Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
120. Skin To Skin


__ADS_3

"Ini bayinya sudah dibersihkan, IMD dulu ya?" kata suster yang tengah menggendong bayi mungil Zidan dan Zia. Zia mengangguk membuat satu suster lainnya membukakan kancing baju Zia.


IMD \= Inisiasi Menyusui Dini.


Zia mengarahkan puti*g miliknya ke mulut si kecil yang sudah berhenti menangis. "Nen ya sayang."


Dengan bantuan suster, anaknya sudah berhasil menghisap punti*gnya, sumber makanannya untuk pertama kali.


"Bagus ini, udah langsung keluar ASI-nya," kata Bunda Dian yang sedang sarapan di sofa. Karena proses persalinan Zia berlangsung pagi, Bunda baru sempat dan baru bisa merasakan enaknya makanan.


Zia mengangguk, "Kan Bunda yang saranin semua makanan yang bagus."


Zidan yang semula duduk di sebelah Zia kini memperhatikan wajah sang putra untuk pertama kali. Sangat imut seperti Zia.


"Udah nangisnya?" ledek bunda Dian pada sang putra. Zidan mengangguk pelan, malu juga tapi dia tadi sangat terharu.


"Shh..."


"Kenapa?" tanya Zidan dengan cepat saat mendengar Zia meringis.


"Ininya sakit," tunjuk Zia pada puti*gnya yang sedang diisap sang putra.


"Pertama emang gitu, nanti juga udah nggak sakit lagi," timpal bunda Dian yang baru selesai dengan sarapannya.


"Mau skin to skin ngga kamu sama anak kamu?" tanya bunda Dian saat melihat cucunya sudah selesai menyusu.


Zidan mengangguk, ini juga yang ia tunggu-tunggu. Zidan duduk bersandar di kursi samping Zia dengan baju yang sudah ia lepas. Bunda Dian dengan perlahan memindahkan bayi mungil itu ke dada Zidan agar kulit ayah dan anak itu bersentuhan.


"Pegang punggungnya," tuntun bunda Dian saat cucunya itu sudah tengkurap di dada Zidan.


Saat posisinya sudah sempurna, Zidan memperhatikan wajah putranya yang tengah tertidur. Rasanya seperti bermimpi, bayi mungil itu adalah buah hati yang Zia dan dirinya perjuangkan selama sembilan bulan itu sudah berada dalam pelukannya. Yang sebelumnya hanya bisa ia lihat dari gambar hitam putih, sekarang sudah nyata di depan matanya.


"Berapa beratnya Bun?" tanyanya saat sedari lahir tadi belum sempat bertanya. Sekalian mengalihkan karena air matanya yang ingin turun lagi.


"Beratnya lumayan, 3,5 kilogram, panjangnya 50 centi meter. Tadi cukup lama keluarnya juga karena faktor BB bayinya juga," terang bunda Dian sembari memakan buah apel yang ada di nakas.


Zidan dan Zia mengangguk paham, tidak lama dari itu teman-teman mereka masuk.


"Aaaaa... Zia selamat jadi ibu," sorak para cewek lalu memeluk Zia yang masih berbaring lemas secara bergantian.


"Terima kasih aunty," jawab Zia walaupun suaranya cukup serak, mungkin karena berteriak di detik-detik terakhir bayinya keluar tadi.


Para cowok juga menghampiri Zidan yang masih melakukan skin to skin dengan buah hatinya.


"Congrats Dan, hot daddy nih," kata Galen sembari menepuk bahu Zidan diikuti yang lain.

__ADS_1


"Thanks," jawab Zidan pelan karena melihat anaknya sedang tertidur.


"Gilaa! baret di mana-mana cuy," celetuk Dyu saat melihat lengan dan leher Zidan banyak bekas cakaran.


"Itu belum seberapa, di punggung juga ada sama rambut gue pada rontok kayanya," jawab Zidan jujur.


"Ganas juga lo Zi," kata Galen yang dibalas cengiran dari Zia.


"Sakit Galen. Zia aja nggak sadar ngelakuinnya," jawab Zia yang malah baru ngeh saat melihat Zidan.


"Maklum sih, gede inih," timpal Keyna sembari mengusap kepala bayi yang masih tidur dengan nyaman di dada Zidan.


"Iya lumayan, 3,5 kilo itu. Sampe Zia teriak-teriak waktu ngelahirin," kata Zia dengan jujurnya.


Mereka bergidig, apalagi para cewek yang suatu saat akan mengalaminya juga. Terutama Ayra, tujuh bulan lagi dia akan melahirkan.


"Kedengeran sampe depan ruangan juga," kata Ayra diangguki yang lain.


"Pas terakhir sih sebelum denger tangisan bayi. Itu paling ngeri menurut gue teriakan lo," tambah Sherena.


Zia terkekeh, ingat betul bahwa saat itu memang yang paling sakit menurutnya, saat badan bayi melewati vagi*anya sembari ditarik bunda Dian.


"Ngeri semua menurut gue dari awal sampai akhir," timpal Zidan sembari tangannya mengusap-usap punggung putranya.


"Jelas sih. Muka lo aja sampe merah gitu. mata juga bengkak, mewek pasti lo," tebak Langit yang ternyata tepat sasaran.


Zia menoleh pada Zidan. Sebelumnya mereka pernah berdiskusi mengenai nama, tapi Zidan belum menyebutnya setelah bayi mereka lahir.


"Bentar dulu, gue tebak," kata Dyu saat Zidan akan berucap.


"Pasti Udin kan?" ucap Dyu ngasal.


"Udin pala lo pe'a. Mak bapaknya aja namanya cakep masa anaknya Udin. Saipul lebih berkelas," saut Zio dengan wajah tanpa dosanya. Membuat Zidan memutar bola matanya malas, berhari-hari dia mencari nama yang cocok, malah disarankan demikian.


"Sama aja.. Gue tebak awalannya Z kan?" tebak Keyna yang kini mendapat anggukan kepala dari Zidan.


"Siapa sih? kepo banget gue," kata Sherena.


"Zavian Valerio Harsha," jawab Zidan sembari mengamati wajah putranya yang tertidur.


"Kan bener, baby Z," seru Keyna.


"Panggilannya siapa?" tanya Pak Ervan yang sedari awal hanya menyimak bersama Ayra.


"Em... Terserah sih, tapi kalo saya panggilnya Leo," jawab Zidan membuat mereka tercengang.

__ADS_1


"Bentar-bentar, ngelag gue. Leo bagian mananya?" tanya Zio pada sang adik ipar.


"Valerio. Kan ada Le sama o-nya," kata Zidan lagi. Ya walaupun ia sendiri masih belum tau ia akan memanggil Leo terus atau bisa saja berubah.


"Nggak nyambung sumpah," komentar Dyu.


"Nyambung-nyambungin aja. Anak juga gue yang buat, ya terserah gue dong mau manggilnya apa," jawab Zidan lagi.


"Gimana menurut lo Zi? Kan lo nih yang pertaruhin nyawa buat lahirin," ucap Ayra pada Zia yang tengah meminum jus mangga.


"Ya terserah Zidan aja. Mungkin panggilan kesayangan dari papanya buat baby Zavian," jawab Zia setelah mengelap mulutnya dengan tissue.


"Papa nih papa... Cieee.. uhuy papa muda," ledek Dyu pada Zidan.


"Apaan sih!" saut Zidan yang sebenarnya masih belum menyangka. Di umurnya yang baru akan 18 tahun dirinya sudah menyandang gelar papa.


Zidan memberikan baby Z pada bunda Dian saat bunda memintanya untuk dipakaikan baju.


Oh iya, orangtua Zia dan ayahnya Zidan masih berada di kantin untuk sarapan yang terlambat. Mereka sama seperti bunda Dian, baru berselera makan saat cucunya sudah lahir.


"Nih udah ganteng, siapa yang mau gendong," tawar bunda Dian setelah memakaikan pakaian lengkap pada baby Z.


Keyna menjadi yang pertama menggendong karena dia lah yang paling bisa di antara mereka semua. Maklum, anaknya saja sudah berumur dua tahun lebih, walaupun anak angkat tapi Keyna mengurusnya sejak lahir, bahkan sejak masih di kandungan ibunya.


"Gambaran masa depan nanti," celetuk Langit saat melihat Keyna tengah menggendong baby Z dan Galen yang memeluk dari belakang. Kepala ketua Atlansa itu menyentuh bahu Keyna agar lebih jelas melihat wajah baby Zavian.


"Iri? Noh ada cewek lo di samping," kata Zio menunjuk Adel. Mereka akhirnya fokus pada baby Zavian dan membiarkan Zia beristirahat.


Zidan menggenggam jemari tangan Zia. Masih sangat lemas istri imutnya itu.


"Makasih banyak ya, Love you," bisik Zidan sudah entah yang ke berapa kali. Tapi Ziabtetap tersenyum dan mengangguk sebagai tanggapan.


"Love you too," jawab Zia.


"Mau tidur?" tanya Zidan saat melihat Zia sudah sangat mengantuk.


"Nggak apa-apa? Nggak enak sama mereka," kata Zia.


Zidan menggelengkan kepalanya, "Nggakpapa lah. Mereka pasti ngerti kok kalo kamu capek banget."


Zia mengangguk lalu mulai menyamankan posisi tidurnya. Kini Zia sudah bisa telentang karena perutnya sudah tidak besar.


Zidan pun mengusap rambut Zia agar istrinya itu cepat tertidur. Tidak sampai satu menit, Zia sudah terlelap dalam tidurnya.


"Nggak nyangka ya, cewek semanja dan sepolos Zia udah punya anak dan lahiran normal, lebih kagumnya dia tenang dan nggak ada sama sekali robekan," kagum Keyna saat baby Zavian srdang digendong Ayra.

__ADS_1


"Usaha Zia juga sih selama hamil selalu rajin ikut kelas yoga," timpal Zidan yang masih mengusap rambut Zia dengan penuh kasih sayang.


Zidan sangat beruntung memiliki Zia, walaupun awal hubungan mereka sangat berat dan sulit ia terima. Tapi hingga detik ini malah cintanya pada ibu dari anaknya itu semakin besar, semakin tak terukur.


__ADS_2