Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
52. Karena Istri Pemilik Sekolah


__ADS_3

Tok...tok... tok...


"Permisi," ujar Zidan saat membuka pintu ruang kepala sekolah dengan Zia di belakangnya. Semua orang di dalam ruangan tersebut mengangguk menandakan Zidan dan Zia dipersilahkan untuk masuk.


Zidan dan Zia duduk di kursi yang ditunjuk guru BK mereka, Bu Asti. Di ruangan yang lumayan luas itu ada beberapa orang yang Zia lihat, diantaranya, Pak Ardi selaku kepala sekolah, Bu Asti selaku guru BK, Bu Anggi sebagai wali kelas Zia, Pak Santoso selaku wali kelas Zidan, dan yang satu lagi Zia tidak mengenalnya. Pakaiannya bukan seperti guru, lebih ke pengusaha seperti papanya.


"Kita mulai saja," ucap Pak Ardi yang diangguki semua orang dewasa di ruangan itu.


"Kalian pasti sudah tau kenapa kalian dipanggil ke sini. Kami di sini ingin memastikan apakah berita yang kemarin viral di sekolah itu benar adanya, Zidan? Zia?" tanya Bu Asti sebagai pembuka.


Zidan tanpa ragu mengangguk membuat semua yang di sana menghela napasnya kecewa.


"Apakah ada pembelaan yang ingin kalian sampaikan?" tanya Bu Anggi yang diangguki Zidan.


"Tuduhan tentang anak yang dikandung Zia itu salah, anak saya bukan anak haram, dia ada setelah pernikahan kami," ucap Zidan.


Zia hanya diam saja, ia tidak berani walau hanya mengangkat kepalanya. Zidan terus mengusap punggung tangan Zia berusaha meyakinkan Zia.


"Kalian tau kan kalau seorang siswa dilarang menikah, hamil, dan menghamili selama masa sekolah?" Zidan dan Zia mengangguk mendengar pertanyaan dari Pak Ardi sebagai kepala sekolah.


"Kalau kalian tau kenapa kalian melakukannya?" Bu Asti menghela napasnya. "Kalian itu termasuk siswa perprestasi dan berpengaruh di sekolah ini, Ibu sangat menyayangkan kelakuan kalian itu."


Zidan menunduk mendengarnya, lalu kembali menegakkan kepalanya lagi. "Maaf Pak, Bu. Sudah mengecewakan dan memalukan sekolah ini."


"Kami siap menerima konsekuensi apapun dari pihak sekolah," lanjut Zidan. Zia memejamkan matanya karena takut akan ucapan orang-orang dewasa di hadapannya setelah ini.


"Yakin siap?" Zidan mengangguk.


"Bagaimana Pak?" tanya Pak Ardi pada seorang pria yang sedari tadi hanya memperhatikan.


Pria tersebut membenarkan posisi duduknya sembari menatap Zidan dan Zia secara bergantian.


"Berapa usia kandungan kamu?" tanyanya tertuju pada Zia.


Zia dengan gugup menjawab, "Ti-tiga bulan, Pak."


Pria itu mengangguk, "Kamu masih ingin bersekolah?"


"Masih Pak," jawab Zia yakin.


"Kasih saya alasan kenapa kamu masih ingin bersekolah?" kalimat andalan seorang Ervan.


Zia menatap Zidan sebentar, saat mendapat anggukan dari Zidan, Ayra menjawab, "Saya tidak ingin anak saya nanti malu mempunyai orangtua yang tidak berpendidikan, Saya juga masih ingin menggapai cita-cita saya."

__ADS_1


"Sedangkan kamu?" tanyanya pada Zidan.


"Kurang lebih sama dengan Zia, saya sebagai kepala keluarga sekarang tidak ingin anak dan istri saya hidup susah. Dan saya tau dengan pendidikan yang tinggi mampu membuat ekonomi kami membaik. Saya merasakan tanggungjawab yang besar sekarang, jika saya tidak berpendidikan semuanya akan lebih susah nantinya," jawab Zidan dengan penuh keyakinan.


Pria itu mengangguk lagi sembari berpikir. "Bagaimana Pak Ervan?" tanya Pak Ardi.


"Jika mengikuti ketentuan dari sekolah memang mereka ini harus dikeluarkan kan?" tanyanya yang diangguki para guru.


Zidan dan Zia sudah pasrah mendengar itu, bahkan Zia sudah meneteskan air matanya.


"Tapi.... "


Semua orang di sana menatap Ervan, sang pemilik sekolah. "Tapi, karena suatu hal saya masih mengizinkan Zidan tetap bersekolah di sini, sedangkan Zia akan mengikuti program homeschooling dari pihak sekolah sampai melahirkan nanti. Selama semester depan."


Zidan secara refleks meremas tangan Zia yang sudah dingin. Zia dan Zidan saling tatap sebentar dan tersenyum tipis.


"Maaf Pak, apa itu tidak akan membuat citra sekolah ini buruk?" tanya Pak Ardi.


"Sekolah ini punya saya, jadi baik atau buruknya nanti urusan saya," jawab Ervan dengan dingin. Padahal karena bayarannya adalah bisa tidur satu kamar dengan istri kecilnya.


"Mohon maaf Pak, jika boleh kami tau, apa alasan bapak membiarkan murid yang sudah menikah ini tetap bersekolah di sini?" tanya Bu Asti dengan hati-hati.


"Iya Pak, kenapa tidak dikeluarkan saja?" tambah Pak Ardi.


"Ma-maksud Pak Ervan?" tanya Pak Ardi dengan gugup.


"Jika mereka sudah menikah dan harus dikeluarkan, berarti istri saya sebagai salah satu siswi di sekolah ini juga harus di keluarkan?" ujar Pak Ervan sukses membuat semuanya diam dan tercengang.


"Istri Bapak siswi Trisatya?" Ervan dengan jengah mengangguk.


"Saya sudah tau dari istri saya alasan mereka menikah. Dan karena ini bukan hasil dari kenakalan yang di luar batas, saya mengizinkan mereka terus bersekolah dan akan menjamin semua berita yang sudah tersebar akan hilang dalam waktu dua hari," ujar Ervan yakin. Setelahnya ia berdiri untuk merapikan jasnya dan keluar dari ruangan tersebut.


Enam orang yang berada di ruang kepala sekolah itu masih syok dan hanya bisa menatap punggung tegap yang keluar dari ruangan.


"Kalian silahkan keluar!" ucap Pak Ardi. Zidan dan Zia keluar setelah mengucapkan terima kasih.


Cklek.


Sedetik setelah keluar dari ruangan yang menegangkan tadi, Zidan memeluk tubuh pendek Zia dan dibalas dengan erat oleh Zia.


"Alhamdulillah, Ya Allah," ucap Zidan menengadah dengan dagu di atas kepala Zia. Zia menangis karena saking bahagianya.


"Sudah pelukannya?"

__ADS_1


Zidan segera melepas pelukannya pada Zia dan membungkuk guna memberi hormat pada orang yang telah memberinya kesempatan yang begitu berarti.


"Maaf Pak. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas kesediaan Bapak tetap membiarkan kami sekolah di sini," ucap Zidan yang hanya diangguki Ervan.


"Sudahlah. Saya cuma lupa pesan dari istri saya," ujarnya sembari memberikan amplop kecil warna pink hasil kreasi istrinya, lalu pergi begitu saja. Sebenarnya Ervan tadi tidak lupa, hanya saja malu untuk memberikannya di dalam.


Zidan memandangi amplop kecil nan cantik itu. "Buka nanti aja waktu di rumah ya?"


Zidan mengangguk, "Ke temen-temen yuk! Zia ngga sabar mau kasih tau mereka," ucapnya lalu menarik tangan Zidan ke arah kantin.


Sesampainya di kantin Zia langsung berhambur memeluk Keyna dan Sherena dan menangis di sana. Mereka jadi takut, kalau-kalau Zidan dan Zia dikeluarkan.


"Zia...udah ya! Nggapapa kok, kan kita masih bisa ketemu," ujar Sherena yang mengira Zia sudah dikeluarkan dari sekolah.


Zidan juga menunjukkan ekspresi yang tidak enak. Galen menepuk dua kali bahu Zidan saat Zidan duduk di sebelahnya dengan lesu, "Udah nggapapa."


Zidan hanya tersenyum tipis menanggapinya, semakin menguatkan dugaan mereka bahwa pasutri itu sudah di drop out.


Zia melepaskan pelukannya, Sherena dan Keyna pun menatap wajah Zia sembari mengusap air mata dan merapikan rambut Zia.


"Zia mau makan, laper." Semua dibuat melongo, pasalnya yang mereka duga Zia akan mengucapkan kalimat perpisahan atau apa gitu.


"Sedih bikin laper ya?" tanya Dyu heran.


"Siapa yang sedih?" tanya Zia balik.


"Lah?" heran Sherena.


"Kita ngga dikeluarin, Guys," ucap Zidan lalu tertawa. Keempat sahabat cowok itu langsung menyerang Zidan dengan memeluknya bersamaan, lebih tepatnya menindih tubuh Zidan. Sherena dan Keyna juga memeluk Zia, hanya kurang satu orang di antara mereka, Ayra.


Tanpa mereka sadari Ayra sedang melihat mereka dari CCTV di ruangan pribadi Ervan dan ikut tersenyum bahagia.


"Udah seneng?" tanya Ervan yang berdiri di belakang Ayra. Ayra mengangguk, lalu berbalik dan memeluk tumbuh suaminya itu.


°°°°°


Hallo semuanyaa 👋


Gimana sama bab ini? ♥


Kalau suka boleh dong kasih likenya, 👍


Komen juga biar aku terus update. ♥

__ADS_1


Kasih vote dan hadiah juga kalau bisa😁


__ADS_2