Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
105. Kasus Baru Lagi


__ADS_3

-Kasus Baru Lagi:)


Sesampainya di rumah Pak Ervan dan Ayra. Zidan berdiri di depan pintu lalu mengucapkan salam, pintu itu terbuka begitu lebar membuatnya tidak berniat mengetuknya.


"Ini dia nih yang lagi diomongin," kata Zio saat Zidan dan Zia mulai masuk setelah dipersilahkan pemilik rumah.


"Apaan?" tanya Zidan yang tidak tau apa-apa, baru juga sampai.


"Nggak! Duduk aja Dan, Zi," ucap Ayra cepat. Ayra tidak ingin Zidan tau apa yang barusan mereka bicarakan, malu.


Zidan mengangguk. Tidak ingin tau lebih karena pasti hanya candaan tentang hubungannya dengan Ayra dulu, terlihat dari raut wajah Ayra yang menyembunyikan malu. Zidan membantu Zia menemukan posisi duduk yang nyaman, satu bantal Zidan ambil dari pangkuan Sherena untuk dijadikan sandaran punggung Zia.


Setelah Zia merasa nyaman, baru ia duduk di sebelah Zia. Hanya tempat itu yang kosong, sepertinya memang disiapkan untuknya, pikir Zidan percaya diri.


Mereka terus berceletuk lalu makan siang bersama. Mertua Ayra sangat perhatian pada Ayra, buktinya Zidan lihat ada udang asam manis pedas kesukaan Ayra yang menjadi salah satu menu makan siang besar mereka. Bagaimana tidak makan besar, satu meja diisi belasan orang.


"Sorry ya semuanya. aku ke belakang dulu," ucap Ayra di tengah-tengah makan siang yang sedang berlangsung. Gelagat Ayra seperti menahan sesuatu, Pak Ervan pun mengikuti langkah sang istri karena tau apa yang sedang Ayra Alami.


Semua orang di ruang makan menatap heran sepasang suami istri itu, kecuali mertua Ayra dan Adel. Ya, Adel si pembuli di sekolah yang sudah tobat, kini makan bersama musuhnya.


"Ayra kenapa, Tan?" tanya Dyu penasaran, sekalian mewakili mereka yang penasaran dalam diam.


"Biasa. Ayra lagi sensitif banget sama makanan, kalo ada yang ngga suka langsung mual," jawab Tante Sindi yang juga beranjak dari duduknya.


"Kalian lanjutin, Tante mau liat Ayra dulu, pamit Tante Sindi yang dijawab anggukan oleh mereka semua.


"Kaya aku dulu," bisik Zia yang diangguki Zidan. Mungkin memang rata-rata hamil muda seperti itu.


"Aneh banget ngga sih orang hamil tuh, Ayra kan dulu jagonya udang. Sekarang baru satu gigit udah mual aja," celetuk Sherena.


Lima menit berselang. Ayra sudah kembali ke meja makan bersama Pak Ervan dan Tante Sindi. Wajah Ayra sedikit pucat dan tubuhnya juga lemas, Zia paham betul bagaimana rasanya setelah mual.


"Nggapapa, Ra?" khawatir Sherena. Belajar dari Zia dulu, mual saat hamil itu cukup menyiksa.

__ADS_1


"Nggapapa. Mual dikit doang," jawab Ayra lalu kembali duduk. Tante Sindi sudah mengganti piring Ayra dengan yang baru, tentunya agar tidak kembali makan udang.


Ada yang aneh. Selepas kembali dari toilet, Ayra tenang-tenang saja, tapi tidak dengan Pak Ervan yang terlihat misuh-misuh sendiri.


"Bilang, Van," kata Tante Sindi memecah keheningan. Mereka jadi bingung sendiri, apa jangan-jangan mereka mau diusir sekarang?


Pak Ervan tampak memperbaiki posisi duduknya sebelum akhirnya berucap dengan ragu, "Em... Ayra mau dimasakin omellet sama Zidan."


Zidan membulatkan matanya terkejut, sedangkan Ayra sudah menundukkan kepalanya karena malu. Zidan menatap ke arah sang istri yang juga menatapnya dalam diam. Yang lain menunjukkan reaksi yang berbeda-beda, ada yang menahan tawa, terkekeh geli, ada juga yang langsung panik, contohnya Adel.


"Zidan turutin sekarang juga! Titik. Harus sekarang," tekan Adel. Bercermin pada kejadian beberapa hari yang lalu, Adel takut Ayra kembali mual-muntah yang oarah saat ia tidak mau menuruti keinginannya.


"Ta- tapi..." Sungguh, Zidan tidak enak dengan Pak Ervan. Ini adalah hal sensitif, dunia permantanan. Akan tetapi, Zidan juga tau bagaimana jika ngidam seorang bumil tidak terpenuhi, Zidan jadi dilema.


Zidan melihat ke arah Pak Ervan yang tengah menghela napas. Zidan tebak, Pak Ervan tengah mencoba menyingkirkan egonya.


"Nggapapa, masakin aja," kata Pak Ervan yang terlihat tenang, di luar, tapi tidak tau dengan hatinya.


"Jangan jadi perkara rumah tangga ya? Gue takut nih," kata Zidan pada Pak Ervan dan Ayra.


"Iya iya. Sana cepetan sebelum Ayra mual lagi," ucap Pak Ervan. Zidan pun mau tidak mau segera menuju ke dapur, sebagai calon ayah, Zidan tau bagaimana sensitifnya ibu hamil.


Zia menatap punggung Zidan yang perlahan menghilang karena memasuki dapur. Omellet adalah makanan kesukaannya dulu saat hamil muda, sekarang Ayra hamil muda pun mengidamkan hal yang sama dengannya. Bisa jadi nanti saat sudah lahir anak mereka berjodoh.


Dengan cepat Zia menggelengkan kepalanya, terlalu jauh ia berpikir. Lahir saja belum.


"Maaf ya Zi, permintaan gue aneh-aneh," ucap Ayra karena takut sahabat imutnya itu akan marah.


Zia menggelengkan kepalanya, "Ih nggapapa kok. Zia tau gimana rasanya ngidam, ngga dituruti itu efeknya buruk," jawabnya.


"Ngga gonjang-ganjing kan pertemenan kita gara-gara omellet?" tanya Sherena yang dengan cepat mendapat respon gelengan kepala dari dua bumil mereka.


Mereka kini sudah selesai makan, hanya tinggal Ayra saja yang masih sibuk dengan omellet di piringnya yang baru saja selesai dimasak.

__ADS_1


Zidan kembali duduk di sebelah Zia, mereka duduk sejenak untuk menunggu makanan yang mereka makan turun.


Saat mereka tengah memperhatikan Ayra makan dengan begitu lahapnya, tiba-tiba ponsel mereka berbunyi secara bersamaan.


Bola mata mereka membola saat melihat informasi yang baru saja tersebar. Tidak hanya Inti Atlansa, Pak Ervan pun sama. Apalagi para cewek kecuali Ayra, bumil itu masih saja asyik makan tanpa tau keadaan sekarang.


"Kami pamit Tan, Ada urusan mendadak." Galen dan Keyna dengan cepat beranjak dari duduknya dan menyalimi tangan Tante Sindi. Belum sempat mertua Ayra itu bertanya, Galen dan Keyna sudha berlari cepat kelaur dari rumah mewah ini. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi ada hal yang sangat genting.


Pak Ervan memberi kode agar tidak memberitahu Ayra terlebih dahulu, keadaannya belum pulih benar pasca pendarahan tadi siang. Pak Eevan juga sudah mengambil ponsel Ayra dan menghapus infi tersebut dari gawai milik sang istri.


Zia menatap ke Zidan dengan penub rasa khawatir. Zidan mengangguk lalu mengusap kepala Zia, menandakan semua akan baik-baik saja.


Informasi yang mereka dapat adalah tentang tersebarnya berita bahwa Arin adalah anak dari sepasang kekasih fenomenal sentero sekolah, Galen dan Keyna.


Tentunya berita tersebut membuat mereka khawatir karena keberadaan Arin yang jauh di Bogor sana. Juga tentang bagaimana respon masyarakat terhadap buruknya nama SMA Trisatya. Dua kasus besar terjadi dalam satu hari, Penyerangan sekolah dan ini.


Nama Zidan dan Zia juga terseret karena sebelumnya juga telah mencoreng nama baik sekolah. Mungkin banyak dari mereka yang malu untuk sekedar mengenakan seragam Trisatya.


Sekolah yang penuh skandal.


¤¤¤¤¤


...Kemarin ngga bisa up😭...


...Hari ini aku paksain update walau sedikit......


...Aku demam gesss😌... Buat yang nungguin di lapak sebelah, jangan terlalu berharap aku bisa up malam ini ya😑......


...Kasih dukungan dong dengan like, komen, vote, kasih hadiah♥♥......


...Intinya tinggalin jejak di bab ini♥......


...Bye👋...

__ADS_1


__ADS_2