Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
129. First Day School


__ADS_3

Zia berulang kali melihat penampilannya di cermin. Ini adalah hari pertama setelah enam bulan lamanya ia homeschooling.


"Udah cantik kok," kata Zidan yang sudah siap dengan seragamnya dan kini sedang menggendong Zavian.


Zia tersenyum malu, "Masih gendutan tau.."


Zidan melihat Zia dari bawah sampai atas, memang agak berisi dari sebelum hamil dan punya anak.


"Kamu kurus kasian Zavian," balas Zidan. Lagian Zia dengan pipi tembam sekarang ini lebih menggemaskan dari yang kurus dulu.


Zia mengangguk, "Nggapapa deh. Cuma aku masih takut sebenernya, terakhir kali aku ke sekolah aja jadi bahan bulian satu sekolah," jujur Zia.


Pandangan semua murid dan guru menjadi hal yang sejak semalam mengganggu pikiran Zia.


"Enggak usah dipikirin, mereka tuh kaya netizen yang selalu ngebuli tanpa tau aslinya. Sekarang aja Adel yang jadi sasaran karena papanya dipenjara," kata Zidan. Tapi memang pada kenyataannya murid Trisatya masih banyak yang mudah terbawa isu yang belum tentu benar, walaupun memang benar kalau papa Adel dipenjara.


"Iya, pernah Adel nunjukin lukanya yang ditimpukin sama anak Trisatya, Aku jadi takut hari ini aku yang bakalan ngalamin itu," kata Zia. Adel saja yang mentalnya lebih kuat darinya sampai menangis saat bercerita, apalagi dirinya yang mentalnya lemah.


"Enggak. Kalaupun aku ngga bareng kamu terus, masih ada Keyna yang jago bela diri sama Sherena yang bar-bar. Aku udah nitipin kamu ke mereka," kata Zidan yang masih terus berjalan pelan kesana kemari sembari menimang Zavian.


Zidan sudah memikirkan hal ini. Bukan mungkin lagi, tapi sudah pasti kehadiran Zia kembali di sekolah akan menjadi buah bibir banyak siswa dan guru. Maka, Zidan sebaik mungkin melindungi Zia, akan ia pastikan tidak ada satu orang pun yang bisa melukai Zia.


Zia tengah memompa ASI-nya untuk persediaan Zavian saat ia di sekolah, harusnya tadi sebelum pakai seragam, tapi Zia lupa.


"Tapi kalo nyerangnya bareng lagi kaya waktu pertama kali berita hamilnya aku kesebar itu gimana? Kita empat cewek nggak akan bisa lawan orang satu sekolah," khawatir Zia. Jujur, kejadian itu membuatnya sedikit trauma jika melihat siswa-siswi Trisatya berkerumun.


"Kalaupun kaya gitu lagi, pastinya kan pas jam istirahat atau pulang sekolah. Kita Inti Atlansa udah sepakat untuk bareng kalian para angel di waktu-waktu yang memungkinkan mereka nyerang," jelas Zidan.


Kini Atlansa harus benar-benar menjaga angel-nya, terutama di sekolah. Walaupun tidak mungkin terjadi lagi hal seperti dulu, tapi tetap saja. Karena sifat manusia tidak ada yang tau, bisa saja murid Trisatya masih ada yang tidak suka. Acara amal kolaborasi Atlansa dan SMA trisatya waktu itu sebenarnya cukup meredam emosi siswa.

__ADS_1


"Ya udah yuk. Udah selesai kan? Kita sarapan," ajak Zidan saat Zia sudah selesai memompa ASI-nya.


"Segini cukup kan? Takutnya Zavian nanti kelaperan," tanya Zia sembari mengangkat botol berisi ASI di tangannya.


"Cukup kok. Kan nggak cuma itu, semalem kamu juga udah mompa kan?" tanya Zidan yang diangguki Zia. Semalam Zia sudah menyimpannya di kulkas.


"Ya udah sini Zavian nen langsung dulu sambil kita sarapan," kata Zia sembari mengambil Zavian dari gendongan Zidan.


Zidan memberikan Zavian pada mamanya, tersenyum getir saat melihat Zia yang memakai seragam malah sudah menyusui anak. Zidan segera menggeleng, jika tidak ia akan kembali merasa bersalah. Zidan juga mengambilkan kain untuk menutupi bagian atas buah dad* Zia. Tidak lupa pula ia membawakan tas sekolah Zia.


Sesampainya di ruang makan, sudah ada Bunda Dian yang tidak berpakaian rapi. Bahkan masih menggunakan daster rumahan. Ya, Bunda Dian sudah ambil cuti lama, sampai Zidan dan Zia lulus SMA nanti.


"Bentar ya, Ayah lagi ambil berkas di ruang kerjanya," kata bunda Dian. Karena tidak enak sarapan jika salah satu belum datang.


Zidna dan Zia mengangguk, tidak lama dari itu Ayah Dimas datang membawa tas kerjanya. Mereka pun memulai sarapan.


Tidak hanya bunda Dian saja, ayah Dimas pun sama. Jika bukan karena ambisi gila seorang Willy Kendrick, ia pasti sudah memarahi Zidan tanpa ampun. Sembarangan saja menghamili anak gadis orang.


"Ayah sama Bunda kenapa diem aja liatin Zia? muka Zia aneh ya? kegendutan ya jadi nggak cocok pake seragamnya," tanya Zia yang langsung mendapat respon gelengan kepala dari ayah Dimas dan bunda Dian.


"Enggak sayang, cuma itu ada nasi di pipi kamu," kata Bunda Dian, kebetulan memang ada nasi di pipi Zia.


Zidan segera mengambilkan saat tangan Zia selalu salah tempat. "Udah nih. Aki suapin aja sini biar nggak susah."


Zia mengangguk, ia memang jadi lambat makannya. Zidan saja sudah habis tadi dia belum karena ada Zavian di pangkuannya.


"Sini Zavian zama grandma ya," kata bunda Dian mengambil Zavian dari gendongan Zia saat semua sudah selesai makan. Sudah waktunya berangkat ke sekolah dan ke kantor.


"Aaaa.... Zavian, mama sekolah dulu ya, jangan rewel ya sama grandma," kata Zia yang seperti tidak rela meninggalkan anaknya.

__ADS_1


Bunda Dian yang tengah menggendong Zavian pun tersenyum, "Udah sanaa... Nanti telat, Zavian nggak bakalan rewel kok sama bunda."


Zia mengangguk lalu mengecup pipi, kening, dan hidung Zavian. Zidan memegang tangan Zia, mengisyaratkan agar cepat karena sebentar lagi masuk.


"Udah, ayok," kata Zidan lagi kemudian menyalimi tangan bunda dan juga mengecup kening Zavian.


Dengan berat hati, Zia menaiki motor Zidan. Melambaikan tangannya ke arah Zavian walaupun putranya itu hanya menatapnya dengan tatapan polos.


Zia mengeratkan pegangannya saat motor yang dikendarainya dan Zidan mulai meninggalkan halaman rumah. Setelah beberapa bulan Zia kini kembali memboceng Zidan.


Jika orang lain melihat, pasti mengira Zidan dan Zia adalah remaja yang sedang pacaran. Lain dengan faktanya bahwa Zidan dan Zia sudah mempunyai anak.


Sesampainya di sekolah, Zidan memarkirkan motornya di tempat parkir biasa. Sudah ada Inti Atlansa dan para angel minus Ayra. Ayra masih homeschooling sampai melahirkan nanti.


"Lama banget sih pasutri ini," celetuk Zio saat Zidan membuka helm.


"Nih si Zia. Kebayakan drama," jawab Zidan sembari menunjuk Zia dengan dagunya.


Zia nyengir, "Maaf. Kan Zia nggak tega ninggalin Zavian."


"Ya udah iya, yok masuk ke kelas," kata Sherena.


Zia, Keyna, dan Sherena masih satu kelas, berbeda dengan Adel yang memang anak IPS sendiri.


"Pada aneh ya natap kitanya," kata Zia pada para cewek karena mereka berjalan bersama. Para cowok di belakangnya.


"Biasa... Gue cakep banget gini sih," sombong Sherena. Sekaligus agar Zia percaya diri.


"Udah biarin aja. Kenyang gue tiap hari ditatap kaya gitu mah," kata Adel saat Zia masih saja tampak minder.

__ADS_1


__ADS_2