Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
61. Sup Ala Zia


__ADS_3

Zidan berkacak pinggang melihat kondisi dapur yang sudah seperti kapal pecah. Zidan kini tengah mengajari Zia memasak. Tiba-tiba saja istri polosnya itu mengatakan ingin belajar masak. Akhirnya Zidan mengajari Zia memasak sop sayur yang baik untuk kehamilan Zia.


"Abis ini gimana lagi, Zidan?" tanya Zia yang tengah serius mengaduk sesuatu dalam panci yang berada di atas kompor yang menyala.


"Udah kasih garam?" Zidan sedari tadi hanya duduk memperhatikan karena Zia tidak mau dibantu sama sekali.


"Belum," jawab Zia sembari mengambil toples berisi butiran putih itu, "Berapa banyaknya Zidan?"


"Satu sendok teh," ujar Zidan sembari memainkan ponselnya.


Zia mengangguk lalu mengambil sendok teh untuk menakar garam. Zia terlihat begitu antusias setiap kali Zidan menyuruhnya melakukan satu langkah demi langkah sampai akhirnya sup sayur ala Zia sudah jadi.


"Udah jadi, Zidan cobain deh!" ucap Zia dengan membawa mangkuk berisi sup itu ke meja makan.


Zidan melihat sup di dalam mangkuk itu sampai memiringkan kepalanya, dari tampilannya cukup hancur. Zidan tidak mau menilai dari penampilan saja, seperti chef profesional yang akan mencicipi makanan, Zidan mengambil sendok lalu mengaduk aduk sup itu. Zia sudah deg-degan sendiri melihat aksi Zidan.


"Gue coba ya?" ucap Zidan mengangkat sendok berisi potongan sayur beserta kuahnya. Zia mengangguk dengan menggigit bibir bawahnya.


Sedetik setelah sesuap sup itu masuk ke mulut Zidan, Zidan merasakannya. Ternyata benar, tidak boleh menilai seauatu dari tampilannya, tampilan yang lumayan hancur itu ternyata rasanya lebih hancur. Manis banget dan aneh, Zidan dengan susah payang menelannya dan berusaha tidak menampilkan mimik ingin muntahnya. Sungguh rasanya bikin mual.


"Gimana? Enak?" tanya Zia dengan antusias. Zidan beralih menatap Zia lalu tersenyum sembari mengambil minum. Sesegera mungkin Zidan minum agar makanannya tidak keluar dan membuat Zia kecewa.


"Enak kok."


Zia bersorak senang lalu ikut mengambil sendok dan duduk di seberang Zidan.


"Mau ngapain?" tanya Zidan panik saat Zia meraih mangkuk di depannya.


"Mau makan lah, Zidan. Kan sup sayur bagus buat adik bayi." Zia terlihat sangat antusias mengaduk-aduk sayur tersebut lalu menyuapkan satu sendok ke mulutnya.


Zidan memejamkan matanya saat Zia tengah mengunyah sup aneh itu. Sedetik dua detik tidak ada respon dari Zia, Zidan yang penasaran membuka matanya. Mulut Zidan langsung melongo saat Zia memakan sup itu dengan lahap.


"Iya beneran, enak banget Zidan," ucap Zia yang terua menyuapkan sup itu ke mulutnya.


Zidan dengan cepat berdiri dan mengambil sup itu dari hadapan Zia.


"Loh kok diambil sih, Zidan kalo mau ambil sendiri di dapur masih banyak," kesal Zia dan berusaha mengambil sup itu dari tangan Zidan.


"Lidah lo soak ya? makanan aneh kaya gini dibilang enak? Kalo ngga enak ngga usah dipaksa, kan namanya juga belajar, ngga harus langsung bisa." Zia malah bingung dengan omelan Zidan, menurutnya itu enak kok.

__ADS_1


"Apanya yang ngga enak? Itu enak kok sini balikin punya Zia," ucap Zia yang terus berusaha menggapai mangkuk itu dari tangan Zidan. Bahkan bibirnya sudah melengkung ke bawah dan bersiap akan menangis.


Zidan yang melihat itu segera mengembalikan sup aneh itu tapi sudha terlambat, Zia sudah meneteskan air matanya. "Lah? lah? jangan nangis dong, ini gue kembaliin."


Zia merebut mangkuk itu dengan kasar lalu kembali duduk dan menyantap sup itu dengan air mata yang terus mengalir.


"Cup cup cup. Jangan nangis atuh, maaf deh." Zidan menepuk nepuk bahu Zia.


Zia mengusap air matanya, "Zia maafin, tapi usapin perut Zia."


Mendengar itu Zidan mengangguk lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Zia. Dengan senang hati ia mengusap perut Zia disaat Zia serius makan.


"Assalamualaikum..."


Suara dari arah pintu membuat Zidan menghentikan aksinya dan berjalan menuju depan kontrakan. "Waalaikumsalam, sebentar."


Ceklek


"Lah kalian?" Zidan membuka pintu lebar-lebar saat di depan kontrakannya ada keempat sahabatnya. "Ayo masuk."


"Yuhuuu bumil dimana nih?" teriak Dyu begitu masuk ke ruang tamu.


"Meja makan," jawab Zia berteriak, Dyu mengangguk lalu berjalan menuju meja makan, disusul yang lainnya.


Zia melihat isinya lalu tersenyum senang, "Makasih para unclenya adik bayi."


Mereka mengangguk lalu duduk di kursi yang Zidan gotong dari depan televisi.


"Lagi makan apa nih?" tanya Zio sembari mengusap kepala Zia.


"Sup buatan Zia sendiri. Kalian harus cobain, rasanya enak banget loh," jawab Zia lalu beranjak untuk mengambilkan mereka sup tersebut.


Zidan menahan tawanya, Zidan melihat buah-buahan dari mereka lalu mengambil anggur dan mencucinya.


"Nih," Zia meletakkan empat mangkuk sup di depan mereka. Bertepatan dengan Zidan yang meletakkan tiga buah anggur di telapak tangan masing masing temannya. Zidan mengedipkan matanya, mengode mereka agar tetap diam.


"Makasih cantik, kita cobain ya," ucap Dyu dan mereka mulai menyuapkan suapan pertamanya, Zidan meringis melihat itu.


Satu detik

__ADS_1


Dua detik


Tepat di detik ketiga. Wajah Dyu mengkerut menahan rasa aneh di mulutnya, Zio tengah menutup mulutnya berusaha menelan seauatu yang rasanya sulit sekali diterima oleh perutnya, Langit dengan raut wajah terpaksanya tengah mengunyah, dan Galen yang tampak memejamkan matanya. Ekspresi mereka membuat Zidan ingin sekali tertawa.


Detik selanjutnya mereka memakan buah anggur yang sedari tadi di tangan kiri mereka. Sekarang mereka tau maksud Zidan memberikan anggur tersebut.


"Enak kan?" tanya Zidan yang tengah menahan bibirnya agar tidak tertawa, empat cowok tersebut tersenyum paksa karena tengah diperhatikan oleh Zia.


S i a l.


°°°°°


Setelah kepulangan para sahabatnya, Zidan kini tengah membersihkan dapur yang berantakan karena ulah Zia. Zia sendiri tengah melakukan yoga hamil di kamar dengan panduan video dari Youtube. Tidak apa seadanya, yang penting bayi mereka lahir dengan sehat.


Setelah selesai dengan kekacauan dapur, Zidan masuk ke kamar dan berbaring di kasur sembari memperhatikan Zia yang serius dengan yoganya. Sekarang masih sore, masih ada waktu bagi Zidan untuk beristirahat.


"Udah?" tanya Zidan saat Zia sudah duduk di tepi kasur. Zia mengangguk lalu bersandar pada sandaran tempat tidur. Zidan menggeser tubuhnya mendekati Zia, seperti biasa Zidan akan melakukan kegiatan favoritnya, mengelus perut Zia.


°°°°°°


SMA Trisatya.


Lima cowok incaran siswi Trisatya tengah duduk santai di bangku bagian belakang kelas mereka. Mengisi waktu istirahat dengan mengobrol.


"Lo tiap hari dimasakin kaya gitu sama Zia?" tanya Dyu yang mengingat hancurnya rasa masakan Zia.


Zidan terkekeh lalu menggeleng, "Dia baru belajar, kemarin pertama kalinya Zia bikin sup."


"Pantesan!" ucap mereka secara bersamaan.


"Oh iya, Gue udah bisa ketemu Pak Ervan nanti malem." Ucapan Galen mendapat acungan jempol dari semua sahabatnya.


°°°°°


Haii Haii Haiiii👋


Gima sama bab ini? ♥


Like, komen, vote, hadiah. ♥

__ADS_1


Follow jugaaa♥


Next ngga nih? ♥


__ADS_2