
"Hamil tua ya gitu."
"Iya udah gede banget kaya gitu, berat tuh kayanya," kata Sherena sembari memperhatikan perut buncit Zia. Tubuh mungil Zia sangat bertolak belakang dengan perut buncitnya.
Zidan mengangguk menyetujui, memang Zia sering berucap jika perutnya terasa berat. Bahkan, jika berjalan saja sering disangga bagian bawah perutnya.
"Cewek apa cowok, Dan? Udah bisa liat jenis kelaminnya kan?" tanya Langit.
Zidan menggelengkan kepala, "Belum tau. Buat kejutan aja nanti pas lahir."
"Ngga sabar liat Zidan junior atau Zia junior. Tujuh belas tahun loh kita... Udah ada yang punya anak aja," kata Zio.
"Musib-"
"Bukan musibah, tapi mukjizat," potong Zidan sebelum Dyu selesai berucap.
Dyu mengulum bibirnya. Dalam hati, Dyu merutuki dirinya sendiri. Kenapa tidak bisa memfilter kata yang keluar sih? bagaimana jika Zidan tersinggung.
"Sorry, Dan," kata Dyu yang diangguki Zidan. Zidan tampak santai saja dengan tangan yang tak berhenti mengusap kepala Zia.
"Zia mau normal atau caesar lahirannya nanti?" tanya Langit saat merasakan suasana yang sedikit tidak enak.
Zidan melihat wajah imut Zia yang tertidur sebelum menjawab, "Zia maunya normal. Tapi kata Bunda banyak risikonya, apalagi tubuh Zia yang sebenarnya belum siap."
"Belum siapnya?" tanya Langit lagi, penasaran.
"Pinggulnya masih kecil, susah dilewatin bayi. Selain itu masih banyak yang gue sendiri kurang paham. Intinya tubuhnya belum siap," jelas Zidan. Tatapannya mengarah pada perut Zia, membayangkan bayi di dalam sana akan keluar dari tempat favoritnya. Yang menurutnya saja sempit, apalagi dilewatin kepala bayi.
"Udah. Yakin aja kalo Zia bisa, Lagian yang nanganin nanti bunda lo kan?" kata Galen yang dijawab anggukan kepala dari Zidan.
"Gue ngga tau harus bersyukur atau gimana. Tapi meninggalnya satu calon anak gue ada baiknya juga. Zia nanti ngga harus ngrasain sakitnya melahirkan double," cerita Zidan. Sudah lama ia tidak curhat dengan mereka.
"Tuhan tau yang terbaik buat umatnya," kata Keyna bijak.
"Walaupun gue ngga tau patah hatinya seorang ayah yang kehilangan anaknya, tapi gue percaya, dibalik diambilnya kembali salah satu calon anak lo itu emang yang terbaik buat lo dan Zia sekarang," ucap Galen.
"Bener banget. Bisa jadi Tuhan bakalan kasih kalian anak lagi setelah mental dan usia kalian cukup," saut Langit. Zidan menyetujui ucapan mereka semua.
"Thanks semua. Gue mau bawa Zia pulang dulu, udah malem banget," ucap Zidan sata melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat.
__ADS_1
Mereka semua mengangguk, "Yuk, gue bukain pintu mobilnya," kata Zio sembari mengambilkan tas selempang sang adik.
Zidan mengangguk dan mulai mengangkat tubuh Zia yang lumayan berat. Bukan lumayan, memang berat. Sudah mencapai lima puluh kilogram bulan ini.
¤¤¤¤¤¤¤
"Udah siap?" tanya Zidan yang baru saja keluar dari walk in closet dengan hodie dan celana trainingnya.
Zia menggelengkan kepalanya. Tangan Zia mengangkat sepatu dan kaos kaki di sebelah kakinya. "Ngga bisa makenya nih," katanya sembari memperagakan gerakan menunduk.
Zidan terkekeh lalu mengambil sepatu tersebut. Zidan jongkok di depan Zidan. Tangannya memindahkan kaki Zia agar berpijak di atas pahanya.
Dari atas Zia memperhatikan wajah Zidan yang serius memakaikan kaos kaki di kaki bengkangnya. "Muat ngga sepatunya?"
"Muat kok," jawab Zidan kemudian mengikat tali sepatu. Rambut depannya menjuntai menutupi dahi membuat Zidan tampak lebih tampan.
Setelah melakukan hal yang sama pada kaki kiri Zia, Zidan kembali berdiri. Tangannya ia sodorkan pada Zia, Zia yang paham maksud Zidan oun menerima uluran tangan sang suami untuk membantunya berdiri.
Hari minggu pagi yang cerah ini akan dimanfaatkan pasangan belia Zidan dan Zia untuk berjalan santai di sekitar kompleks perumahan.
Sesuai saran ibunda tercinta, di usia trimester akhir kehamilan harus banyak berjalan agar memudahkan persalinan nanti. Zidan dan Zia yang memang menginginkan persalinan yang lancar, akan menuruti saran dari sang ahli itu.
"Udaranya seger ya," kata Zia saat mereka mulai keluar dari gerbang rumah mewah Zidan.
Zia mengangguk. Mereka berjalan dengan santai, bahkan sepatu yang tadi Zia kenakan sudah dilepas kembali atas saran bunda. Katanya lebih baik tidak beralas kaki.
"Risih ngga kakinya?" tanya Zidan karena ia tau Zia jarang tidak beralas kaki seperti ini.
"Enggak. Bahkan kakinya berasa enak kena dingin dingin aspal," jawab Zia sembari menggerak gerakkan kakinya.
"Kamu udah ada cadangan nama belum buat baby nanti?" tanya Zia. Karena sudah ringgal dua bulan kurang sampai ia melahirkan, tapi belum pernah membahas nama.
"Emmm... Ada. Kalo cowok aku udah siapin, kalo cewek masih nyari-nyari yang cocok," jawab Zidan.
"Siapa?" penasaran Zia.
Zidan mengusap kepala Zia lalu menjawab, "Nanti aku kasih tau," katanya.
"Kenapa ngga sekarang?" ucap Zia yang sudah kepo.
__ADS_1
"Nanti readers tau," kata Zidan membuat Zia tertawa. Readers jangan marah ya:)
Dengan sabar Zidan mengikuti langkah demi langkah kecil Zia. Beban di perut perempuan polos itu membuat jalannya pelan dan tampak seperti pinguin.
"Udah berat banget ya?" tanya Zidan saat kedua tangan Zia berasa di bawah perut buncitnya.
"Lumayan," jawab Zia.
"Udah gendut banget Aku," keluh Zia menyubit pelan lengan atasnya.
Zidan tersenyum sembari mengusap lengan Zia, "Ya nggapapa. Kata orang Kalo ngga gendut berarti ngga diurusin suami. Kamu juga gendut karena bawa baby di perut."
"Nanti abis lahiran bisa kaya dulu lagi ngga ya badannya?" tanya Zia dengan wajah cemberutnya. Karena kebanyakan yang ia tau badan setelah melahirkan pasti akan banyak berubah.
"Bisa. Kalaupun ngga bisa juga nggapapa, kaya gini juga masih imut kok," kata Zidan dengan tangan yang mencubit pipi temben Zia.
"Cuma di mata kamu," jawab Zia.
"Ya kan cantiknya kamu buat aku? emang buat siapa? Kalaupun di mata orang, kamu jelek malah aku seneng. Berarti ngga ada yang bakalan suka sama kamu," ucap Zidan saat meliht wajah cemberut Zia. Bibirnya saja sudah maju beberapa centi.
"Kamu selalu cantik di mata aku. Bahkan di mata banyak orang, kamu aja yang ngga nyadar. Kalo lagi jalan sama kamu pasti banyak yang lirik lirik kamu padahal udah jelas keliatan lagi hamil," kata Zidan lagi saat Zia tidak berucap apapun. Bukan karena Zia ngambek atau moodnya buruk, tapi ada obyek yang sedang Zia amati. Matanya berulang kali mengedip untuk meyakinkan penglihatannya itu benar.
"Kenapa berhenti?" tanya Zidan saat Zia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Itu?" tunjuk Zia. Zidan mengikuti arah tangan Zia menunjuk. Bola matanya membola saat melihat sepasang manusia yang ia kenal tengah berdiri di depan salah satu rumah.
Zidan tau itu adalah rumah yang baru saja selesai dibangun bulan lalu. Tapi baru sekarang ia melihat penghuninya, dan itu adalah Ayra dan Pak Ervan.
Dia satu komplek dengan mantan?
¤¤¤¤¤¤
Hai hai hai.... 👋👋
Aku sempetin Up nih...
Lagi menyusun puncak konfliknya dan ternyata susah jadi aku kasih ini dulu yaa😌...
Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah atau follow yaa🤗🤗
__ADS_1
Salah satu aja aku seneng kok.🤭
Bye bye👋👋