
Zia celingukan di tepi jalan, sudah setengah jam ia sampai di tempat biasa, tapi Zidan tidak kunjung datang. Dengan kegabutannya, Zia menendang-nendang kecil kerikil di sekitar kakinya.
"Zidan lamaa..." Zia mengembungkan pipinya lalu duduk di tepi trotoar, di sini tidak ada tempat duduk yang lebih nyaman lagi.
Zia mendongakkan kepalanya saat motor Zidan berhenti tepat di depannya. Zia tidak berniat beranjak dari duduknya, Zia ngambek.
"Ayok," ajak Zidan, Zia menggelengkan kepalanya kuat, membuat rambutnya menyabet wajahnya sendiri seperti anak kecil, kemudian kembali menunduk memainkan kerikil jalanan.
Zidan terkekeh melihat Zia yang terlihat sangat menggemaskan. "Maaf lama, mau minta apa biar dimaafin?"
Zia dengan cepat mendongak, " es krim!"
"Ya udah ayuk, tapi makan dulu," ujar Zidan sembari mengulurkan tangannya, Zia menerima uluran tangan tersebut dengan semangat.
Zidan geleng-geleng kepala, bagaimana bisa perempuan yang masih seperti anak kecil ini akan menjadi seorang ibu.
Di tempat penjual es krim.
"Zidan tadi ngapain aja? Kok lama?" tanya Zia sembari sibuk memakan es krim rasa mangga kesukaannya.
Zidan menepuk kedua pahanya sebelum berbicara, "Emm, tadi disuruh wakilin sekolah lomba akuntansi."
Zia manggut-manggut, "Kapan?"
"Setelah selesai ulangan semester langsung berangkat."
"Udah mau semester dua aja, cepet banget. Nanti Zia gimana?" Zia kehilangan mood makan es krimnya. Memikirkan nasib nya semester depan membuat Zia cemberut.
Zidan tersenyum tipis, "Homeschooling mau?"
Zia menggelengkan kepalanya, "Mahal, nanti malah uang buat mereka kepake," ucap Zia mengelus perutnya yang terbalut seragam putihnya.
"Kalo lo mau, gue bakal cari uangnya. Ngga bakal gue pake uang buat mereka, janji deh," ujar Zidan. Beruntungnya tempat mereka sekarang lumayan sepi.
"Zia ngga mau makin nyusahin Zidan." Zia berucap sambil mengaduk-aduk es krim di dalam cup yang ia pegang.
"Udah berapa kali gue bilang, lo ngga nyusahin gue, lo hamil kaya gini juga karena gue, udah seharusnya gue bertanggung jawab sama keadaan lo." Zidan mengambil es krim di tangan Zia dan berusaha menyuapkannya pada Zia, tapi Zia menggeleng.
Suasana di antara mereka seketika menjadi tidak enak.
"Masih ada waktu. Percaya Allah pasti kasih kita jalan," kata Zidan berusaha meyakinkan Zia dan tentunya dirinya juga.
Zia mengangguk, lalu mendongakkan kepalanya dan menatap Zidan. "Zia percaya kok."
"Bagus, yang penting lo ngga putus asa. Gue bakal usahain semaksimal mungkin supaya lo bisa tetep lanjutin pendidikan lo," Zidan berucap dengan serius.
__ADS_1
Seperti sebelum-sebelumnya Zidan selalu bisa meyakinkan Zia yang mulai goyah.
"Ya udah. Sini es krim Zia, kalau dipegang Zidan nanti abis dimakan Zidan," pinta Zia yang berusaha mencairkan suasana kembali. Zidan menghela napasnya, mood ibu hamil yang satu ini cepat sekali berubah.
Zidan memberikan ea krim milik Zia. "Olimpiade Akuntansi itu hadiahnya gede Zi, lima juta buat juara pertama plus laptop."
Zia membulatkan mulutnya takjub, hadiah yang sangat besar untuk sebuah lomba.
"Zia doain Zidan menang. Kan katanya anak bawa rezeki, siapa tau itu rezekinya twins," ujar Zia yang diaminkan Zidan.
Zidan bertekat akan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa memenangkan lomba tersebut, Zidan juga berjanji pada dirinya sendiri bahwa Zia akan tetap sekolah.
°°°°°
Seminggu kemudian.
Ulangan Akhir Semester 1 SMA Trisatya tengah berlangsung, dan sekarang adalah hari terakhir ujian.
Zia keluar dari ruang ujian bersama Keyna, kebetulan nama absen mereka berurutan.
"Akhirnya selesai juga setelah sekian purnama ujian ini akhirnya selesai," sorak Sherena yang baru keluar dari ruang sebelah dan menghampiri kedua sahabatnya.
"Lebay lo! Cuma seminggu juga," ujar Keyna. Zia hanya tersenyum karena perutnya sedang sedikit sakit, mungkin karena dibawa berpikir terus. Apalagi nanti pulang harus naik angkot karena Zidan sedang lomba.
"Kantin yuk!" ajak Sherena yang disetujui Keyna dan Zia.
Zia mengangguk, "Iya, Zia juga berasa gitu. Padahal baru ti-"
"Oh ini yang katanya cewek super polos. Nyatanya udah hamil duluan," ujar Adel yang berpapasan dengan Zia tiba-tiba mendorong bahu Zia sampai Zia hampir tersungkur ke tanah.
Deg!
"Apa apaan sih lo?" Sherena tidak terima dengan ucapan dan perbuatan Adel pada sahabatnya.
"Ngga usah belain cewek murahan kaya dia deh. Oh iya lupa lo kan sama aja murahannya," kata Adel lagi.
Zia semakin bingung dan takut, apalagi saat banyak pasang mata yang memandangnya dengan tatapan jijik. Zia sampai gemetaran dibuatnya.
"Lo ngomongin apaan sih?" Keyna mulai kesal dengan Adel, juga melihat banyak murid yang seperti sedang membicarakan mereka.
"Oh belum tau ternyata. Coba ke mading sekolah, di sana ada berita mengejutkan loh," ucap Adel dengan nada yang sangat menjengkelkan. Sengaja dibuat keras agar semua orang mendengar.
Keyna yang penasaran, menarik tangan Sherena dan Zia mengajaknya ke mading. Sesampainya di mading, ketiganya membeku. Apalagi saat kerumunan di mading semakin banyak.
Sherena menerobos paksa kerumunan tersebut. "Minggir! Minggir! Gue mau lewat!"
__ADS_1
Zia membeku di tempat, Keyna sedang menyusul Sherena guna membantu menyobek kertas yang begitu banyaknya di mading sekolah. Kertas berisi foto Zia di depan ruang dokter kandungan bersama bunda Dian, di sana terlihat jelas Zia memegang kertas USG dan tangan satunya memegang perut yang terlihat sedikit buncit dibalik dress. Dan satu lagi, ada fotonya dan Zidan saat malam kejadian itu, sayangnya hanya wajahnya saja yang terlihat jelas, sedangkan wajah Zidan terbenam di leher Zia.
Siapa yang menyebarkan foto tersebut? Dan dari mana memperolehnya?
"Keliatannya aja polos, imut, tapi kenyataanya murahan!" maki salah satu siswi sembari melempar botol bekas minum ke arah Zia.
"Hamil anak siapa tuh? Pasti om om hidung belang.. Jijik."
"Anak haram tuh!"
Zia berusaha tidak mendengarkan semua cacian terhadapnya, Zia menutup kedua telinganya dengan telapak tangan sembari menggeleng kuat. Tubuhnya sudah gemetar hebat bersama tangisnya, perlahan Zia jongkok karena takut tumbang jika terus berdiri. Akan bahaya untuk janinnya jika ia jatuh.
"Bubar kalian semua! BUBAR!" Sherena sudah sangat emosi. Semua kertas sudah ia robek.
"GUE BILANG BUBAR!" bentak Sherena yang berusaha membuat mereka semua pergi. Sherena mendorong mereka, tapi karena hanya sendirian, Sherena jelas kalah.
"huu... Huu.. " ejek mereka sembari melempari Zia dengan kertas, bungkus jajan, dan apapun yang ada di sekitar mereka. Keyna berusaha melindungi Zia dengan memeluk tubuh Zia dari depan. Sementara yang melempari mereka dari segala arah.
Zia merasakan tubuhnya mulai sakit karena lemparan-lemparan tersebut.
"Zia awas!" teriak Sherena saat melihat seorang siswa dari lantai atas melempar sebuah pot bunga.
Zia sudah pasrah memjamkan matanya, ia hanya berusaha melindungi area perut seaman mungkin. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, dan pot itu berhasil mengenai kepala gadis tersebut.
"Ayra!"
Ayra meringis saat pot itu mengenai kepalanya. Namun, Ayra tetap memeluk Zia. "Pergi kalian semua!" teriaknya.
Sherena yang sudah kalah jumlah memilih bergabung dan saling berpelukan. Sherena mengutuki para cowok mereka, kemana disaat genting seperti ini malah menghilang. Para guru juga, mereka rapat selesai ujian lama sekali.
"Woy! Berhenti!" Galen berteriak sembari berlari ke tengah kerumunan diikuti inti Atlansa kecuali Zidan. Mereka melindungi keempat cewek bersahabat itu dengan membentuk lingkaran. Para cewek jongkok saling berpelukan di tengah para inti Atlansa yang sudah siaga.
Seketika semua menghentikan aksinya. Nyali mereka menciut saat melihat muka penuh amarah Galen.
"Kalian lupa peringatan gue? SIAPAPUN YANG BERANI NGELUKAIN KEYNA, SIAP SIAP GUE HABISI!" Galen sangat marah saat melihat tubuh Keyna begitu kotor dan mungkin ada luka luka kecil di baliknya.
"Beraninya keroyokan! Kalian semua ngga punya nyali! Kalian ratusan orang lawan empat cewek! BANCI!!" Langit menimpali.
Semua yang di sana seketika diam dan menunduk. Atlansa jelas bukan lawan mereka.
"KALIAN LUPA SIAPA EMPAT CEWEK INI? MEREKA BAGIAN DARI ATLANSA!" Zio mengucapkan itu dengan gigi yang bergemelutuk.
"BUBAR!" intruksi Galen sukses membuat semua murid bubar.
Para cowok tersebut berbalik badan dan membantu keempat cewek itu bangun. Galen langsung memeluk Keyna yang sudah menangis, Zio memeluk Sherena dan Zia bersamaan, dan Ayra dibantu duduk oleh Langit dan Dyu.
__ADS_1
"Tenang ya....mereka udah pergi," ucap Zio pada Zia yang masih sangat bergetar dan menangis hebat.