pake William," jawab Tuan Willy membuat perempuan bernama Serly itu ikut tersenyum miring. William adalah salah satu senjata yang bisa diandalkan mereka.


"Cukup emang?" Pertanyaan Serly mendapat respon gelengan kepala dari Tuan Willy.


"Ngga cuma itu, kita pakai masalah intern sekolah," jawab Tuan Willy. Dia baru saja mengetahui fakta yang belum banyak diketahui banyak orang. Yang pastinya bisa membuat nama baik sekolah milik Ervan semakin anjlok setelah kasus Zidan dan Zia.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


...Hai.. Hai... Hai...👋👋...


...Update pertama di bulan November, semoga bulan ini aku bisa rutin update yaa♥♥...


...Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah, kasih tips, atau follow akun aku yaa...🙏...


...Lakuin salah satu aja aku udah seneng☺...

__ADS_1


...Oh iya, follow IG ku juga ya : miarahma833...


...Bye...Bye...👋👋...


__ADS_2