Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
121. Papa Riyan


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, para orangtua kini sudah berada di ruangan Zia dimana sahabat-sahabat Zidan dan Zia sudah pamit pulang. Sudah dari kemarin mereka belum membersihkan diri, jadi sekarang mereka memilih pulang dulu, nanti jika Zia sudah sampai di rumah akan berkunjung kembali.


Sedari mama Salma, papa Riyan dan ayah Dimas masuk ke dalam ruangan, yang paling menyita perhatiannya adalah papa. Sosok cinta pertamanya itu kini tengah menghampiri ia dengan senyum yang terbit di bibirnya.


"Selamat ya, udah jadi ibu aja putri papa," kata papa Riyan sembari mengecup dahi Zia. Zia memejamkan matanya, meresapi rasa yang ia rindukan, rasa yang sudah sembilan bulan tidak ia rasakan. Kasih sayang dari papanya.


Zia membuka matanya saat ia rasakan bibir itu menjauh dari dahinya. "Makasih, Pa."


Papa Riyan mengangguk, memundurkan tubuhnya karena ayah Dimas juga akan berbicara dengan menantunya.


"Selamat ya, menantu papa hebat banget inih," kata ayah Dimas sembari mengusap kepala Zia. Zia mengangguk sembari tersenyum haru, orang-orang di sekitarnya sangat menyayangi dirinya. Beruntung dia dikelilingi orang-orang baik.


Papa Riyan mendekat ke arah Zidan yang tengah menggendong baby Zavian. "Boleh saya gendong?" tanyanya dengan ragu.


Zidan terdiam sebentar, ragu sebenarnya tapi tidak lama dari itu ia mengangguk, "Boleh."


Papa Riyan pun menggendong cucu pertamanya itu, mengamati wajah imut yang terlelap. Menyesal, tentu saja ia rasakan. Selama di dalam perut Zia, sekalipun dia tidak pernah menyapanya, bahkan sempat tidak mengakuinya.


"Perut Zia kok masih besar ya, Ma?" tanya Zia pada sang mama yang menggendong baby Zira. Ia tunjukkan perutnya yang sedikit buncit.


"Ya kan emang nggak langsung kecil rata gitu. Ada prosesnya," jawab mama Salma. Zia mengangguk, ia kira kenapa.


Bunda Dian sudah mulai bekerja kembali karena pasiennya sudah banyak mengantri. Maklum, dokter baik yang disukai pasiennya.


Zia teralihkan fokusnya lagi pada papa Riyan, di sofa sana papanya tengah duduk sembari menggendong baby Zavian. "Ma, papa~."


"Iyaa. Papa kamu lagi gendong cucu pertamanya," balas mama Salma sembari mengulas senyum manis. Zia terharu, padahal ia kira putranya tidak akan merasakan kasih sayang dari salah satu kakeknya.


"Semua ini berkat pengorbanan suami kamu. Zidan rela tiap malem digebukin papa biar hati papamu itu luluh," ucap mama Salma yang membuat Zia terkejut. Jadi? Jadi Zidan bohong padanya, Zidan setiap pulang luka-luka itu karen amukan papanya? bukan karena menolong orang seperti yang suaminya selaku bilang?


Zia menoleh pada Zidan yang ternyata memperhatikan obrolannya dengan sang mama. Zidan mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Zia, "Nanti aku jelasin di rumah."

__ADS_1


Zia menatap Zidan intens lalu mengalihkan pandangannya dari sang suami, "Ambil baby Zavian!"


Zidan terdiam sejenak lalu mengangguk, dengan rasa tidak enak ia meminta baby Zavian dari papa mertuanya. Zidan tau, Zia pasti jadi takut papa Riyan akan menyakiti anak mereka.


"Om, Zavian-nya mau nyu*u dulu. Udah waktunya," alasan Zidan agar papa Riyan tidak merasa canggung. Mama Salma melihat itu jadi merasa bersalah, dia salah bicara. Ia pikir Zia memang tau tentang Zidan yang selalu ke rumah.


Zia dengan perlahan menerima baby Zavian untuk ia su*ui, untung juga memang sudah tiga jam semenjak terakhir kali baby Zavian menyu*u.


Zia sebenarnya juga tidak ingin ada papanya di sini. Entah kenapa ia jadi tidak suka semenjak mama Salma bilang papa yang memukuli Zidan setiap malam. Enak saja, suaminya ini orang yang menjaganya yang menafkahinya malah diperlakukan seperti itu.


"Pa, kita pulang yuk? Zira kayanya udah gerah pengin mandi," ajak mama Salma saat merasa Zia tidak nyaman. Bertepatan dengan baby Zira yang menangis.


Papa Riyan mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Zia. Baru akan mengecup dahi putrinya itu, Zia sudah lebih dulu menghindar. "Zia lagi nyus*in," katanya singkat.


Papa Riyang mengangguk, walaupun heran karena tidak ada hubungannya sedang menyus*i dengan ia mengecup kening.


"Papa pulang dulu ya?" kata papa Riyan tapi Zia diam saja sembari menunduk, memusatkan perhatian pada wajah merah sang putra.


Setelah papa dan mamanya pergi, Zia masih saja diam sembari melihat ke arah sang putra. Membuat Zidan memegang dagunya lembut lalu mengarahkan wajah Zia ke arahnya.


"Kenapa?" Pertanyaan bod*h yang Zidan ucapkan. Sudah tau penyebabnya masih saja bertanya.


Zia menggelengkan kepalanya. Tidak enak jika mereka membicarakan itu tapi masih ada sang mertua, walaupun ayah Riyan tampak gokus dengan ponselnya. Tapi kan telinganya pasti mendengar.


¤¤¤¤¤


Sore harinya, Zia dan baby Zavian sudah diperbolehkan pulang karena keduanya dalam keadaan sehat. Kini Zia tengah berjalan dituntun oleh Zidan dengan baby Zavian yang digendong bunda Dian.


Bagian bawah Zia masih nyeri membuatnya hanya bisa berjalan perlahan. Apalagi kamarnya dan Zidan ada di lantai dua, membuat Zia harus menahan ngilu saat menaiki satu per satu anak tangga.


"Kamu makan lagi ya? biar pulih tenaga kamu," kata Zidan saat Zia sudah duduk di tepi ranjang. Zia mengangguk, memang badannya masih lemas setelah semua tenaganya ia gunakan untuk melahirkan baby Zavian. Jadi, ia harus banyak makan agar cepat pulih.

__ADS_1


Baby Zavian masih ditimang oleh sang nenek. Dari sekian banyak kelahiran bayi yang ia tangani, baby Zavian lah yang bayi favoritnya. Jelas, cucu dari putra kesayangannya. Pasti akan menjadi cucu kesayangan.


"Bunda capek nggak? Kalo capek tidurin aja baby Zavian di sebelah Zia. Bobo kan?" tanya Zidan sembari mengintip wajah putranya yang tertidur pulas. Zidan baru saja mengambilkan nasi untuk istrinya.


"Enggak lah. Bunda malah pengin gendong terus cucu bunda ini," jawab bunda Dian sembari mengecup pipi merah baby Zavian.


Zidan mengangguk lalu mulai menyuapi Zia. Wanita yang telah memberikannya gelar paling istimewa di hidupnya, wanita yang baru saja melahirkan keturunan untuknya. Wanita yang sangat ia cintai setelah bunda.


"Udah lebih enteng kan geraknya?" tanya Zidan saat Zia mengubah posisinya dengan lebih mudah.


Zia mengangguk, "Udah keluar 3,5 kilo. gimana nggak lebih enteng," jawab Zia kemudian menerima suapan dari Zidan.


"Makasih ya, udah berjuang buat ngelahirin anak kita," kata Zidan yang entah sudah ke berapa ia ucapkan.


"Iya iyaa, udah puluhan kali kamu bilang itu padahal," jawab Zia dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Zidan terkekeh lalu kembali berucap, "Mau sampai seribu kali pun, nggak akan sebanding sama pengorbanan kamu."


"Trauma nggak nih nemenin istri lahiran?" tanya bunda Dian yang masuk ke obrolan anak dan menantunya.


"Trauma sih enggak, cuma kalo dalam waktu dekat nemenin lagi kayanya nggak sanggup," jawab Zidan membuat bunda Dian terkekeh.


"Siapa juga yang mau hamil lagi deket-deket ini," timpal Zia.


"Berarti pake KB dulu biar nggak kecolongan. Kalo nggak ya jangan berhubungan sampai kalian siap kasih adik buat Zavian," ucap bunda sekaligus menggoda Zidan.


"KB aja kalo gitu," saut Zidan dengan cepat. Mana bisa ia puasa selama itu, bisa bertahun-tahun menunggu Zavian besar.


"Loh kok ngotot," canda bunda Dian.


"Ya kan jatah Zidan yang dipertaruhkan."

__ADS_1


__ADS_2