Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
Aksi Atlansa


__ADS_3

"ZIAA," Zidan langsung berlari masuk saat melihat pintu terbuka lebar, tujuannya adalah kamar dan saat memasuki kamar, yang ia lihat adalah kasur yang sangat berantakan, makanan yang ia siapkan tadi pagi juga sudah berantakan, dan yang paling membuatnya kalut adalah terdapat darah di kasur dan lantai samping tempat tidur. Zidan berjongkok dan memeriksa darah tersebut, masih basah berarti belum lama.


Yang lain juga mengikutinya masuk kamar, mereka ikut terkejut. Galen menghampiri Zidan dan memegang bahunya membantu Zidan berdiri.


"Tenang! Duduk dulu," ucap Galen yang mendapat gelengan kuat dari Zidan.


Sherena sudah menangis di dekapan Zio, Keyna mematung menatap darah, Dyu dan Langit meneliti seisi kamar, mencoba mencari jejak pelaku.


Keyna melangkah dan duduk di tepi kasur, ia berpikir keras, dan mencoba mencari petunjuk yang ia punya.


"Guys tutup pintu! Tutup jendela!" perintah Keyna yang langsung dilakukan Langit dan Dyu. Mereka sangat tahu apa maksud Keyna.


Mereka mendekat pada Keyna. Keyna membuka ponselnya da membuka catatannya waktu itu.


"Jalan Kenanga No. 18," bisik Keyna membuat Zio dan Zidan langsung beranjak.


"Jangan gegabah, berhenti!" perintah Galen membuat langkah keduanya berhenti dan mereka terduduk lemas di lantai bersama yang lain.


"Darimana kamu dapat alamat itu Key?" tanya Galen dengan nada pelan, ia takut ada yang mengawasi rumah ini.


"Sher. Lo inget kan siapa yang kasih alamat ini?"


Sherena mengangguk yakin, "Adik kelas yang kita tolongin dari Adel."


Keyna mengangguk, "Dia juga yang tadi bilang ke gue suruh tolongin Zia waktu kita mau ke toilet," ucap Keyna mengedarkan pandangannya pada semua orang yang tengah memperhatikannya.


"Ngga ada petunjuk lain?" tanya Langit diangguki yang lain, memang mereka masih merasa petunjuk yang mereka punya belum cukup.


"Bentar," ucap Keyna merogoh saku roknya, ia merasa gadis itu juga memegang roknya tadi, dan benar saja ada kertas di sakunya.


"11 sampai 12 Zia sendiri," baca Keyna saat membuka sobekan kertas kecil tersebut.


Semuanya melihat jam ditangan masing-masing, sekarang pukul 10.20.


"Kalau menurut ini, empat puluh menit dari sekarang Zia ditinggal sendirian," ucap Galen mencoba menyimpulkan kode itu.


"Kita bisa amanin Zia di waktu itu. Ada yang paham daerah sana?" tanya Galen menatap anggota intinya.


"Gue paham, deket kost an gue itu. Isinya rumah-rumah elit yang penghuninya tertutup gitu, untuk detail yang no. 18 itu gue ngga paham," jawab Langit saat mengingat nama jalan itu tapi tidak hapal nomor-nomornya.


Galen memulai mengatur strategi, semuanya percaya pada Galen, seorang pemimpin yang bisa mereka andalkan. Semuanya mencerna ucapan Galen tanpa ada yang terlewat.


Setelah rencananya tersusun Galen mengangguk, "Kita nyamar. Kalo kita kaya gini kita bakal gampang ketebak. Key, aku selalu percaya kamu. 5 menit Bisa kan?" tanya Galen yang diangguki mantap oleh Keyna.


Keyna menarik Sherena lewat pintu belakang, Sherena hanya menurut dan dalam waktu 5 menit mereka kembali dengan membawa kantong kresek berisi pakaian menyamar.


"Zio. Langit. Zidan. Dyu." ucap Galen memberikan pakaian mereka satu per satu.


Mereka segera memakainya tidak peduli penampilan dan bau tidak enak. Yang penting rencana mereka berhasil.

__ADS_1


Tukang pulung, tukang sapu jalan, penjual cilok keliling, ustad, dan emak-emak kompleks adalah peran mereka sekarang.


"Kalian mainin peran se natural mungkin. Jangan sampai gagal. Berangkat sekarang!" perintah Galen dan semuanya mengangguk dan langsung menuju motor masing-masing. Untuk mobil kebetulan ada di kost an Langit.


Setibanya di depan kost an Langit mereka mulai menjalankan aksinya.


"Kita mencar! Perhatiin isyarat gue," ucap Galen yang hanya dia sendiri yang masih normal memakai seragam Trisatya. Perannya memberi isyarat tentang segala keadaan nanti. Sekarang pukul 10.45.


Dyu menjalankan aksinya sebagai tukang pulung, ia mengambili botol bekas tepat di depan rumah bernomor 18. Terlihat banyak orang berkeliaran di dalam, dan semuanya berpakaian hitam-hitam.


Langit dengan baju oren khas pembersih jalan tengah menyapu jalan di depan rumah nomor 20, selisih satu rumah agar tidak terlalu kentara.


Zio dengan gerobak biru menjajakan ciloknya di depan, dekat kost an Langit. Banyak anak kecil yang membelinya membuat perannya terlihat natural. Di sebelahnya ada mobil Atlansa untuk membawa Zia nanti.


Zidan masih bersembunyi dengan pakaian ustadnya, perannya nanti memberikan uang dan makanan pada Dyu.


Keyna dan Sherena mendalami peran sebagai ibu-ibu kompleks yang sedang ngerumpi cantik di depan rumah no. 19. Sepertinya mereka tidak berakting, mereka benar-benar ngerumpi.


10.55


Rumah itu mulai sepi karena satu persatu mulai meninggalkan rumah tersebut


Galen mengisyaratkan mereka untuk tetap tenang saat tiga orang pria berbaju hitam keluar rumah dengan terburu-buru.


Dua diantaranya menaiki motor dan pergi. Tersisa satu orang yang sedang menelepon.


Zidan berjalan sambil menenteng kantong kresek berisi nasi rames melewati orang tersebut.


"Gimana nih? Gue tetep disini apa ikut mereka bos?" tanya orang itu dengan bosnya diseberang telepon.


Zidan mengulurkan kantong kresek tersebut dan memberikan uang pada Dyu.


"Kalau gitu bos kesini jam berapa? 12? Oh oke siap," ucap pria itu lagi.


"Ceweknya di lantai atas gue kunci kok tenang aja," ucapnya lagi sembari memutar kunci di tangan yang satunya.


"Suami bocilnya belum pulang. Setiap gue awasin dia pulangnya jam dua an," ucapnya lagi.


Dyu dan Zidan saling tatap. Namun, saat sang pria menoleh pada mereka Dyu kembali memakan rames tersebut dan Zidan beranjak pergi. Galen sudah memberi isyarat untuk memulai aksi mereka.


Bugh!


Zidan memukul pria tersebut dari arah belakang. Langit langsung merebut kunci di tangan pria tersebut dan menginjak ponsel yang masih terhubung agar mati.


Langit melempar kunci itu pada Zidan. Zidan langsung berlari masuk diikuti Keyna dan Dyu. Galen keluar dari persembunyiannya dan menyusul Zidan, takut masih banyak orang di dalam, Langit memukuli orang tersebut sendirian. Sherena sudah berlari ke arah Zio agar cepat membawa mobil kemari.


Zidan berlari ke lantai atas dan mencari ruangan tempat Zia berada diikuti Dyu, Keyna, dan Galen. Saat menemukannya Zidan langsung membukanya dengan kunci. Tangannya sampai bergetar saking khawatirnya.


Zidan berhasil membuka pintu tersebut, yang pertama ia lihat adalah tubuh Zia yang penuh darah terbaring di lantai, Zidan langsung menghampiri Zia dan menepuk-nepuk pipinya.

__ADS_1


"Zia Ziaa sadar Zi," ucap Zidan dengan suara yang sudah gemetar. Keyna memeriksa tubuh Zia, hanya kedua tangannya yang terluka tapi cukup panjang lukanya. Darahnya kemana-mana, membuatnya semakin takut.


"Zia cuma pingsan. Kita bawa pergi sekarang. Sebelum ada yang dateng," ucap Keyna setelah memeriksa denyut nadi Zia.


Zidan mengangkat tubuh Zia dan berlari keluar. Saat mereka keluar dari rumah ada beberapa dari mereka yang sudah kembali, sekitar sepuluh orang. mungkin karena tadi teleponnya masih tersambung.


"Bawa Zia ke Zio sekarang," ucap Galen mendorong punggung Zidan agar cepat cepat berlari ke arah yang sudah mereka sepakati tadi. Dyu dan Keyna membantu Galen melawan mereka.


Langit yang melihat Zidan membawa Zia, langsung mengkode Zio agar mendekatkan mobilnya. Saat sudah di depan Zidan, Sherena turun dan membukakan pintu belakang mobil agar Zidan bisa masuk dan Zio segera melajukan mobilnya ke rumah sakit.


Langit masih menunggu tiga temannya yang masih di dalam. Sepuluh menit kemudian, mereka keluar dan para lawan sudah tergeletak semua di lantai.


Mereka mudah untuk dikalahkan. Mungkin karena kurang persiapan, mengira musuhnya hanyalah anak SMA.


Di mobil Zidan terus memeluk tubuh Zia yang berada dipangkuannya sembari mengatur napas yang masih memburu. Sherena duduk di samping Zio sesekali menoleh ke belakang untuk melihat sahabatnya.


Sesampainya di rumah sakit Zidan kembali berlari membopong Zia, para perawat yang melihatnya, membawakan bankar dan menyuruh Zidan meletakkan Zia di atasnya lalu mendorongnya.


"Dok, tolong Dok, dia lagi hamil," ucap Zidan saat dokter menghampiri.


"Baik. Sus, panggilkan dokter Dian," perintahnya dan masuk ke dalam ruang operasi yang ada Zia di dalamnya.


Zidan berhenti saat pintu ruang operasi ditutup, ia termenung sampai Zio menuntunnya duduk. Tak lama dari itu Galen dan yang lain datang. Mereka terus berdoa untuk keselamatan Zia.


"Zidan?"


Zidan mendongak dan melihat bundanya berdiri dengan jas putih dokternya.


"Bunda, tolongin Zia," ucap Zidan berdiri dan memohon pada sang Bunda, saking kalutnya ia lupa bahwa bundanya bekerja di sini juga.


"Ya Allah jadi Zia yang di dalem. Bunda masuk dulu, ayo Sus." Bunda Dian panik lalu masuk diikuti suster di belakangnya.


Zidan kembali duduk dan memejamkan matanya, bayang-bayang darah di tubuh Zia masih menghantui pikirannya.


"Tenang ya," ucap Dyu menepuk lemah bahu Zidan.


Tak berapa lama Bunda Dian kembali keluar ruangan. Zidan langsung menghampiri bundanya.


"Gimana Bun?"


"Lagi dijahit dulu lukanya," jawab Bunda Dian.


"Bayinya?" tanya Zidan lagi,


"Bayinya nggapapa kok, nanti lebih jelasnya setelah dijahit, USG ke ruangan bunda. Zia pinter ngelindungin anak kalian. Kayanya Zia ngorbanin tangannya biar perutnya ngga kenapa-napa," ucap Bunda Dian. Zidan merasa sedikit lega, tapi belum sepenuhnya sebelum Zia sadar.


Zidan mengangguk dan memeluk sang bunda. Bunda Dian mengelus punggung Zidan.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2