
"Ibu!"
Zidan terkejut saat yang dihadapannya ini adalah seorang pemulung yang ia temui di warung nasi padang waktu itu.
"Ibu kenapa?" tanya Zidan saat wanita itu terisak. Apalagi ibu itu sekarang meluruhkan badannya di depan Zidan seperti memohon sesuatu.
"Nak, saya bisa minta tolong lagi tidak. Saya butuh biaya buat operasi anak saya, operasinya harus dilakukan malam ini juga tapi saya tidak ada biayaanya," katanya sembari akan bersujud di kaki Zidan. Dengan sigap Zidan memegang bahu si ibu agar tidak bersujud padanya.
"Ibu berdiri dulu ya Bu," kata Zidan yang merasa sangat kasihan dengan ibu itu.
"Saya tau kamu anak baik, saya mohon pinjamkan saya uang untuk operasi anak saya, saya mohon..." Tangis ibu itu semakin pecah. Zidan membantu ibu itu untuk berdiri.
Teman-teman Zidan merasa sangat kasihan melihat bagaimana ibu itu memohon dan terisak.
"Saya bantu ibu. Sekarang bawa kita ke rumah sakit dimana anak ibu akan dioperasi ya," kata Zidan lalu melihat ke arah teman-temannya. Mereka mengangguk mengisyaratkan bahwa mereka setuju.
"Terima kasih banyak... Terima kasih... " kata ibu itu lagi dengan tangisan yang tidak terhenti.
"Ya Udah. Ibu bonceng sama saya ya," ucap Galen. Karena memang hanya dia yang kosong. Ibu itu mengangguk lalu dituntun oleh Zidan ke atas motor sang ketua mereka.
"Nanti tunjukin arahnya ya Bu," ujar Zidan lalu naik ke atas motor yang dikendarai Zio.
Sesampainya di rumah sakit, Zidan langsung membayar biaya operasi anak dari ibu itu. Kini mereka tengah berada di depan ruang operasi saat anak umur lima belas tahun anak dari ibu itu sedang menjalani operasi.
"Nanti saya akan cicil hutang saya ya Nak." Zidan menggelengkan kepalanya, dia tidak menganggap ini sebagai hutang, dia ikhlas membantu.
"Ngga udah Bu. Saya ikhlas bantu Ibu," jawab Zidan yang membuat ibu itu memeluk tubuh Zidan.
"Kamu memang malaikat yang Tuhan kirim buat jadi penolong hidup saya. Terima kasih banyak Nak." Zidan mengangguk dalam pelukannya.
"Nama ibu siapa? Biar enak manggilnya, kalau saya Zidan, dan ini teman-teman saya, Galen, Zio, Dyu, Langit," kata Zidan setelah pelukannya terlepas. Zidan menunjuk satu-satu temannya.
"Intan, nama saya Intan," jawab Ibu itu yang sedang harap-harap cemas karena anaknya sedang berjuang hidup dan mati di dalam sana.
Mereka sontak terkejut, "Maaf Bu, apa nama suami Bu Intan itu Pak Hendry?" tanya Galen dengan hati-hati.
__ADS_1
"Iya benar, almarhum suami saya namanya Pak Hendry. Kalian kenal?" Bu Intan menjadi heran kenapa anak anak muda dan tampan ini mengenal suaminya.
"Kebetulan sekali Bu, kami memang tengah mencari keluarga Pak Hendry," kata Galen.
"Ada apa ya? apa masih ada urusan yang belum suami saya selesaikan?" tanya Bun Intan dengan sedikit khawatir, takut jika ada hutang yang perlu dibayar.
"Tidak ada. Hanya kami butuh kesaksian ibu dan bukti jika memang memilikinya. Apa benar suami ibu bangkrut karena ulah Pak Willy Kendrick?" tanya Galen to the point.
"Ah iya benar, iblis itu yang sudah membuat suami saya bangkrut dan akhirnya meninggal dunia," jawab Bu Intan. Dari sorot matanya terlihat jelas ada amarah yang mencoba ditahannya.
Mereka saling tatap dan tersenyum tipis saat mereka akhirnya menemukan salah satu saksi. Tidak sia-sia usaha mereka sedari tadi siang.
"Apa ibu ada sesuatu berkas atau apa peninggalan suami tentang kebangkrutan kalian?" tanya Galen yang membuat Bu Intan menggelengkan kepalanya.
"Kalaupun ada tidak akan bisa memberatkan manusia licik itu. Saya sudah pernah mencobanya dan pada akhirnya berkas itu lenyap ke tangannya," kata Bu Intan.
"Tidak apa Bu. Tapi apa ibu bersedia membantu kami untuk mengalahkan Pak Willy?" tanya Galen saat tersirat ketakutan di mata Bu Intan.
Bu Intan mengangguk pelan membuat mereka bersyukur. Tapi untuk sekarang mereka tidak akan membahasnya dulu, kasian Bu Intan yang masih menunggu anaknya operasi.
"Tadi ibu lagi ngapain di tumpukan sampah? " tanya Langit yang tengah bersandar di tembok.
Mereka memejamkan matanya sejenak saat ikut merasakan sesak yang dirasakan Bu Intan. Jika para cewek di sini pasti mereka sudah nangis bombay.
"Ibu tau kalau itu tidak mungkin terkumpul dalam semalam kan?" tanya Dyu yang dijawab anggukan dari Bu Intan yang masih setia menunduk.
"Saya sudah tidak tau lagi mau ngapain. Di benak saya hanya saya harus punya uang buat anak saya, itu aja." Jawaban Bu Intan secara tidak langsung memberi mereka sebuah pelajaran. Seorang ibu akan melakukan apapun demi anaknya, dan sefrustasi apa saat anaknya diambang hidup dan dia tidak bisa bisa berbuat apapun.
"Di pikiran Ibu yang penting anak ibu selamat gitu ya?" tanya Langit yang dijawab anggukan dari Bu Intan. Langit jadi teringat ibunya di kampung, sudah lama ia tidak menemuinya.
"Saya merasa sangat beruntung sekali bertemu Nak Zidan dan kalian semua. Ini seperti saya dapat mukjizat di detik terakhir saya akan menyerah," kata Bu Intan lagi.
Zidan merasakan sesak di hatinya saat ini. Dulu pun ia merasakan hal yang sama saat Zia masuk rumah sakit, saat ia ingin menyerah tapi masih ada nyawa yang bergantung padanya, masih ada tanggungjawab besar di bahunya. Beruntungnya dia memiliki bunda dan sahabat yang sangat baik, yang selaku ada dan memberinya dukungan di situai terburuknya sekalipun.
"Jangan mewek Dan," canda Dyu saat melihat mata Zidan yang mulai memerah, tanda bahwa perasaan calon ayah itu sedang campur aduk.
__ADS_1
Zidan menggelengkan kepalanya, "kangen bini," candanya.
"Ya Allah baru juga ketemu tadi pagi," saut Zio sembari menggelengkan kepalanya, mereka berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang.
"Istrinya yang kemarin di warung nasi padang ya Nak Zidan?" tanya Bu Intan.
"Iya Bu. Cantikkan istri saya?" kata Zidan membuat Bu Intan mengangguk sembari tersenyum.
"Bucinnnnn..." seru Dyu sembari menggeplak kepala Zidan.
"Iri? nikah sana," kata Zidan kemudian terkekeh.
"Masih bingung mau yang mana yang gue ajak nikah," ucap Dyu dengan gaya sok gantengnya, ya memang ganteng sih tapi playboy.
"Yeee... Emang ada berapa pacar lo sekarang?" tanya Langit.
"Dua belas," jawab Dyu degan sok cool.
"Buset... Kemarin baru sembilan, sekaramg udah dua belas aja... " kata Zio.
"Semalem dapet tiga lagi gue," jawab Dyu.
"Tapi gue tertarik sama yang semalem terakhir gue tembak," ucap Dyu sembari membayangkan wajah polos gadis itu.
"Siapa?" tanay Zio penasaran, baru kali ini Dyu seperti benar-benar menyukai gadisnya.
"Namanya Elina, cantiknya natural dan polos juga," kata Dyu membuat Bu Intan menyergitkan alisnya.
"Anak saya yang sudah SMA namanya Elina," ucap Bu Intan mmebuat mereka semua terdiam.
.....
Nih aku kasih double up.
Aku lembur nih, kalo boleh kasih kopinya dong....
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, atau kasih hadiah yaaa
Bye byeee