Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak


__ADS_3

"Tergantung si. Menurut gue Zia termasuknya yang ngga terlalu sulit, ada loh yang ngga bisa makan apapun, sampe pingsan dan dirawat di rumah sakit," jelas Keyna.


"Calon dokter kita nih," bangga Dyu pada Keyna.


"Tapi ada yang ngga ngerasain apapun, sampe ngga nyadar kalo dia lagi hamil," lanjut Keyna yang diangguki Sherena.


"Jadi takut hamil," ucap Sherena.


"Lo ngga mau punya anak?" tanya Langit yang sedang membersihkan meja bekas makan mereka.


"Mau lah, tapi ngga mau hamil," jawab Sherena cengengesan. Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala.


"Lo mau bertelor?" tanya Dyu yang mengundang tawa mereka.


Tangan Zidan tidak berhenti mengusap perut Zia, tapi Zia masih terlihat tidak nyaman, "Masih mual?" tanyanya.


Zia menggeleng, "lemes," lirih Zia.


"Pulang?" tanya Zidan, Zia mengangguk lemah.


"Gue mau pulang," ucap Zidan sembari menuntun Zia untuk berdiri. Semuanya mengangguk dan menoleh pada pasutri remaja itu.


"Pake mobil sini aja kalo ngga kuat naik motor Zi," tawar Galen tapi Zia menggeleng.


"Zia masih bisa kok, cuma lemes doang. Pake motor aja," ucap Zia yang masih merasa kuat kalau hanya naik motor.


"Yakin?" tanya Zio menatap wajah pucat kembarannya.


Zia mengangguk yakin, ia sudah tidak terlalu lemas sekarang, "Nih Zia aja bisa jalan, masa ngga bisa cuma duduk bonceng di motor."


"Yaudah, gue balik dulu," pamit Zidan berjalan keluar diikuti Zia. Semua pasang mata menatap kepergian mereka.


"Kasian ya mereka, bebannya sekarang berat banget," ucap Sherena merasa prihatin.


"Iya. Gue salut sama Zia sama Zidan mereka bisa bertahan walaupun keadaanya hancur kaya gitu," timpal Dyu.


"Kita harus cepet cari tau pelakunya. Biar adil buat mereka berdua," ucap Galen serius.


"Secara batin mereka terluka, secara emosi mereka kacau, secara mental mereka hancur. Dan hebatnya secara fisik mereka masih bisa senyum," kata Keyna.


°°°°

__ADS_1


Di atas sebuah bangunan, seorang gadis tengah duduk dengan angin yang menerbangkan rambutnya kesana kemari, matanya terpejam membiarkan angin menerpa wajah cantiknya.


Sekarang Ayra benar-benar sendiri. Semua orang sudah pergi dari hidupnya, sahabat, kakak, dan kekasihnya pun turut pergi.


Dunia sedang tidak ramah padanya, seakan ia tidak pernah layak untuk bahagia.


Semakin hari bukan semakin membaik, tapi malah semakin kacau.


"Kangenn.." lirihnya. Ia rindu Sahabat-sahabatnya, rindu kebar-bar an Sherena, rindu kedewasaan Keyna, dan rindu kepolosan Zia. Ia juga rindu saat berkumpul dengan mereka, saat bersama Atlansa, saat bersama Zidan juga. Rindu kali ini adalah rindu paling menyakitkan bagi Ayra.


Kata orang obat rindu hanya temu. Ia akui itu memang benar, ia ingin bertemu semuanya, ingin bersandar di bahu mereka, ingin menceritakan semua bebannya pada mereka, intinya ia ingin kembali seperti dulu.


Ayra sadar keputusan yang ia ambil memang salah, bergabung dengan Adel hanya akan semakin membuat jarak dengan orang-orang terdekatnya. Namun, ia tidak punya pilihan lain, ada satu hal yang tidak bisa Ayra ceritakan. Tentang alasannya ikut membuly dan tentang semua yang berubah pada hidupnya.


Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan, bahunya bergetar tanpa bisa dicegah, isakannya terdengar tanpa bisa dikendalikan. Hanya dengan itu ia sedikit menenangkan hatinya, sedikit mengurangi beban di pundaknya, dan sedikit melegakan perasaaanya.


Ia benci keadaannya sekarang. Lemah.


°°°°


Berangkat sekolah kali ini Zidan bersikukuh tidak mau menurunkan Zia di jalan, padahal sudah seminggu yang lalu ia tahu Zia sedang mengandung anaknya, kenapa baru sekarang.


"Gue ikutin lo di belakang," putus Zidan setelah berdebat dengan Zia. Zia hanya mengangguk dan menyerahkan helm pada Zidan.


"Jalannya ati-ati, jajannya juga nanti jangan sembarangan, ngga usah lari-lari. Nggak usah banyak tingkah," ucap Zidan yang membuat Zia berdecak malas. Zidan sudah bilang itu tadi saat sarapan.


"Zia nggak pernah banyak tingkah," sangkal Zia tidak terima. Zia menghentakkan kakinya dan pergi dengan perasaan kesal.


"Jalannya biasa aja bisa ngga. Anak gue bisa keguncang kalo lo kaya gitu," ucap Zidan tapi Zia tetap berjalan tanpa menghiraukan perkataan Zidan, membuat Zidan menggelengkan kepala dan mulai menjalankan motornya pelan, mengikuti Zia.


Zia sepanjang jalan terus berguman tidak jelas, moodnya sedang tidak baik, padahal hanya dibilang banyak tingkah oleh Zidan. Mood ibu hamil sangat menyebalkan bagi Zia.


"Napa tuh bini lo?" tanya Dyu saat Zidan memarkirkan motor di sebelah motornya. Dyu melihat Zia yang mukanya cemberut melewatinya begitu saja.


Zidan hanya mengangkat bahunya, "Sensian banget tuh cewek sekarang."


"Katanya ibu hamil kaya gitu, moodnya berubah-berubah," ucap Langit yang baru saja sampai. Sekarang tinggal menunggu Galen dan Zio.


Tak lama kemudian Zio datang membonceng Sherena dan Galen yang datang sendiri.


"Keyna mana?" tanya Zidan tidak melihat kekasih Galen.

__ADS_1


"Arin sakit, jadi Keyna ke rumah Arin," jawab Galen.


"Arin tinggal dimana emang?" tanya Dyu penasaran.


"Di villa gue," jawab Galen sembari turun dari motor.


"Lo napa Zi?" tanya Galen. Zio terlihat murung, tapi Sherena malah senyum-senyum geli. Kan aneh.


Zio menghela napasnya malas, Sherena berinisiatif menggantikan Zio menjawabnya.


"Mau punya adek dia," ucap Sherena kemudian tertawa, mereka pun ikut tertawa saat melihat wajah kesal Zio.


"Nyokap lo hamil lagi?" kaget Langit yang diangguki lemah oleh Zio.


"Cieee yang mau punya adek sekaligus ponakan," goda Dyu kemudian tertawa mengejek.


"Gue yang pengen adik malah dikasihnya anak. Lo malah yang mau punya adik," ucap Zidan jujur.


"Kan nanti juga adik Zio ya adik lo juga kali Dan, " timpal Galen.


Zio tidak menanggapi mereka, dirinya masih kesal, ia semalam pulang dari basecamp dan mendapat kabar yang mengejutkan baginya. Ia menolak keras mempunyai adik lagi, tapi kan sudah terlanjur jadi, mau bagaimana lagi.


°°°°°


"Sherena kenapa senyum-senyum gitu?" heran Zia yang melihat Sherena terus tersenyum saat masuk ke kelas.


"Lo tau ngga? Zio semalem cerita ke gue. Kalian mau punya adek dong," ucap Sherena kemudian tertawa ngakak.


"Hah? Mama hamil ?" tanya Zia kaget.


Sherena mengangguk, "Ngakak parah gue waktu liat muka kesel Zio. Masa dia bilang ngga mau punya adek, dan sekarang dia ngambek sama bonyok kalian," ucap Sherena terkekeh geli.


"Zia malah suka mau punya adek," ucap Zia semangat, "biar nanti seumuran sama dia," bisik Zia melirik perutnya, Sherena hanya mengangguk. Sebenarnya Sherena juga akan menolak seperti Zio jika ia diberi adik, masa di umurnya yang sudah 17 tahun punya adik.


°°°°


APA YA KIRA-KIRA ALASAN AYRA BERUBAH? APA KARENA ZIDAN? 🤔


JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK DENGAN LIKE👍, KOMEN📝, ATAU VOTE.


KASIH HADIAH JUGA BOLEH🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2