
Zidan dan teman temannya kini sedang berada di kelas Zia. Semua kelas tidak ada guru yang masuk, para guru sedang mengadakan rapat membahas beberapa perlombaan yang akan diikuti oleh SMA Trisatya guna memperkenalkan dan menaikkan nama sekolah.
Zidan yang biasanya ke kelas ini untuk bertemu Ayra, sekarang tidak lagi. Hubungan keduanya sangat renggang sekarang, apalagi semenjak Ayra bergabung dengan Adel cs. Alasan putusnya mereka masih menjadi misteri dan tanda tanya besar bagi murid lain.
"Zi, tuh pipi lo makin tembem makannya kaya gitu terus," ucap Sherena yang setiap hari melihat Zia memakan jajanan pasar semenjak menikah dengan Zidan.
"Enak tauuu. Zia selalu minta ini kalo Zidan berangkat kerja ke pasar, udah enak murah lagi," ucap Zia menunjukkan kotak makan yang berisi kue cucur, apem, kue lapis, dan serabi.
"Untung lo nikahin Zia Dan, coba aja kalo Sherena. Beuuh udah ngga bakalan mau dia makan kaya gituan. Pasti alasannya takut gendut lah ini lah itu lah," cerocos Dyu yang mendapat tabokan pedas di lengannya.
"Apa? Iya kan?" tanya Dyu saat Sherena menatapnya tajam.
"Hehe iya juga si, bahkan gue ngga tau nama makanan yang lagi di makan Zia," jawab Sherena cengengesan yang mengundang tawa mereka semua.
Ayra yang duduk di pojok belakang terus memperhatikan mereka, dan Zidan yang berada di bangku bagian tengah bersama teman-temannya beberapa kali tatapan mereka tak sengaja bertemu, namun dengan cepat saling memalingkan wajah satu sama lain.
Asing.
Satu kata yang mengungkapkan hubungan Zidan dan Ayra sekarang.
Yang dulunya saling sapa, saling cerita, saling ketawa, saling cinta. Sekarang seperti dua orang yang tidak saling mengenal, saling melihat kemudian saling memalingkan.
"Bisa jauh juga ya kita sekarang, padahal dulu kita saling ketawa dan bercanda bareng" guman Ayra pada dirinya sendiri. Ayra dengan cepat memalingkan wajah ke arah tembok saat air matanya tiba-tiba saja jatuh. Sakit, sangat sakit rasanya saat seorang yang begitu ia cintai dengan begitu dalam malah memilih orang lain sebagai pendamping hidupnya.
"Se asing inikah kita sekarang? Bahkan sekedar jadi sandaran aja gue ga berhak lagi," batin Zidan.
Zidan tau Ayra sedang menangis, tapi ia tidak bisa berbuat apapun sekarang. Hatinya masih milik gadis itu, tapi ia tidak mau mempermainkan ikatan sakral pernikahan. Dia tau Ayra sakit hati sekarang, ia juga sama. Yang berbeda hanya cara mereka melampiaskannya, jika Zidan dengan menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bersama teman-temannya, Ayra malah memilih jalan yang salah, ia ikut membuly dan sering menyendiri.
"Samperin sana!" ucap Galen saat melihat tatapan Zidan yang terus mengamati Ayra. Zidan menggeleng lemah, ia takut Ayra makin terluka saat Zidan menghampirinya.
"Gue ke toilet sebentar," pamit Zidan yang sebenarnya sudah tidak kuat melihat Ayra, ia tidak tega, tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun lagi.
__ADS_1
Zia sedari tadi juga memperhatikan gerak-gerik Zidan dan Ayra walau dengan mulut yang tak berhenti mengunyah jajanan pasar yang dibelikan Zidan tadi pagi. Zia bukannya tidak tau, Zia bahkan sangat tau bahwa Zidan masih mencintai Ayra, terbukti dari wallpaper handpone Zidan yang masih foto mereka berdua, di dompet pun sama. Ia bahkan sudah beberapa kali menyuruh Zidan kembali pada Ayra, namun Zidan terus menolaknya.
"Udah jangan dipikirin banget," ucap Keyna saat mendapati Zia terus terdiam dengan raut wajah bersalah.
"Kenapa Zidan ngga mau balikan sama Ayra. Zia jadi ngerasa bersalah banget, karena Zia mereka jadi kaya gini" lirih Zia namun masih bisa didengar semuanya.
"Lo ngga salah, mungkin emang ini ujian buat persahabatan kita," ujar Sherena berusaha menenangkan.
"Bener tuh, keputusan Zidan emang udah paling bener menurut gue," timpal Langit yang duduk di meja.
"Sekarang Zia ngga boleh mikir kaya gitu lagi. Semuanya sama sekali bukan salah Zia, Zia cuma korban di sini," kata Zio turut prihatin terhadap masalah hidup sang adik.
Zia hanya mengangguk walau otak kecilnya masih memikirkan hal tersebut, Zia yang awalnya tidak pernah berpikir berat akhir-akhir ini keadaan memaksanya berpikir keras yang membuatnya sering pusing sendiri.
"Kantin Kuy!! " ajak Dyu karena merasa suasananya sudah tidak asik.
Mereka memutuskan untuk menyetujui ajakan Dyu, kecuali Zia. Zia bilang akan ke toilet terlebih dahulu, nanti menyusul.
"Zia boleh duduk di sini?" izin Zia yang hanya diangguki Zidan.
"Kenapa ke sini? Katanya ke toilet?" tanya Zia sambil menatap lapangan.
Zidan menoleh sekilas kemudian menjawab, "ngadem. Kelas lo panas." Zia ber oh ria sambil menganggukkan kepala.
"Kenapa lo ke sini?" tanya Zidan balik.
"Zia tadinya mau ke toilet tapi ngga jadi."
"Kenapa ngga jadi?" tanya Zidan menyergitkan alisnya.
"Liat Zidan di sini, jadinya Zia pengin ke sini," jawab Zia enteng, Zia memang jujur anaknya.
__ADS_1
"Uang jajannya masih?" tanya Zidan.
"Masih kok, uang belanjanya juga masih. Zia irit-irit tauuu," pamer Zia dengan nada panjang di akhir kalimatnya.
Zidan tersenyum tipis, kemudian berdiri saat di sekitar mereka mulai banyak murid yang berlalu lalang. "Sama yang lainnya aja yuk. Makin rame takutnya jadi gosip satu sekolah kita."
Zia mengangguk kemudian berdiri, "Mereka di kantin. Zia juga laper banget yuk ke kantin."
"Tadi katanya irit-irit," ujar Zidan membuat Zia cengengesan.
"Iya ini irit kok, kan Zia mau ambil dulu jajannya di kelas, dadah Zidan" jawab Zia sambil berlari meninggalkan Zidan.
Zidan hanya memandang Zia dengan senyum tipis, ada-ada saja kelakuan istrinya itu.
Zidan tidak tahu Zia beneran suka jajanan pasar itu atau hanya terpaksa memakannya demi menghargai dirinya, namun Zidan cukup bersyukur Zia mau mengerti keadaannya yang sekarang, Zia tidak pernah memaksa dan meminta apapun yang berlebihan selama hampir tiga minggu mereka menikah. Zia juga mampu mengatur keuangan dengan baik, bahkan Zia jarang jajan di sekolah dan hanya memakan jajan pasar yang Zidan beli demi menghemat pengeluaran mereka. Karena Zia tau makanan di kantin Trisatya tidaklah murah.
"Lo kalo mau jajan lagi juga nggapapa. Takutnya lo bosen makan itu terus," ujar Zidan saat mereka sudah duduk bersama teman-temannya di kantin.
"Siapa yang bosen juga? Zia malah suka banget, Zia sebelumnya ngga pernah makan makanan kaya gini, apalagi Zidan tiap hari belinya beda-beda, jadi Zia ngga pernah bosen," ucap Zia dengan tangan menyodorkan kotak makannya pada Zidan, bermaksud agar laki-laki itu memakannya juga. Zidan pun mengambil serabi kesukaannya.
°°°°
HALLO SEMUAAA👋👋
HAPPY READING♥✨
GIMANA? SUKA SAMA BAB INI? ATAU ENGGA?
KALO SUKA JANGAN LUPA KASIH LIKE YAA👍
KOMEN JUGA BOLEH BIAR AKU TAMBAH SEMANGAT NULISNYA
__ADS_1