Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
104. Perhatian Istri


__ADS_3

"Gue pamit ya," kata Zidan sembari mengambil jaketnya yang disampirkan di salah satu kursi tunggu rumah sakit.


Zio, Galen, dan Langit mengangguk. Hanya Dyu yang belum kembali setelah membawa gadis bernama Elina itu.


Tampilan mereka sudah tidak seacak-acakan tadi. Luka juga sudah mereka bersihkan dan obati. Mustahil kan kalau berantem tapi tidak ada luka sama sekali. Sehebat apapun mereka, jika dikeroyok seperti tadi pasti akan terluka.


Dua puluh menit, Zidan kini sudah berada di rumah setelah mengambil ponsel dan tasnya di sekolah. Pastinya sudah disambut dengan wajah khawatir istri imutnya.


"Sini aku liat," kata Zia saat Zidan baru saja sampai di dalam rumah. Zia tampak menyingkapi jaket yang menutupi tubuh sang suami lalu meneliti setiap jengkalnya. Zidan pasrah saja, ia tau Zia khawatir takut dia menyembunyikan lukanya seperti biasa.


Tentu saja ada beberapa luka kecil dan memar karena bekas pukulan. "Tuh kan banyak lukanya."


"Pasti sakit. Udah diobati kan?" tanya Zia karena lukanya sudah bersih.


"Udah, sayang." Mata Zidan tidak pernah bosan memperhatikan wajah khawatir Zia yang imut.


"Kamu mandi sana, nanti aku kompresin luka memarnya," kata Zia kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar mereka, tentunya dituntun oleh Zidan.


Zidan mandi seperti apa yang diperintahkan ibu negara. Ia mandi air dingin membuat luka memarnya terasa berdenyut. Tidak banyak, hanya beberapa di bahu, punggung, lengan, dan kaki. Wajah tampannya masih aman karena tidak ada luka sedikitpun.


"Sini!" kata Zia yang sudah duduk di tepi kasur dengan baskom kecil berisi es batu dan kain, saat Zidan keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan handuk. Itu lebih memudahkan Zia dalam mengompres luka yang menurut Zidan tidak seberapa itu.


Zia mulai menempelkan dengan pelan kain yang berisi es batu itu ke lebam berwarna merah biru di bagian bahu. Ternyata cukup sakit tapi lumayan enak juga sata es batu itu menyentuh lukanya.


"Sekolah gimana?" tanya Zia di sela-sela ia mengompres.


"Lumayan terkendali, tapi ya gitu. tetep aja ada korban. Untungnya cuma luka ngga sampai ada yang meninggal," jawab Zidan sedikit meringis. Dirinya termasuk beruntung karena diperhatikan istri tercinta, teman-temannya malah sekarang bekum diapa-apakan, masih di rimah sakit pula.


"Alhamdulillah, temen-temen aku nggapapa kan? Sherena, Keyna, sama Ayra?" tanya Zia yang tidak mendengar kabar mereka sedari mereka izin saat homeschooling.

__ADS_1


"Sherena aman banget, Keyna ada lah luka dikit karena ikut berantem, kalau Ayra... Dia sempet pendarahan tapi masih baik-baik aja," jawab Zidan yang langsung mendapat respon kaget dari Zia hingga tidak sengaja menekan lukanya.


"Shh..."


"Maaf maaf, ngga sengaja. Ayra pendarahan? emangnya dia ikut berantem?" tanya Zia sembari kembali fokus di luka bagian lengan.


Zidan mengangguk, "Ikut, cuma lawan dua orang tapi karena emang kondisi hamil tuh rentan jadinya ngefek ke janinnya."


"Tapi ngga keguguran kan?" tanya Zia lagi. Sesak juga saat mengucapkan kata keguguran, ia pernah mengalami dan rasa sakit di perut itu tidak ada bandingannya dengan luka batinnya yang kehilangan calon anaknya waktu itu.


Zidan menggelengkan kepalanya, itu yang ia baca di grup chat saat ia sampai di sekolah tadi. Selebihnya ia tidak tahu.


"Dirawat?" tanya Zia. Zidan mengedikkan bahunya tidak tahu.


"Tadi aku langsung pulang waktu kamu telpon, jadinya belum tau gimananya," jawab Zidan yang sudah mulai merasa dingin karena belum memakai baju.


"Nanti tanya Keyna atau Sherena aja, mereka yang nungguin Ayra. Aku sama yang lain ngurusin anggota Atlansa yang luka," lanjut Zidan yang dijawab anggukan kepala dari Zia.


Zidan memakai kaos terlebih dahulu sebelum menjawab, "Aku juga ngga tau pasti, tapi beberapa dari mereka ditangkep polisi kok, nanti juga tau motifnya apa."


Zia mengangguk. "Semoga ngga makin jelek ya nama sekolah. Aku tau kok nama sekolah sekarang lagi anjlok karena kasus kita, semoga aja ini ngga nambah bikin jelek."


"Iya, aku aja terus terusan lomba ke sana ke sini biar bikin citra baik sekolah naik lagi. Bahkan katanya Keyna sama Sherena bakalan sekolah minta tolong walaupun lagi homeschooling. Andalan sekolah ya cuma itu itu doang, Ayra ngga yakin bakalan diizinin atau engga sama suaminya karena lagi hamil," cerita Zidan sesuai apa yang pembimbing olimpiadenya katakan.


Zia mengangguk, hanya dirinya tidak bisa diandalkan sekolah untuk hal kecerdasan. Malahan dia hanya menyusahkan sekolah, karena kasusnya, sekolah harus berjuang keras agar nama baik sekolah kembali baik.


"Kenapa sih segala ada serangan, kan kasian Pak Ervan. Kalo sekolah kita di demo gimana? Udah ada dua kasus besar loh," kata Zia. Zidan juga memikirkan hal yang sama.


"Kayanya sekali lagi ada kasus, emang ancur deh nama sekolah," saut Zidan.

__ADS_1


"Jangan sampe." Zia menjawab dengan cepat, bagaimana jika sekolah mereka hancur? pendidikan mereka belum selesai. Banyak harapan orangtua di sekolah itu.


Zidan membawa Zia ke arah balkon, niatnya sih ingin menghabiskan waktu berdua.


"Apa yang dirasain hari ini?" tanya Zidan. Pertanyaan wajib yang selalu Zidan tanyakan setiap pulang kerja. Beruntung masih punya banyak waktu sekarang, sebelum nanti ia berangkat ke kantor ayahnya.


"Gerakannya tambah aktif, kalo napas agak susah aja," jawab Zia sembari menghirup udara segar dari atas balkon. Angin menerbangkan rambutnya, pun dengan beberapa helai rambut yang dengan nakal menutupi wajah imutnya. Zidan suka pemandangan ini, dimana senyum manis terukir dengan begitu indahnya.


"Nendang lagi nih," kata Zia sembari mengarahkan tangan Zidan ke bagian perutnya yang baru saja mendapat tendangan.


"Pinternya," gemas Zidan sembari mengusap membentuk lingkaran pada perut buncit Zia. Tepat saat tangan Zidan melakukan gerakan melingkar, bayi mereka menendang. Membuat Zidan dan Zia tersenyum bahagia setelah saling tatap.


Kegiatan romantis mereka terhenti karena melihat rombongan teman-temannya mobil Pak Ervan melaju di jalanan depan rumah. Pasti mereka mengantarkan Ayra pulang dari rumah sakit.


"Kita nyusul mereka ke rumah Ayra yuk," ajak Zia yang dibalas anggukan kepala dari Zidan.


"Kita jalan kaki aja ya? Buat bantu lancarin persalinan aku nanti," pinta Zia yang tentunya dituruti oleh sang suami. Semakin mendekati waktu persalinan, Zia semakin rajin melakukan semua saran dari Bunda Dian.


Zidan dan Zia benar-benar jalan kaki menuju rumah Ayra, jaraknya bahkan tidak sampai ratusan meter. Hanya selisih dua rumah saja.


¦¦¦¦¦¦¦¦¦¦¦¦


...Haii hai hai....👋👋...


...Aku update nih...♥...


...Sedang mencoba kembali updatee rutin lagi...♥♥...


...Komennya dong biar aku semangat, karena jujur karena aku jarang update pembaca jadinya berkurang drastis setiap harinya...😌😌...

__ADS_1


...Follow IG ku : miarahma833...


...Sampai jumpa di bab selanjutnya...👋👋...


__ADS_2