Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
107. Pernah


__ADS_3

Zidan menggendong tubuh Zia keluar dari rumah Pak Ervan, Zia pun langsung menyembunyikan wajahnya di dada Zidan. Tidak ingin teman-temannya tau jika ia menangis.


"Udah jangan kaya gitu mukanya nanti sesek napas," ucap Zidan begitu sudah berada di jalan. Takut Zia sulit bernapas jika terus menyembunyikan wajah dalam keadaan menangis.


Zia pun menolehkan wajahnya, menjadi menghadap ke atas. Membuat Zidan dengan jelas melihat wajah Zia yang sudah memerah.


"Mau jalan aja," kata Zia membuat Zidan menurunkannya dengan perlahan.


Dalam diam, angin saja yang berhembus. Zidan dan Zia berjalan tanpa ada yang yang berbicara, muka saja hanya menghadap ke jalanan. Zidan tidak akan menanyakannya di sini, lebih baik menunggu sampai di rumah.


Sesampainya di kamar.


Zidan langsung memeluk tubuh Zia, tangis yang sedari tadi ditahan-tahan kini keluar dari mata indah Zia.


"Kenapa, hm?" tanya Zidan dengan lembut. Tangannya pun terus mengusap kepala sang istri.


Zia menggelengkan kepalanya membuat Zidan tidak menanyakannya lagi. Memilih diam, nanti juga akan berbicara dengan sendirinya. Zidan sudah hapal kebiasaan itu.


Lima menit. Selama itu pula Zidan dan Zia berpelukan. Zia yang sudah merasa pegal di kakinya pun mengurai pelukan itu lalu duduk di tepi kasur.


Zidan yang masih bingung dengan tingkah Zia pun mengikutinya, duduk di sebelahnya.


Ditatapnya wajah Zia dalam waktu lama. Menunggu bibir manis itu segera berucap.


"Zidan muji Ayra terus." Itulah yang diucapkan Zia lalu kembali meneteskan air matanya, semakin merasa sesak saat mengucapkannya langsung.


Zidan memicingkan matanya sembari otaknya berputar, jadi karena ini Zia-nya menangis.


"Cemburu nih? Ya udah, aku minta maaf karena udah puji Ayra di depan kamu," kata Zidan. Entah Zia yang terlalu sensitif atau malah dirinya yang tidak peka.


"Dadanya sesek," jujur Zia menunjuk dadanya sendiri.


Zidan mengangguk lalu mengusap dada Zia. Zidan tau yang ia lakukan sekarang tidak akan berpengaruh karena yang membuat sesak adalah rasa cemburu Zia.


"Maaf ya, Maaf banget. Aku ngga peka, aku ngga tau kalo ucapan aku tadi nyakitin kamu," sesal Zidan, setaunya tadi Zia pulas tidurnya. Tangannya masih terus mengusap dada Zia.


Zia tidak menjawab, hanya diam yang bisa ia lakukan sekarang. Perasaan aneh itu masih menyesakkan dadanya.


"Aku ngga pinter kaya Ayra, ngga sekaya Ayra, aku ngga jago berantem, ngga bisa pake senjata juga, aku ngga sesempurna Ayra," kata Zia mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


Zidan diam. Tak lama dari itu Zidan menggelengkan kepalanya, "Tapi kamu istri aku, kamu ibu dari anak aku, kamu masa depan depan aku, Zi."


Kini Zia yang terhenyak dengan perkataan Zidan.


"Kamu segalanya bagi aku untuk sekarang dan nanti. Ayra memang pernah. Cuma pernah jadi segalanya dan itu masa lalu," tekan Zidan yang sudah paham alur pemikiran Zia.


Zia menoleh pada Zidan yang ternyata sedari tadi menatapnya dalam.


"Jangan bandingin diri sendiri sama orang lain ya? Kamu udah yang terbaik versi aku," ucap Zidan lagi membuat Zia berhambur ke pelukannya.


"Aku bakal jadi 'pernah' kamu juga?" tanya Zia yang teredam dada Zidan.


Zidan menggelengkan kepalanya, "Nggak akan. Kamu yang terakhir," bisiknya tepat di depan telinga sang istri.


"Kalo aku meninggal nanti gimana?" tanya Zia melepas pelukannya.


"Kemungkinan aku gila. Aku nggak akan sanggup rawat anak kita sendirian," jawab Zidan. Tidak pernah ia bayangkan bagaimana ia merawat anak mereka tanpa Zia, kalaupun ia coba kuatkan diri sendiri, anaknya pasti tidak kuat jika ditinggal ibunya, dan itu membutnya gila.


"Jangan gila, masa papanya anak aku gila," ucap Zia dengan lugunya.


"Masa mamanya anak aku nangis," ucap Zidan balik dengan mengusap air mat di pipi Zia.


"Jadi masih cemburu?" tanya Zidan lagi.


Ucapan polos Zia membuat Zidan terkekeh, "Ini yang aku ngga dapet dari Ayra, polosnya kamu," kata Zidan dengan jari telunjuk yang menyetuh puncak hidung Zia.


Zia menahan senyumnya, Zidan selalu saja dengan mudah merubah mood jeleknya menjadi lebih baik.


"Maaf ya aku banyak ngerepotin kamu," kata Zia.


Zidan menggelengkan kepalanya, "Kamu tau ngga? cowok tuh lebih suka direpotin sama cewek yang dia cinta, kalau cewek terlalu mandiri dan bisa ngelakuin semuanya sendiri, cowok bakal ngerasa ngga pantes dan ngga berguna."


"Begitu juga aku. Aku lebih suka kamu repotin daripada kamu terlalu mandiri," kata Zidan jujur. Dulu, saat ia bersama Ayra, dia malah sering insecure. Ayra terlalu mandiri, semua dia lakukan sendiri sampai Zidan bingung harus mengambil peran di bagian mana. Mungkin sekarang Pak Ervan yang merasakannya.


"Udah cemburunya?" tanya Zidan sekali lagi.


"Sekarang udah, ngga tau nanti-nanti," jawab Zia.


Zidan mengangguk, paham jika cemburu bisa muncul kapan saja.

__ADS_1


"Ya udah aku mau mandi dulu, udah harus ke kantor," ujar Zidan lalu mengecup dahi Zia.


Zia mengangguk lalu memperhatikan Zidan yang beranjak menuju kamar mandi. Zia baru pertama kali merasakan jatuh cinta pada Zidan, dan semoga Zidan menjadi orang terakhirnya juga.


Daripada larut dalam lamunannya, Zia dengan tangan menyangga bagian bawah pun berdiri. Berjalan perlahan menuju walk in closet untuk mencarikan setelan kerja Zidan.


"Enak banget ya Zidan kerjanya cuma beberapa jam, tapi gajinya melebihi yang kerja seharian," monolog Zia sembari tangannya memilah baju yang menurutnya cocok.


Posisi memang tidak begitu tinggi di kantor, tapi gaji Zidan tinggi. Apalagi kalo bukan karena pemiliknya adalah ayahnya sendiri. Jika Zidan protes, pasti jawabannya hanya sekedar :


'Itu sekalian uang jajan bulanan kamu,'


Selalu seperti itu.


Setelah selesai dengan pakaian kerja Zidan, Zia turun ke lantai bawah. Memeriksa ada tidaknya makanan yang bisa dibawa Zidan untuk dimakan di kantor nanti.


Zia hanya melirik telur sekejap karena ia sedang benci telur. Entahlah, mungkin karena omellet dan Ayra tadi.


Karena memang belum pandai memasak, Zia hanya menggoreng sosis dan nugget.


Dengan ceria, Zia menata hasil masakannya di tempat bekal. Karena imajinasinya yang bagus, Zia menyetak nasi dengan cetakan bentuk kucing, lalu menata nugget dan sosis sebagai hiasannya.


Zidan yang sudah selesai bersiap pun menatap Zia heran dari arah tangga. Istri imutnya itu tampak begitu serius dengan kotak bekal di meja.


"Lagi ngapain?" tanya Zidan saat sudah sampai di meja makan.


Zia yang tengah serius pun terkejut, "Hehe.. lagi bikin bekel buat kamu."


Zidan mengamati apa isi kotak bekal di meja sebelum ditutup oleh Zia, ia tersenyum paksa. Tampilannya seperti untuk bekal anak TK yang sedang susah makan.


"Nih bekalnya, nanti dimakan ya?" kata Zia sembari menyerahkan paperbag yang berisi kotak bekal.


"Makasih." Zidan menerimanya, ia akan tetap makan nanti di kantor. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diledek rekan kerjanya. Apalagi sampai kelihatan oleh ayahnya, malu sekali.


¤¤¤¤¤¤¤


...Hai....👋...


...Aku up lagi nih♥♥...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah juga yaa♥♥...


...Bye byee👋👋...


__ADS_2