
"Udah mulai kenceng-kenceng ya?" tanya Keyna.
Zia menggelengkan kepalanya, "Enggak. Cuma pegel aja kelamaan duduk."
Setelah menjawab, Zia duduk perlahan di sofa sebelah Ayra.
"Nanti Zia nggak ikut dulu ya ke basecamp. Mau istirahat aja di rumah," kata Zia yang merasa tubuhnya begitu lemas.
Mereka mengangguk, memaklumi jika Zia sudah susah bergerak bebas. Juga sepertinya sudah mendekati waktu persalinan.
Setelah para sahabatnya pamit karena hari sudah sore, Zia kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Rasanya pinggangnya nyeri dan tubuhnya begitu lemas.
Saat baru saja akan memejamkan mata, ponsel Zia berdering tanda ada yang menelepon. Zia pun mengangkatnya setelah membaca nama suaminya lah yang menelepon.
"Apa? Aku mau tidur," kata Zia dengan suara lemasnya.
"Aku dari sekolah langsung ke basecamp."
"Hm," jawab Zia singkat.
"Kamu kenapa? kok lemes gitu suaranya?" tanya Zidan di seberang sana.
"Ngantuk. Aku kan tadi bilang mau tidur," jawab Zia.
"Ya udah. Tidur aja, nggak usah ikut ke basecamp. Kalo ada apa-apa, langsung kabarin," ucap Zidan.
"Emang aku nggak ikut. Para angel juga udah berangkat," jawab Zia kemudian menjauhkan ponselnya saat merasakan perutnya kembali mengencang.
"Ya udah aku tutup ya? Mau nyiapin buat rapat nanti," kata Zidan. Zia langsung mematikan ponselnya karena dia tidak bisa menjawab.
Zia membanting ponselnya ke kasur lalu mengubah posisinya dari tiduran menyamping menjadi duduk bersandar di kepala ranjang dengan susah payah. Menengadahkan kepala dengan mata terpejam lalu mengatur napasnya. Sangat membantu mengurangi sakitnya.
"Kok lagi sih, apa iya kontraksi palsu jaraknya cuma sejam," keluh Zia di sela-sela menarik dan menghembuskan napas dalam. Perlahan kontraksinya memudar.
Zia mengusap dengan gerakan melingkar di atas perut buncitnya yang tampak sekali sudah turun. Bahkan napasnya sudah tidak sesak seperti minggu-minggu yang lalu.
__ADS_1
"Tidur aja deh, kalo nanti sekali lagi kontraksi baru kasih tau Zidan," monolog Zia lalu menyamankan posisinya kembali mikir ke kiri dengan sela-sela paha yang diganjal bantal. Tentu saja saran dari sang mertua.
¤¤¤¤¤¤
Rapat Atlansa dan perwakilan SMA Trisatya dihadiri oleh Inti, Angel, dan anggota Atlansa, Pak Ervan, dan Kepala sekolah.
Ada Adel juga di sana sebagai Angel Atlansa yang baru karena sudah menjadi kekasih Langit.
Pelaksanaan acara amal adalah minggu depan, dilaksanakan selama dua hari. Ada garage sale, pembelajaran untuk anak pedalaman, bakti sosial, dan yang paling ditunggu-tunggu adalah konser.
Langit sebagai sekertaris Atlansa pun menjelaskan dan memimpin diskusi kali ini. Semua yang hadir diperbolehkan memberi saran dan pendapatnya dengan bebas. Rapat kali ini dibuat lebih formal karena ada bapak kepala sekolah dan Pak Ervan.
Anggota dan Inti Atlansa mengenakan jaket Atlansa kebanggan mereka, begitupun dengan para angel yang mengenakan jaket khusus Angel Atlansa, Pak Ervan dan kepala sekolah mengenakan jas karena memang dari kantor dan sorenya langsung kemari.
Rapat ini memakan waktu lumayan lama, sekarang sudah pukul tujuh malam tapi belum juga selesai.
Zidan yang sedang memperhatikan penjelasan Pak Ervan tentang peran SMA Trisatya dalam acara amal menunduk saat mendengar ponselnya bergetar.
Mata Zidan membola saat membaca pesan yang istrinya kirimkan.
Istri♥
Konsentrasi Zidan terpecah, hingga saat Pak Ervan sudah selesai berbicara Zidan pun beranjak mendekat pada sang ketua.
Zidan berbisik pada Galen, "Gal, Zia udah mulai kontraksi, gue harus pulang sekarang, boleh?"
Galen yang mendengar itu pun mengangguk, lalu tangannya menepuk bahu Zidan dua kali.
"Sana pulang dulu, nanti kita nyusul kalo ini udah selesai," bisik Galen yang membuat Zidan menganggukan kepalanya lalu keluar dari aula basecamp dengan terburu-buru. Mengabaikan tatapan heran dari ratusan pasang mata di sana.
Zidan mengendari motor sport-nya dengan kecepatan tinggi tapi tetap hati-hati. Jantungnya berdetak kencang dan tangannya berkeringat dingin. Berarti saat bertelepon tadi, Zia lemas bukan karena mengantuk tapi karena kontraksi.
Waktu yang biasa ditempuh dalam waktu lima belas menit, karena sangat cemas Zidan hanya menempuhnya kurang dari sepuluh menit.
"Ziaa," kata Zidan saat memasuki rumah. Hal pertama yang Zidan lihat adalah Zia yang sedang berjalan pelan dengan dituntun Bunda Dian.
__ADS_1
"Ke rumah sakit sekarang?" tanya Zidan pada sang bunda. Zia hanya melihat wajah Zidan dengan ringisan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Belum ada pembukaan kok, masih cukup jauh sampai benar-benar melahirkan," jawab Bunda Dian yang masih mengenakan pakaian formalnya, yang berarti Bunda juga baru pulang.
"Taruh dulu aja tasnya ke mobil," perintah Bunda Dian yang tengah memegangi kedua lengan sang menantu yang tengah berjalan agar membantu proses bukaan.
Zidan mengangguk lalu dengan buru-buru menaiki anak tangga menuju kamarnya. Mencari tas yang sudah Zia siapkan di dalam walk in closet.
Setelah menemukan apa yang ia cari, Zidan pun kembali berlari ke lantai bawah lalu ke depan rumah karena mobil sudah stand by di sana.
"Udah Bun," kata Zidan yang kembali menghampiri istri dan bundanya.
Bunda Dian mengangguk lalu menuntun Zia untuk duduk di sofa, "Kamu temenin Zia, bunda mau ganti baju dulu. Nanti tinggal berangkat ke rumah sakit."
Hanya Bunda Dian yang terlihat tenang, mungkin karena sudah belasan tahun menangani ibu yang akan melahirkan. Jadi sudah paham dan dapat memperkirakan waktu.
"Sakit banget?" tanya Zidan khawatir sembari memegang perut buncit Zia.
Zia menggelengkan kepalanya, "Nggak. Lumayan sakit doang, tapi nggak nyaman banget."
Zia tidak menunjukkan wajah kesakitan, tapi lebih ke wajah tegang.
"Takut..." cicit Zia yang sudah merasakan ketakutan itu sejak tadi sore. Takut akan sakit yang ia hadapi nantinya.
Zidan membawa kepala Zia ke dalam pelukannya, "Jangan takut okey? Ada aku yang bakalan temenin kamu."
Padahal dirinya sendiri juga takut, tapi Zidan harus bisa meyakinkan Zia. Karena rasa takutnya tidak sebanding dengan rasa sakit Zia nanti.
"Bunda udah siap nih, yuk ke rumah sakit," ajak Bunda Dian yang sudah berganti pakaian. Masih saja formal karena dia akan menangani pasien lagi, menantunya sendiri.
"Zidan mau mandi dulu nggak? Atau mau makan malam dulu?" tanya Bunda Dian berniat menggoda mereka agar tidak terlalu tegang.
Dengan cepat Zidan menggelengkan kepala, "Nggak, Bun."
Bunda Dian tersenyum lalu membantu Zia berdiri dengan dibantu Zidan. "Masih bisa jalan kan? Atau mau digendong?" tanyanya.
__ADS_1
"Jalan aja Bun, sekalian biar cepet bukaannya," jawab Zia kemudian berjalan perlahan dituntun Zidan yang bahkan masih mengenakan jaket Atlansa.
Bunda Dian mengikuti dari belakang, ini baru awal banget tapi pasangan itu sudah tegang saja. Padahal menurutnya, Zia baru akan melahirkan besok pagi. Tapi karena tidak ingin menambah rasa panik calon orangtua itu membuat bunda Dian memutuskan membawa Zia ke rumah sakit sekarang.